Karena cinta tak direstui orang tuanya, Sonya merelakan keperawanannya untuk Yudha, lelaki yang sangat ia cintai. Namun hubungan itu harus berakhir karena Sonya akan segera dijodohkan dengan Reza.
Setelah malam panas itu, Sonya justru diusir dari rumah dan berakhir hamil anak Yudha. Ia ingin kembali pada Yudha, tetapi lelaki itu sudah pergi ke luar negeri.
Saat Sonya bertekad membesarkan anak itu seorang diri, takdir kembali mempermainkannya. Anak tersebut menderita kanker darah dan membutuhkan donor sumsum tulang belakang dari ayah kandungnya.
Apa yang akan dilakukan Sonya. Kembali pada Yudha demi kesembuhan sang anak, atau pergi ketika Yudha kembali ke Indonesia dengan seorang anak laki laki dan calon istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Yudha memperhatikan arah pandangan mata Sasa yang tampak tertuju ke kejauhan. Namun, sejauh apapun ia mencoba mencari, tak ada siapa pun di sana. Kening Yudha berkerut, kebingungan. "Di mana bundamu?"
"Tadi dia di sana, Paman," jawab Sasa dengan suara kecil, tapi ekspresi wajahnya mulai menunjukkan keraguan. Apakah tadi benar itu bundanya? Atau mungkin dia salah melihat? Pertanyaan itu berputar-putar di benaknya, membuat matanya tampak lebih gelisah.
Yudha tersenyum kecil, berusaha menenangkan anak itu. "Tidak apa-apa, mungkin nanti bunda kembali." Namun, senyum itu hanya bertahan sesaat. Wajah Sasa yang tampak pucat pasi segera menarik perhatiannya, membuat dadanya terasa sesak.
"Kalau boleh tahu, Sasa sakit apa?" tanyanya lembut, nyaris berbisik, takut menyentuh luka yang tak terlihat.
Sasa memegang dadanya, menarik napas pendek sebelum menjawab. "Kata bunda, Sasa sakit rindu ayah," ucapnya pelan, hampir seperti gumaman. "Nanti kalau ayah mau datang dan ketemu Sasa, sakitnya bakal sembuh." Ia mendongak, memandang Yudha dengan mata polos penuh harap. "Tapi, Paman, apa ada sakit seperti itu?"
Yudha tercekat. Kata-kata sederhana itu menghujam dadanya, membawa keheningan yang berat. Ia menatap Sasa, merasakan gelombang emosi yang tak bisa dijelaskan. Sakit rindu... apakah itu benar-benar penyakit? Atau hanya luka yang tak terobati karena kehilangan?
Yudha menghela napas panjang, berusaha menguasai dirinya. Ia mengulurkan tangan, mengusap lembut kepala Sasa. "Mungkin ada," jawabnya perlahan. "Tapi kalau ada yang sayang sama kamu, sakit itu pasti bisa sembuh, meskipun butuh waktu."
Sasa tersenyum kecil, tapi ucapan berikutnya membuat Yudha tertegun. "Paman, ini rahasia ya. Sebenarnya Sasa tahu umur Sasa gak akan lama."
"Kenapa kamu bicara seperti itu?" tanya Yudha, suaranya bergetar sedikit.
Sasa merasa aman untuk bercerita, entah mengapa. Ia menggulung lengan baju panjangnya, memperlihatkan bekas tusukan jarum infus di kulitnya yang pucat. "Lihat, Paman. Sudah berkali-kali dokter nusuk Sasa. Bunda dan Mama sering nangis kalau lihat Sasa. Mereka cuma gak mau Sasa takut jadi selalu tersenyum di depan Sasa. Tapi Sasa tahu, mereka sedih."
