NovelToon NovelToon
Serpihan Yang Patah

Serpihan Yang Patah

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat
Popularitas:936
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dua tahun terjebak dalam neraka pelecehan dan ancaman sang kakak ipar, Markus, membuat Relia kehilangan jiwanya—terlebih saat kakak kandungnya sendiri memilih berkhianat. Di titik nadir, Relia berhasil melarikan diri dan bertemu Dokter Ariel, seorang psikiater sekaligus CEO yang menjadi pelindungnya. Melalui pernikahan yang awalnya berlandaskan rasa aman dari ancaman Markus, Ariel membimbing Relia menyembuhkan trauma parah dan kecemasannya. Ini adalah kisah tentang keberanian seorang wanita untuk memecah keheningan dan merebut kembali hidup yang sempat terenggut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Suasana di mansion Arkatama terasa begitu sunyi, namun di dalam kamar utama, badai batin sedang mengoyak jiwa Relia.

Ia duduk di sofa dekat jendela, tangannya secara tidak sadar menyentuh perutnya yang masih rata, lalu dengan cepat ditariknya kembali seolah-olah ia baru saja menyentuh bara api.

"Mama nggak tahu harus bagaimana, Nak..." gumam Relia dengan suara parau.

Air matanya jatuh membasahi telapak tangannya. Ada rasa benci yang mendalam karena janin itu adalah benih dari pria yang menghancurkan hidupnya. Namun, di sisi lain, ada getaran halus dimana sebuah naluri yang berbisik bahwa apa yang ada di dalamnya adalah nyawa tak berdosa yang juga menjadi korban.

"Kamu adalah bagian dari neraka itu, tapi kamu juga bagian dari tubuhku," bisiknya pedih, terjepit di antara keinginan untuk membuang segalanya atau memeluk takdir barunya.

Sementara itu di kediaman Markus yang membanting pintu sampai menimbulkan suara

keras yang mengejutkan Sarah yang sedang duduk di ruang tamu.

Markus masuk dengan wajah merah padam, napasnya memburu, dan ponselnya dicengkeram begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Sialan! Kurang ajar!" teriak Markus sambil melemparkan ponselnya ke atas meja kopi.

"Ada apa, Mas? Kenapa marah-marah begitu?" Sarah mendekat dengan cemas.

"Lihat ini!" Markus menunjuk layar ponsel yang menampilkan aplikasi novel populer.

"Tulisan The Silent Survivor ini tentang kita! Deskripsi kamarnya, detail kainnya, bahkan caraku memperlakukannya... ini pasti Relia! Gadis cacat mental itu berani mempermalukan aku di depan jutaan orang!"

Sarah membaca bab terbaru yang baru saja diunggah.

Wajahnya yang semula tenang mendadak pucat pasi saat sampai pada paragraf terakhir.

'...dan kini, monster itu meninggalkan jejaknya di rahimku. Aku membawa benih iblis yang tidak pernah kuinginkan'

"M-mas, Relia hamil?" suara Sarah bergetar.

"Dia mengandung anakmu?"

Markus terdiam sejenak. Amarahnya yang meluap tiba-tiba berganti dengan seringai licik yang mengerikan.

Ia menyandarkan tubuhnya ke sofa, matanya berkilat penuh rencana jahat.

"Hamil, ya?" gumam Markus.

"Bagus. Kalau dia hamil anakku, maka posisi kita jauh lebih kuat secara hukum. Tidak peduli dia menikah dengan CEO Arkatama itu, anak itu adalah darah dagingku. Secara biologis, aku adalah ayahnya!"

"Tapi Mas, dia menulis kejahatanmu di sini! Orang-orang menghujat kita!" Sarah panik.

"Biarkan saja mereka menghujat! Tulisan itu bisa kita sebut fiksi atau halusinasi orang gila," ucap Markus sambil berdiri, memperbaiki kerah kemejanya.

"Anak itu adalah kunci. Aku bisa menuntut hak asuh. Aku bisa menyeret dia kembali ke pengadilan dengan alasan kepentingan terbaik bagi anak. CEO itu tidak akan bisa melakukan apa pun jika aku punya bukti DNA bahwa itu anakku!"

Markus tertawa kecil, suara tawa yang kering dan kejam.

