Mereka bersama hanya sebentar, namun ingatan tentang sang mantan selalu memenuhi pikirannya, bahkan sosok mantan mampu menembus alam mimpi dengan membawa kenangan-kenangan manis ketika masa-masa sekolah dan saat mereka menjalin kasih.
Pie meneruskan hidupnya dengan teror mimpi dari sang kekasih. Apakah Pie masih mencintai sang mantan? Atau hati Pie memang hanya terpaku pada Kim?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eyeliner Tak Kembar
SMA Kelas Tiga...
"Yetti, aku ingin bicara padamu."
"Apa itu, Pie? Sepertinya penting."
Pie mengangguk pelan. Ia sedang bersama Yetti di kantin saat Rayu dan Okta masih mengikuti game yang diadakan oleh guru olahraga.
"Aku menyukai Zal." Yetti menutup mulutnya tak percaya.
"Kau menyukai bocah tengil itu? Bagaimana bisa?"
"Seperti kau menyukai sepupu Okta, Yett. Bagaimana bisa?" Sontak Yetti tertawa mendengar balasan Pie.
Yetti berdehem sebelum kembali berbicara.
"Kau serius? Sejak kapan?"
"Sejak masuk kelas dua."
"Hah? Sudah satu tahun? Dan kau menahannya seorang diri? Wah.. Kau hebat Pie. Aku bahkan tak menyadarinya."
"Benarkah? Kurasa aku sangat kentara memandang Zal selama di kelas."
"Kau seperti tak memiliki perasaan, Pie. Sikap acuhmu memang tak memperlihatkan kau menyukai bocah itu."
"Jadi, kau mampu kan menyimpan rahasia ini? Jujur saja aku sudah tak sanggup menyimpannya seorang diri tapi aku juga tak mampu mengungkapkannya pada Zal."
Yetti memegang tangan Pie.
"Tenang saja. Aku akan menyimpannya untukmu. Tapi apa kau mau aku membantumu.. dengan Zal?"
Pie menggeleng cepat.
"Zal, kupikir dia mempunyai kekasih."
"Apa? Benarkah? Siapa?"
"Anak SMP."
"Huh? Aku akan mencari tahunya."
Sebelum masa ujian tiba, sekolah kedatangan oleh para mahasiswa dari berbagai kampus di kota untuk mempromosikan kampus unggulan mereka dengan akreditasi terbaik.
Pie tergiur dengan jurusan bahasa inggris, namun ia mengubur dalam-dalam keinginannya itu agar orang tuanya tak lagi memiliki beban untuk membiayai pendidikannya. Pie berpikir SMA pun sudah cukup untuk bekalnya di masa depan. Ia juga akan mencoba bekerja dan kuliah dengan hasil kerjanya sendiri tanpa merepotkan orang tuanya.
"Pie, kau ingin kuliah di mana?" Mama menghampiri Pie yang sedang belajar di kamarnya saat malam hari.
"Kuliah?" Pie terdiam sesaat kemudian menggeleng pelan.
"Aku tidak ingin kuliah, Ma."
"Kenapa?"
"Aku ingin berhenti untuk belajar. Rasanya kepalaku panas sejak sekolah SMA yang selalu sibuk dengan tugas."
Mama tersenyum.
"Apa benar tidak ingin kuliah? Mama dengar Ezti melanjutkan untuk kuliah."
"Tidak, Ma. Aku ingin bekerja saja membantu Mama dan Ayah di kebun."
"Baiklah."
Selepas kepergian Mama, Pie membesarkan hatinya untuk tak menangis. Ia tak mampu membuat orang tuanya bersusah payah di masa tua mereka.
"Semoga ada jalan terbaik." Gumam Pie sebelum melanjutkan belajarnya.
