Tama datang dengan satu tujuan: menjaga Lengkara.
Bukan untuk dimiliki, apalagi diperebutkan—cukup memastikan gadis itu baik-baik saja.
Namun mendekati Lengkara tak sesederhana rencananya.
Saat Tama sibuk mencari cara supaya selalu ada di dekat Lengkara, justru Sasa muncul tanpa aba-aba. Terlalu berisik, terlalu berani, dan terlalu sering menyebut namanya seolah mereka sudah sedekat itu.
Ironisnya, Sasa adalah adik dari laki-laki yang terang-terangan disukai Lengkara.
“Bang, 831 gimana? Yes or no?” Sasa menatapnya penuh harap.
Tama mendengus, menahan senyum yang tak seharusnya ada. “Apaan sih, nggak jelas banget!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cringe
Sasa berjalan riang, tangan kanannya sibuk memasukan cokelat ke dalam bibir yang sedari tadi tak henti bersenandung, sementara tangan kirinya menenteng rejeki anak soleha yang ia peroleh dari Tama. Awal bertemu lelaki itu sangat menyebalkan, tak tanggung jawab atas kacang ijo yang berantakan, namun kali ini Sasa merasa Tama bukan hanya membuat kacang ijonya berantakan tempo hari tapi juga memberantakan hatinya.
"Gara-gara Kak Dirga ribut mulu sama Kaleng, Sasa sampe lupa mau minta nomor bang Tama." gumamnya. Ia ingat betul, Kara pernah vidio call dengan lelaki itu.
Sasa mengerjapkan mata bahkan mengucek matanya berulang kali saat kakaknya lewat sambil memboceng Kara. "Perasaan kemaren masih pada ribut." batinnya.
Terlalu kepo, Sasa sedikit berlari menghampiri Kara yang baru saja turun dari motor, “Kaleng kok bisa bareng sama Kak Dirga? Tumben. Bukannya lagi marahan?”
“Gue nggak pernah marah sama kakak lo, cin. Ya kan, sayang?” ucap Kara.
“Iya, sayang.” Balas Dirga. “gue balik dulu yah.” Pamitnya pada Kara.
“Oke. Nanti main ke rumah yah?” jawab Kara dan Dirga membalasnya dengan acungan jempol tanpa berbalik.
Mendengar percakapan Kara dan Kakaknya, Sasa kaget sekaligus bingung setengah mati. Choky choky yang sedah ia makan saja sampai jatuh begitu saja.
“Abis ngeborong jajan lo, cin? Banyak banget. Tumbenan.” Kara sudah mengambil alih kresek bawaan Sasa dan melihat isinya. “buset lo beli endog palsu banyak banget, cin?”
“Kaleng...” panggil Sasa.
“Apaan? Gue minta endog palsunya satu yah.” Kara mengambil satu buah kinderjoy dan membukanya.
“Sejak kapan Kaleng sama Kak Dirga jadi sayang-sayangan? Barusan Sasa nggak salah denger kan?”
“Sejak tadi, istirahat kedua. Liat nih...” Kara mengeluarkan ponselnya dari saku dan memperlihatkan vidio di kantin sekolah.
“Ya ampun meleyot Sasa, Kaleng.” Ucap Sasa. “Nggak nyangka Kak Dirga bisa so sweet gitu. Selamat yah Kaleng, Sasa ikut seneng. Seneng banget...” keduanya berpelukan erat di sisi jalan.
“Tuh kan Sasa bilang juga apa, Kak Dirga tuh cinta banget sama Kaleng.” Lanjutnya.
“Iya. Gue juga nggak nyangka sumpah, berasa mimpi.” Ucap Kara.
“Sasa juga berasa mimpi hari ini Kaleng. Seneng banget deh, ketemu sama dia tadi. Terus Sasa di jajanin nih banyak.” Sasa menunjuk kantong kresek yang dipegang Kara.
“Siapa?”
