NovelToon NovelToon
Cloudet : Kenangan Masa Lalu Sang Hellhound

Cloudet : Kenangan Masa Lalu Sang Hellhound

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Romansa Fantasi / Cinta Terlarang / Obsesi / Perperangan / Dark Romance
Popularitas:838
Nilai: 5
Nama Author: HOPEN

Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu, hingga Calix sangat menyayangi Cloudet dengan obsesi menyimpang. Hingga dia rela bersekutu dengan kegelapan agar tidak satupun yang dapat merebut Cloudet darinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HOPEN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Orang Gila

Kembali ke sudut taman yang kini telah berubah menjadi arena prahara domestik, suasana masih jauh dari kata damai. Irina, yang biasanya menjadi personifikasi ketenangan, keanggunan, dan martabat tinggi keluarga Grozen, kini tampak seperti manifestasi badai kecil yang sedang mengamuk di tengah ladang mawar. Dengan wajah yang memerah padam—sebuah gradasi warna yang lahir dari perpaduan sempurna antara rasa malu yang membakar dan amarah yang meledak—ia mulai menghujani bahu serta dada bidang Roland dengan tinju-tinju kecilnya yang bertubi-tubi.

"Kau... pria mesum tidak tahu malu! Benar-benar tidak punya malu sama sekali!"

Geram Irina di sela-sela serangannya yang meskipun emosional, tetap memiliki ritme yang elegan. Suaranya sedikit bergetar, menahan gejolak perasaan yang campur aduk.

Roland, sang Magus Agung yang kekuatannya sanggup meruntuhkan gunung, sama sekali tidak menunjukkan niat untuk melawan atau menghindar. Ia hanya mengangkat kedua tangannya dalam gestur menangkis yang bersifat simbolis, sementara tubuhnya justru terguncang oleh tawa rendah yang provokatif dan penuh kemenangan.

Baginya, pukulan-pukulan Irina tidak lebih dari sekadar tepukan sayap kupu-kupu di atas tubuhnya—sama sekali tidak menyakitkan, justru terasa menggelitik nuraninya yang jenaka.

Ia menyesap setiap detik dari kemarahan istrinya; melihat Irina yang biasanya selalu terkendali, anggun, dan penuh perhitungan kini menampakkan emosi yang mentah dan meledak-ledak adalah hiburan kelas atas yang tak ternilai harganya.

Di mata Roland, ekspresi Irina yang sedang merajuk dengan pipi merah dan mata yang berkilat marah itu jauh lebih indah, lebih kompleks, dan lebih memikat daripada mahakarya mana pun yang pernah ia lihat.

Namun, hormon kehamilan memang merupakan variabel yang paling sulit ditebak, bahkan oleh seorang ahli sihir sepertinya. Amarah Irina yang meluap-luap itu mendadak surut, berganti dengan rasa lelah yang menghantam secara tiba-tiba akibat beban di perutnya yang sudah sangat berat. Ia berhenti memukul, bahunya naik turun saat ia menarik napas panjang untuk menstabilkan detak jantungnya.

Setelah berhasil menguasai diri, ia mendengus kasar, sebuah pernyataan ketidaksenangan yang final.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Irina berbalik dengan putaran tubuh yang anggun namun tegas. Ia mengabaikan Roland yang masih terduduk bersila di atas rumput dengan sisa-sisa tawa yang masih tertinggal di tenggorokannya. Dengan langkah yang sedikit terburu-buru namun tetap mempertahankan wibawa seorang nyonya besar, ia berjalan kembali masuk ke dalam kedalaman mansion, meninggalkan suaminya sendirian di tengah kepungan rumpun mawar yang harum dan angin pagi yang mulai menghangat.

Roland akhirnya bangkit dengan gerakan luwes, menepis sisa-sisa debu tanah dan potongan rumput yang menempel di celana linen mahalnya. Ia tidak langsung mengikuti Irina ke dalam untuk meminta maaf; ia tahu istrinya butuh waktu untuk meredakan gejolak di dadanya. Sebaliknya, ia memutuskan untuk berjalan-jalan santai menyusuri koridor luar sayap samping mansion, membiarkan udara pagi mendinginkan kepalanya sejenak setelah interaksi yang cukup menguras adrenalin tadi.

Hingga di sebuah persimpangan koridor yang beratap tinggi dengan pilar-pilar marmer yang terbuka, ia berpapasan dengan Calix.

Kondisi Calix saat itu benar-benar tampak mengenaskan dan jauh dari kata rapi. Rambut hitamnya mencuat ke segala arah, berantakan seolah-olah ia baru saja dihantam badai, dan wajahnya menunjukkan sisa-sisa frustrasi yang mendalam. Ia sedang menggendong Cloudet dalam posisi yang agak canggung; bocah kecil itu tampak setengah mengantuk dengan mata kuningnya yang sayu, namun kedua tangan mungilnya mencengkeram erat leher kakaknya seolah-olah Calix adalah satu-satunya tiang gantungan di tengah samudera.

Begitu mata mereka bertemu, langkah kedua pria itu terhenti seketika, menciptakan keheningan yang sarat akan penilaian.

Roland menyunggingkan senyum miring andalannya, sebuah lengkungan bibir yang memancarkan aura superioritas yang menyebalkan, seolah ia baru saja memenangkan lotre.

Namun, Calix yang memiliki penglihatan kuning setajam elang langsung menangkap sesuatu yang sangat janggal dan menarik pada wajah sang majikan.

Di pipi kanan Roland mulus, terpampang sebuah jejak telapak tangan yang sangat presisi dan simetris—merah, meradang, dan jelas merupakan hasil dari sebuah tamparan.