Yudha merasa dadanya semakin berat. Ia menelan ludah, berusaha meredam emosi yang mulai menyeruak. "Sasa anak baik. Tenang, ya. Karena banyak yang sayang sama Sasa, pasti Sasa akan sembuh. Jangan buat Bunda dan Mama sedih, ya," katanya dengan suara penuh kasih, meskipun dalam hatinya muncul tanda tanya besar tentang "Bunda dan Mama" yang disebut Sasa.
Sasa mengangguk kecil, meski wajahnya masih menyimpan pertanyaan yang tak terjawab. "Kalau begitu... Paman bisa bantu Sasa sembuh? Biar Bunda sama Mama gak capek karena ngurusin Sasa."
Yudha tersenyum samar, merasakan sesuatu yang tak pernah ia duga sebelumnya, semacam ikatan batin yang kuat dengan gadis kecil ini. "Bantu apa?"
"Sasa mau digendong, sampai kamar Sasa," pinta Sasa, suaranya mulai terdengar lebih riang.
Yudha mengangguk tanpa ragu, lalu mengangkat tubuh mungil Sasa ke dalam gendongannya. Tubuh kecil itu terasa ringan, tapi ada beban emosional yang begitu berat menghimpit hatinya.
"Paman, kenapa tubuh Paman hangat? Kalau gitu... apa Paman mau jadi ayah Sasa?"
Yudha tertegun, tapi ia tetap melangkah perlahan. "Mungkin karena Paman juga seorang ayah," jawabnya lembut. "Jadi, meski kita bukan ayah dan anak, Paman akan selalu menganggap kamu seperti anak Paman. Sama seperti Arya, anak Paman."
Sasa tersenyum kecil. "Kalau begitu, Paman harus kasih nomor telepon Paman ke Sasa."
"Nanti Paman tuliskan, ya," balas Yudha sambil tersenyum tipis.
"Tidak perlu, Paman. Sasa anak pintar dan mudah ingat. Jadi Paman sebutkan saja," sahut Sasa cepat.
Yudha tertawa kecil, tak percaya dengan kepercayaan diri gadis kecil itu. Dalam langkahnya menuju kamar rawat Sasa, ia menurut pada semua permintaan yang diinginkan Sasa, bahkan memberikan nomor teleponnya dengan nada bercanda.
Di lorong yang sepi, Sonya terduduk termenung. Keinginan untuk mengungkapkan kebenaran pada Yudha tadi sirna, tergantikan oleh rasa takut. Dendam Yudha padanya belum mereda, dan ia khawatir tindakannya hanya akan semakin melukai Sasa.
Air mata menggenang di sudut matanya saat ia berbisik pelan, penuh rasa bersalah.
"Maafin Bunda, Sasa… Mungkin ini belum waktunya. Bunda janji, Bunda akan segera menyelesaikan semua utang Bunda pada ayahmu. Supaya kamu bisa diterima olehnya dan bisa menyembuhkan penyakitmu," gumamnya serak, nyaris tak terdengar di antara isakan tertahan.
Bayangan kejadian tadi terus menghantui benak Sonya, cara Sasa dan Yudha saling berinteraksi, sorot mata penuh emosi yang mereka bagi tanpa menyadari kebenaran di antara mereka. Setiap detailnya menusuk hati, seperti pisau yang mengiris perlahan. Pikirannya mulai dipenuhi pertanyaan yang menyesakkan. Bagaimana jika Yudha tahu Sasa adalah anaknya? Apakah Yudha akan merebut Sasa dariku?
Ketakutan itu muncul tiba-tiba, mencengkeram hatinya seperti gelombang dingin yang menyesakkan napas. Tangannya mengepal di atas lutut, berusaha menahan gemetar yang semakin sulit dikendalikan. Rasa bersalah, rasa takut kehilangan, semua bercampur menjadi satu hingga membuatnya nyaris tak mampu berpikir jernih.
"Apa yang harus aku lakukan?" bisiknya parau, nyaris tenggelam dalam kegelisahan yang kini menguasai dirinya.