“Temennya Kaleng, tapi Sasa lupa namanya siapa yah? Ntar Sasa inget-inget namanya, sekarang Sasa mau pulang dulu. Mau cuci kaki, cuci muka terus bobo siang. Soalnya udah janjian mau ketemu di mimpi.” tak menunggu jawaban Kara, Sasa langsung berlalu pergi.
Sampai kamar Sasa benar-benar langsung ganti baju, cuci kaki dan cuci muka kemudian merebahkan diri di ranjang, tak lupa ia juga menarik selimut. Namun beberapa menit kemudian dia malah menarik selimutnya hingga kepala dan berguling-guling disana.
"Ya ampun konyol banget sih! mana mungkin ketemu di mimpi." gerutunya yang kemudian bangun dan beranjak dari sana.
Malam harinya Sasa berecana meminta kontak Tama pada Kara, namun setelah dipikir-pikir kenapa tak meminta pada kakaknya sendiri toh Sasa pernah melihat kakaknya berangkat bersama Tama beberapa hari lalu.
"Kak..." panggilnya saat Dirga melewatinya begitu saja. Penampilan kakaknya malam ini berubah drastis, rapi dan tampan seperti orang mau kencan padahal mommy nya hanya meminta mereka makan malam di rumah, bukan di luar.
"Buru-buru banget sih." Sasa menggaet tangan Dirga.
"Rapi banget, wangi juga. Kita nggak makan di luar loh kak." lanjutnya.
"Gue mau ke depan bentar."
"Ke depan mana? ke rumah Kaleng?" tebaknya kemudian.
"Iya. Kenapa? lo mau ikut?"
"Nggak. Sasa cuma mau minta nomor temen kakak yang waktu itu rame di depan rumah Kaleng. Yang pake brio item." Jelas Sasa.
"Nggak punya gue. Lagian buat apa? jangan deket-deket sama dia, gue nggak suka!"
Sasa melepaskan rangkulan tangannya pada Dirga. Bibirnya cemberut sebagai lambang tak sependapat dengan sang kakak.
"Tumpen kakak ngelarang-larang? biasanya juga Sasa deket sama siapa aja nggak masalah. Sama Ririd boleh, sama temen-temen SMP kakak dulu juga boleh, kenapa sekarang sama temen SMK kakak nggak boleh sih!" protesnya.
"Si Ririd anaknya waras, temen-temen gue juga pada waras. Kalo dia kagak waras, suka tebar pesona. Jauh-jauh deh dari dia." jelas Dirga.
"Tapi kan cakep, kak." mata Sasa berbinar saat mengucapkannya. Jika bagi Lengkara kakaknya adalah lelaki paling tampan tapi bagi Sasa, Tama lebih berkharisma.
Ck! Dirga berdecak lirih. Ia ingin buru-buru menemui Kara malah harus meladeni adiknya yang mabok Tama. Adiknya memang seperti siswa-siswa perempuan di sekolahnya nggak bisa banget liat orang ganteng dikit langsung oleng.
"Pokoknya nggak boleh deket-deket sama dia!" pungkas Dirga kemudian berlalu meninggalkan Sasa yang masih terus memanggilnya.
Sasa menuruni tangga dengan cemberut, bahkan sampai meja makan saja ia masih terus cemberut. Mommy Daddy nya sudah tak aneh. Mereka memilih membiarkan Sasa cemberut dari pada ditanya 'kenapa?' pasti akan merebet bicara tak ada habisnya.
Di tempat lain hal yang tak jauh berbeda terjadi pada Tama. Sepanjang makan malam ia hanya mengaduk makanannya dan beberapa kali menghela nafas panjang. Sejak tiba di rumah siang tadi ia sudah memikirkan berbagai cara untuk memberitahu mamanya jika ia gagal dalam misi. Gadis yang harusnya ia jaga sudah memiliki penjaga sendiri. Tak jujur membuat hatinya tak tenang tapi jika jujur mamanya mungkin akan kecewa. Jadi harus gimana?
