NovelToon NovelToon
Kesempatan Kedua Untuk Menikahimu

Kesempatan Kedua Untuk Menikahimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Time Travel / Aliansi Pernikahan / Mengubah Takdir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: Aplolyn

Pada kehidupan sebelumnya Ashilla dipaksa menikah dengan seorang pria yang dikabarkan kejam dan diduga sadis namun secara tegas Ashilla melawan keinginan ayahnya itu sehingga ia malah dibebankan hutang yang sangat besar karna sudah dibesarkan oleh keluarga Clinton namun tidak membalas budi.

Bertahun-tahun kemudian saat ia hendak membayar hutang tersebut, ibu tirinya datang dan memaksanya untuk menanggung kesalahan atas putrinya yang menabrak seseorang saat mengendarai mobil dengan ugal-ugalan.

Saat itulah kehidupannya hancur, untungnya waktu kembali berputar pada hari dimana semua tragedi tersebut belum terjadi dan kali ini Ashilla bertekad untuk menikahi pria tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 - Keluarga Munafik

'Bagaimana mungkin aku menikah dengan Ken? Apakah ayahnya benar-benar berpikir untuk membiarkan aku disiksa olehnya demi kekayaan dan kejayaan keluarga Clinton?'

Melihat ekspresi Camila yang terkejut, Miller sama sekali tidak menghiburnya. Sebaliknya, ia kembali mendengus dingin.

“Ibumu sudah mengajarimu, tapi kau tetap tidak percaya. Kau terlalu dimanja sampai menjadi bodoh.”

“Ayah!”

Diremehkan seperti itu membuat Camila diliputi amarah dan kesedihan. Matanya memerah.

Ia menggertakkan giginya, menatap tajam ayahnya, lalu berkata,

“Aku memang bodoh. Tapi apakah Ashilla pintar? Hanya karena dia berhasil mendekati Ken, dia jadi lebih pintar dariku? Sudah berhari-hari berlalu—apakah keluarga Adam sudah menghubungi Ayah? Apakah Ken menghubungi Ashilla? Bukankah mereka mengatakan ingin sekali menikahkan Ken? Tapi sampai sekarang tidak ada kabar apa pun!”

“Apakah Ayah yakin Ashilla benar-benar pilihan mereka? Bisa saja keluarga Adam hanya mempermainkannya! Jangan bicara soal bajingan Ashilla itu—bicaralah soal keluarga Clinton kita! Apakah keluarga Adam benar-benar menyukainya?!”

Camila melontarkan semua itu dengan marah. Wajah Miller seketika menjadi dingin.

Ia tahu betul bahwa keluarga Clinton jauh berada di bawah keluarga Adam. Namun, siapa pun pasti akan tersinggung jika dipandang rendah—terlebih lagi oleh putrinya sendiri.

Meski begitu, Miller tidak langsung meluapkan amarahnya, karena apa yang dikatakan Camila memang merupakan kekhawatiran yang mengusiknya.

Ia tidak akan merasa tenang sebelum pernikahan dengan keluarga Adam benar-benar dirampungkan.

Berdasarkan apa yang Laura ceritakan tentang perjamuan hari itu, keluarga Adam memang tampak memperlakukan Ashilla secara berbeda. Namun, selama dua hari ini tak ada tindak lanjut apa pun. Tidak satu pun kabar diterima, cukup untuk membuat Miller gelisah.

Jika bukan karena kejadian di perjamuan itu, Miller mungkin sudah menganggap Ashilla gagal. Namun, perhatian keluarga Adam telah menaikkan harapannya terlalu tinggi.

Dan semakin tinggi harapan, semakin menyiksa penantian hasilnya.

Melihat Miller terdiam dengan wajah muram, Camila—yang semula sempat menyesal karena ucapannya—kini justru merasakan kepuasan. Ada rasa menang yang membuatnya diam-diam bangga.

Namun, ia tidak terus menekan ayahnya. Kali ini, ia kembali mengarahkan sindirannya pada Ashilla.

“Ayah benar-benar berpikir Ashilla bisa disukai keluarga Adam? Apa yang membuatnya pantas? Bahkan jika Ken punya selera aneh, apakah keluarga Adam akan memilihnya sebagai istri? Apa yang dia miliki selain wajah yang selalu tampak cemas itu? Kurasa dia hanya dipanggil karena Nyonya Adam ingin menonton sesuatu yang menarik.”

Bagaimanapun juga, Ashilla adalah putrinya.

Meskipun Miller tidak begitu menyukainya, ia juga tidak membencinya. Mendengar Camila merendahkan saudaranya seperti itu, wajahnya semakin gelap.

