Di sekolah, Kella hanyalah gadis yatim piatu yang miskin, pendiam, dan jadi sasaran bullying, Gala si mirid baru yang angkuh juga ikut membulinya. Kella tidak pernah melawan, meski Gala menghinanya setiap hari.
Namun, dunia Gala berputar balik saat ia tak sengaja datang ke sebuah Maid Cafe. Di sana, tidak ada Kella yang suram. Yang ada hanyalah seorang pelayan cantik dengan kostum seksi yang menggoda iman.
Kella melakukan ini demi bertahan hidup. Kini, rahasia besarnya ada ditangan Gala, cowo yang wajahnya sangat mirip dengan mendiang kekasihnya.
Akankah Gala menghancurkan reputasi Kella, atau justru terjebak obsesi untuk memilikinya sendirian?
#areakhususdewasa ⚠️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 (Part 2)
Pukul 16.00 WIB – Perpustakaan Kota
Perpustakaan kota adalah tempat yang sunyi, penuh dengan rak-rak kayu tinggi yang menyimpan ribuan cerita. Di pojok ruang referensi hukum, seorang pria berkacamata dengan setelan jas yang sedikit kusut duduk menunggu. dia adalah Adrian, pengacara muda yang pernah diceritakan Gabriel.
Gala dan Kella datang secara terpisah untuk menghindari kecurigaan. Gala masuk lebih dulu, disusul Kella sepuluh menit kemudian.
"Kella," Adrian berdiri, menatap Kella dengan mata yang penuh simpati. "Lama tidak bertemu. Terakhir kali aku melihatmu, kamu sedang menangis di depan ruang ICU."
Kella mengangguk sedih. "Terima kasih sudah mau datang, Pak Adrian."
Adrian kemudian menoleh ke arah Gala. Ia tampak tertegun sejenak, mengamati wajah Gala dengan saksama. "Kamu... kamu sangat mirip dengannya. Tapi matamu memiliki kemarahan yang tidak dimiliki Gabriel."
Gala duduk di depan Adrian, wajahnya datar. "Gue nggak ke sini buat bahas kemiripan wajah. Gue mau tahu apa yang lo punya soal kakak gue."
Adrian menghela napas, ia membuka tas kerjanya dan mengeluarkan sebuah map yang sudah agak kusam.
"Gabriel datang padaku sebulan sebelum ia meninggal. Ia membawa bukti-bukti manipulasi pajak yang dilakukan oleh ayahmu, Bramantyo Alangkara. Bukan hanya soal panti asuhan, tapi juga soal dana gelap yang digunakan untuk menyuap pejabat kota."
Gala mengepalkan tangannya. "Kenapa lo nggak laporin dari dulu?"
"Karena Gabriel melarangku," jawab Adrian pelan.
"Dia bilang, dia nggak mau kamu ikut hancur. Dia tahu kalau perusahaan itu jatuh sekarang, kamu yang masih di bawah umur akan kehilangan segalanya, termasuk perlindungan hukum. Dia ingin menunggu sampai kamu cukup kuat untuk berdiri sendiri."
Gala terdiam. Dadanya terasa sesak. Lagi-lagi, Gabriel melindunginya bahkan dalam rencananya untuk menghancurkan ayah mereka.
"Tapi sekarang situasinya berbeda," lanjut Adrian. "Proyek perumahan di atas lahan panti asuhan itu adalah kunci. Jika kita bisa membuktikan bahwa sertifikat yang mereka gunakan adalah palsu—seperti yang ada dalam dokumen yang kalian temukan semalam—kita bisa menghentikan proyek itu dan memulai penyelidikan menyeluruh terhadap seluruh aset Alangkara."
"Apa yang kita butuhkan?" tanya Kella.
"Tanda tangan basah Bramantyo pada dokumen pembebasan lahan asli yang disimpan di ruang rahasia di rumahnya," kata Adrian. "Dokumen digital tidak akan cukup kuat jika mereka bisa menyewa peretas untuk memanipulasi tanggal upload. Kita butuh kertas fisiknya."
Gala menyeringai pahit. "Ruang rahasia itu ada di dalam ruang kerja ayah gue. Pintunya pakai pemindai retina dan kode yang ganti tiap dua puluh empat jam."
"Aku bisa bantu," sahut Kella tiba-tiba.
Gala menoleh cepat. "Jangan gila, Kella. Lo nggak bisa masuk ke rumah gue."
