NovelToon NovelToon
Monarch: The King Who Refused To Die

Monarch: The King Who Refused To Die

Status: sedang berlangsung
Genre:Kelahiran kembali menjadi kuat / Action / Perperangan / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Sistem / Fantasi
Popularitas:224
Nilai: 5
Nama Author: Sughz

Ia pernah menjadi Monarch—penguasa yang berdiri di puncak segalanya. Namun pengkhianatan merenggut tahtanya, menghancurkan kerajaannya, dan memaksanya mati berulang kali dalam siklus reinkarnasi yang panjang. Selama ratusan kehidupan, ia menunggu. Menunggu para bawahannya yang tersebar, tertidur, atau tersesat di berbagai dunia. Di kehidupan terakhirnya, saat tubuhnya menua dan kematian kembali mendekat, sebuah system akhirnya terbangun—bukan ciptaan dewa, melainkan jelmaan dari salah satu rekan lamanya. Dengan kematian itu, sang raja kembali terlahir, kali ini di dunia yang sama… namun telah berubah drastis dalam beberapa ratus tahun.

Dunia yang ia kenal telah runtuh, kekaisaran bangkit dan jatuh, gereja menguasai kebenaran, dan para dewa mengawasi dari kejauhan. Dengan system yang setia di sisinya dan ingatan dari kehidupan-kehidupan sebelumnya, sang Monarch memulai perjalanannya sekali lagi: membangkitkan bawahan yang tersisa, membangun kekuatan dari bayang-bayang, dan menuntut balas atas pengkhianatan lama yang belum lunas. Ini bukan kisah pahlawan yang diselamatkan takdir—ini adalah kisah seorang raja yang menolak mati sebelum dunia membayar hutangnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sughz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch.17. An Uneasy Road

Jalanana di tengah hutan yang sepi, terlihat beberapa tubuh manusia tergeletak, darah tersebah ke segala arah. Gerobak kecil hancur berserakan, dan di sisi lain ada seorang wanita yang meringis kesakitan.

Di depannya, berdiri seorang pria dengan tubuh gemuk menatap wanita itu dengan penuh nafsu.

“Hei, apa aku bisa mencicipi tubuh gadis ini terlebih dulu?” kata pria itu pada pria tinggi di dekatnya. Lidahnya mejilati bibirnya hitam.

“Perintah dari ketua adalah membunuh mereka semua, apa kau mau mati kalau sampai ketahuan?” ucap pria di dekat tubuh yang tergeletak.

Pria gemuk itu mendengus kasar.

“Padahal aku sangat ingin mencicipi tubuh prajurit bayaran wanita,” pria itu melihat wanita di depannya.

Wanita itu masih meringis kesakitan, menatap pria gemuk itu dengan tatapan jijik.

“Yah, anggap kau beruntung nona.” ucap pria gemuk, mengayunkan pedang besarnya, membuat kepala wanita itu terlepas dari tubuhnya.

Para pria tadi langsung meninggalkan tubuh itu tanpa membawa apapun.

.

.

Terik siang cukup untuk membakar kulit.

Theo berdiri di dekat gerobak, memakai tudung dari jubahnya, memperhatikan suasana kota Lowridge. Desa kecil terdekat di jalur barat dari Morvain. Butuh waktu tiga hari perjalanan untuk Theo sampai desa ini.

“Oh, kau di sini?” suara Calder dari samping mendekati Theo.

Theo menoleh singkat.

“Apa kau tak ingin istirahat? Masih butuh beberapa waktu sebelum kita kembali ke Morvain.” Calder berdiri di samping Theo.

“Tidak,” jawab Theo singkat.

“Padahal kita sudah berpergian beberapa hari, tapi kau masih saja dingin, ya” ucap Calder, mendengus pelan.

“Apa memang penjagaan di setiap desa akan seketat ini?” tanya Theo. Sejak tadi dia sedikit penasaran karena banyak prajurit kerajaan di satu desa.

“Ah, mungkin karena kau baru datang ke Morvain jadi kau tak tahu kalau beberapa bulan ini banyak penyerangan oleh para bandit.” jawab Calder.

“Bandit?” Theo semakin penasaran.

“Yah, para bandit menyerang jalur-jalur perdagangan,” jawab Calder. “Tapi beberapa minggu lalu mereka juga mulai menyerang desa-desa yang menjadi pos dagang Morvain.”

“Bukankah kalau hanya sekelas bandit, kerajaan bisa menumpas mereka dengan mudah?” tanya Theo.

“HAHAHAHA,” Calder tertawa keras. “Dari sini aku tahu kau tumbuh dari tempat yang damai, Ash.”

“Apa kau tahu? kerajaan Morvain ada di perbatasan selatan, hutan monster terbentang luas di selatan Morvain, mereka juga di himpit oleh dua kerajaan yang cukup bermasalah di Kekaisaran.” jelas Calder.

