Aera, seorang anak perempuan yang kehilangan ibunya karena meninggal. Setelah ibu tirinya datang, hidup Aera berubah total. Ayahnya yang dulunya sangat mencintainya, kini tidak peduli lagi. Aera merasa sendirian dan terkucil, seperti bawang yang terlupakan. Aera hanya ingin satu hal: mengembalikan kasih sayang ayahnya. Tapi, dia menemukan kebenaran yang mengerikan: ibu tirinya lah yang membunuh ibu kandungnya. Aera merasa marah dan sedih, tapi dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Suatu hari, datanglah Leonar, seorang laki-laki muda. Dia ramah dan baik, serta peduli pada Aera. Aera merasa bahagia, tapi kebahagiaan itu tidak akan bertahan lama. Leonar membantu Aera untuk membongkar kasus meninggalnya ibu kandungnya, tapi mereka tidak tahu bahwa ibu tirinya akan melakukan apa saja untuk menyembunyikan kebenaran. Bagaimana Aera dan Leonar akan menghadapi bahaya yang mengancam mereka? Apakah mereka akan berhasil membongkar kebenaran dan mengembalikan kasih sayang ayah Aera? Ataukah mereka akan gagal, dan Aera akan tetap menjadi bawang yang terlupakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SellaAf., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukuman
Tap!
Tubuhnya mendarat dengan sempurna setelah ia berhasil melompat melewati pagar pembatas yang tinggi itu.
"Huh... Akhirnya gue berhasil lolos juga. Lagian harus belajar Matematika sementara perut gue kosong melompong? Gila aja! Yang ada ngebul otak gue nanti," gumam Aera saat berhasil keluar dari area sekolah.
Beruntung tubuhnya sudah tertatih, karena itu ia bisa melarikan diri dengan gesit dari kejaran guru BK yang sempat memergoki nya.
"Waktunya ngutang di warung Mpok Euis." Ucap Aera. Ia melangkah menuju warung kopi langganan nya dengan langkah santai.
"Mpok, es kopi satu," teriak Aera sambil tangannya mencomot sebuah gorengan dan melahapnya.
"Bayar gak?" Tanya ibu warung yang bernama Euis itu.
"Pake nanya," jawab Aera, kemudian ia tertawa.
Aera mana punya uang?
Jatah bulanan dari ayahnya sudah tidak lagi ia dapatkan, mengingat dirinya sudah di usir oleh sang ayah karena ulah fitnahan dari Belva—ibu tiri Aera, dengan omong kosong nya itu membuat Reno—Ayah kandungannya Aera percaya begitu saja.
Dan berakhir dia lah yang harus menjadi korban.
Dan sekarang Aera hanya berharap uang jajan yang ia dapatkan hanya dari beasiswanya saja.
"Huh... gini amat nasib gue sekarang." Gumamnya dalam hati.
Mpok Euis berdecak, sudah tidak aneh melihat pelanggan setianya itu mengutang alias kas bon. Kadang Aera juga membantu pekerjaannya dengan mencuci piring, mengelap meja agar bisa makan gratis.
"Lain kali bayar ya! Bisa bangkrut usaha Mpok kalau kamu ngutang terus!" Keluhnya.
"Siap. yailah, Kalau ada duit juga langsung Aera bayar," Jawab Aera yang kembali mencomot sebungkus nasi uduk dan juga gorengan di depannya.
"Halah, kamu memang selalu begitu Aera giliran udah duit nya ada malah bilang Maaf ya Mpok duitnya mau di pake dulu buat ini lah itu lah banyak alasan." Cibir Mpok Euis.
"Hehehe…” Aera hanya menyengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Brummm...
Brummm...
Brummm...
Terdengar deru mesin motor bersahutan, Aera bisa melihat di luar sana terdapat segerombolan anak sekolah yang mengenakan jaket khas anak motor berhenti di depan warung Mpok Euis.
Aera menyipitkan matanya melihat siapa yang datang bersama teman-teman nya itu.
Dan Ya, siapa lagi kalau bukan Geng—BLACK TIGGER.