"Bisa," Kella menatap Gala dengan yakin. "Minggu depan, ayahmu akan mengadakan pesta besar di rumah untuk merayakan proyek baru itu, kan? Aku dengar Sarah dan gengnya membicarakan soal pelayan tambahan yang dibutuhkan dari agensi luar. Kafe tempatku bekerja sering mengirim maid untuk acara-acara seperti itu."
Gala menggeleng keras. "Terlalu berbahaya. Ayah gue bakal ngenalin lo kalau dia liat lo di sekolah atau di foto-foto perundungan yang Reno sebar."
"Ayahmu tidak pernah melihatku secara langsung, Gala. Bagi dia, aku cuma debu yang nggak penting. Dan di pesta nanti, semua pelayan akan memakai masker tema pesta kostum. Aku bisa menyelinap saat semua orang sibuk."
Gala menatap Kella lama, mencari keraguan di mata gadis itu, namun ia tidak menemukannya. Yang ada hanyalah keberanian yang lahir dari rasa kehilangan yang mendalam.
"Oke," bisik Gala akhirnya. "Gue bakal cari tahu jadwal ganti kode pintunya. Tapi kalau sesuatu terjadi, lo harus janji buat lari duluan."
...
Pukul 19.00 WIB – Amai Memories - Maid & Butler Cafe
Setelah pertemuan dengan Adrian, Kella kembali bekerja di kafe. Namun, pikirannya melayang jauh. Ia sedang menyeka meja saat Pak Heru, pemilik kafe, mendekatinya dengan wajah cemas.
"Kella, ada yang mencarimu di depan. Dia bilang dia teman sekolahmu," kata Pak Heru.
Kella mengernyit. Bukankah Gala sudah bilang mereka tidak boleh terlihat bersama malam ini?
Saat ia melangkah ke area depan kafe, jantungnya seolah berhenti berdetak. Bukan Gala yang ada di sana.
Reno duduk di salah satu kursi, sedang memainkan pisau lipat kecil di tangannya sambil menatap Kella dengan senyum menyeringai yang menjijikkan.
"Wah," kata Reno, suaranya terdengar sangat puas.
"Kostumnya cocok banget di badan lo, Kel. Jauh lebih seksi daripada seragam sekolah lo yang kena telur tadi pagi."
Kella mencoba tetap tenang. "Apa mau kamu, Reno?"
Reno berdiri, melangkah mendekati Kella hingga jarak mereka sangat dekat. Ia mencium aroma parfum kafe Kella.
"Gue baru sadar sesuatu, Kella. Gala itu aneh. Dia benci lo, tapi dia nggak biarin orang lain buat bener-bener hancurin lo. Kayak dia lagi nyimpen mainannya sendiri," Reno mengelus pipi Kella dengan ujung pisaunya yang dingin. "Gue jadi penasaran. Apa yang lo kasih ke Gala sampe dia se-posesif itu?"
"Pergi dari sini, Reno. Ini tempat umum," desis Kella.
"Tenang, tenang. Gue cuma mau pesen kopi," Reno mengeluarkan ponselnya dan mengambil foto Kella secara tiba-tiba. "Foto ini bakal bagus banget kalau disebar di grup chat angkatan. 'Kella si Maid Pemuas', gimana menurut lo?"
Reno tertawa kecil, lalu berbisik di telinga Kella. "Gue bakal tutup mulut soal kerjaan lo ini... kalau lo mau nurutin satu permintaan gue besok di sekolah."
Kella mengepalkan tangannya. Ia tahu, Reno sedang mencoba memasang jebakan. Ia harus berhati-hati agar rencananya dengan Gala tidak tercium oleh Reno yang mulai curiga.
"Apa permintaannya?" tanya Kella dengan suara tertahan.
"Besok, saat jam istirahat, lo harus curi ponsel Gala dan kasih ke gue selama satu jam. Gue mau tahu apa yang si pangeran es itu sembunyiin di dalemnya. Kalau lo gagal... foto-foto lo di kafe ini bakal ada di mading sekolah besok siang."
Reno menepuk bahu Kella, lalu berjalan keluar kafe dengan siulan santai.
Kella berdiri terpaku. Ia harus segera memberi tahu Gala. Ancaman Reno bukan hanya soal reputasinya, tapi soal seluruh rencana mereka. Jika Reno mendapatkan ponsel Gala, dia akan menemukan pesan-pesan dari Adrian dan foto-foto dokumen panti asuhan.
...