Nethaniel adalah pria muda tampan, sukses, dan mempesona. Lahir di tengah keluarga konglomerat dan hidup berkelimpahan. Namun ada yang kurang dan sulit diperoleh adalah pasangan hidup yang tulus mencintainya.
Ketika orang tua mendesak agar segera berkeluarga, dia tidak bisa mengelak. Dia harus menentukan pilihan, atau terima pasangan yang dipilih orang tua.
Dalam situasi terdesak, tanpa sengaja dia bertemu Athalia, gadis cantik sederhana dan menarik perhatiannya. Namun pertemuan mereka membawa Nethaniel pada pusaran konflik dan menciptakan kekosongan batin, ketika Athalia menolaknya.
》Apa yang terjadi dengan Nethaniel dan Athalia?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "I Miss You Because I Love You."
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. IMU coz ILU
...~•Happy Reading•~...
Opah Ethan terkejut melihat Ethan mengamuk sambil berteriak memanggil Opaaa. Hatinya bagaikan disayat melihat penderitaan cucu kesayangannya.
"Ethan, Opah ada di sini. Tenang, Nak. Tenaaang... Nanti makin sakit." Opah Ethan memegang bahunya, tapi Ethan terus mengamuk dan berusaha mengucek matanya.
"Bagaimana bisa tenang, Opah. Aku gak bisa li hat... Aku gak bisa lihat, Opah. Kenapa aku gak .... " Ethan tidak meneruskan tapi mengamuk sambil memukul apa saja yang ada di dekatnya. Sehingga pengacara Menaya menarik Opah Ethan menjauh, agar tidak kena tangan Ethan.
"Ethan, bisa membunuh Opah." Ucap Opah Ethan pelan dan sangat sedih mendengar nada putus asah Ethan.
"Opaaaa.." Ethan mengangkat tangan mencari, karena mendengar suara Opahnya menjauh.
Dokter dan perawat bergerak cepat untuk melepaskan infus, karena darah sudah mengalir keluar membasahi tangan dan penutup tempat tidur.
Opah Ethan mendekat lalu merai tangannya. "Opah di sini, Nak." Opah Ethan mendekatkan tangan Ethan ke wajahnya.
Ethan meraba wajah Opahnya, turun ke leher lalu memeluk erat. "Opah, jangan tinggalkan Ethan."
"Tidak, Nak. Tenang. Dokter akan mengobatimu." Hati Opah Ethan terasa hancur merasakan tubuh Ethan gemetar ketakutan seperti anak kecil.
"Pak Ken, sebentar. Biarkan kami tangani Pak Ethan." Dokter memberi isyarat kepada pengacara Menaya untuk memegang Opah Ethan.
"Pak Ethan, tenang, ya. Kami mau periksa matanya." Dokter keluarga menarik tangan Ethan agar bisa melepaskan Opahnya.
"Mari di sini, Pak Ken." Gerry yang baru masuk langsung memegang lengan Opah Ethan yang tidak mau duduk, karena melihat dokter sedang memeriksa mata Ethan.
Tidak lama kemudian tidak terdengar suara dan amukan Ethan. "Ada apa dengan Ethan?" Opah Ethan tidak tahan dan berjalan maju mendekati ranjang Ethan.
"Kami beri penenang, Pak Ken. Supaya Pak Ethan bisa tenang dan mau ganti semua ini." Dokter menjelaskan sambil menunjuk pakaian dan lainnya yang kena percikan darah.
Setelah Ethan tenang, dokter mendekati Opahnya. "Mari kita duduk di sana, Pak Ken." Dokter keluarga mengajak Opah Ethan duduk di sofa.
Rion mendekati ranjang dan minta kain pembersih dari perawat lalu membersihkan sisa darah dari sela tangan bossnya. Hatinya sangat sedih melihat bossnya berbaring lemah tidak berdaya.
"Apa yang terjadi dengan Ethan? Apa benar, dia tidak bisa melihat?" Tanya Opah Ethan pelan cendrung berbisik.
"Iya, Pak Ken. Kita akan periksa lagi setelah Pak Ethan tenang. Apa benturan saat tabrakan memicu robek atau lepas retina dari belakang mata...." Penjelasan dokter membuat tubuh Opah Ethan gemetar.
"Ini baru diagnosa saya. Kondisi ini kadang terjadi kalau alami benturan saat kecelakaan. Jadi Pak Ken tenang dulu."
"Saya berharap, yang dialami Pak Ethan tidak seperti itu. Tapi ini gangguan psikologis, hanya syok. Karna dalam situasi kecemasan berat atau trauma hebat, tubuh dapat merespon dengan kebutaan sementara."
"Untuk kondisi ini, kita harus konsultasi ke spesialis mata atau saraf..." Dokter menjelaskan untuk lakukan pemeriksaan yang komprehensif, guna memastikan kondisi mata Ethan.
"Apa saya bisa membawa Ethan keluar negeri untuk memastikan kondisi matanya?" Opah Ethan bertanya serius.
"Bisa, Pak Ken. Tapi lebih baik, tangani di sini dulu supaya bisa ambil tindakan yang tepat."
