NovelToon NovelToon
TETANGGA GARIS KERAS

TETANGGA GARIS KERAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rachel Imelda

Aruna Paramitha, gadis cantik yang memiliki bodi gores menganggap rumahnya dalam tempat yang paling aman, menjadi terganggu dengan kedatangan tetangga baru yang menyebalkan. Gavin Adnan, adalah pria garis keras dalam hal ketertiban. Aruna yang berjiwa bebas dan sedikit berantakan pun resmi menjadi musuh bebuyutan Gavin. Namun.un saat sebuah insiden salah kirim paket, mengungkap rahasia kecil Gavin yang tak terduga, tembok pertahanan pria kaku itu mulai goyah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachel Imelda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mohon perhatiannya

Hari pemberkatan tiba, dan rumah "merger" Gavin-Aruna berubah menjadi pusat komando yang sangat sibuk namun penuh tawa.

Sejak pukul empat lewat tiga puluh menit dini hari, Gavin sudah bangun. Bukan untuk dandan, melainkan untuk memastikan semua jas keluarga pria tergantung dengan kemiringan hanger yang sama.

"Runa, tolong sampaikan pada sepupumu Budi. Dasi windsor knot miliknya miring tiga derajat ke kanan. Itu akan merusak simetri foto keluarga di altar nanti," lapor Gavin sambil sibuk menyemprotkan antistatic spray ke jas pengantinnya sendiri.

Di kamar sebelah, Aruna sedang dikepung oleh perias wajah dan para bibinya. ""Sabar ya, Na. Punya suami auditor memang harus siap mental simetris," goda salah satu bibi.

Kerempongan memuncak saat kunci mobil logistik sempat hilang (sebenarnya cuma tertutup tumpukan kotak suvenir). Gavin hampir saja mengaktifkan protokol pencarian darurat sebelum akhirnya ditemukan oleh Ibu Aruna di dalam sakunya sendiri.

"Ayo, ayo, berangkat! Menurut perhitungan Mas Gavin, kita sudah telat seratus dua puluh detik!" teriak Bu Tejo yang sudah stand by di depan rumah dengan baju seragam warna sage green yang sangat mentereng.

Gereja sudah dihias cantik. Aruna tampak memukau saat berjalan menuju altar. Gavin berdiri di depan dengan wajah yang berusaha tenang, meski otaknya sedang memproses frekuensi gema di dalam ruangan tersebut.

Saat tiba momen paling sakral, yaitu pengucapan janji suci, suasana menjadi sunyi senyap. Pendeta mempersilahkan Gavin untuk memulai.

Gavin menarik napas panjang, menatap mata Aruna, dan mulai berucap: Saya, Gavin Adnan, menerima engkau, Aruna Putri Wulandari sebagai isteri Saya..."

Namun, tiba-tiba Gavin berhenti sejenak. Ia sedikit berdehem dan mengatur posisi berdirinya. Ia merasa suaranya memantul di pilar gereja dengan cara yang "tidak enak" di telinganya.

"Ulangi sedikit," bisik Gavin pelan pada dirinya sendiri. Ia merasa nada suaranya di kata "Isteri" tadi terlalu rendah (bas) sehingga resonansi ruangan membuat suaranya terdengar agak pecah.

Pendeta dan para saksi sedikit bingung. Gavin menatap Aruna dan berbisik, "Maaf, Runa. Sudut pantul suara Saya di pilar sebelah kiri kurang stabil. Secara akustik. Ini akan terdengar tidak tulus di rekaman video. Saya akan menaikkan frekuensi suara Saya setengah oktaf."

Aruna menahan tawa sekuat tenaga sambil mengedipkan mata, "Mas, ucapin pakai hati, bukan pakai frekuensi!"

Gavin mengangguk kecil, lalu mengulangi janjinya dengan suara yang lebih mantap dan penuh perasaan. Kali ini, ia benar-benar melupakan hukum fisika suara dan membiarkan emosinya mengalir.

"...Saya berjanji untuk setia padamu, dalam untung dan malang, di waktu sehat dan sakit..."

Begitu janji suci selesai diucapkan dengan "akustik hati" yang sempurna, seluruh jemaat menghela napas lega. Namun, saat Aruna membalas janji tersebut dengan suara yang terisak haru, Gavin refleks merogoh saku jasnya.

Bukannya mengambil cincin, ia mengeluarkan sebuah saputangan yang dilipat membentuk persegi sempurna.

"Gunakan ini, Runa. Serat kainnya seratus persen katun, aman untuk riasan wajahmu agar tidak terjadi degradasi kosmetik akibat air mata," bisik Gavin sambil menyeka air mata Aruna dengan gerakan yang sangat hati-hati dan presisi.

Para tamu undangan, termasuk Bu Tejo di barisan depan, langsung berbisik-bisik gemas. "Duh, Mas Gavin... mau romantis aja harus pakai penjelasan teknis!"

