NovelToon NovelToon
Rahasia Yang Disembunyikan Suamiku

Rahasia Yang Disembunyikan Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Beda Usia / Selingkuh / Cintamanis / Cinta Terlarang
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi F. Sari

Lima tahun sudah Nadira menjalani sebuah pernikahan. Lima tahun pula rahimnya dijadikan bahan cibiran, saat setiap kali mertuanya melontarkan kata-kata tajam. Mandul. Wanita bermasalah.

"Mas, aku sudah lelah menghadapi ibumu yang selalu menuduhku mandul. Padahal kenyataannya kamu jarang menyentuhku. Apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" (Nadira)

Namun respon Ardian membuat Nadira terdiam.

"Sudahlah Nadira, gak usah di dengarkan ucapan Ibu. Jadi sabar saja. Lagian aku gak pernah menyembunyikan apapun darimu." (Ardian)

Bersabar, katanya.
Tapi sampai kapan kesabaran itu bisa bertahan?

Apakah dibalik ucapannya, Ardian menyembunyikan sebuah rahasia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Selalu Disalahkan

Pagi perlahan bergeser ke siang. Setelah memastikan rumah dalam keadaan rapi, Nadira keluar dan melanjutkan harinya ke tempat lain. Di balik perannya sebagai istri, ia pemilik sebuah rumah makan yang ia bangun dari nol.

Begitu ia tiba, sapaan hangat langsung menyambut.

“Selamat siang, Bu Nadira.”

Nadira membalas dengan anggukan dan senyum tipis. Langkahnya belum jauh ketika seorang gadis menghentikannya.

“Bu Nadira, tadi pagi ada pelanggan pesan katering. Untuk acara arisan besok siang, sepuluh porsi.”

Nadira berhenti. “Stok bahan cukup?”

Gadis itu menggeleng. “Belum, Bu. Saya sama dua orang mau belanja.”

Nadira menoleh ke arah dapur. Asap tipis mengepul, bunyi peralatan saling bersahutan. Ia berpikir sejenak.

“Sudah,” ucapnya akhirnya. “Kamu ikut saya saja. Ajak satu orang lagi. Catat bahan yang kurang. Saya tunggu di mobil.”

“Baik, Bu.”

Nadira berbalik, melangkah ke luar. Panas siang menyentuh kulitnya.

...

Beberapa saat kemudian, mobil berhenti di depan supermarket. Nadira turun lebih dulu, ia melangkah masuk, diikuti dua orang karyawannya.

“Biar lebih cepat, kalian berpencar saja. Nanti kumpul lagi di sini,” ucap Nadira sambil menunjuk satu titik.

“Baik, Bu,” jawab keduanya serempak.

Nadira memperhatikan langkah mereka yang menjauh ke arah berbeda. Pandangannya beralih ke lorong bahan dapur.

Ia mendorong troli, melangkah perlahan di antara rak-rak yang tersusun rapi. Menyusuri satu per satu kebutuhan tanpa memperdulikan langkah orang-orang yang berlalu lalang.

Nadira yang kini sedang menimbang bawang ketika suara wanita yang tak asing menyusup dari belakangnya.

“Nadira? Kamu ternyata.”

Bahunya menegang. Ia menoleh perlahan. “Ibu,” sapanya sopan, lalu tersenyum tipi. “Iya, Bu. Lagi cari bahan buat stok dapur,” jawabnya sopan, suaranya dijaga tetap tenang.

Bu Wani melirik troli, senyum sinis terukir jelas. “Dapur di rumah makan mu itu, kan?”

“Iya, Bu.” Nadira mengangguk tipis.

“Kamu mau sampai kapan begini terus?” Bu Wani mendekat setengah langkah. “Nggak iri lihat kakak iparmu? Anaknya sudah mau tiga loh, masa kamu kalah?”

Nadira menarik napas. “Iri sih, Bu,” katanya datar. “Tapi mau bagaimana lagi? Mas Ardian selalu sibuk kerja. Hampir nggak ada waktu buat berdua.”

Bu Wani mendengus.

“Anggap saja belum rezeki,” lanjut Nadira. “Lagipula Mbak Rani sudah kasih Ibu cucu. Harusnya nggak masalah kalau aku belum.”

“Kamu—” Bu Wani terhenti, lalu menghela napas panjang. “Setidaknya tahu malu sedikit. Apa kata orang kalau kamu nggak hamil-hamil?” Nada suaranya menajam. “Yang disalahkan nanti pasti anak ibu. Padahal dari awal masalahnya ya kamu.”

Jari Nadira mencengkeram bawang. “Lalu aku harus gimana, Bu? Mas Ardian gak pernah mau diajak, alasannya ya itu-itu saja. Pulang selalu hampir jam satu malam. Bukan sehari dua hari, Bu. Lima tahun.”

“Kan kamu bisa merayu Ardian.”

Merayu.

Kata itu berputar di kepala Nadira. Ia menelan ludah. ‘Sudah berkali-kali aku selalu merayu Mas Ardian, dan sudah beberapa kali aku memasukkan obat perangsang di dalam minumannya, dan aku juga sudah menjatuhkan harga diriku di depan Mas Ardian dengan mengganti pakaian di depan matanya. Tapi apa? Aku malah yang disalahkan karena belum kasih cucu, padahal yang seharusnya di salahkan adalah Mas Ardian.’

“Kalau begitu, Ibu saja yang merayu Mas Ardian, mungkin Mas Ardian akan mendengarkan Ibu."