"Kalau begitu, tolong lakukan secepatnya. Saya khawatir dia mengamuk lagi, setelah hilang pengaruh obat penenang." Opah Ethan tidak tahan mendengar teriakan marah dan frustasi Ethan atas kondisi matanya.
"Baik. Tapi sekarang, saya akan periksa kondisi Pak Ken." Dokter keluarga khawatir kesehatan Opah Ethan. Jadi tanpa menunggu persetujuan, dokter langsung memeriksa jantung dan tekanan darah.
"Untuk beberapa jam ke depan, Pak Ethan akan tenang. Ini bisa Pak Ken gunakan untuk istirahat." Dokter keluarga menyarankan sambil memberi isyarat kepada Gerry mendekat.
"Jikalau Pak Ethan sudah tenang, Pak Ken bisa jelaskan opsi terakhir yang saya jelaskan tadi. Mungkin tidak bisa melihat sementara, supaya tidak membuatnya makin syok."
"Saya mengerti. Itu lebih baik. Tolong cari dokter spesialis mata dan saraf, sebelum saya ambil tindakan lebih lanjut." Opah Ethan putuskan.
"Iya, Pak. Kami akan siapkan dokter spesialis mata dan saraf terbaik secepatnya." Ucap dokter rumah sakit.
"Baik. Pak Ethan istirahat. Supaya kuat mensupport dan dampingi Pak Ethan." Ucap dokter keluarga, karena perintah Opah Ethan yang melarang siapa pun mendekati Ethan. Termasuk orang tuanya.
"Dokter, kondisi mata Ethan tidak boleh bocor ke siapa pun." Ucap Opah Ethan sebelum dokter keluar dari ruangan. "Iya, Pak Ken."
Setelah ditinggal dokter dan perawat, Opah Ethan mengumpulkan Menaya, Gerry dan Rion. "Kalian sudah dengar yang dikatakan dokter tentang kondisi mata Ethan. Itu yang akan dikatakan kepadanya. Tidak boleh ada yang lain, supaya bisa memberinya semangat."
"Dan tidak boleh ada orang lain yang tahu kondisi matanya. Hanya kita yang ada dalam ruangan ini." Ucap Opah Ethan, tegas.
"Siap, Pak. Kalau begitu, Pak Ken istirahat. Biar saya dan Pak Rion yang jaga Pak Ethan. Pak Menaya yang akan melihat situasi di luar." Gerry memberi saran.
"Baik. Nanti kita bahas tindakan selanjutnya." Opah Ethan setuju dengan saran Gerry, sebab tubuh dan hatinya sangat lelah.
Gerry memegang lengan Opah Ethan untuk menuju ranjang yang diperuntukan buat keluarga pasien. "Biarkan saya berbaring sebentar." Ucap Opah Ethan pelan, lalu membaringkan tubuhnya.
Setelah Opah Ethan tertidur, Gerry memberi isyarat kepada Rion dan pengacara Menaya untuk keluar ruangan.
"Mumpung boss dan big boss sedang istirahat, kita bicara di sini untuk hadapi kondisi lain." Gerry berkata pelan.
"Setuju, Pak. Kita perlu atur, agar bisa satu suara hadapi media. Karna Pak Carlos akan berikan perlawanan kepada big boss." Rion memberikan pendapat, karena mendengar pembicaraan pengacara Menaya dan Papah Ethan.
"Perlawanan seperti apa?" Gerry bertanya, karena tidak ada di tempat saat Mamah Ethan telpon.
"Ada masalah keluarga tentang perjanjian di masa lalu...." Pengacara Menaya menjelaskan.
"Kalau begitu, sekarang kita serahkan urusan media kepada Pak Menaya. Supaya jangan sampai kita salah bicara." Gerry memutuskan.
"Saya setuju. Karna ini bukan tentang kecelakaan dan mata Pak Ethan saja." Rion menambahkan.
"Iya. Saya yang tangani media, supaya tidak menjadi liar. Sepertinya Pak Carlos mau mencari dukungan publik untuk menekan Pak Ken dan mengklaim Pak Ethan." Pengacara Menaya berbicara sambil berpikir.
"Kalau sudah begini, Pak Menaya ikut saya ke kantor. Ada yang harus kita selamatkan sebelum terlanjur berantakan. Saya akan bertanggung jawab atas apa yang akan kita lakukan." Gerry bertindak cepat, karena tidak bisa menunggu Opah Ethan bangun untuk dibahas.
"Mau lakukan apa?" Pengacara Menaya melihat mata asisten Opah Ethan berubah tegas dan tajam.
"Saya akan jelaskan sambil jalan." Gerry berkata serius.
"Pak Rion, tolong temani boss dan big boss. Kita terus jaga komunikasi. Kalau big boss bangun dan kami belum kembali, tolong katakan kami ke kantor pusat. Urgent." Gerry mengatur strategi hadapi Papah Ethan.
...~•••~...
...~•○♡○•~...
waaaah seneng bangeeet Ethan udah mulai bisa melihat lagi walaupun masih samar-samar❣️
Aku ikut mengaminkan doamu Athalia, semoga Ethan lekas sembuh dan hubungan kalian baik baik saja❣️