NovelToon NovelToon
Rahasia Yang Disembunyikan Suamiku

Rahasia Yang Disembunyikan Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Beda Usia / Selingkuh / Cintamanis / Cinta Terlarang
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi F. Sari

Lima tahun sudah Nadira menjalani sebuah pernikahan. Lima tahun pula rahimnya dijadikan bahan cibiran, saat setiap kali mertuanya melontarkan kata-kata tajam. Mandul. Wanita bermasalah.

"Mas, aku sudah lelah menghadapi ibumu yang selalu menuduhku mandul. Padahal kenyataannya kamu jarang menyentuhku. Apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" (Nadira)

Namun respon Ardian membuat Nadira terdiam.

"Sudahlah Nadira, gak usah di dengarkan ucapan Ibu. Jadi sabar saja. Lagian aku gak pernah menyembunyikan apapun darimu." (Ardian)

Bersabar, katanya.
Tapi sampai kapan kesabaran itu bisa bertahan?

Apakah dibalik ucapannya, Ardian menyembunyikan sebuah rahasia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RAHASIA YANG DISEMBUNYIKAN SUAMIKU

Dua minggu berlalu tanpa terasa. Hari-hari bergulir pelan, menumpuk satu per satu, hingga keputusan itu akhirnya tiba.

Pagi itu, Nadira berdiri di halaman rumah. Mobil yang ia pesan berhenti tepat di depan pagar.

“Bu, Pak. Nadira pulang dulu, ya,. Nanti Nadira ke sini lagi,” ucapnya pelan. Tas berisi pakaian tergantung di bahunya.

“Hati-hati, nduk.”

Nadira mengangguk. Pandangannya menyapu rumah itu sekali lagi.

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.”

Nadira berbalik, melangkah menjauh, lalu masuk ke dalam mobil.

“Sesuai tujuan, ya, Mbak?” tanya sopir.

“Iya, Pak,” jawab Nadira singkat.

Mobil melaju perlahan, meninggalkan halaman rumah.

Rohiyah berdiri sejenak di teras, menatap jalan yang sudah kembali lengang. Mobil yang membawa Nadira tak lagi terlihat.

Ia menghela napas, lalu melangkah masuk. Tangannya sudah menyentuh daun pintu saat sebuah suara memanggil dari luar.

“Mbak Rohiyah.”

Rohiyah menoleh. Ina, iparnya berdiri tak jauh dan melangkah mendekat.

“Ina? Ada apa?”

“Nadira sudah pulang, kan?” tanyanya, sok santai.

Rohiyah mengernyit. “Tahu dari mana kamu?”

Ina tersenyum kecil. “Ya tahulah.” Lalu nada suaranya berubah. “Oh ya, Mbak ada uang nggak?”

Pertanyaan itu membuat Rohiyah menarik napas. “Mau berapa?”

Ina tampak berpikir sebentar. “Nggak banyak, Mbak. Cuma sepuluh juta.”

Rohiyah menggeleng. “Nggak ada.”

Ina mendengus. “Bohong. Pasti Nadira ninggalin uang banyak. Jangan pelit, Mbak. Kuburannya nanti sempit, tahu rasa.”

“Nggak bisa. Nadira sudah bilang ke Mbak, jangan kasih siapa pun. Termasuk kamu. Kamu juga sudah bohongi kami, Ina.”

Ina tertawa kecil. “Ya ampun, Mbak. Kami cuma bercanda. Kalau aku nggak ambil uang kiriman Nadira, emangnya Mbak bisa punya rumah sebagus ini?”

Rohiyah memejamkan mata sejenak, lalu membuka kembali. Suaranya lebih tegas. “Tetap nggak bisa. Rumah ini pun milik Nadira. Kami di sini numpang. Sudah, pulang sana.”

Wajah Ina mengeras. “Sombong banget. Aku doakan anakmu nggak akan bahagia, Mbak.”

“Astaghfirullah,” gumam Rohiyah, refleks.

Ina berbalik dengan langkah kasar, meninggalkan halaman tanpa menoleh lagi.

 Rohiyah menatap punggung itu sampai menghilang di tikungan, lalu perlahan menutup pintu.

...

