NovelToon NovelToon
Surat Cinta Dari Langit

Surat Cinta Dari Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Cinta Beda Dunia / Mengubah Takdir
Popularitas:450
Nilai: 5
Nama Author: habbah

Alana, seorang wanita yang sedang memulihkan luka hati, mengasingkan diri ke rumah tua peninggalan kakeknya di puncak bukit terpencil. Kehidupannya yang sunyi berubah sejak ia menemukan surat-surat misterius bertinta perak di dalam sebuah kotak pos kuno yang konon hanya menerima kiriman "dari langit".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: Pendaratan di Batas Realitas

Memasuki atmosfer bumi tidak pernah terasa semenyakitkan ini bagi Alana. Saat kapsul Navigasi Langit menembus lapisan eksosfer, ia merasa seolah-olah seluruh sel di tubuhnya sedang diperas oleh tangan raksasa. Efek dari "Embun Keabadian" yang meresap ke dalam sumsum tulangnya bereaksi keras terhadap gravitasi bumi yang padat dan kasar. Di matanya, udara bukan lagi ruang kosong; ia melihat molekul nitrogen dan oksigen seperti ribuan jarum kecil yang bergesekan dengan perisai cahaya kapsul.

"Arlo, sistem pengeremannya tidak merespons! Tekanan emosional dari bumi terlalu berat!" teriak Alana. Suaranya kini memiliki gema metalik yang aneh, frekuensi suaranya bergetar selaras dengan instrumen kapsul.

Arlo mencengkeram tuas kendali dengan otot-otot lengan yang menegang hingga tampak seperti kawat baja. Keringat mengucur di dahinya, namun keringat itu berwarna biru bening tanda bahwa energinya juga sedang terkuras habis. "Gravitasi Navasari menolak kita, Alana! Kita bukan lagi frekuensi yang dikenal oleh tanah ini. Kita dianggap sebagai benda asing!"

Di luar jendela, langit malam yang tadinya tenang mendadak pecah oleh gesekan panas. Kapsul itu meluncur seperti peluru indigo yang membara, membelah awan-awan hitam yang melingkari puncak gunung. Alana menatap ke bawah, ke arah titik cahaya emas mercusuar yang mulai membesar. Di sana, ia melihat garis-garis energi yang menghubungkan mercusuar dengan rumah kakek Surya, namun garis-garis itu tampak rapuh, seolah bisa putus kapan saja.

"Pegang erat-erat! Aku akan mencoba mendarat di 'Jangkar Cahaya' di Hutan Utara! Jika kita menghantam mercusuar, seluruh desa akan musnah dalam ledakan frekuensi!" Arlo menarik tuas pembalik arah dengan teriakan parau.

 

Di Bumi – Halaman Mercusuar

Elian berdiri di balkon mercusuar, napasnya tersengal-sengal dan dadanya terasa sesak seolah baru saja berlari maraton sejauh puluhan kilometer. Tangannya yang melepuh masih mencengkeram tuas lensa Fresnel, namun tubuhnya sudah mencapai batas. Ia melihat sebuah benda jatuh dari langit—bukan meteor merah yang biasa, melainkan sebuah bola api berwarna biru indigo pekat yang melesat dengan kecepatan yang menentang hukum fisika.

Benda itu mengarah tepat ke arah mercusuar selama beberapa detik, membuat Elian memejamkan mata dan bersiap untuk ajal. Namun, pada detik terakhir, bola api itu berbelok tajam, melengkung di atas hutan pinus sebelum akhirnya menghantam bumi dengan dentuman yang menggetarkan fondasi gunung.

BUM!

Ledakan itu tidak menghasilkan kobaran api jingga atau asap hitam dari bahan bakar minyak. Sebaliknya, sebuah gelombang kejut berwarna biru elektrik menyebar dari titik jatuh, membuat seluruh Hutan Utara berpendar sesaat seperti pemandangan di planet asing. Pepohonan pinus yang terkena gelombang itu mendadak tertutup oleh lapisan kristal beku, meski suhu udara malam itu tidak berada di titik beku.

Elian tidak menunggu lagi. Dengan sisa tenaga yang ada, ia melompat menuruni tangga mercusuar yang melingkar, mengabaikan rasa perih di telapak tangannya. Ia berlari menembus kegelapan hutan, mengikuti pendaran cahaya biru yang masih tersisa di antara batang-batang pohon.

Sesampainya di titik jatuh, Elian menemukan sebuah kawah dangkal yang permukaannya tampak seperti kaca yang mencair. Di tengah kawah itu, kapsul Navigasi Langit terbaring diam. Bentuknya yang elegan kini retak-retak di sana-sini, mengeluarkan uap dingin yang beraroma wangi hujan hutan tropis bercampur dengan bau tajam ozon.

Pintu kapsul terbuka perlahan dengan suara desis yang panjang. Arlo keluar lebih dulu, memapah tubuh Alana. Penampilan mereka telah berubah. Mereka mengenakan pakaian yang tampak seperti terbuat dari serat cahaya perak, dan mata mereka... mata mereka memancarkan pendaran indigo yang membuat Elian merasa seolah sedang menatap langsung ke dalam samudera bintang.

"Alana!" Elian berteriak, air mata haru pecah di wajahnya. Ia berlari maju untuk memeluk gadis itu.

"Tunggu! Elian, jangan!" Arlo memperingatkan dengan suara keras, namun terlambat.

