"menikah, atau kamu kami coret dari daftar pewaris?"
"tapi dia gila mah,"
.........
Narendra meradang saat jalinan kasihnya selama bertahun-tahun harus kandas dan berakhir dengan menikah dengan perempuan pilihan orang tuanya.
Reyna, putri konglomerat yang beberapa tahun belakangan di isukan mengidap gangguan jiwa karena gagal menikah adalah perempuan yang menjadi istri Narendra.
tak ada kata indah dalam pernikahan keduanya, Naren yang belum bisa melepas masa lalunya dan Rayna yang ingin membahagiakan keluarga nya di tengah kondisi jiwanya, saling beradu antara menghancurkan atau mempertahankan pernikahan.
apakah Naren akhirnya luluh?
apakah Rayna akhirnya menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyky Pamella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MPG_17
Setelah melewati malam yang terasa begitu panjang dan melelahkan, pagi datang seolah tak pernah terjadi apa pun. Cahaya matahari menyelinap dari balik tirai, jatuh lembut di lantai kamar, namun tak mampu menghangatkan apa pun yang ada di dadaku.
Narendra telah kembali ke setelan pabriknya.
Wajahnya dingin. Sikapnya kaku. Tak ada lagi sisa senyum samar atau raut meneduhkan yang sempat ia perlihatkan semalam, ia kembali menjadi Narendra yang kukenal: rapi, terkontrol, dan berjarak. Seolah malam tadi hanyalah sebuah gangguan kecil yang tak perlu diingat.
Aku bangun dengan tubuh terasa asing. Setiap gerakan kecil memancing rasa perih yang menjalar pelan tapi pasti, membuatku harus menahan napas. Aku berusaha duduk, namun kakiku gemetar saat menapak lantai.
“Mamah Farah sudah manggil. Kita turun sekarang,” ucap Narendra singkat.
Ia lalu berdiri lebih dulu, merapikan manset kemejanya di depan cermin, seakan aku hanyalah bayangan yang kebetulan berada di ruangan yang sama.
Saat aku mencoba berdiri, lututku hampir menyerah.
“Pegang tanganku.”
Perintah itu meluncur begitu saja dari bibirnya saat ia menoleh dan melihatku kesulitan. Tangannya terulur, tanpa ekspresi.
Aku ragu sejenak, tapi akhirnya menggenggamnya. Rasa nyeri langsung menyeruak ketika kakiku kugeser sedikit demi sedikit. Aku menggigit bibir, berusaha menahan desahan yang hampir lolos.
Kami turun tangga perlahan.
“Morning, sayang.”
Suara mamah Farah menyambut dari ruang makan. Ia tersenyum hangat saat melihat kami.
“Morning, Mah… Pah,” ucapku, memaksakan senyum sambil berusaha membuat langkahku terlihat wajar. Sayangnya, aku memang tidak pernah berbakat berpura-pura. Tubuhku terlalu jujur untuk itu.
“Kamu kenapa, Na?” tanya papah sambil memperhatikanku lekat. “Jalannya kok begitu? Kakimu sakit?”
Aku terdiam sepersekian detik, mencari kata yang aman.
“E-eng… iya, Pah. Kaki aku sakit,” jawabku terbata.
Papah mengernyit. “Mah, itu anaknya kakinya sakit, kok kamu malah senyum-senyum aja?”
Mamah hanya mencebik pelan, lalu menepuk bahuku singkat. “Nanti diobatin, ya. Jangan dipaksakan.”
Namun sebelum aku sempat menjawab, pandangan mamah sempat melirik ke arah Narendra. Tatapan singkat itu penuh arti, senyum mamah semakin merekah
“Le,” suara mamah mendadak meninggi, “letakkan dulu ponselnya. Nikmati kebersamaan. Dari tadi matamu nempel terus ke layar.”
Narendra mendengus pelan, tapi menurut. Ponselnya ia letakkan di meja, meski jarinya masih refleks bergerak, seakan tak rela benar-benar melepaskannya.
Sarapan berlangsung dalam keheningan yang aneh. Ada suara sendok beradu dengan piring, ada obrolan basa-basi papah soal bisnis, tapi semuanya terasa jauh. Aku hanya fokus mengunyah perlahan, menahan rasa tak nyaman yang terus mengingatkanku pada malam tadi.
Begitu selesai, Narendra langsung berdiri.
“Aku harus balik ke apartemen. Ardi sudah nunggu untuk meeting,” katanya singkat.
Tak ada tawaran untuk tinggal lebih lama. Tak ada basa-basi.
Kami berpamitan, lalu melangkah ke mobil.
---
Di dalam mobil, udara terasa berat. Mesin baru saja menyala ketika Narendra melirik ke arahku.
“Sakit banget?” tanyanya, suaranya lebih rendah dari biasanya.
Aku hanya mengangguk, memilih menatap lurus ke depan. Duduk dengan posisi rapat terasa menyiksa, tapi membuka sedikit kakiku pun membuat rasa perih semakin nyata.
“Maaf,” ucapnya. “Nanti aku belikan salep biar nyerinya berkurang.”
“Iya. Terima kasih,” jawabku singkat, tanpa emosi.
Mobil melaju, membelah jalanan pagi Solo yang mulai padat.
“Kita ke dokter dulu sebelum pulang,” lanjutnya tiba-tiba.