Kelima pemuda berwajah tampan baru saja turun dari motornya, mereka selalu menitipkan motor di warung yang ada di samping sekolah. Alasannya agar mereka bisa kabur dari sekolah tanpa harus ketahuan oleh guru BK. Tempat—SMA Galaksi dan—SMA Harapan sangat dekat tidak membutuhkan waktu lama cukup berjalan kaki 3 menit saja sudah sampai, saking dekatnya.
Alfino Jenar Jirawavega. Seorang badboy pemimpin geng motor, sekaligus kakak tiri Aera.
Aera yang melihat Alfino membelalak matanya ia ketar-ketik harus bagaimana jangan sampai ia ketahuan kalau ia sedang membolos pelajaran.
Aera dan Alfino dulunya tidak dekat, walaupun satu rumah tapi Aera selalu mengacuhkan keberadaan Alfino di rumahnya dulu. Alfino yang menyadari ketidaksukaan Aera, ia pun memilih untuk tinggal di basecamp bersama teman-temannya.
Tetapi seiring berjalannya waktu Aera baru sadar bahwa Alfino tidak sejahat Belva—Ibu tirinya. Walapun Alfino anak kandung Belva, tapi sifatnya sangat jauh berbeda. Alfino selalu menjaga dan membantu Aera. Dan dari situ lah Aera menyadari bahwa alfino mempunyai sifat yang baik.
Alfino yang melihat keberadaan sang adik langsung mengerutkan dahinya, "Dek kamu ngapain di sini?"
Aera yang sudah ketar-ketik menggigit bibir bawahnya dengan suara gugup ia pun menjawab, " Itu A-pa, A-nuuu—" gugupnya.
"Kenapa dek? Ngomong apa? Yang jelas dong." Tanyanya Alfino penasaran,
"Lagi sarapan dulu bang." Jawabnya.
Alfino yang mendengar jawaban dari sang adik mengerutkan dahinya bingung, perasaan jam sudah menunjukkan pukul 07:30 seharusnya ini sudah memasuki jam pelajaran pertama. Tetapi Aera adik tirinya ini masih berada di warung.
Alfino menatap tajam pada wajah Aera," Beneran dek?" Tanya Alfino memastikan.
Aera yang di tatap oleh Alfino langsung menganggukkan kepalanya,
"Alfino kamu kenal sama Aera?" Sahut Mpok Euis, yang membuat Alfino langsung mengalihkan pandangan nya ke sumber suara tersebut.
"Aera Adik saya." Ucapnya.
Mpok Euis yang mendengar ucapan Alfino langsung di buat kaget tidak percaya,
“Yang benar aja, Masa sih?" Tanya Mpok Euis sangat tidak yakin dengan jawaban yang di ucapkan oleh Alfino Pemuda langganan nya itu.
"Emang kenapa sih Mpok. Kalau aku adiknya dia?" Sahut Aera yang sedari tadi berusaha menahan gugupnya,
"Ya, kurang yakin aja gitu Mpok sama kalian berdua kalau beneran adik-kakak." Ucapnya.
"Nggak yakinnya?" Kali ini Axel yang bertanya kepada Mpok Euis.
"Alfino kan duitnya banyak tiap jajan ke warung Mpok selalu bayar nggak pernah ngutang. Lah sedangkan Aera? Dia bahkan lupa bayar hutang saking seringnya ngutang. Padahal kalau Adik kakak seharusnya sama-sama banyak duit dong! Kok yang satu kaya yang satu nya lagi kere." Sembur Mpok Euis.
Axel dan yang lainnya berusaha untuk menahan tawa, mereka tau betul siapa Aera dan keadaan Aera dan Alfino sangat jauh berbeda. Pada akhirnya mereka pun hanya bisa diam menonton pertunjukan antara adik dan kakak tersebut.
"Maksudnya Mpok?" Tanya Alfino kepada Mpok Euis.
Mpok Euis menarik nafas panjang, "Jadi gini, Aera ini sering banget ngutang sama Mpok janji nya mau di bayar eh pas mau dibayar malah Alasan ini itu, terus sama Mpok udah dikasih tau jangan ngutang lagi eh malah ngutang lagi. "
"Terus kenapa Mpok izinin Aera ngutang lagi?" Sahut Dafa—sahabat Alfino.
"Mpok kasihan sama Aera. Makannya Mpok biarkan ketika Aera ngambil gorengan."
"Berapa hutang Aera sama Mpok?" Tanya Alfino kepada Mpok Euis.