Perasaan Pie pada Zal semakin menggebu, sikap Pie juga sedikit memberi kode ketika berbicara pada Zal. Tepat pada ulangan semester satu Pie memberanikan dirinya menyatakan cinta, ia ingin segera mengakhiri perasaannya. Di dalam kamus Pie, jika dirinya menyatakan perasaan pada laki-laki maka saat itu pula perasaannya hancur lebur dan hilang.
"Zal, aku menyukaimu."
Zal menatap Pie diam tak percaya pada teman perempuan yang di matanya kalem dan tenang.
"Kau jangan bercanda, Pie."
"Aku serius, Zal."
"Tapi maaf. Aku mempunyai kekasih, aku sudah lama bersamanya." Pernyataan Zal membuat Pie mengernyitkan dahi.
"Aku tak berniat menjadi pacarmu, Zal. Aku hanya menyatakan cinta. Hanya ingin kau tahu aku memiliki perasaan padamu, sudah sampai di situ saja."
"Lalu, aku harus apa."
"Lupakan apa yang kau dengar hari ini."
"Mana mungkin? Kau membuat lelucon?"
"Ya, mulai sekarang perasaanku sudah hilang, Zal. Terima kasih sudah mendengarnya."
Pie meninggalkan Zal yang masih kebingungan.
Bertepatan jam pulang sekolah, Pie segera mengambil tasnya yang berada di dalam kelas.
"Maaf, Pie. Aku tak bermaksud menyakitimu."
Pesan Zal membuat Pie kesal bercampur gemas. Ia keluar dari kelas dan berlalu tanpa menghiraukan Zal yang tampak merasa bersalah.
"Kau ke mana, Sayang?"
"Tidak ada kabar seharian."
Deretan pesan masuk ke ponsel Pie dari sang kekasih. Ya, Pie memiliki kekasih, virtual tepatnya. Beberapa bulan lalu, Pie merasa pacarnya yang sekarang posesif akan geraknya.
"Maaf, aku baru bangun tidur."
Pie membalas pesan ketika ia bangun dan mengecek ponsel. Tiap saat mereka berkomunikasi, berkenalan via facebook dan berlanjut menjalin hubungan. Pie dan sang pacar berbeda usia 4 tahun.
Telepon berdering dari sang kekasih, Pie lekas mengangkatnya.
"Halo?"
"Halo, sayang. Apa yang kau lakukan?"
"Masih berbaring."
"Kau sudah makan?"
"Sudah, kau bagaimana?"
"Aku baru selesai makan. Aku sedang berada di luar kantor."
Percakapan itu selalu berlanjut dengan Pie menceritakan kegiatannya di sekolah dan di rumah. Bisa dikatakan, semua tentang Pie, sang pacar mengetahui, dan berbanding terbalik dengan Pie kepada Sang pacar, Tama.
"Kau jangan terlalu dekat dengan murid laki-laki. Kirimkan aku fotomu sekarang."
Jujur saja, Pie merasa jengah dengan sikap Tama yang mengekang dirinya, namun Pie juga mencintai Tama jadi dia mengesampingkan rasa tak nyaman.
Pie mengirimkan fotonya yang sedang berada di perpustakaan.
"Itu dari pacarmu?" Yetti berbisik ketika menghampiri Pie yang sedang menelepon.
Pie mengangguk, Yetti mengisyaratkan dirinya paham dan duduk di meja miliknya.
Semua teman geng Pie mengetahui bagaimana bucinnya Pie dengan pacar virtualnya itu. Dan Pie sudah berkali-kali berharap lalu kecewa dengan janji-janji Tama yang beberapa kali mengatakan akan berkunjung ke kota Pie dan berakhir batal. Atau benar-benar dusta.
Kelulusan tiba..
Hari ini Pie mengenakan dress batik seragam dengan gengnya dan berdandan simple. Ia tersenyum manis dan berfoto untuk mengabadikan momen hari ini.
"Kau diantar oleh Ayah 'kan?" Mama berdiri di pintu kamar Pie.
"Iya, Mama. Apa ayah sudah siap?"
"Tentu, Ayah sudah menunggu di halaman."
