NovelToon NovelToon
Ayahku Ada Main Dengan Temanku

Ayahku Ada Main Dengan Temanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Pelakor jahat / Poligami / Selingkuh / Cinta Terlarang / PSK
Popularitas:56
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Alana, pewaris tunggal imperium properti, menemukan fakta bahwa sahabat yang ia biayai kuliahnya, Siska, adalah wanita simpanan ayahnya sendiri. Apa yang dimulai sebagai drama perselingkuhan berkembang menjadi perang dingin perebutan warisan, rahasia korporasi, dan manipulasi psikologis di mana Alana harus menghancurkan dua orang yang paling ia cintai untuk bertahan hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Retak di Atas Kue Tart

Udara di ruang kerja itu terasa padat, seolah oksigen baru saja disedot habis oleh paru-paru Hendra dan Siska yang memburu. Tidak ada teriakan histeris. Tidak ada tangisan dramatis. Hanya desing halus pendingin ruangan sentral yang gagal mendinginkan kepala Alana.

Alana berdiri di ambang pintu, tangannya mencengkeram gagang pintu mahoni hingga buku-buku jarinya memutih. Di hadapannya, ayahnya tidak terlihat panik. Pria itu hanya menghela napas panjang, seolah Alana adalah gangguan kecil dalam jadwal bisnisnya yang padat—seperti noda kopi di dokumen penting.

Siska bergerak lebih dulu. Dengan gerakan santai yang terlatih, wanita itu merapikan kerah kemeja Hendra yang sedikit terbuka, lalu menyisir rambutnya sendiri dengan jari. Tidak ada rasa malu di wajahnya. Justru, ada kilat kemenangan tipis di matanya saat ia menoleh ke arah Alana.

"Kamu seharusnya mengetuk pintu, Alana," suara Hendra memecah keheningan. Nadanya datar, dingin, dan otoriter. Bukan nada seorang ayah yang tertangkap basah, melainkan nada seorang atasan yang menegur bawahan yang tidak sopan.

Alana tertawa pendek. Tawa yang kering dan hampa. "Maaf. Aku pikir ini rumahku. Ternyata ini kamar hotel per jam."

Rahang Hendra mengeras. Ia melangkah maju, postur tubuhnya yang tinggi besar mendominasi ruangan, memaksa Alana secara insting untuk mundur selangkah. Aroma parfum Siska yang manis bercampur dengan bau tembakau mahal dari jas ayahnya membuat perut Alana mual.

"Jaga bicaramu," desis Hendra. Matanya menatap tajam, menuntut kepatuhan total. "Ada lima puluh orang penting di luar sana. Investor, rekan bisnis, pejabat. Jangan berani-berani kamu membuat keributan dan mempermalukan saya."

"Mempermalukan Papa?" Suara Alana bergetar, bukan karena takut, tapi karena amarah yang meluap di kerongkongan. "Papa baru saja bercumbu dengan sahabat anak Papa sendiri di saat pesta ulang tahun anak itu sedang berlangsung. Siapa yang sebenarnya memalukan di sini?"

"Ini urusan orang dewasa, Alana. Kamu tidak mengerti dinamika kebutuhan laki-laki dan bisnis," sela Siska. Ia berjalan memutari meja kerja, mengambil gelas anggurnya yang tertinggal di atas tumpukan berkas. Ia menyesapnya santai. "Lagipula, aku melakukan ini demi kebaikanmu juga. Siapa yang mengurus pesta ini? Siapa yang memastikan katering datang tepat waktu? Ibumu sudah tidak ada, Alana. Seseorang harus mengisi kekosongan itu."

Penyebutan ibunya oleh mulut Siska terasa seperti penistaan. Alana merasakan panas menjalar ke wajahnya. "Jangan sebut nama Ibu. Kamu tidak pantas."

"Cukup!" Hendra membentak. Suaranya menggema di dinding-dinding berlapis kayu kedap suara. Ia merapikan jasnya dengan kasar. "Kita kembali ke pesta. Sekarang. Hapus air mata itu. Pasang senyummu. Kita akan potong kue lima menit lagi."

"Aku tidak mau," tolak Alana.

Hendra mencengkeram lengan atas Alana. Cengkeramannya kuat, menyakitkan, jari-jarinya menekan daging hingga Alana yakin akan ada memar biru esok pagi. Wajah Hendra mendekat, hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Alana.