Saat ujung jari Elian hampir menyentuh kain perak di bahu Alana, sebuah loncatan listrik statis yang sangat kuat menyambar dari tubuh Alana. Elian terlempar ke belakang beberapa meter, dadanya sesak karena hantaman energi itu. Ia terjatuh di atas tanah yang membeku.

Alana terpekik ngeri, menutupi mulutnya dengan kedua tangan yang kini berpendar lembut. "Elian! Maafkan aku... aku tidak bermaksud... aku tidak tahu..."

Arlo berdiri di antara mereka, menatap Elian dengan ekspresi penuh duka. "Embun Keabadian itu menyelamatkan jiwanya di pusat galaksi, Elian, tapi ia juga mengubah frekuensi biologisnya secara permanen. Alana bukan lagi sekadar manusia bumi. Dia adalah anomali berjalan. Tubuhnya kini mengandung muatan energi langit yang terlalu tinggi untuk disentuh oleh makhluk bumi tanpa perlindungan."

Alana melihat ke bawah, ke arah kakinya yang tidak mengenakan alas kaki. Rumput hijau yang ia pijak perlahan-lahan membeku, berubah menjadi kristal perak yang rapuh. Ia menyadari sebuah kenyataan pahit: ia telah kembali ke rumah, tetapi ia telah menjadi orang asing di tanahnya sendiri. Ia adalah mawar indah yang terbuat dari es dan listrik; siapa pun yang mencoba mencium aromanya akan membeku, dan siapa pun yang mencoba memetiknya akan terbakar.

"Jadi, aku tidak bisa kembali ke kehidupanku?" suara Alana bergetar hebat. "Aku ada di sini, Elian. Aku bisa melihatmu, aku bisa mendengar napasmu, tapi aku tidak bisa memegang tanganmu?"

Elian berdiri perlahan, menyeka darah yang menetes dari bibirnya akibat terjatuh tadi. Ia menatap Alana, bukan dengan rasa takut, melainkan dengan tatapan kesetiaan yang tak tergoyahkan. "Setidaknya kau ada di sini, Alana. Kau tidak hilang di antara bintang-bintang itu. Jika kau tidak bisa menyentuh bumi, maka biarkan aku yang membangun jembatan agar kau bisa berpijak. Kita akan mencari cara."

 

Mereka membawa Alana kembali ke rumah kakek Surya di bawah perlindungan kegelapan malam. Arlo menggunakan sisa-sisa energi dari generator kapsul untuk menciptakan sebuah "Zona Isolasi" di dalam ruang observasi menara. Ruangan itu kini dilapisi oleh membran energi transparan yang berfungsi sebagai filter frekuensi. Di dalam zona itu, Alana bisa bergerak bebas, namun di luar zona itu, keberadaannya bisa merusak struktur molekul bangunan.

Malam itu, Alana duduk di kursi rotan kakeknya di dalam menara, menatap Elian yang berdiri di luar membran transparan. Hanya jarak beberapa puluh sentimeter yang memisahkan mereka, namun rasanya seperti terhalang oleh samudera dimensi yang tak kasat mata.

Alana mengambil secarik kertas. Ia mencoba menulis dengan pena biasa, namun pena itu langsung pecah karena tekanan energi dari jarinya. Akhirnya, ia menggunakan jarinya untuk menulis di permukaan kaca membran yang berembun.

Aku merasa seperti hantu di rumahku sendiri, Elian. Apakah ini harga dari keajaiban yang kita cari?

Elian mengambil selembar kertas dari sakunya, menulis balasan dengan tangan yang masih gemetar, dan mengangkatnya tinggi-tinggi agar Alana bisa membacanya.

Hantu tidak memiliki cahaya seindah dirimu, Alana. Kau bukan hantu, kau adalah Navigator yang sedang beristirahat. Aku akan selalu ada di sini, di sisi lain kaca ini, sampai frekuensi kita bisa bersatu lagi.

Alana tersenyum lemah, meski air matanya jatuh dan membeku menjadi butiran kristal indigo kecil di lantai menara sebelum sempat menyentuh bumi. Ia menyadari bahwa Bab 17 ini adalah awal dari penderitaan baru yang lebih sunyi. Ia telah memenangkan pertempuran melawan Martha, ia telah menaklukkan pusat galaksi, namun sekarang ia harus memenangkan pertempuran melawan kerinduannya sendiri akan sentuhan manusia.

Namun, kedamaian itu hanya berlangsung sekejap. Di kejauhan, di kaki bukit Navasari, deru mesin kendaraan berat dan lampu halogen putih mulai terlihat lagi. Para Penjemput Fajar tidak menyerah. Mereka melihat jatuhnya "bola api biru" di hutan, dan mereka datang dengan peralatan yang jauh lebih canggih untuk menangkap "benda jatuh" tersebut.

"Mereka tidak akan membiarkanmu tenang, Alana," Arlo muncul di ambang pintu menara, wajahnya tampak jauh lebih tua hanya dalam hitungan jam. Keberadaannya di bumi mulai menguras sisa hidupnya. "Dan kali ini, mereka membawa 'Penetral Frekuensi'. Mereka berniat mematikan cahayamu secara paksa."

Alana berdiri, matanya berpendar indigo tajam. "Biarkan mereka datang. Jika mereka ingin menyentuh langit, mereka harus belajar bahwa langit memiliki cara untuk membakar siapa pun yang mencoba mencurinya."

 Alana yang mulai menulis sandi-sandi baru di dinding kaca menara, bukan lagi sebagai surat cinta, melainkan sebagai protokol pertahanan terakhir bagi Navasari.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!