Alya Maheswari, seorang gadis dewasa yang harus menelan pahitnya percintaan. bagaimana tidak, kedua orang yang ia percaya, Randa sang pacar dan Relia adik kesayangannya. Keduanya tega bermain api di belakang dirinya.
Hingga suatu malam datang, di saat kedua orang tua Randa datang ke rumahnya, gadis itu sudah merasa berbunga-bunga, karena pasti kedatangan mereka ingin memintanya baik-baik.
Tapi kenyataannya tidak seperti itu, kedua orang tua Randa membawa kabar tentang gadis yang di maksud yaitu Ralia, sang adik yang saat ini tengah mengandung benih kekasihnya itu.
Hati Alya hancur, lebih parahnya lagi keluarganya sendiri menyuruhnya untuk mengalah dan menerima takdir ini, tanpa memikirkan perasaannya.
Karena sakit hati yang mendalam Alya pun memutuskan untuk ikut program transmigrasi ke suatu desa terpencil tanpa memberi tahu ke siapapun.
Di desa yang sejuk dan asri itu, Alya belajar bercocok tanam, untuk mengubah takdirnya, dari wanita yang tersakiti menjadi wanita tangguh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Di meja makan itu Alya langsung tersenyum. Entah kenapa, melihat keriwehan sahabatnya justru membuat tekanan di dadanya berkurang sedikit. Lihat saja Halimah, dari tadi ngoceh sambil menata piring, seolah dapur itu panggung kecil miliknya.
“Al, kare suwik, dikongkon mangan baen kari angel,” celetuk Halimah sambil meletakkan piring agak keras. (Al, lama banget, disuruh makan aja susah.)
Alya tertawa kecil. “Iya, iya. Aku kan baru masuk.”
“Masuk omah apa mlebu sawah maneng?” sahut Halimah cepat. “Seprapat jam isun ndeleng riko mung ngadeg, nyawang tembok kaya wong ilang arah.” (Masuk rumah apa masuk sawah lagi? Dari tadi aku lihat kamu cuma berdiri, natap tembok kayak orang hilang arah.)
Bayu yang duduk di ujung meja mengangkat alis. “Wis, Mok. Ojo cerewet. Mangan sulung.”
(Sudah, Mah. Jangan cerewet. Makan dulu.)
Halimah mendengus. “Iyo, ngomong tok enak. riko kan seng mikir. Wong kang dipikir mung sambel lan iwak goreng.” (Iya, ngomong doang enak. Kamu kan nggak mikir. Yang kamu pikir cuma sambal sama ikan goreng.)
Bayu menoleh pelan. “Kang penting. kadung sambel pedes, urip dadi lebih jujur.”
(Ya penting. Kalau sambalnya pedas, hidup jadi lebih jujur.)
Alya tertawa lebih lepas kali ini. Tawa yang tidak ia rencanakan, tapi keluar begitu saja. Ia duduk, menarik piring mendekat. Nasi masih mengepul tipis, lauk sederhana, ikan asin, sayur bening kelor, sambal terasi, tapi aromanya hangat, seperti rumah yang tidak menuntut apa pun.
Halimah menyodorkan sendok ke tangannya. “Mangan sing tenanan. Ojo mikir sing ora iso dipangan.” (Makan yang benar. Jangan mikirin yang nggak bisa dimakan.)
Alya mengangguk. “Iya, Bu Filsuf Sawah.”
“Halah,” Halimah mendengus, tapi ujung bibirnya terangkat. “Isun iki praktis. Kadung weteng wareg, ati biasane melu meneng.”
(Aku ini praktis. Kalau perut kenyang, hati biasanya ikut tenang.)
Bayu menambahkan sambal ke piring Alya tanpa diminta. Tidak banyak bicara, hanya mendorong mangkuk kecil ke arahnya.
“Ojo akeh-akeh,” kata Alya refleks.
Bayu melirik singkat. “Wis, iki isun sing nentokne.” (Sudah, ini aku yang nentuin.)
Alya hendak protes, tapi Halimah keburu menyela, “Wes manut baen, riko iki kadong sing dipokso , mangan sak sendok baen wis krasa kebacut.” (Sudah nurut. Kamu itu kalau nggak dipaksa, makan satu sendok aja rasanya kebanyakan.)
Mereka makan. Tidak ada pembicaraan berat. Hanya suara sendok bertemu piring, komentar sambal kepedasan, dan Halimah yang sesekali mengomel tanpa arah jelas. Alya menyadari dadanya tidak sesesak tadi. Foto di ponselnya masih ada, tapi untuk beberapa menit, ia tidak mengingatnya.
Di meja kayu itu, ia tidak perlu menjelaskan apa pun. Tidak perlu kuat. Tidak perlu baik-baik saja. Dan itu sudah cukup membuat hidupnya lebih lega dari apapun masalah yang saat ini ia hadapi.
Alya masih duduk ketika Halimah berdiri lebih dulu, mengangkat piringnya sendiri.
“Isun tinggal sedilut yo. Kompor durung dipateni.” (Aku tinggal sebentar ya. Kompor belum dimatikan.)
Ia berlalu ke dapur, masih sempat berkomentar, “Aja ditinggal kotor. Mejo iki dudu kos-kosan.” (Jangan ditinggal kotor. Meja ini bukan kos-kosan.)