Laura segera menyela,

“Cukup. Keluarga Adam tidak akan menunda terlalu lama. Kita akan tahu hasilnya dalam beberapa hari. Ini baru dua hari—tidak perlu terburu-buru menyimpulkan.”

Camila mendengus pelan, jelas tidak menganggap serius perkataan itu.

Laura mengerutkan kening, hendak mengatakan sesuatu lagi, ketika tiba-tiba kepala pelayan datang melapor,

“Nona Ashilla telah kembali. Tuan Muda Kedua dari keluarga Adam juga ikut.”

Miller tertegun, lalu wajahnya langsung berseri.

Ia belum sempat bertanya apa pun ketika suara tajam Camila lebih dulu terdengar,

“Apa?!”

Miller melotot tajam ke arahnya, lalu bangkit dan segera keluar untuk menyambut tamu. Sambil berjalan, ia berpesan pada Laura,

“Jaga dia. Jangan biarkan dia bicara sembarangan.”

***

Dalam perjalanan, Ashilla dan Ken sepakat untuk terus menjaga kucing itu bersama-sama. Mereka juga sepakat memberi tahu keluarga Clinton bahwa kucing tersebut milik Ken.

Ken sebenarnya enggan bertemu Miller dan keluarga Clinton. Namun, sebagai kunjungan pertama, ia merasa tidak sopan jika tidak muncul sama sekali. Karena itu, setelah mobil berhenti di rumah keluarga Clinton, ia turun dengan inisiatif sendiri.

Baru beberapa langkah keluar dari garasi, Miller sudah menyambutnya dengan senyum lebar.

“Mengapa Anda datang ke sini, Tuan Kenneth? Ashilla bahkan tidak memberi tahu kami.”

Ken mengangguk singkat.

“Ini bukan kunjungan resmi. Aku hanya mengantarnya pulang dan menyapa sebentar. Aku akan segera pergi.”

Sikapnya dingin dan menjaga jarak. Meski begitu, Miller tidak menunjukkan ketidakpuasan sedikit pun. Ia justru dengan ramah mempersilakan Ken masuk dan minum teh.

Adapun Ashilla yang berdiri di samping Ken, nyaris tidak mendapat perhatian.

'Dasar keluarga munafik,' batin Ashilla.

Setelah duduk, Laura membawa Camila dan Kaison keluar dari ruang sebelah. Ia menyapa Ken dengan senyum sopan dan memperkenalkan kedua anaknya.

Kesempatan mendekati Ken sangat langka. Bahkan Camila dan Laura sempat merias diri sebelum keluar.

Camila awalnya enggan, tetapi ketika melihat Ken dari dekat, ia tertegun. Sikapnya langsung berubah. Ia tersenyum tipis, menunduk sopan, namun diam-diam melirik Ken sesekali.

Tak seorang pun menyadari perubahan itu. Perhatian semua orang tertuju pada Ken, sementara pria itu sama sekali tidak peduli. Ia menjawab pertanyaan Miller dan Laura dengan singkat dan acuh, matanya beberapa kali melirik anak kucing di lengan Ashilla.

Ashilla hampir tertawa saat menyadarinya. Ia segera memeluk kucing itu agar Ken tidak terus terlihat cemburu.

Baru saat itulah mereka menyadari keberadaan kucing tersebut.

Miller hendak menegur, tetapi ketika melihat Ken mengambil kucing itu tanpa ragu, ia menelan kata-katanya.

“Ashilla, dari mana kucing ini?”

“Itu hewan peliharaanku,” jawab Ken tanpa mengangkat kepala.

Miller tertawa canggung.

“Aku tidak menyangka Tuan Muda memelihara kucing.”

“Aku baru mendapatkannya hari ini.”

Percakapan pun kembali canggung.

Camila memperhatikan kaki depan kanan anak kucing itu yang digips. Ia menggigit bibir, lalu menatap Ashilla. Tatapan mereka bertemu—satu penuh ejekan, satu penuh kegelisahan.

Tak lama kemudian, Ken berdiri dan pamit.

Sebelum masuk ke mobil, ia berkata,

“Aku akan menghubungimu setelah sampai di rumah.”

Ashilla mengangguk dan membantu memasukkan anak kucing ke dalam tas.

Senyum Miller semakin lebar. Namun, Camilla menggertakkan giginya menahan kebencian.

1
Rossy Annabelle
ooh bahagianha hatiku 🥳melihat penderitaan orang lain/Facepalm/
Rossy Annabelle
next,,klo bs Doble up deh 😁tiap hari /Chuckle/
Rossy Annabelle: oke lah,, ditunggu karya lainnya mungkin.semngt 💪😁
total 2 replies
Rossy Annabelle
ditunggu next-nya😁
Lynn_: Ok kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!