NovelToon NovelToon
Aku Memang Pernah Selingkuh

Aku Memang Pernah Selingkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Selingkuh / Cerai / Pelakor / Penyesalan Suami / Healing
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Poporing

Arinta adalah seorang pria, suami, juga ayah yang telah melakukan perselingkuhan dengan teman sekantornya bernama Melinda dari istri sah nya, Alena setelah menjalani bahtera rumah tangga hampir tujuh tahun pernikahan hanya karena kekhilafan.

Ketika semua rahasianya terbongkar oleh sang istri, semuanya dianggap terlambat, Alena seolah menutup ruang untuknya kembali sekalipun ia berusaha memperbaiki.

Sesakit itukah yang dirasakan oleh Alena? Harapannya untuk bersama Alena pupus ketika wanita itu mantap untuk bercerai dan sepertinya ia mulai dekat dengan seorang pengusaha kaya raya bernama Aditya.

Arinta harus melepaskan Alena meski ia masih mencintai sang istri dan tampak menyesal, tapi kehidupan terus harus berjalan....

Bagaimana cara Arinta memulai kembali semuanya dari awal sementara penghakiman atas dirinya akan terus melekat entah sampai kapan....

"Apakah aku tak pantas dengan kesempatan kedua...?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14 : Janji yang dibuat

Keesokan harinya Arinta masuk ke kantor dengan wajah murung. Ia benar-benar terlihat seperti sedang memiliki masalah yang berat. Melinda yang memperhatikan dari meja kerjanya di kejauhan langsung punya ide untuk menghibur pria itu nanti dengan berpikir pria itu pasti akan senang dan memberikannya hadiah lagi nanti.

Di sisi yang berbeda Alena diterpa dilema setelah melihat bagaimana kuatnya Alea menginginkan sosok Arinta. Mau sekuat apapun ia berusaha membujuk gadis kecil itu, Alea tetap mencari keberadaan ayahnya, seperti pagi ini, ia sudah sibuk bertanya apakah ayahnya akan datang dan melihat ikan bersamanya?

"Lagi mikirin apa, Len?" Andini yang turut prihatin duduk di sebelahnya Alena yang sedang berada di ruangan TV.

"Gak tau, Din..., gue juga bingung sekarang...." Alena menggeleng lemah mempertanyakan nasib rumah-tangganya dalam diam.

"Lu gak bisa terus-terusan menghindar, Len...." Andini menghela napas panjang. "Satu-satunya cara, lu temuin Arinta baik-baik dan bahas masalah kalian empat mata," sambungnya.

"Tapi dia masih bohong terus sama gue, bahkan kemarin dia masih bisa loh ngerasa gak ada salah!" Balas Alena sedikit tersulut mengingat Arinta dengan sikap sok polosnya itu.

"Ya kalau gitu lu kasih bukti dari toko cincin itu aja. Lu harus tegas mengambil sikap, Len!" Andini agak memberi desakan kepada Alena untuk segera mengambil sikap agar masalah mereka gak berlarut-larut. "Kasihan Alea kalau kalian masih terus begini. Lu minta kesadaran Arinta untuk mengaku, padahal lu udah tau dia terus berbohong! Gak bakal bisa selesai kecuali lu langsung kasih bukti yang gak bisa dibantah!" Andini sedikit terbawa emosi dengan sikap Alena yang terlalu menahan diri dan masih berharap Arinta mau jujur dengan sendirinya.

Alena menatap ke arah sang teman seolah sedang mencari persetujuan dan dukungan. Andini, mengangguk, menggenggam tangan Alena untuk memberikannya keyakinan agar mantap melangkah.

"Gue bakal coba hubungi Arinta dan buat janji ketemu sore ini," ujarnya yang akhirnya mengambil sebuah keputusan.

.

.

Siangnya di kantor, atau lebih tepatnya di dalam ruangan kerja Arinta, wanita itu sedang berada di dalam, mencoba untuk merayu dengan dalih menghibur.

"Kita makan siang di luar, Yuk...." Melinda merengek dengan suara manja. Ia berani memeluk leher lelaki itu dari belakang, sengaja untuk menggoda.

"Gak bisa kayaknya, Mel..., kerjaan aku lagi numpuk, harus banyak yang di cek...." Arinta melepaskan kedua tangan Melinda yang melingkar pada lehernya.

Pria itu kembali fokus menatap layar komputer di hadapannya sambil melihat beberapa dokumen di atas meja.

"Ya udah, kalau gak mau, gimana kita makan berdua di dalam ruangan ini saja? Aku bawain makanannya buat kamu, mau?" Melinda tak menyerah, ia tetap berusaha. Ah, hubungannya sama Arinta gak boleh putus, Bisa hilang nanti tambang emasnya.

"Terserah kamu saja," jawab Arinta sekenanya karena dia memang lagi serius. Pria itu bisa dikatakan sangat bertanggung-jawab soal pekerjaan, tipe yang gak mau main-main kalau sudah menyangkut hal penting.

"Oke, aku ke kantin dulu ya!" Mata gadis itu langsung menyala dengan bara semangat. Ia mencium pipi lelaki itu dengan cepat sebelum akhirnya berjalan meninggalkan ruangan.

.

.