Aku langsung menoleh. “Dokter?”
“Iya.”
“Dokter apa?”
“Obgyn.”
Jantungku serasa berhenti berdetak. “Kenapa ke sana?” suaraku meninggi tanpa bisa kutahan. “Ajeng hamil? Kamu… kamu menghamili Ajeng?”
Narendra menghela napas, tetap fokus ke jalan. “Kenapa jadi Ajeng?”
“Karena cuma dia yang ada di kepalamu!” sinisku.
“Kita ke sana buat kamu,” katanya datar. “Pasang KB. Semalam aku keluar di dalam karena kamu nahan aku buat cabut. aku nggak mau ambil risiko.” ucapnya ragu
“Risiko?” aku tertawa pahit. “Jadi sekarang semuanya salah aku?”
“Kamu yang menahan aku di saat terakhir,” jawabnya tanpa menoleh. “Aku sudah mau berhenti.”
“ohh..” suaraku bergetar. “Jadi semua yang terjadi semalam itu karena salah aku?”
Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan air mata yang mulai menggenang.
“Aku sudah akan pergi saat semua sudah mulai tak terkendali, aku juga bilang berhenti berulang kali, tapi kamu tetap memaksa. Kalau kamu ada di posisiku, apa yang akan kamu lakukan saat melihat suamimu benar-benar kesakitan?” aku menatapnya tajam. “Kamu sadar penuh, Naren. Kamu tahu apa yang kamu lakukan.”
Ia terdiam.
“Aku bilang hentikan aku kalau aku kelewat batas. Tapi kamu nggak. Kamu malah… menerjang tanpa peduli aku siap atau tidak,” suaraku mulai bergetar oleh amarah yang tertahan. “Lalu sekarang kamu lempar semuanya ke aku?”
Aku menelan ludah. “Lihat tubuhku. Penuh bekas yang kamu tinggalkan. Tapi apa ada satu pun tanda aku di tubuhmu? Jadi siapa sebenarnya yang dikuasai nafsu?”
Mobil melambat sedikit.
“Kalau pun benih itu tumbuh,” ucapku lirih tapi tegas, “aku akan merawatnya sendiri. Aku bisa. Tanpa kamu. Anak itu tetap akan hidup berkecukupan. Ia tidak akan kekurangan apa pun. Dan ia tidak akan membutuhkanmu sebagai ayah.”
Narendra mendadak menoleh. Mobil di depannya hampir terserempet, membuat sopir lain memaki keras. Ia buru-buru mengendalikan setir.
“Hentikan mobilnya,” kataku dingin. “Turunkan aku di sini.”
“Apa-apaan kamu?” Ia malah menambah kecepatan.
“Aku bilang hentikan, atau aku lompat.”
Tanganku sudah bergerak ke arah sabuk pengaman.
“Rayn!” suaranya meninggi. “Jangan bodoh.”
Rasa amarahku seperti sudah sampai pada batasnya, aku tau dia tidak suka padaku tapi aku tak menyangka jika dia bahkan bisa dengan tega ingin memusnahkan calon anaknya bahkan sebelum ditentukan apakah ia akan hadir atau tidak.
Wajahnya melunak. Untuk pertama kalinya sejak pagi, aku melihat sesuatu yang mirip penyesalan.
“Aku minta maaf,” katanya pelan. “Aku nggak maksud begitu.”
“Kita pulang aja. Nggak usah ke mana-mana,” sambungnya sambil mencoba meraih tanganku.
Aku langsung mengibaskan tangannya.
“Apa sebenarnya yang kamu mau?” tanyaku putus asa.
Ia menepi, lalu mematikan mesin.
“Aku minta maaf,” ucapnya lagi. “Aku nggak mikir panjang.”
“Sejak kapan kamu pernah mikir panjang soal aku?” balasku getir.
“Maaf.”
“Untuk yang mana?” tanyaku tajam.
Ia terdiam.
“Untuk fitnahmu? Untuk caramu menyeret aku keluar kamar? Untuk tuduhanmu atas kendali dirimu sendiri? Atau untuk niatmu menghapus sesuatu yang bahkan belum tentu ada?” aku menatapnya tanpa berkedip.
“Aku minta maaf untuk semuanya,” katanya akhirnya. “Semua kesalahanku.”
Hatiku terasa nyeri. Lebih nyeri dari apa pun yang pernah kurasakan, bahkan dibandingkan saat melihatnya bersama Ajeng.
Ponselnya berdering. Ia mengangkat panggilan lewat headset.
“Assalamu’alaikum… iya… aku lagi di jalan… jangan, tunggu di kafe depan apart aja… nanti aku jelasin.”
Ia menutup panggilan dan menatapku.
“Kita pulang, ya.”
Aku memalingkan wajah ke jendela. “Kenapa? Sudah ditunggu Ajeng?”
Ia tidak menjawab. Mesin mobil kembali menyala.
Kami melaju dalam diam. Tangannya kembali menggenggam tanganku, erat, seolah takut aku menghilang. Tapi pikiranku sudah jauh, sibuk dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak lagi punya jawaban.
Jalanan Solo terasa panjang. Dan aku tahu, perjalanan ini—bukan hanya yang ada di depan mata—jauh dari pada itu, ini akan lebih melelahkan dari yang kubayangkan.
plisss dong kk author tambah 1 lagi