Calix terdiam sejenak, memproses pemandangan absurd di depannya. Ia menatap jejak merah itu dengan intensitas yang tidak disembunyikan, lalu beralih menatap mata biru Roland yang masih berkilat-kilat senang, seolah tamparan itu adalah sebuah anugerah.

Calix tidak bisa menahan lidahnya untuk tidak melepaskan satu kalimat sarkastik yang sudah terasa gatal di ujung lidahnya.

"Ada apa dengan tanda 'kehormatan' di wajahmu itu, Tuan Magus yang Agung?"

tanya Calix dengan nada datar yang sarat akan ejekan pedas.

“Apa kau baru saja mencoba bernegosiasi dengan monster?, dan nampaknya monster itu memutuskan untuk memberikan jawaban fisik yang cukup telak?"

Roland tidak merasa tersinggung sedikit pun oleh komentar pedas pemuda di depannya. Sebaliknya, senyum miringnya semakin melebar, memancarkan kebanggaan aneh yang melompati segala batasan logika manusia normal. Ia menyentuh pipinya yang masih terasa hangat dan berdenyut dengan ujung jari-jarinya yang panjang.

"Oh, ini?" Roland terkekeh pendek, suaranya terdengar sangat puas, hampir seperti atlet yang baru saja menerima medali emas di podium.

"Aku baru saja menerima sentuhan kasih sayang dari wanita terkasihku. Sebuah hadiah penyambutan yang... ah, sangat berkesan, penuh kehangatan, dan memberikan getaran yang luar biasa pada sarafku."

Calix hanya bisa mengerjap, menatap Roland dengan tatapan jijik bercampur heran yang tidak terlukiskan. Ia merasa akal sehat dan kewarasannya sedang diuji hingga batas maksimal oleh pria di depannya ini.

Ia merasa telah melihat banyak hal aneh di dunia astral, tapi masokisme seorang Roland Grozen berada di level yang berbeda. Tanpa berniat membalas lagi, ia mengeratkan gendongannya pada Cloudet, mencoba memberikan kenyamanan pada adiknya yang mulai gelisah, lalu melangkah melewati Roland dengan langkah cepat. Namun, ia menyempatkan diri untuk bergumam pelan, cukup keras untuk ditangkap oleh pendengaran tajam sang pria perak.

"Ternyata selain gila kekuatan, kau juga punya kelainan jiwa yang cukup serius," gumam Calix sinis tanpa menoleh.

Roland hanya tertawa pelan mendengar komentar tajam itu, suaranya menggema di koridor yang sunyi.

"Sudah lama sekali aku tidak mendengar sarkasmemu yang khas itu, Calix. Kau masih tetap kurang ajar dan tajam seperti saat kau masih kecil dulu,"

ucap Roland, suaranya mengandung nada nostalgia yang geli

"Dan nampaknya, ahli sarkasme kita ini sekarang sudah memiliki kesibukan baru sebagai pengasuh adik kecil yang menggemaskan."

Calix menghentikan langkahnya sejenak, menoleh sedikit ke arah Cloudet yang sedang bersandar di bahunya, lalu kembali menatap Roland dengan senyum miring yang tak kalah tajam.

"Yah, nampaknya Tuan Roland yang terhormat harus segera bergegas menenangkan istrinya yang sedang merajuk hebat di dalam sana sebelum tamparan kedua mendarat di pipi satunya.”

Calix menyeringai.

“Kalau begitu, budak hina ini mohon pamit dulu untuk menjalankan tugas sucinya,"

balas Calix dengan nada sarkas yang kental, memberikan penekanan pada kata 'budak hina'.

Roland tidak luntur senyumnya. Ia justru tampak semakin menikmati interaksi itu.

"Sampai jumpa kalau begitu, anak muda. Semoga beruntung dengan tugas 'suci' pengasuhanmu itu."

Roland berdiri diam sejenak, memperhatikan punggung Calix yang menjauh, sementara tangannya kembali menyentuh bekas tamparan Irina. Di matanya, mansion ini akhirnya terasa hidup kembali—penuh dengan kekacauan, tawa yang tertahan, dan emosi yang meluap.

Persis seperti yang ia rindukan selama perjalanannya yang panjang. Ia menarik napas dalam, menghirup udara pagi yang segar, lalu melangkah masuk ke dalam untuk menghadapi "badai" yang sebenarnya di kamar pribadinya.

Bersambung

1
Im_Uras
🤭🤭
Im_Uras
😍
kasychan❀ ⃟⃟ˢᵏ
lucu itu.. namanya juga masih masa pertumbuhan🤭🙏
kasychan❀ ⃟⃟ˢᵏ
wah.. pasti cakep banget
j_ryuka
namanya juga anak-anak
Tulisan_nic
ikut aku aja cloudet
Tulisan_nic
unyu banget,🫣
chrisytells
Kalau nggak keras, bukan kepala namanya 🤭😄
chrisytells
Udah otot kawat, tulang besi dari sononya nih si Cloudet
chrisytells
Gimana rasanya tuh, ditempelin? 🤣
Panda%Sya🐼
Benar kamu harus tumbuh jadi kuat
Blueberry Solenne
Cloudet masih masa pertumbuhan dan bimbingan orang dewasa, dan seusia dia lagi Lucu-lucunya
Vanillastrawberry
kasian nggak tau wajah ibunya 😥
Mentariz
siapp ntar kamu akan jatuh hati padanya😁
Mentariz
Kekuatannya emang gak main-main yaa 😂
Mentariz
Wuuiihh pasti cantik banget nih cloudet😄
j_ryuka
nyebelin tapi lucu
chrisytells
Iseng banget sih🤣
chrisytells
Udah nakutin, body shaming lagi😄
chrisytells
Nggak kebayang gimana karakternya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!