"Kamu hidup di atap rumah saya. Kamu makan dari uang saya. Baju yang kamu pakai, tas yang kamu jual diam-diam, semuanya dari saya," bisik Hendra dengan nada berbisa. Alana tersentak; ayahnya tahu soal penjualan tas itu. "Selama kamu masih menadahkan tangan pada saya, kamu adalah aset saya. Dan malam ini, aset saya harus terlihat bahagia. Mengerti?"

Alana menatap mata ayahnya. Ia mencari sisa-sisa kasih sayang masa kecil, tapi yang ia temukan hanyalah kalkulasi dingin. Ayahnya tidak melihatnya sebagai putri. Ia melihat Alana sebagai properti yang sedang memberontak.

"Mengerti, Alana?" tekan Hendra lagi, kali ini mengguncang lengan Alana sedikit.

"Lepaskan," cicit Alana, menahan perih di lengannya.

Hendra melepaskan cengkeramannya dengan kasar, lalu menepuk bahu Alana seolah membersihkan debu. "Perbaiki makeup-mu. Siska, bantu dia."

"Dengan senang hati, Mas," jawab Siska manis.

Hendra keluar ruangan lebih dulu, meninggalkan Alana berdua dengan Siska. Wanita itu mengeluarkan bedak padat dari tas kecilnya dan mendekati Alana. Alana ingin menepis tangan itu, tapi ancaman Hendra tentang status finansialnya barusan menampar realitasnya. Ia tidak punya uang. Ia tidak punya kekuatan. Ia hanya punya bukti yang belum cukup kuat untuk menghancurkan mereka.

Siska menepuk-nepuk bedak ke pipi Alana yang basah. Sentuhannya lembut, tapi matanya dingin. "Anak pintar," bisik Siska. "Jangan melawan arus, Alana. Kamu akan tenggelam. Nikmati saja fasilitasnya. Biarkan kami yang dewasa mengurus sisanya."

Alana membiarkan Siska memakaikan lipstik ulang di bibirnya. Dalam diam, Alana bersumpah. Ini adalah kali terakhir Siska menyentuh wajahnya. Ini adalah kali terakhir ia menjadi boneka.

Mereka keluar dari ruang kerja menuju ruang tengah penthouse yang luas. Musik jazz mengalun lembut. Gelak tawa para tamu terdengar kontras dengan badai yang berkecamuk di dada Alana. Lampu kristal raksasa memendarkan cahaya keemasan ke seluruh ruangan, memantul pada gelas-gelas wine dan perhiasan para istri pejabat.

MC acara, seorang presenter TV terkenal yang disewa mahal, melihat kemunculan mereka. "Nah, ini dia bintang kita malam ini! Alana Wardhana dan sang ayah, Bapak Hendra Wardhana! Berikan tepuk tangan yang meriah!"

Tepuk tangan membahana. Hendra langsung mengubah wajahnya. Senyum karismatik terpasang sempurna. Ia merangkul bahu Alana—di titik yang sama yang tadi ia cengkeram—dan melambai pada para tamu.

"Terima kasih, terima kasih semua," suara bariton Hendra memenuhi ruangan melalui mikrofon. "Malam ini sangat spesial. Putri kecil saya, Alana, sudah dewasa. Rasanya baru kemarin saya menggendongnya."

Para tamu tertawa sopan. Beberapa wanita menatap haru. Kebohongan itu begitu mulus, begitu sempurna, hingga Alana merasa ingin muntah di atas sepatu kulit ayahnya.

Siska berdiri sedikit di belakang Hendra, memposisikan diri layaknya nyonya rumah. Ia memberi kode pada pelayan untuk membawa kue ulang tahun. Sebuah kue tart tiga tingkat dengan dekorasi fondant berlebihan didorong masuk.

"Ayo, Alana. Make a wish," ujar Hendra, menyerahkan pisau kue panjang berhias pita emas kepada Alana.

Alana memegang pisau itu. Tangannya gemetar. Ia menatap nyala lilin di atas kue. Harapannya sederhana: ia ingin melihat kerajaan kecil ayahnya runtuh.

Ia meniup lilin. Tepuk tangan kembali terdengar.

"Potongan pertama," kata MC dengan antusias. "Biasanya diberikan kepada orang yang paling berjasa dalam hidup yang berulang tahun."

Hendra sudah sedikit memajukan tubuhnya, siap menerima piring kue dan pelukan simbolis untuk difoto wartawan majalah gaya hidup yang hadir. Siska juga tersenyum lebar di sampingnya, siap ikut dalam bingkai foto keluarga bahagia palsu itu.