Setelah pendeta meresmikan mereka sebagai suami isteri, Gavin mencium kening Aruna. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Gavin merasa hidupnya benar-benar "seimbang" tanpa perlu menggunakan rumus matematika apa pun.

Sambil berjalan keluar gereja, Gavin berbisik di telinga Aruna, "Runa , setelah saya analisis barusan, momen ciuman tadi berlangsung selama tiga koma lima detik. Secara visual, itu durasi yang optimal untuk tertangkap kamera tanpa terlihat berlebihan.

Aruna tertawa lepas sambil menggandeng erat lengan suaminya. "Mas, setelah ini resepsi. Tolong jangan audit jumlah rendang yang akan dimakan tamu ya?"

"Akan Saya usahakan, Runa. Tapi Saya tidak menjamin jika Saya melihat ada yang mengambil kerupuk secara tidak ergonomis."

Setelah itu mereka pun keluar dari gedung gereja tersebut. Halaman gereja yang asri kini dipenuhi oleh para lajang yang sudah memasang kuda-kuda kompetitif. Aruna berdiri membelakangi kerumunan dengan buket bunga mawar putih ditangannya, sementara Gavin berdiri di sampingnya sambil memegang jam sukat (stopwatch).

"Runa, sudut lemparan terbaik adalah empat puluh lima derajat dengan kekuatan dorongan moderat agar bunga mendarat tepat di titik tengah masa kerumunan," instruksi Gavin serius.

Tepat saat Aruna bersiap melempar.. CIIITT! Sebuah taksi berhenti mendadak di depan gerbang gereja. Tania keluar dengan napas terengah-engah. Gaunnya yang elegan sedikit berantakan, dan high heelsnya berbunyi nyaring di aspal.

"TUNGGU! JANGAN DILEMPAR DULU!" teriak Tania sambil berlari masuk ke barisan. "Maaf, maaf banget! Ada meeting darurat sama klien yang rewelnya minta ampun, aku hampir gila di jalan!"

Aruna tertawa lega melihat sepupunya sampai juga. "Pas banget, Tania! Satu... dua...tiga!"

Buket bunga meluncur di udara. Terjadi aksi saling sikut yang estetis, dan entah karena hukum gravitasi atau memang sudah takdir, buket itu mendarat tepat di pelukan Tania yang masih memegang tas brandednya.

"WADUH! Aku yang dapet?!" Seru Tania histeris. Dan langsung mengeluarkan ponselnya melakukan siaran langsung, "Hy guys, jadi sekarang Aku lagi di acara pernikahannya kakak Aku, dan lihat Aku yang dapet buketnya dong... artinya bentar lagi Aku bakal nyusul kakak Aku... tapi... sama siapa ya?" kata Tania dan langsung di sambut ketawa dan geleng-geleng kepala dari Aruna dan juga saudara-saudaranya yang lain.

"Selamat Tania, secara statistik, posisi berdirimu tadi berada di zona probabilitas tertinggi." Kata Gavin.

*******

Acara berpindah ke perumahan Harmoni. Jalanan depan rumah mereka sudah disulap menjadi area pesta yang luar biasa. Tenda-tenda dekoratif berwarna sage green dan peach berjejer rapi. Sesuai permintaan Aruna, temanya adalah pesta rakyat. Ada gerobak bakso, sate, siomay hingga es doger langganan warga.

Namun karena ini adalah pernikahan Gavin, "Pesta Rakyat" ini memiliki manajemen kelas dunia.

Di gerbang masuk, Pak RT dan para pemuda kompleks bertugas sebagai "Air traffic Controller. Mereka membagikan peta kecil dilaminating yang berisi rute jalan kaki.

"Ibu-ibu mohon lewat jalur kiri untuk stan makanan berat, dan jalur kanan untuk dessert. Jangan ada yang melakukan arus balik di area sate supaya tidak terjadi kemacetan total," ujar Pak RT mengikuti instruksi Gavin.

Di setiap gerobak makanan, Gavin memasang papan informasi kecil tentang tingkat kepanasan kuah bakso, kandungan protein per porsi, serta estimasi waktu antri.

Sedangkan di gerobak es doger Gavin memasang papan yang menginformasikan kalau tingkat kemanisan sesuai standar Nasional Indonesia. Es batu dibuat dari air mineral yang telah melalui proses distilasi.

Bu Tejo yang sudah berganti baju lebih cetar lagi. Mencoba menyerobot antrean bakso. Tiba-tiba sebuah sensor di tiang tenda berbunyi "BIP! BIP!"

Gavin yang sedang bersalaman di pelaminan langsung melihat ke arah stan. Ia mengambil mikrofon pengantinnya.

"Mohon perhatiannya untuk tamu dengan undangan 001, Ibu Tejo. Anda terdeteksi melakukan pelanggaran alur antrean. Mohon kembali ke titik awal demi menjaga ritme sirkulasi masa," suara Gavin bergema di seluruh jalanan kompleks.

Bu Tejo tersipu malu sambil tertawa. "Aduh, Mas Gavin. Di pelaminan pun mata auditornya masih tajam!"

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!