“Kamu ini—”

Nadira memalingkan wajah. “Mas Ardian juga berperan, Bu. Bukan aku saja.”

“Dasar menantu kurang ajar!” Bu Wani meninggi. “Dibilangin baik-baik malah nggak punya adab!”

Adab?

Nadira tersenyum getir, ‘Padahal dari awal ibu mertuaku selalu menyalahkanku, apa itu yang namanya adab?’

“Bu, kami sudah selesai.”

Suara itu terdengar seperti penyelamat. Nadira menoleh. Dua karyawannya berdiri tak jauh darinya. Dadanya terasa sedikit lebih ringan. Jika mereka tak datang, entah kata apa yang akan lolos dari mulutnya.

Nadira mengangguk, lalu kembali menatap Bu Wani. “Aku harus bayar belanjaan, Bu. Apa sekalian mau aku bayarkan?”

“Gak perlu,” sahut Bu Wani cepat. “Saya bisa bayar sendiri. Yang jelas, bukan dari suami.”

Nadira menahan senyum. “Iya, Bu. Tapi uang itu juga dari Mas Ardian, kan?”

“Kamu nggak terima? Saya ini ibunya. Yang melahirkan, membesarkan sampai dia sukses.”

Nadira menggeleng pelan. “Enggak begitu, Bu.” Ia menata suaranya. “Itu bakti anak pada ibunya. Aku juga kirim uang ke orang tuaku di desa. Pakai uangmu sendiri. Nggak apa-apa, kan? Mereka juga yang membesarkan ku.”

Ia menarik troli. “Aku pamit dulu, Bu.'

“Pasti mau menghindar,” dengus Bu Wani. “Malu, ya? Kamu itu wanita nggak berguna. Bermasalah.”

Langkah Nadira terhenti. Jari-jarinya menegang di gagang troli.

“Bu, jangan diperbesar,” ucapnya rendah. “Malu, Bu.”

“Biarin saja! Biar semua orang tahu kalau kamu wanita nggak berguna yang cuma menghabiskan uang anak saya.”

“Bu, lebih baik kita pergi,” suara karyawannya terdengar cemas.

Nadira terdiam. Ia mengangguk pelan. Tanpa menoleh lagi, ia mendorong troli dan melangkah pergi.

Bu Wani menatap punggung Nadira yang menjauh. Rahangnya mengeras, dadanya naik turun menahan kesal. Harga dirinya terasa diinjak.

Sejak kapan Nadira berani melawan?

Matanya menyipit. Amarahnya mengendap, dingin, tapi tajam.

“Awas saja kamu, Nadira,” gumamnya pelan.

...

Seharian di rumah makan menguras tenaga Nadira. Kini ia duduk di ruang tamu, menatap televisi dengan tatapan kosong. Suara dari layar hanya lewat, tak tinggal. Kejadian siang tadi berputar di kepalanya.

Bunyi langkah sepatu terdengar dan membuyar lamunannya. Nadira menoleh. Adrian baru saja masuk. Ia bangkit, menarik senyum tipis, lalu melangkah mendekat.

“Mas, tumben pulang—”

“Nadira, bisa gak kamu sopan sama Ibu?” potong Ardian dingin. “Padahal Ibu cuma bermaksud baik, ngingetin kamu.”

Nadira terdiam sesaat, dan akhirnya ia mulai mengerti. “Oh, Ibu ngadu?”

Ia tersenyum miring.

“Nadira,” panggil Ardian. Nadanya menekan.

“Ibu kamu yang mulai duluan, Mas,” balas Nadira. “Aku cuma menanggapi. Tiap ketemu, temanya itu-itu saja. Soal anak. Apa kamu nggak pernah sadar?”

Ardian menatapnya lama, lalu menghela napas. “Ya kamu kan bisa iya-iya saja.”

Kalimat itu membuat Nadira tertawa pelan. Bukan karena lucu. “Apa lagi yang ibumu katakan tentang aku, Mas?”

“Ibu bilang kamu melarang aku ngasih uang ke Ibu,” jawab Ardian. “Dan juga kamu nggak pernah ngasih uang, malah kirim ke orang tuamu di desa.”

Nadira menoleh cepat. “Sejak kapan aku bilang begitu?”

Ia melangkah menjauh sedikit. “Uangku ya uangku, Mas. Wajar aku kirim ke orang tuaku. Aku nggak pakai uangmu. Kamu saja rutin kirim ke ibumu, masa aku nggak boleh? Aneh sekali.”

Ia berbalik dan duduk, sikapnya tenang, tapi rahangnya mengeras.

“Kan Ibu yang melahirkan aku, Nadira,” ucap Ardian. “Kalau bukan karena Ibu, aku nggak akan pernah sukses dan menikah sama kamu.”

Ardian menatap Nadira tajam. “Lain kali, sopan sama Ibu. Bagaimanapun, Ibu juga ibumu.”

Nadira tersenyum tipis tanpa menoleh. “Aku akan sopan kalau ibumu juga sopan sama aku.” Ia berdiri, hendak pergi.

“Besok kumpul—”

“Aku tahu,” potong Nadira. Ia menoleh sekilas. “Oh ya, aku nggak masak. Aku bawa sisa makanan dari rumah makan. Kalau lapar, makan saja.”

Tanpa menunggu jawaban, Nadira melangkah menuju kamar.

Besok adalah hari yang paling ia benci.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!