Alana memotong kue itu dengan gerakan kaku. Ia meletakkan irisan kue di piring kecil. Ia mengambil mikrofon dari tangan ayahnya.

"Potongan pertama ini," suara Alana terdengar jernih, meski jantungnya berdegup kencang seperti drum perang, "Saya persembahkan untuk wanita yang sudah bekerja sangat keras mengatur hidup saya akhir-akhir ini."

Senyum Hendra sedikit kaku, tapi ia tetap mempertahankan posisinya. Ia mengira Alana akhirnya menyerah dan akan memuji Siska demi menjaga citra keluarga, seperti yang ia perintahkan.

Alana berjalan melewati ayahnya. Ia berhenti tepat di depan Siska.

"Untuk Siska," kata Alana, suaranya dikeraskan sedikit. Ruangan menjadi hening. "Terima kasih sudah menggantikan posisi Ibu saya. Bukan hanya di pesta ini, tapi juga di ruang kerja Papa, di mobil Papa, dan di rekening bank Papa. Kamu benar-benar... totalitas."

Keheningan di ruangan itu begitu tajam hingga suara denting garpu jatuh di sudut ruangan terdengar seperti ledakan bom. Senyum Siska lenyap seketika, digantikan oleh wajah pucat pasi. Mata para tamu melebar, saling bertukar pandang. Gosip yang selama ini hanya berbisik-bisik, kini dikonfirmasi langsung lewat pengeras suara.

Hendra bergerak cepat. Ia merebut mikrofon dari tangan Alana dengan kasar, menimbulkan suara feedback yang memekakkan telinga.

"Alana sepertinya terlalu banyak minum champagne," kata Hendra dengan tawa yang dipaksakan, meski matanya memancarkan amarah yang bisa membunuh. "Anak muda, emosinya masih labil. Bercandanya suka kelewatan. Musik! Mana musiknya?"

Band pengiring buru-buru memainkan lagu upbeat dengan volume tinggi. Hendra menarik lengan Alana, menyeretnya menjauh dari kerumunan menuju koridor yang mengarah ke kamar-kamar, sementara Siska tertinggal di tengah ruangan, dikelilingi tatapan para tamu yang kini menatapnya dengan campuran jijik dan rasa ingin tahu.

Di koridor yang sepi, Hendra menghempaskan tubuh Alana ke dinding. Napas pria itu memburu, wajahnya merah padam menahan murka.

"Apa yang kamu lakukan?!" bentak Hendra. Suaranya tertahan, tapi intensitasnya mengerikan. "Kamu baru saja menghina saya di depan Direktur Bank Sentral!"

"Aku hanya mengatakan fakta," jawab Alana, menantang tatapan ayahnya meski lututnya lemas. "Kenapa Papa malu? Bukankah Papa bangga dengan 'aset' baru Papa itu?"

PLAK!

Tamparan itu datang begitu cepat. Pipi kiri Alana terasa panas dan perih. Kepala Alana tersentak ke samping. Telinganya berdenging.

Alana memegang pipinya, menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca. Ini pertama kalinya Hendra memukulnya. Batas fisik itu akhirnya dilanggar.

"Kamu bukan anak saya lagi," desis Hendra, jari telunjuknya menuding tepat di depan hidung Alana. "Mulai malam ini, kamu keluar dari rumah ini. Saya tidak sudi memelihara anak durhaka yang menggigit tangan yang memberinya makan."

"Papa mengusirku?" tanya Alana pelan.

"Bukan hanya mengusir. Saya akan pastikan kamu tidak punya apa-apa. Kartu kredit, mobil, fasilitas... semuanya saya tarik. Kita lihat seberapa keras kamu bisa berteriak 'fakta' saat perutmu kosong di jalanan."

Hendra berbalik, merapikan jasnya sekali lagi, lalu berjalan kembali ke pesta seolah tidak terjadi apa-apa, meninggalkan Alana sendirian di koridor remang-remang.

Alana merosot ke lantai, bersandar pada dinding dingin. Pesta di luar sana masih berlangsung, musik masih berdentum, tapi dunia Alana baru saja runtuh sepenuhnya. Namun, di balik rasa sakit di pipinya, ada perasaan aneh yang tumbuh di dadanya. Rasa lega.

Topeng itu sudah hancur. Perang sudah dimulai. Dan Alana tahu, ia tidak punya pilihan selain menang, atau mati mencoba.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!