"Dari tadi mama perhatiin itu makanan nggak satu suap pun kamu makan." ucap Raya yang seketika membuat Tama menatapnya.
"Masakan mama kurang enak? apa mau makan diluar?" Tama menggeleng sambil meletakan sendoknya.
"Terus kenapa nggak dimakan?" tanyanya lagi.
Tama menghela nafas panjang, "aku nggak tau harus mulai dari mana, mama pasti kecewa." ucapnya lirih.
"Kenapa? dipanggil BK lagi?" tebak Raya yang sudah berpengalaman keluar masuk BK karena kenakalan putranya. Meskipun lumayan trauma dengan kenakalan Tama terakhir kali tapi Raya tetap lebih percaya pada Tama dari pada pernyataan korban yang tanpa bukti.
"Kamu nggak ngulangin kesalahan yang sama kan?" lanjutnya.
"Nggak, ma. Lagian ini bukan soal sekolah."
"Terus apa?"
"Ini." dengan malas Tama menunjukan vidio Kara Dirga yang tengah hits di media sosial siswa SMK Persada. Meskipun akan kena marah Tama sudah siap. Nyatanya dia memang gagal dalam misi.
"Kara udah di jodohin. Nggak kayak drama-drama yang nolak perjodohan, mereka happy." lanjutnya.
"Anak zaman sekarang." Raya tersenyum menontonnya.
"Maaf yah, Ma. Aku nggak bisa ngewujudin permintaan mama."
"Sejauh ini kamu udah ngewujudin permintaan mama kok."
"Tapi aku nggak bisa jadiin Lengkara milik aku. Dia bucin banget kayaknya sama Dirga." jelas Tama lirih.
"Yang penting dia bahagia. Mama nggak pernah minta kamu buat jadiin Lengkara pacar. Ya, meskipun kalo jadi pacar lebih seneng, tapi liat dia bahagia kayak gini juga udah cukup." jawab Raya, "menjaga nggak harus memiliki, nak." lanjutnya.
Tama hanya mengangguk, paham.
"Nanti kalo cowoknya macem-macem aku kasih pelajaran." ucapnya kemudian namun mamanya tak menjawab. Raya masih fokus pada ponsel sambil terus tersenyum.
"Manisnya..."
"Udah lah Ma jangan diliatin terus. Cringe banget." ucap Tama.
"Imut, lucu juga..."
"Menurut aku Kara lebih ke cantik sih tapi kalo imut nggak deh, Ma."
"Bukan Kara. Ini loh..." Raya membalik layar ponsel Tama.
Ck! Tama langsung mengambil ponselnya, "ya ampun si kacang ijo."
"Siapa lagi itu? jangan bilang kamu mulai koleksi cewek lagi disini."
"Nggak, Ma. Kenal juga nggak. Ini pasti salah kirim." elak Tama. Tak habis pikir juga bagaimana bisa gadis itu memiliki nomornya.
"Masa? tapi dia minta pertanggung jawaban. Kamu apain?"
"Nggak diapa-apain, Ma. Ketemu aja baru dua kali, ngeselin semua pula."
"Nah itu udah pernah ketemu, kok barusan kamu bilang nggak kenal? salah kirim?" ledek Raya.
"Nggak tau lah, Ma. Aku tidur duluan." elak Tama.
"Tidur duluan apa mau lanjut chattingan?" ledeknya lagi.
"Tidur, Ma." balas Tama sambil berlalu ke kamar. Ponselnya terus menyala menandakan pesan masuk. Tama hanya membaca deretan kalimat tak penting yang diawali oleh foto imut Sasa hingga foto terakhir saat gadis itu sudah siap tidur dengan selimut hingga leher.
"Jahat banget cuma di read nggak di bales. Sasa tunggu di mimpi deh, See you calon pacar."
Tama segera melempar ponselnya asal. "Nyesel gue baca chat nya. Dasar bocil!"
aku jadi penasaran kayak apa ya Tama bucin sama Sasa🤔🤣🤣🤣