"Ini cek satu miliar. Tapi serahkan putri mu." Dexter.
Dexter yang dikenal dingin terhadap perempuan. Tapi tertarik pada seorang gadis yang ditemuinya.
Dengan caranya sendiri, dia memaksa untuk menikahi gadis itu. Bahkan tidak segan-segan memberikan cek senilai satu miliar.
"Pa, aku tidak ingin menikah dengan pria tua dan cacat." Wilona.
Sementara gadis yang diincar Dexter adalah Kiandra. Seorang gadis yang memiliki identitas ganda.
Siapa gadis itu sebenarnya? Apa yang istimewa dari gadis itu sehingga membuat Dexter tertarik? Bahkan rela mengeluarkan uang sebanyak itu untuk mendapatkan gadis itu.
Kalau penasaran baca yuk.
Cerita ini hanyalah fiksi belaka. Tidak ada kaitannya dengan kehidupan nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pa'tam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
"Cuma segitu kemampuan mu?" Olivier berkacak pinggang sambil mengejek Dexter.
"Sabar, nanti akan aku tunjukkan keahlian ku," jawab Dexter.
Kiandra keluar dari mobil. Dengan secepat kilat dia langsung menyerang Olivier. Sejak tadi dia menahan diri, karena menurutnya Dexter terlalu bertele-tele.
Dexter tidak sempat mencegah ketika Kiandra menyerang Olivier. Namun, ternyata Olivier sudah siaga, sehingga dia dapat menghindari serangan Kiandra.
"Sayang, hati-hati!" Dexter khawatir Kiandra kenapa-kenapa. Karena Olivier cukup tangguh untuk dilawan.
Apalagi Kiandra hanya seorang perempuan. Walaupun dia ketua di dunia bawah, tapi sebagai seorang perempuan, tetap saja punya kelemahan.
Melihat Kiandra melawan Olivier, Dexter pun ikut bergabung. Akhirnya, pertarungan dua lawan satu pun terjadi.
Serangan demi serangan dilakukan oleh Kiandra dan Dexter. Namun, Olivier tetap bertahan.
Kiandra dan Dexter berhenti sejenak, kemudian keduanya saling pandang. Mereka pun menyerang secara serentak. Kali ini Olivier tidak dapat menangkis serangan dari keduanya.
Olivier mundur beberapa langkah sebelum akhirnya jatuh terpental ke tanah. Ketika Oliver hendak bangkit, puluhan buah mobil pun berhenti.
Kedatangan keluarga Henderson, bertepatan dengan kedatangan anak buah Kiandra dan anak buah Dexter.
Melihat puluhan mobil yang datang, anak buah Olivier pun langsung bergidik. Mereka segera bersembunyi di balik mobil untuk berlindung.
Bagaimana tidak? Semuanya memiliki senjata api ditangan mereka masing-masing. Jika anak buah Olivier tidak berlindung di balik mobil, sudah pasti mereka akan tertembak.
"Tempat ini sudah dikepung!" teriak James.
Kemudian James dan Louis menghampiri Kiandra dan Dexter. Sementara yang lain berada di tempat masing-masing.
"Tuan." James menunduk hormat.
"Kamu lambat," kata Dexter.
"Maaf Tuan," ucap James.
"Nona." Louis melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh James.
"Serang markas Serigala putih dan hancurkan tanpa sisa!' Perintah Kiandra.
"Baik!" James dan Louis menjawab secara bersamaan. Perintah Kiandra sama juga dengan perintah Dexter bagi James.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Olivier.
Dexter tidak menjawab, menurutnya itu tidak penting. Yang penting sekarang adalah, menghancurkan klan Serigala putih.
James dan Louis memerintahkan anak buahnya masing-masing untuk menyerang markas Serigala putih milik Olivier.
Sementara yang tersisa hanya keluarga Henderson yang siap memberantas anak buah Olivier yang ada di sini.
"Tidak perlu menggunakan senjata api," kata Carla berbicara melalui earphone.
Ya, seperti biasa di situasi seperti ini mereka selalu menggunakan earphone agar mudah berkomunikasi.
"Baik," ucap mereka serentak.
Carla yang memimpin pasukan mewakili keluarganya pun memberikan aba-aba untuk bertindak secara diam-diam.
Arjuna yang berada di samping Carla pun mengikut saja. Mereka berpindah dari mobil satu ke mobil lainnya dengan cara mengendap-endap.
Sesekali terdengar suara tembakan dari pihak musuh. Namun, mereka yang sudah ahli dalam strategi tidak menghiraukan suara tembakan itu.
Sementara Dexter dan Kiandra kembali bertarung melawan Olivier. Olivier yang sudah kembali bangkit, ingin menyerang Kiandra.
Namun, serangan Olivier segera diblokir oleh Dexter. Sehingga serangan Olivier tidak sampai mengenai Kiandra.
"Sial! Lagi-lagi aku kalah dari mereka," batin Olivier.
Kiandra mengeluarkan pisau kecil yang selalu dibawanya. Kemudian melemparkannya ke Dexter.
Dexter dengan cepat menangkap pisau itu, kemudian dengan cepat pula melemparkannya ke arah Olivier.