Mpok Euis yang mendengar Ucapan Alfino langsung buru-buru mengambil Buku kasbon nya, ia langsung membuka dan menghitung ke arah buku tersebut seberapa banyak nominal uang yang belum Aera bayar.
"Nih Fin, totalnya segini!" Ucap Mpok Euis sambil menunjukkan Buku Kasbon nya.
Alfino langsung melihat dan menghitung jumlah nominal uang yang akan dia bayar untuk melunasi hutang sang adik.
Ia pun mengambil dompet dari dalam saku celananya dan langsung membayarnya, "Nih Mpok Hutangnya lunas, lain kali kalau Aera ngutang bilang sama saya aja Mpok. Nanti biar saya yang lunasi." Ucapnya.
Mpok Euis langsung menganga tidak percaya, ia pun refleks langsung mengambil beberapa uang lembar yang ada di tangannya itu dan mulai menghitung kembali uang lembaran tersebut.
"Good Mantap! Kalau gini kan enak. Jadi Aera tidak harus menunggak hutang banyak-banyak."
Aera yang melihat langsung tidak kalah terkejut nya ia lagi dan lagi mengedipkan matanya tidak percaya.
"Alfino benar-benar baik hati." Ucapnya dalam hati.
Selesai membayar, Alfino langsung kembali menatap wajah sang Adik, ia ingin bertanya lebih banyak kenapa adiknya ini berada di warung di saat jam pelajaran.
"Dek jawab yang benar! Kenapa kamu bolos pelajaran?" Tanya Alfino pada Aera.
"Tadi gue laper belum sarapan terus di tambah lagi jam pelajaran pertama matematika." Keluhnya.
"Bolos satu pelajaran aja?" Tanyanya yang langsung di anggukkan oleh Aera.
"Iya, satu pelajaran doang. Setelah mata pelajaran ini selesai gue langsung balik lagi ke sekolah." Ucapnya.
Alfino yang mendengar jawaban Aera langsung mengangguk pelan, "Oke, setelah ini langsung balik ke sekolah. Awas aja kalau sampai bolos sampai pulang." Tekannya.
"I–ya."
...----------------...
Lapangan indoor terlihat ramai, hari ini adalah jadwal olahraga kelas 12—IPA satu, kelasnya para murid unggulan. Namun bukan berarti isinya murid pendiam dan ambisius, ada beberapa dari mereka yang tidak mencerminkan sebagai murid unggulan, bukan soal kepintaran, namun sikap dan perilaku.
Jika murid yang lain asyik mengikuti arahan dari Pak Gumar untuk membentuk barisan yang rapi, berbeda dengan siswi bernama Aera, Stella dan Sheina, yang berada di barisan paling belakang, mereka justru tengah mendengarkan penuturan dari Stella yang membahas hal-hal yang sebenarnya tidak penting, namun Aera dan Sheina nampak begitu santai seakan sudah terbiasa dengan apa yang mereka dengar.
"Pak, Aera ngobrol tuh, nggak dengerin apa yang bapak omongin." Sandi berteriak sampai membuat semua yang ada di sana menatap ke arah Aera.
Devanta dan Ravindra menahan tawa, mereka sangat yakin setelah ini akan ada perang, ntah yang ke berapa mengingat Aera dan Sandi sangat sering bertengkar.
Dada Aera naik turun, menahan amarah yang nyaris saja meledak.
Pak Gumar langsung menoleh pada ke tiga siswi tersebut, "KALIAN BERTIGA KENAPA NGOBROL." Teriak Pak Gumar kepada Aera, Stella dan Sheina, "Setelah pelajaran selesai, bersihkan semua toilet yang ada di lantai bawah," titah Pak Gumelar tegas.
Aera yang mendengar ucapan dari gurunya itu langsung melotot kan matanya. Aera menoleh ke arah sandi dan mendapati pemuda itu yang memasang wajah tengil sambil menjulurkan lidahnya.
Aera berdehem, merapikan poninya dengan gaya andalan, sebelum kembali menghadap ke depan, ia menyempatkan untuk mengacungkan jari tengahnya pada Sandi, sebagai bentuk perlawanan.
Sedangkan Sandi justru terkikik, puas karena berhasil membuat Aera emosi.