"Aku tahu itu kamu, Relia. Kamu pikir kamu bisa lari dariku hanya dengan menikah? Kamu baru saja memberiku alasan terkuat untuk menarikmu kembali ke neraka yang kubuat." ucap Markus yang memutuskan untuk menuju ke Mansion milik Ariel.

Markus sudah mengetahui dimana Ariel membawa Relia

Malam itu kabut turun menyelimuti perbukitan Arkatama, membuat suasana mansion terasa semakin mencekam.

Markus datang dengan mobil mewahnya, tidak lagi berteriak seperti preman, melainkan dengan ketenangan seorang predator yang merasa telah menemukan kartu as.

Di ruang tamu yang luas, Ariel berdiri tegak dengan tangan terlipat di dada.

Di sampingnya, Relia duduk dengan tubuh yang gemetar, namun ia memaksa dirinya untuk hadir karena tidak ingin lagi menjadi pengecut yang bersembunyi.

Markus duduk di hadapan mereka, menyesap kopi yang disuguhkan pelayan dengan santai.

Matanya melirik perut Relia yang masih rata, lalu ia menyeringai.

"Terima kasih sudah menjaga 'titipanku' dengan baik, Dokter Ariel," ucap Markus dengan nada mengejek.

"Keluar dari sini, Markus. Kamu tidak punya hak bicara di rumah ini," ucap Ariel.

Markus tertawa, suara tawanya menggema di ruangan yang sunyi itu.

"Hak? Oh, aku punya hak yang sangat besar sekarang. Di dalam rahim istri barumu itu, ada darah dagingku. Secara biologis, aku adalah ayahnya. Kamu pikir uang Arkatama bisa menghapus DNA-ku dari tubuhnya? Tidak."

Markus berdiri, melangkah mendekat ke arah Relia.

Ariel segera menghadang, namun Markus hanya berhenti satu langkah di depan Ariel, menatap Relia dari balik bahu suaminya.

"Relia, kamu akan kalah. Tulisan novelmu itu? Orang-orang akan menganggapnya sebagai halusinasi ibu hamil yang depresi. Tapi anak ini? Dia adalah bukti nyata bahwa kamu tidak akan pernah bisa lepas dariku."

Relia mencengkeram ujung sofa, air matanya mulai mengalir, namun ia mencoba menatap mata Markus.

"Anak ini, tidak akan pernah memanggilmu ayah. Dia akan membencimu seperti aku membencimu."

Markus hanya tersenyum dingin. Ia berbalik dan berjalan menuju pintu keluar.

Sebelum melangkah pergi, ia menoleh kembali.

"Nikmati malam terakhirmu di sini, Relia. Besok jam sepuluh pagi, aku akan kembali dengan pengacara dan tim medis untuk tes DNA awal. Aku akan menjemputmu dan anakku. Jika kamu menolak, aku akan membuat berita besar: 'CEO Arkatama Menyekap Wanita Hamil dan Memisahkan Anak dari Ayah Kandungnya'. Kita lihat, siapa yang akan dipercaya publik."

BRAKK!

Pintu tertutup. Markus pergi meninggalkan racun yang menyesakkan dada.

Relia langsung jatuh terduduk di lantai, napasnya tersengal.

"Mas, dia benar. Anak ini adalah ikatannya denganku. Aku tidak akan pernah bebas."

Ariel berlutut, memeluk Relia dengan kekuatan penuh.

"Tidak, Relia. Dia salah besar. Dia pikir dia bisa menggunakan hukum, tapi dia lupa bahwa aku bisa membuat hukum baru untuk melindungimu."

Ariel meraih ponselnya dan menghubungi nomor pribadi pengacara senior keluarga Arkatama.

"Siapkan berkas gugatan perdata dan pidana sekaligus. Kita tidak hanya akan melaporkan penganiayaan, tapi kita akan menuntut pencabutan hak asuh ayah biologis atas dasar tindak kriminal berat. Dan satu lagi, hubungi divisi IT. Aku ingin semua bukti rekaman CCTV di sekitar rumah Markus dua tahun lalu yang pernah kita amankan, disiapkan untuk publikasi jika dia berani melangkah esok pagi."

Ariel menatap Relia yang masih menangis sesenggukan.

"Besok dia akan datang untuk menjemputmu, tapi dia tidak akan pernah tahu bahwa dia sedang berjalan masuk ke dalam jebakan yang akan menguburnya selamanya."