Waktu bergeser pelan. Beberapa jam setelah meninggalkan rumah orang tuanya, mobil yang ditumpangi Nadira akhirnya melambat dan berhenti tak jauh dari kompleks tempat ia tinggal.

Nadira turun. Langkahnya melewati gerbang. Baru beberapa langkah, suara seseorang terdengar gugup.

“B-bu Nadira? Anda sudah pulang?”

Nadira menoleh. Satpam itu berdiri kaku, matanya membesar seolah tak menyangka.

“Iya, Pak,” jawab Nadira ringan. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Sengaja saya nggak bilang Mas Ardian. Mau kasih kejutan. Jangan bilang-bilang, ya.”

 “I-iya, Bu.”

Nadira tersenyum. Tak ada kata lain. Ia berbalik, melangkah masuk ke dalam.

Saat berada di ruang tamu, Nadira menyapu sekeliling dengan pandangan singkat. Sunyi. Tak ada suara televisi, tak ada langkah kaki. Jam dinding menunjukkan waktu yang masih siang. Ia menarik napas kecil.

" Ardian pasti masih di kantor."

Tangannya turun ke perut yang masih rata. Jemarinya mengusap pelan.

“Kita bikin kejutan buat Papah mu, ya, Nak?” bisiknya.

Langkahnya berlanjut ke arah kamar. Senyum di wajahnya belum luntur, pikirannya sibuk merangkai rencana sederhana. Hingga akhirnya ia berhenti tepat di depan pintu.

Tangannya terangkat, jemari hampir menekan tuas.

“Ah… enak sekali, sayang.”

Degh.

Napas Nadira tersangkut. Dadanya mengencang, bahunya menegang seketika.

“S...suara apa itu?” gumamnya nyaris tak bersuara.

“Ssh… iya, begitu.”

Suara itu terdengar lagi, sangat familiar.

Telapak tangannya dingin saat menyentuh tuas. Nadira menekannya perlahan, lalu mendorong pintu sedikit demi sedikit.

Yang terlihat di balik celah itu membuat langkahnya goyah. Matanya membesar, Nadira mundur Satu langkah, lalu satu lagi.

Wajahnya tak berubah.

Kling.

Getaran singkat dari ponsel memecah sunyi. Nadira menurunkan pandangan, jarinya membuka pesan itu.

‘Kejutan!’

Rahangnya mengeras. Nadira membalas cepat.

‘Kita bertemu sekarang. Aku siapkan uangnya.’

Balasan datang hampir seketika.

‘Restoran X. Keluarlah seperti biasa. Anggap tak terjadi apa-apa.’

Alis Nadira berkerut.

‘Kenapa?’

Beberapa detik terasa lebih panjang, sebelum pesan berikutnya masuk.

‘Satpam dan sopir itu mata-mata yang di bayar suamimu.’

Nadira terdiam. Ujung jarinya mendingin, ponsel itu tergenggam lebih erat.

“Mata-mata…?” gumamnya pelan.

Dadanya berdenyut. Otaknya menolak untuk menerima pernyataan, tapi potongan-potongan kejadian berkelebat cepat, menyusun jawaban yang tak ingin ia terima.

Nadira menarik napas dalam, lalu membalikkan badan. Langkahnya kembali tenang saat meninggalkan rumah, wajahnya tetap datar, seolah tak ada apa pun.

Begitu kakinya menjejak halaman depan, suara tak asing memanggilnya.

“Bu, mau ke mana? Kok balik lagi?”

Nadira berhenti, lalu menoleh. “Mau beli sesuatu buat kejutan Mas Ardian. Tadi lupa beli di jalan.”

“Mau saya antar, Bu?”

“Nggak perlu. Saya sudah pesan taksi. Sekalian mau ketemu Tante Rini.”

“Oh… begitu. Hati-hati ya, Bu Nadira.”

Nadira mengangguk. Tatapannya sempat singgah di wajah pria itu. Senyumnya masih ada. Ia cepat memalingkan wajah.

Nadira melangkah pergi, menjaga langkahnya tetap biasa.

...

Beberapa saat kemudian, ia tiba di restoran. Langkah Nadira terhenti, matanya menyapu sekitar.

Kling.

Getaran di ponselnya membuat Nadira menunduk.

'Ruang VIP lantai dua, paling ujung.'

