Seminggu menjelang hari bahagianya, dunia Jamila runtuh seketika. Di sebuah gubuk tua di tepi sawah, ia menyaksikan pengkhianatan paling menyakitkan: Arjuna tunangannya, justru bermesraan dengan Salina, sepupu Laila sendiri. Sebagai gadis yatim piatu yang terbiasa hidup prihatin bersama kakaknya, Jamal, serta sang kakek-nenek, Engkong Abdul Malik dan Nyai Umi Yati, Mila memilih tidak tenggelam dalam tangis.
Jamila mengalihkan rasa sakitnya dengan bekerja lebih keras. Dengan kulit hitam manisnya yang eksotis dan kepribadian yang pantang menyerah, ia mencari nafkah melalui cara yang tak lazim: live streaming di TikTok. Bukan sekadar menyapa penonton, Jamila melakukan aksi nekat memanjat berbagai pohon mulai dari jambu hingga durian sambil bercengkerama dengan para followers nya
Awalnya hanya kagum pada keberanian Laila, Daren, pemuda tampan dari Eropa perlahan jatuh cinta pada ketulusan Jamila, dan berniat melamarnya, apakah Jamila menerima atau tidak ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indira MR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17. Not Goodbye
Suasana kemenangan Daren yang tenang dan aroma teh manis di tangan Jamila mendadak buyar saat deru mesin mobil mewah yang asing terdengar dari kejauhan. Dua buah mobil , satu SUV hitam mengkilap dan satu sedan sport berwarna perak membelah jalanan tanah Sukamaju yang sempit, menciptakan debu yang membuat warga terbatuk-batuk.
"Aduh, siapa lagi ini? Mau beli tanah atau mau syuting film?" gerutu Engkong Malik sambil menutupi hidungnya dengan sarung.
Mobil SUV hitam berhenti tepat di depan pematang sawah. Pintu terbuka, dan keluarlah seorang gadis dengan kulit seputih porselen, rambut hitam panjang yang tertata rapi, dan pakaian high-fashion yang tampak sangat kontras dengan lumpur Sukamaju. Namanya Sakura.
"Daren! Jerry!" teriak Sakura. Suaranya melengking namun elegan. Ia berjalan dengan susah payah menggunakan sepatu hak tingginya di atas tanah yang tidak rata.
Daren tertegun. Gelas teh manis di tangannya hampir saja jatuh.
"Sakura? What are you doing here?"
"I’ve been looking for you everywhere! Aku cari kamu sampai ke pelosok, Daren!" ujar Sakura dalam campuran bahasa Inggris dan Indonesia yang fasih.
"The Munich project is in crisis. Your father is furious! Proyek besar di Jerman itu berantakan karena kamu kabur ke desa ini.
You have to come home now, Daren. And I need Jerry too for the technical integration!"
Jamila yang berdiri di samping Daren perlahan menarik tangannya. Ia merasa asing melihat interaksi Daren dengan gadis yang tampak seperti berasal dari dunia yang berbeda itu.
Namun, kejutan belum berakhir. Mobil sedan sport perak di belakangnya juga membuka pintu. Seorang gadis dengan gaya bicara yang cepat dan aksen Singapura yang kental keluar dengan wajah masam. Ia mengenakan kacamata hitam besar dan tas bermerek yang harganya mungkin setara dengan sepuluh traktor Mang Oded. Nama gadis itu adalah Lisa.
"Koko Sen! Oh my God, Sen! Look at you!" seru Lisa.
Koko Sen, yang masih berusaha memanjat keluar dari selokan irigasi dengan tubuh penuh lumpur, membeku.
"Li... Lisa? Kamu kenapa bisa sampai sini?"
"I saw Kayla’s live streaming on TikTok! The whole Singapore is laughing at you, Sen! Ngapain kamu mandi lumpur begini?" Lisa berkacak pinggang.
"Papa bilang, no more excuses. Pertunangan kita dipercepat minggu depan. Aku sudah bawa suratnya, orang tua kamu sudah setuju. Come on, let’s go home! Sukamaju is not for you, lah!"
Warga Sukamaju terdiam. Jerry, yang namanya ikut dipanggil Sakura, berbisik pada Kayla,
"Kay, gara-gara live kamu, pads bubar semua"
" maaf, aku gak bermaksud mengundang gadis -gadis itu datang kemari'
Suasana di pematang sawah yang tadinya penuh tawa berubah menjadi melankolis. Daren menatap Jamila dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada beban tanggung jawab di pundaknya yang selama ini ia coba lupakan di Sukamaju.
"Mil," ucap Daren lembut, mencoba mendekati Jamila.
"Pulanglah, Daren," potong Jamila dengan senyum tipis yang dipaksakan.
"Tempatmu memang bukan di sini. Sawah ini... hanya persinggahan buat kamu. Jerman butuh kamu.Keluargamu juga butuh kamu."
Daren memegang tangan Jamila sejenak, mengabaikan tatapan tajam Sakura.
"Mil, please not goodbye. Aku tidak pergi untuk selamanya. Aku pergi untuk menyelesaikan apa yang kumulai agar aku bisa kembali ke sini tanpa beban apapun. Tunggu aku."