Bayu bangkit tanpa suara. Ia mengumpulkan piring satu per satu. Gerakannya tenang, seperti di sawah, tidak tergesa, tidak ragu, tatapannya datar, tapi tidak dingin.
Alya refleks ikut berdiri. “Aku bantu.”
Bayu mengangguk tipis. Mereka berdiri berhadapan di sisi meja. Alya mengulurkan tangan ke satu piring terakhir, tapi di saat yang sama Bayu juga meraih benda yang sama.
Ujung jari mereka bersentuhan. Singkat. Hangat. Terlalu dekat untuk disebut kebetulan, terlalu cepat untuk ditarik kembali.
Alya terdiam. Bayu juga.
Piring itu masih mereka pegang berdua, sejenak tak ada yang melepaskan. Alya bisa merasakan kasar halus telapak tangan Bayu bekas kerja, tanah, dan matahari. Tangan yang nyata. Tidak seperti kenangan di kota yang selalu licin dan menjauh.
Bayu akhirnya berdehem pelan. “Ngapunten.”
(Maaf.)
Alya tersenyum kecil. “Nggak apa-apa.”
Tapi tangannya sedikit gemetar ketika Bayu mengambil alih piring itu. Bukan karena takut, lebih karena ia sadar, jantungnya berdetak lebih cepat dari seharusnya.
Bayu melangkah duluan ke dapur. Alya menyusul, menjaga jarak setengah langkah. Di depan bak cuci, Bayu mulai membilas piring. Alya mengambil lap tanpa diminta.
Gerakan mereka jadi seirama, tanpa banyak bicara.
“Al,” kata Bayu tiba-tiba, suaranya rendah. “Kadung riko kesel ngomongo baen." (Kalau kamu capek, bilang saja.)
Alya mengangguk. “Iya.”
Bukan jawaban panjang. Tapi cukup, keduanya saling bekerja sama, setelah membilas Bayu melangkah berjajar di samping Alya yang sedang mengelap beberapa piring.
"Al, wes bengi," ucap Bayu. "Gancang melebuo kamar," lanjutnya. (Al sudah mapan, cepat masuk ke kamar.)
Alya tertunduk, ucapan itu terdengar datar, namun penuh dengan perhatian, yang cukup membuat dadanya menghangat.
Namun sebelum Alya melangkah ke kamar, tiba-tiba saja dari ruang depan, suara Halimah terdengar lagi, kali ini lebih pelan, nada suaranya berubah.
“Iyo, Mbak… isun ngerti… kesok?” ucapnya si dalam telepon. (Iya Mbak aku mengerti besok)
Alya dan Bayu saling pandang singkat, langkah yang tadinya ingin ke kamar terpaksa harus terhentikan.
Halimah kembali, ponsel masih menempel di telinga. Wajahnya tidak lagi seceria tadi.
“Iyo, isun iso. Isun nyiapno sek,” katanya, lalu menutup telepon.
Ia menghela napas panjang. “Kerjaan dari Surabaya. Mendadak.”
Alya menoleh. “Kapan?”
“Kesuk isuk. Paling tidak rong dino.” (Besok pagi. Paling tidak dua hari.)
Sunyi jatuh sebentar, raut wajah Alya seketika berubah, di desa ini ia ikut dengan Halimah, dan kalau Halimah jadi kerja, setidaknya ia harus keluar juga dari rumah ini.
Bayu meletakkan piring terakhir di rak. Mengibaskan tangannya dari air, lalu menoleh ke Alya.
“Wes, geng usah dipikir," ucap Bayu seolah tahu dengan isi hati Alya.(Sudah jangan terlalu dipikir.)
Alya tersenyum lagi. Senyum kecil, tapi kali ini tidak terasa dipaksakan.
"Lim, kalau memang besok kamu pergi, aku ..."
Halimah segera memotong ucapan sahabatnya itu. "Isun seng nundung rika, neng kene baen wes, maningan umah iki seng onok kang manggoni, selain isun." (Aku tidak mengusir kamu, di sini saja, lagian rumah ini sudah gak ada yang nempati selain aku.)
Alya seperti mendapatkan air di tengah-tengah gurun, ucapan sahabatnya itu benar-benar seperti jawaban yang ia mau, dan tanpa sadar, air mata itu jatuh satu tetes.
"Makasih ya Lim, dari dulu kamu memang selalu ada untukku," ucap Alya.
"Wes ojok nangis, kesuk iku arep megawe, duduk mati," seketika tangan Alya langsung menjitak dahi temannya itu. (Sudah jangan nangis besok itu aku mau bekerja bukan tiada)
"Lorok gendeng!" pekik Halimah. "Sakit gendeng)
"Lagian kamu, kalau ngomong suka ngelantur," sahut Alya.
"He he, biar gak sepaneng, lagian kamu, orang mau kerja ditangisin," celetuknya lagi.
Di dapur sederhana itu, dengan piring bersih dan suara malam desa yang pelan, Alya sadar hidupnya belum benar-benar runtuh. Ia sadar, jika tidak bisa membatasi gerak sang teman yang ingin meraih masa depannya.
Begitupun dengan dia yang sudah memantapkan hati untuk tetap tinggal di desa ini, meskipun ia belum tahu masa depan seperti apa yang nantinya akan ia jemput.
Bersambung ....
Selamat pagi semoga suka ya
bikin alya lupa sama kisah pedih hidupnya
thor novelnya jgn trllu kaku dong