Ia menarik napas, lalu melangkah menuju tangga. Saat ia tiba di depan pintu terakhir.

Tuas ditekan.

Begitu pintu terbuka, ia melangkah masuk kedalam. Bukan satu orang, melainkan dua. Dan salah satunya terlalu ia kenal.

“Siska?” Nadira bersuara, tipis.

Siska tak menoleh. Wajahnya dipalingkan.

Pandangan Nadira beralih pada pria asing di hadapannya.

“Uangnya sudah dibawa?” tanya pria itu datar.

Nadira mengangguk pelan. “Setengahnya. Sisanya aku transfer.”

Pria itu menggeser sebuah benda kecil ke atas meja. “Ini flashdisk. Semua bukti tentang suamimu.”

Ujung jari Nadira menyentuh benda itu, dingin. “Kenapa kamu melakukan ini?”

Pria itu bersandar, napasnya terdengar berat. “Saya mantan asisten Pak Ardian. Posisi saya diturunkan jadi karyawan biasa karena Wisnu menuduh saya macam-macam. Difitnah karena mencuri data perusahaan. Akhirnya saya dipecat secara gak hormat.”

Alis Nadira berkerut.

“Dari situ saya mulai cari tahu. Saya kumpulkan semua bukti. Lalu kerja sama dengan Siska. Kami melakukan ini karena membutuhkan uang.”

Nadira terdiam.

“Lalu soal sopir dan satpam?” tanyanya pelan. “Kamu tahu mereka mematai ku?”

Siska akhirnya bersuara, tanpa menoleh. “Karena Mas Ardian takut kelainan nafsunya ketahuan Anda Bu Nadira. Saya mendengar semuanya.”

Kata-kata itu menghantam tanpa suara. Nadira menelan ludah.

“Sudah berapa lama…?” Suaranya nyaris tak terdengar. “Mas Ardian seperti itu?”

“Lama,” jawab Siska singkat. “Apalagi dengan Wisnu.”

Nadira terkekeh pelan. Bunyi itu kosong, tak sampai ke matanya.

Pantas saja.

'Selama menikah, Mas Ardian menatapku seperti asing, seakan diriku sebagai debu yang seharusnya tak disentuh.'

...

Menjelang setengah lima sore, langit mulai meredup pelan. Cahaya matahari condong ke barat saat Nadira akhirnya tiba di rumah.

Pandangan Nadira singgah pada dua pria di pos penjaga. Ia tersenyum tipis. Getir. Lalu melangkah masuk.

Baru beberapa langkah, suaranya tertahan.

“Sayang, dari mana saja?” Ardian berdiri di ruang tengah. “Kata Pak Sopir, kamu tadi sempat pulang, lalu pergi lagi buat beli hadiah.”

Tatapan Nadira naik perlahan. Jijik itu muncul tanpa bisa ditahan.

Kenapa harus sekarang?

Kenapa justru hari ini aku tahu kalau suamiku…

“Aku lupa,” jawabnya singkat.

Ardian mendekat. “Bagaimana kabar Ibu dan Bapak di sana?”

“Baik.” Nada Nadira datar. l

Ardian mengernyit. “Sayang, kamu kenapa?”

Tangannya terulur. Sentuhan itu membuat Nadira refleks mundur selangkah.

“Aku capek, Mas.”

“Oh.” Ardian menarik tangannya. “Ya sudah, istirahatlah.”

Nadira mengangguk. Tanpa menatap lagi, ia melewati suaminya. Langkahnya menuju kamarnya, namun ia berhenti.

 menoleh.

Ardian masih berdiri di sana, tak curiga.

Bukan sekarang. Tunggu waktu yang tepat.

Nadira melanjutkan langkah. Sampai di depan kamar, ia berhenti lagi. Matanya menyapu ruangan itu sekilas. Udara terasa pengap. Bau yang tak kasatmata membuat perutnya bergejolak.

Ia berbalik.

Langkahnya beralih ke kamar sebelah.

Membaringkan tubuh di ranjang itu pun tetap membuat dadanya sesak. Bayangan dua pria di kamar utama menyeruak tanpa izin. Nadira memejamkan mata, menahan mual yang naik ke tenggorokan.

“Besok aku harus periksa, siapa tahu ada penyakit yang terbawa.”

Tangannya mengepal di atas seprai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!