Kemudian Ariel mengajak Relia ke kamar untuk istirahat.

Malam itu, di bawah tekanan ancaman Markus, Relia tidak tidur.

Ia duduk di depan laptopnya, jarinya menari liar di atas keyboard.

Ia menulis bab paling berani dalam hidupnya.

Bab: Perisai Sang Pelindung

Dia pikir benih ini adalah rantai. Dia pikir aku akan menyerah karena sebuah garis di alat tes kehamilan. Tapi dia lupa, seorang ibu yang pernah dihancurkan akan berubah menjadi singa saat miliknya terancam. Esok, saat matahari terbit, aku tidak akan lagi menyumpal mulutku dengan kain. Aku akan meneriakkan kebenaran sampai dunia tuli.

Malam itu, dinginnya udara pegunungan tidak mampu memadamkan gejolak panas di hati Relia.

Sambil menyesap jus semangka yang terasa segar namun hambar di lidahnya, ia menatap punggung Ariel yang naik turun dengan teratur.

Ia merasa bersalah karena suaminya itu harus memikul beban seberat ini, namun ia juga merasa sangat terluka oleh kenyataan di dalam rahimnya.

Sambil bersandar di kepala ranjang, ia memangku laptopnya.

Cahaya biru dari layar menyinari wajahnya yang sembap.

Jemarinya mulai mengetik, kali ini bukan untuk pembaca setianya, melainkan untuk dirinya sendiri.

Bab: Pilihan di Jam Dua Belas Malam

Ada kehidupan di dalam sini. Kehidupan yang dimulai dengan air mata dan diakhiri dengan pelarian menembus hujan.

Mereka bilang anak adalah anugerah, tapi bagaimana jika ia adalah pengingat akan setiap sabetan ikat pinggang dan setiap kain yang menyumpal mulutku?

Lelaki itu bilang dia akan menjemputku. Dia pikir anak ini adalah tiket kepulanganku ke neraka itu.

Dia salah. Jika aku harus menjadi tameng bagi nyawa ini, maka aku akan menjadi tameng yang paling tajam.

Aku tidak akan membiarkan anak ini menyentuh tangan yang sama yang pernah menyiksaku.

Malam ini, di bawah perlindungan pria yang kini menjadi suamiku, aku berjanji: Tidak akan ada lagi kain hitam.

Setelah menutup laptop, Relia menarik napas panjang.

Rasa mual yang tadi sempat menderanya sedikit mereda setelah meminum jus semangka.

Ia meletakkan gelas kosong di nakas, lalu perlahan merebahkan tubuhnya di samping Ariel.

Ia memandangi wajah tenang suaminya. Ariel adalah satu-satunya alasan ia masih berani membayangkan hari esok.

Dengan hati-hati, ia meraih tangan Ariel dan meletakkannya di atas perutnya sendiri.

Ia ingin Ariel tahu bahwa apapun yang ada di dalamnya, ia ingin Ariel-lah yang menjadi pelindung sebenarnya, bukan pria kejam yang akan datang besok pagi.

Relia memejamkan matanya, mencoba mencari kedamaian di tengah badai yang akan datang.

1
Uthie
Awal cerita yg sudah sangat mengerikan 😰
Mundri Astuti
lagi napa ngga diborgol si, kan dah bahaya banget ...dari kemarin nafsu banget mau bunuh relia juga ..
Mundri Astuti
si Markus bener" ya, masih belum jera..miskinin sekalian dia biar ngga bnyk gaya ma ga berkutik
Mundri Astuti
usut sampe tuntas Ariel, siapa" aja dibelakang Markus yg ngebantu melrikan diri ..ringkus juga si Sarah.
mudah"an relia selamat
Herdian Arya
mungkin itu lebih baik, kalaupun lahir juga akan menderita punya bapak kelainan mental seperti Markus.
Mundri Astuti
lah relia kan belum nikah sama Markus, jatuhnya anak diluar nikah calon bayi relia, dan itu nasabnya pada ibu
my name is pho: iya kak.
total 1 replies
Herdian Arya
saking bencinya dengan Markus dan sarah pengen tak kremasi hidup hidup tuh 2 manusia iblis.
my name is pho: sabar kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!