“Bermasalah?” tanya Theo.

“Benar, di sebelah....”

“Ternyata kalian berdua di sini” seseorang memotong obrolan mereka.

Tavin dan kelompok dagangnya baru kembali setelah mengurus barang-barang yang di antar.

“Ah, Tavin, apa kau sudah selesai?”

“Yah, kita kembali ke Morvain sekarang. Dimana Oren?” Tavin menaiki Gerobak.

“Aku akan memanggilnya, kau dan Ash bisa berangkat terlebih dulu. Aku akan menyusul dengan cepat.” ucap Calder melangkah pergi.

Theo yang melihat Calder pergi juga ikut berjalan ke arah kudanya. Lalu dengan kelompok Tavin, mereka meninggalkan desa dan kembali ke Morvain.

.

.

Perjalanan berlalu setengah hari, malam datang dengan tenang.

Di pinggiran jalanan utama.

Semua orang sedang duduk di perapian, kecuali Calder yang sedang berpatroli.

Theo menatap semua orang yang sedang minum alkohol—sesekali dia harus menelan ludah.

Oren menatap Theo dengan kasihan.

“Hei, apa kau benar tak mau minum, Ash?”

“Tidak, sudah kubilang aku masih di bawah umur, kan.” jawab Theo dengan sedikit kesal.

Semua orang tertawa.

“Sungguh, saat pertama kali aku melihatmu. Aku tak pernah berpikir kau masih bocah berumur sepuluh.”

“Yah, aku juga berpikir kau hanya sekedar pendek, tapi siapa sangka kau masih seorang anak kecil.”

Semua orang mengejek Theo, dia hanya bisa menghela napasnya pelan.

“Tapi apa yang membuatmu mendaftar prajurit bayaran di umurmu itu, Ash?” tanya Tavin—sedikit mabuk.

Theo terdiam sebentar.

“Aku hanya... ingin segera bertemu rekan-rekanku.” jawab Theo.

Membuat semua orang terdiam, lalu tawa mereka meledak.

“Mau bagaimana pun kau memang masih anak kecil, Ash,”

“Kau benar-benar sangat lucu, bocah”

Theo hanya tersenyum kecut mendengar ejekan mereka.

Suasana cukup menjadi riuh karena alkohol.

Setelahnya Theo menatap pada hutan yang ada cukup jauh dari tempatnya, sejak mereka berhenti Theo merasakan ada yang mengawasi dari sana.

‘Lily, apa bandit di dunia ini secerdas mereka?’ tanya Theo.

[TING]

“Saya rasa ada yang aneh dengan pergerakan mereka tuan.”

Theo menatap Tavin.

“Hei, paman. Apa di jalur ini tak pernah ada serangan bandit?”

“Ah, tidak. Serangan bandit hanya sering terjadi di jalur langsung menuju Morvain belakangan ini.” jawab Tavin. “itulah sebabnya aku memilih jalur memutar untuk pengiriman kali ini.”

“Memutar?” Theo bingung.

“Yah, sekarang banyak pedagang yang memilih untuk melalui jalur perdagangan lama saat pengiriman, dan itu yang membuat perjalanan kita menjadi tiga hari,” jelas Oren.

“Benar, seharusnya kita hanya memerlukan dua hari untuk perjalanan pulang pergi antar Morvain dan Lowridge,” timpal Tavinn.

Theo cukup kaget. “Benarkah?”

“Bukankah itu akan menggangu ekonomi para pedagang.”

“Aaaaaah, jangan membahas tentang itu. Aku sendiri harus mengeluarkan uang lebih saat membuat kontrak pada prajurit seperti kalian.” ucap Tavin kesal. “Semua pedagang sudah mengirim surat pada raja. Tapi tak ada yang berubah sampai sekarang.” meneguk alkoholnya lagi.

“Kudengar dia juga pernah mengirim prajurit bayaran saat mendengar ada penyerangan di desa Ealmreach. Tapi saat mereka tiba sudah terlambat, para bandit sudah pergi dan di desa banyak orang yang mati.” Oren menjelaskan dengan raut wajah marah—menggengam erat gelas kayu di tangannya.

“Yah, tapi aku dengar, para bandit tidak pernah membawa apa pun sebagai jarahan.”

“Benar, banyak kasus dari mereka hanya membunuh dan menghancurkan barang para pedagang dan prajurit bayaran.”

Semua orang menjadi berdiskusi dengan serius.

Theo terdiam.

“Bukankah, pergerakan mereka seperti strategi perang.” ucap Theo asal, membuat semua orang menatapnya.

Lalu tatapan Theo berpaling ke hutan, perasaan yang di rasakan Theo menghilang.

‘Lily, kurasa ini akan merepotkan.”

[TING]

“Selamat bersenang-senang tuan.”

.

.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!