Olivier yang tidak menduga akan mendapatkan serangan pisau terbang pun tidak dapat menghindar. Sehingga pisau itu pun mengenai bagian dadanya.
"Akhhh. Bajingan kalian! Beraninya hanya main tipuan!" Maki Olivier.
"Ya begitulah seharusnya. Kalau terlalu jujur akan celaka," kata Kiandra.
Dexter hanya tersenyum. Kemudian merangkul pundak Kiandra. "Kamu hebat sayang. Tapi kalau aku tidak cepat, bisa-bisa pisau itu yang mengenai aku."
"Kamu yang hebat suamiku, bisa menangkap pisau itu tanpa diberikan aba-aba olehku," kata Kiandra memuji suaminya.
Dexter merasa senang, jujur saja dalam hatinya merasa berbunga-bunga. Bukan karena pujian, tapi panggilan suamiku dari Kiandra.
Karena selama ini Kiandra tidak pernah memanggilnya suamiku, sayang, atau ucapan manis yang lainnya.
"Sialan, mampus kalian!" Sambil berteriak, Olivier mengeluarkan pistol dari sakunya. Tidak perduli kalau pisau masih menancap di dadanya.
Melihat Olivier mengacungkan pistol ke arah mereka. Dexter dan Kiandra segera melompat ke kiri dan ke kanan untuk menyelamatkan diri.
Dor ... dor. Dua tembakan beruntun, namun keduanya sudah lebih dulu menghindar. Jadi tembakan itu tidak mengenai sasaran.
Olivier melihat anak buahnya sedang bertarung melawan musuhnya dengan tangan kosong.
Dia pun semakin beringas. Olivier mencabut pisau yang tertancap di dadanya. Kemudian membuang pisau itu ke sembarang tempat.
"Keluar kalian! Ayo hadapi aku kalau berani!" Sudah seperti itu pun, Olivier masih menantang Kiandra dan Dexter.
Dexter dan Kiandra keluar. Ditangan mereka memegang pistol yang mengarah ke Olivier. Olivier bukannya takut, dia malah tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha, hahaha. Pengecut kalian!"
"Terserah mau bilang apa? Yang penting kamu musnah dari muka bumi ini," ujar Kiandra.
"Mampus kalian!" Pekik Olivier.
Dor ... Bersama dengan suara tembakan, Olivier langsung jatuh tersungkur ke tanah.
Ya, Kiandra lebih dulu menembak Olivier sebelum Olivier menembak salah satu dari mereka. Sementara Dexter membiarkan saja Kiandra melepaskan tembakan ke arah Olivier.
"Dia sudah meninggal," kata Dexter setelah memeriksa keadaan Olivier.
Kiandra hanya tersenyum. Bagaimana tidak? Kiandra menembak Olivier tepat di kepalanya. Kiandra tidak perlu merasa iba kepada orang seperti itu.
Sementara anak buah Olivier juga sudah berhasil dilumpuhkan. Mereka tidak dibunuh, melainkan hanya ditangkap saja.
"Kalian tidak apa-apa?" tanya Carla ketika mendekati Kiandra dan Dexter.
"Tidak apa-apa aunty. Hanya mobil kami yang rusak," jawab Dexter.
"Kalian mau meneruskan perjalanan?" tanya Samuel. Kiandra dan Dexter pun mengangguk secara bersamaan. "Kalau begitu pakai mobil ku saja," tambahnya.
"Terima kasih Om, maaf jadi merepotkan," ucap Kiandra.
Kiandra dan Dexter pun pamit. Mereka tetap melanjutkan perjalanan menuju ke desa. Karena lain waktu, belum tentu mereka dapat berkunjung ke desa.
"Ayo kita bereskan sisanya," kata Carla.
Ponsel Dexter berdering, Dexter pun segera menjawabnya. James melaporkan jika markas Serigala putih beserta klannya sudah musnah.
Dexter hanya meminta James untuk mengurusnya sampai tuntas. Jangan sampai ada yang tersisa.
Begitu juga Kiandra yang mendapatkan laporan dari Louis. Kiandra juga mengatakan hal yang sama seperti Dexter.
Akhirnya, anak buah Kiandra dan anak buah Dexter bekerja sama menyelesaikan pekerjaan mereka.
"Huft." Kiandra menghela nafas. "Akhirnya semua beres," kata Kiandra.
"Apa kamu yakin tidak akan ada musuh lain?" tanya Dexter.
"Jika ada, itu urusan belakangan. Paling tidak dalam waktu dekat ini kita akan aman-aman saja," jawab Kiandra.
"Sepertinya Sela masih dendam dengan mu," kata Dexter.
"Aku tahu, tapi aku ingin lihat, sejauh mana dia bertindak?" ujar Kiandra.
Mobil terus melaju, hingga akhirnya mereka pun tiba disebuah desa. Desa yang pernah ditinggali oleh Kiandra. Banyak kenangan manis dan pahit yang dialaminya.
Juga, dari sinilah kehidupan Kiandra berubah. Kiandra memiliki identitas ganda yang jarang diketahui oleh orang lain.