Mata pria itu masih terpaku pada layar komputer ketika ponselnya berdering cepat. Fokusnya seketika buyar, berharap itu adalah pesan penting untuknya.

Pesan dari Alena..., ucapnya saat melihat ada notifikasi masuk.

Arinta membuka pesan dari Alena dan mengecek isinya. Untuk sesaat seluruh atensinya berpindah. Dia bahkan gak sadar ketika Melinda mengetuk pintu ruangannya dari luar beberapa kali.

Tok

Tok

Tok

Ketukan pintu itu seolah tak terdengar oleh Arinta. Fokus matanya hanya tertuju pada satu kalimat.

Sore ini aku ke rumah, ada hal yang ingin aku bicarakan.

Arinta seketika melihat jam yang sudah menunjukkan hampir jam 2 siang.

Tok

Tok

Tok

"Pak! Tolong buka pintunya! Saya bawa makanan ini repot, gak bisa buka pintu!"

Suara Melinda mengejutkannya. Wanita itu berteriak dari luar sambil mengetuk-ngetuk pintu sedari tadi.

"Astaga..., kok bisa lupa...," ujarnya yang kemudian langsung berdiri dari bangku, berjalan membuka pintunya.

"Aduh, Pak Arinta gimana sih? Saya berdiri lama di luar, tangan saya pegel nih!" Melinda langsung menggerutu sambil membawa-bawa nampan makanan masuk. Arinta menutup pintu ruangannya kembali.

"Maaf, saya tadi benar-benar lupa...," jawab pria itu dengan jujur.

"Kurang relaks sih!" Balas Melinda dengan senyuman jahil.

Wanita itu terlihat sedang menata makanan yang ia bawa ke atas meja, lalu membawa nampan tersebut keluar untuk dikembalikan ke kantin.

Arinta melirik makanan yang dibawakan Melinda lalu tersenyum kecut. Rupanya Melinda bisa lebih tau selera makanannya dibanding Alena. Memangnya apa sih yang dibawa Melinda sampai Arinta terkesan?

Melinda kembali ke ruangan itu dengan senyum lebar.

"Yuk makan." Dengan santai ia duduk di sofa kantor dan mulai mengaduk sayur sop miliknya.

Arinta ikut duduk di sebelahnya dan melakukan yang sama.

"Kamu tau darimana kalau aku suka sayur sop?" Tanyanya saat menuangkan isian sop beserta kuahnya ke nasi lalu dicampur dengan sedikit sambal.

"Kamu dulu pernah cerita suka masak sayur di rumah terutama sop sederhana, jadi yaaaaa mumpung di kantin ada menu ini, aku ambil ini saja untuk makan siang," jawab Melinda yang tampaknya masih mengingat cerita sekilas dari Arinta waktu awal-awal mereka baru dekat dan belum menjalin hubungan seperti sekarang.

"Ya, kebetulan aku memang udah gak sempet masak lagi di rumah jadi lumayan kangen sama masakan kayak gini," ujarnya sedikit tersenyum samar.

"Emangnya Alena gak pernah bikin buat kamu?" Tanya Melinda tiba-tiba.

"Ah, dia lebih fokus untuk mengurus Alea..., dan dia kalau masak sesuai kata hatinya untuk terbaik saja...." Jawaban Arinta begitu halus. Tapi jelas tersirat kalau selama ini Alena hanya memasak apa yang menurutnya baik dan disuka oleh anaknya. Secara kasarnya gak ada masakan khusus untuk Arinta sendiri, dia hanya follower yang ikut makan apapun yang disediakan.

"Hebat dong kamu! Kalau suami lain sih pasti udah ngamuk kayak gitu," celetuk Melinda dengan cepat.

"Udah makan dulu, ngomongnya nanti!" Sambar Arinta sambil menggelengkan kepala.

.

.

Arinta hari itu pulang cepat karena ada janji yang harus ia tepati kepada Alena. Usai makan siang ia segera membereskan semua pekerjaannya dan pulang begitu saja. Melinda hanya melirik heran, gak biasanya dia pergi seperti itu.

Sementara Alena tampaknya sudah terlebih dahulu sampai di rumah kediaman mereka. Ia masuk ke dalam dengan kunci yang dibawanya bersama dengan Andini.

Alena terlihat sedikit cemas, ia khawatir Arinta tidak datang dan malah bersenang-senang dengan selingkuhannya itu hingga tak mempedulikan urusan mereka.

"Sebenarnya dia niat gak sih?" Alena mulai tak sabar.

"Tunggu saja Len, jarak kantornya kan lumayan jauh!" Balas Andini.

Tak berapa lama mobil Arinta sudah tiba. Ia membunyikan klakson dua kali sebagai tanda kemudian ia turun dan membuka pintu gerbang.

"Tuh, dia datang!" Seru Andini sambil melongok keluar melihat Arinta yang sedang membuka pintu.

Apa yang akan dibicarakan Alena nanti setelah bertemu dengan Arinta?

.

.

Bersambung....

1
partini
kesempatan kedua
hemmmm jarang deh mungkin ada 1000/1 yg betul" sadar, sodara ku aja berhentinya ajal menjemput selingkuh Mulu susah kalau hati udah pernah bercabang
Panda: wah baru tau aku 😱
total 7 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!