Jamila terdiam, merasakan kesungguhan dalam nada bicara Daren. Sementara itu, Jerry juga harus bersiap.
Sakura membutuhkannya sebagai teknisi jenius untuk integrasi sistem di proyek Jerman. Jerry menatap Kayla dengan sedih.
"Kay, saya pergi dulu ya. Nanti saya kirimkan kartu pos gambar sosis Jerman."
Di sisi lain, Koko Sen sedang diomeli habis-habisan oleh Lisa.
"Sen, kalau kamu nggak ikut balik sekarang, Papa bakal cabut modal Toko Bangunan kamu di kota! Understand?" Koko Sen
menghela napas panjang. Ia melirik Jamila, lalu melirik toko bangunannya. Ia adalah pengusaha, dan logika bisnisnya berkata ia tidak bisa kehilangan segalanya.
"Maafin Koko ya, Mil," ujar Koko Sen.
"Ternyata takdir Koko di pelaminan Singapura. Tapi tenang, kalau butuh paku buat renovasi rumah Engkong, telepon Koko aja!"
Satu per satu, para pengagum Jamila itu berpamitan. Daren dan Jerry masuk ke dalam SUV hitam bersama Sakura. Koko Sen ditarik paksa oleh Lisa masuk ke dalam sedan sportnya. Debu kembali mengepul saat kedua mobil itu meninggalkan desa Sukamaju menuju bandara.
Di tengah keheningan itu, sebuah tawa pecah dari arah lumpur. Harun Dubai, yang tadinya terperosok sedalam paha, akhirnya berhasil merangkak naik. Matanya bersinar-sinar penuh kemenangan yang sombong.
"Ha! Ha! Ha!" Harun tertawa terbahak-bahak sambil merapikan sorbannya yang miring. Ia memandang sinis ke arah debu mobil yang menjauh, seolah menertawakan kekalahan Daren dan Koko Sen yang harus menyerah pada takdir masing-masing.
"Lihat itu! Si Bule kabur ke Jerman! Si Koko terseret ke Singapura! Siapa yang tersisa di sini? Siapa yang paling setia pada tanah Sukamaju?" Harun berjalan mendekati Jamila dengan gaya bak pangeran padang pasir yang merasa telah memenangkan perang.
"Jamila, sayangku," ujar Harun dengan nada percaya diri yang meluap-luap.
"Sekarang tidak ada lagi hambatan. Tidak ada lagi suara bariton yang sok puitis, tidak ada lagi juragan semen yang pelit. Hanya ada aku, Harun Dubai, dan masa depan kita di atas gundukan emas."
Harun menoleh ke arah Engkong Malik yang masih tampak bingung.
"Engkong! Siapkan koper Jamila. Harun Dubai tidak pernah kalah! Besok, aku akan memboyong Jamila ke Dubai. Dia tidak akan lagi menyentuh lumpur, tapi menyentuh sutra!"
Harun tersenyum lebar, merasa dirinya adalah pemenang sejati dari drama besar di Sukamaju. Ia yakin, dengan perginya Daren dan Koko Sen, Jamila sudah berada dalam genggamannya.
SUV hitam itu melaju kencang meninggalkan debu yang perlahan menyelimuti jalanan tanah Sukamaju. Di dalam kabin yang kedap suara dan dingin, suasana terasa jauh lebih mencekam daripada panasnya mesin traktor di sawah tadi.
Sakura duduk di kursi belakang, menyilangkan kakinya yang jenjang sambil menatap Daren dengan tatapan menyelidik. Ia melirik gaun mahalnya yang sedikit terkena debu, lalu beralih menatap Daren yang masih mengenakan kaos oblong berbintik lumpur. Di kursi depan, Jerry.
Sakura membuka suara, nadanya tenang namun tajam.
"Apakah gadis desa tadi itu yang namanya Jamila? Gadis yang membuatmu lupa pada pekerjaan pentingmu di Munich? Gadis yang membuat seorang Daren memilih memegang cangkul daripada menandatangani kontrak jutaan Euro?"
Daren tidak menoleh. Ia menatap keluar jendela, ke arah hamparan hijau yang mulai menjauh.
"Iya. Dia Jamila. Dan aku tidak hanya sekadar suka, Sakura. Aku akan kembali ke sana, menikahinya, dan membawanya bersamaku ke Jerman."
Sakura tertegun sejenak, lalu tawa renyahnya pecah. Tawa yang terdengar elegan namun penuh nada meremehkan.
" Menikahinya Are you out of your mind, Daren?" Sakura menggelengkan kepala.
"Kamu lupa? Dia seorang muslim. Kamu berbeda agama dengannya. Perbedaan itu saja sudah seperti tembok raksasa. Belum lagi soal adaptasi. Apa kamu yakin dia bisa bertahan di lingkungan keluarga kita? Apa dia bisa mengerti duniamu, pekerjaanmu yang rumit, atau sekadar menyesuaikan diri dengan makanan dan kebudayaan kita yang sangat jauh berbeda?"
Daren menatap malas, Sakura sahabat kecilnya yang terlalu mencampuri kehidupan pribadinya.
Bersambung