Pie mengangguk dan mencium tangan Mama sebelum keluar rumah.
"Ma, Pie berangkat~~"
"Hati-hati di jalan."
Motor bebek yang dikendarai oleh Ayah dan Pie membelah jalanan yang sedikit ramai, pagi ini cuaca yang mendung. Pie berdoa semoga tidak hujan, karena acara perpisahan yang akan di adakan di outdoor. Walaupun menggunakan tenda namun cuaca cerah lebih baik dari pada hujan.
"Hei Pie. Astaga, aku sempat mengira kau orang lain."
"Ah, apa aku terlihat aneh?" Pie menatap Okta yang baru datang.
"Oh, tidak tidak. Maksudku kau terlihat berbeda, cantik. Ya seperti itu." Okta merasa bersalah karena kalimatnya yang ambigu.
"Benarkah? Aku makeup sebisaku." seulas senyuman singkat di bibir Pie.
"Wow, kau jago makeup. Sayang sekali aku tak pandai. Lihat, eyeliner-ku tidak kembar." Okta tertawa hambar sedangkan Pie tersenyum kecil.
"Itu sudah bagus. Mana yang lain?" Maksud Pie adalah keberadaan Rayu, Ind dan Yetti.
"Mereka pasti masih di salon. Kau tahu, hari ini salon mendapatkan banyak pasien. Pasti sangat padat dan..eoh, mengantre."
"Ya, secara kebetulan acara perpisahan yang diadakan oleh SMK dan SMA berbarengan."
"Benar."
Satu persatu para calon alumni siswa kelas tiga memenuhi kursi yang disediakan di depan panggung. Sebentar lagi acara dimulai.
"Astaga, untung tidak terlambat."
"Hei, bagaimana makeupku, apakah terlihat aneh?"
"Tidak. Kau sempurna."
"Tidak, jangan melepasnya, kau membuat rusak hairdo ku, sialan!"
"Hoi, foto yang benar! Awas jika hasilnya jelek."
"Bagaimana ini? Lipstick ku belum selesai! Astaga menyebalkan, padahal sudah kubayar lunas!"
"Kau yang bagaimana? Tidak mengoreksi terlebih dahulu sebelum melunasinya?"
"Hei, diamlah. Ini bagikan snack box ke teman yang di belakang."
"Woy, mana jas ku?!"
"Kyaa!! Ayo foto lagi, aku terlihat cantik! Hehe."
"Tidak, hapus itu! Wajahku seperti monyet!"
"Aku ingin pipis! Huhu."
"Apa kau bisa memakainya lagi? Jika tidak tahan saja hingga akhir acara."
"Huwwaaaa... aku sudah tidak tahan!"
"Itu salahmu, memilih kebaya yang ribet!"
"Hei! Lipstickmu keluar jalur!"
"Ishh! Diamlah, aku malu. Mana cerminmu, aku pinjam sebentar."
"Kenapa kau menyenggolku!"
"Tubuhmu seperti kudanil, menghalangi jalan!"
"Jalannya saja yang sempit, sialan!"
"Hei, sini kau! Bedxbah kenapa mengambilnya!"
Berbagai suara riuh para siswa kelas tiga yang sudah berada di tempat yang disediakan.
"Haloo... tes! Tes! Anak-anak.. dimohon tidak ribut, duduk tenang dan makan snack box kalian. Sebentar lagi acara dimulai." Suara salah satu guru yang menjadi panitia acara memegang mic di atas panggung.
Sontak suara riuh perlahan tenang dan para guru menduduki kursi yang berada di barisan depan.
Acara berlangsung khidmat dan penuh tangis. Namun, tak berlangsung lama mereka yang masing-masing mengalungi kalung kelulusan tampak bahagia dan bersenang-senang.
Satu persatu kelas bergiliran untuk berfoto bersama wali kelas masing-masing yang berlatar banner besar bertuliskan alumni SMA Negeri beserta tahun ajaran.