Keinginan Zella, dia ingin tetap menjalani kehidupan tenang dan damainya dengan status janda. Namun hal itu terbentur oleh keadaan yang memaksanya harus menjadi istri kedua pria yang tak dia kenal. Zella dipaksa keadaan masuk dalam rumah tangga orang lain.
Hal ini sangat Zella benci, biduk rumah tangganya dulu hancur karena orang ketiga, namun kini dirinya malah jadi yang ketiga. tapi Zella tak berdaya menolak keadaan ini.
Akankah kehidupan damai berpoligami bisa Zella jalani dengan keluarga barunya? Ataukah malah masuk ke dalam sebuah neraka yang tak berdasar? Ataukah ada keajaiban yang membuka jalan pilihan lain untuk Zella, agar tak masuk dalam paksaan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Rencana Abi
Jika demikian, baiklah." Zella menatap serius pada Abi. "Kau ingin aku berjanji apa?"
"Zella, jika suatu saat aku sudah tiada, dan anak-anakku dalam situasi berbahaya. Aku berharap kamu mau membawa mereka bersamamu."
"Kenapa bikin aku jadi berpikir yang bukan-bukan? Kedua anak Anda pasti baik-baik saja bersama Neneknya."
"Katanya mau iyain demi buatku senang." protes Abi.
"Tapi permintaan kamu nggak masuk akal! Karena kedua anakmu ada neneknya, yaitu ibumu!"
"Keluarga kami tak sedamai yang terlihat."
"Apa maksudnya?" Obrolan kali ini terasa sangat menakutkan bagi Zella.
"Seiring waktu kamu akan mengetahuinya." jawab Abi.
Miko merasa mendengar obrolan orang gila, kadang serius kadang bercanda, tapi kadang saling menyulut emosi. Miko berulang kali menghela napas mempersiapkan mental untuk masuk dalam obrolan.
"Maaf menyela Nyonya Zella. Jika Anda di posisi Pak Abi yang sakit-sakitan, fisiknya sangat lemah, tentu yang Anda khawatirkan seseorang yang berarti bagi Anda, bukan?" sela Miko.
"Kamu benar. Aku pun sesekali membayangkan bagaimana kehidupan putriku jika aku telah tiada. Adakah yang akan menjaganya, mendidiknya dan banyak hal."
"Anda yang sehat saja tebersit pikiran sejauh itu. Apalagi majikan saya yang merasa dirinya lemah."
Tanpa Zella sadari tangannya memegang tangan Abi. "Selama aku bisa, aku akan berusaha menjaga mereka. Kalau memungkinkan aku akan membawa mereka bersamaku. Ini janji dengan hatiku bukan sekedar kata iya untuk menyenangkanmu."
Abi tersenyum melihat tangan halus yang memegang tangannya. Rasanya ingin sekali memegang tangan itu dan menarik tubuh wanita itu kedalam pelukannya. "Terima kasih." ucap Abi, tatapannya masih tertuju pada tangannya yang dipegang Zella.
Zella melihat Abi memandang kearah lain, Zella mengikuti pandangan Abi, dia sangat terkejut menyadari kelancangan dirinya memegangi tangan Abi. "Maaf!" ucap Zella penuh penyesalan.
"Kita sudah sampai tujuan ...." ucap Miko, dia berusaha membantu mencairkan suasana di belakangnya yang mulai menegang.
Zella segera turun dan masuk ke penginapan untuk mengambil sisa barangnya.
Tatapan Abi masih tertuju kearah pintu masuk penginapan.
"Apa yang Anda lihat? Sosok Zella sudah nggak kelihatan," ledek Miko.
"Aku hanya memastikan dia masuk. Karena ada hal yang ingin ku bahas denganmu.".
"Apa itu Pak Abi?"
"Telepon pengacara sialan itu, perintahkan dia membuat surat hibah, seluruh hartaku yang mereka tahu diberikan pada Rihana dan Rayhan."
"Pak Abi, ini akan membayakan Rayhan dan Rihana."
"Ada Zella dan om Bagas yang akan menjaga mereka."
"Jadi Pak Abi akan menjalankan rencana pura-pura mati?"
"Yang mati hanya sosok Rakha Abimayu. Sedang aku akan hidup sebagai identitas baru di negara lain. Mungkin aku tinggal di Sudan di negara asal Kakekku, atau di mana saja."
"Apakah sudah Pak Abi pikirkan matang-matang? Sebentar lagi Pak Abi akan menikah. Apa sebaiknya jalani pernikahan ini dulu. Jika Zella sama saja dengan Fatma dan Anjani baru Pak Abi ambil rencana itu."
"Aku sudah sangat yakin dengan keputusanku. Zella akan jadi janda yang ditinggal mati suami. Aku akan persiapkan hadiah untuknya nanti."
"Uang yang melimpah akan merubah manusia, Pak Abi yakin Zella akan tetap menepati janjinya jika mengetahui apa saja yang Pak Abi tinggalkan buat Rihana dan Rayhan?"
"Aku mencari tahu tentang Zella, pendidikan dia pada anaknya, bagaimana dia mengajarkan anaknya untuk berbisnis dan banyak hal. Itu membuatku kagum. Aku yakin jika Rihana dan Rayhan bersama Zella, keduanya akan dididik Zella untuk mengelola harta yang mereka warisi."
"Setelah tahu tentang Zella, aku sangat yakin dia sosok yang tepat untuk kedua anakku."
Miko tak bisa berkomentar lebih banyak. Tuannya sangat mantap dengan rencana yang sudah lama dipersiapkan. Membuat sosok Rakha Abimayu meninggal dan hidup di negara lain dengan identitas lain. Miko langsung menghubungi pengacara Abi, dan memintanya melakukan seperti apa yang Abi minta.
"Nyonya Zella kembali." Miko menunjuk dengan isyarat gerak wajahnya ke arah Zella muncul.
Miko segera turun dan membantu Zella memasukan barang yang dia bawa. "Nyonya masuk mobil saja, biar aku yang menyusunnya di bagasi."
Zella langsung masuk mobil, di sana Abi menyambutnya dengan senyuman.
"Sudah semuanya?"
"Iya sudah."
"Kemana lagi tujuan kita?" tanya Abi.
"Entah, aku kesini hanya demi Ayah. Jadi aku tak ada rencana untuk menelusuri keindahan kota ini."
Miko mendengarkan obrolan dua orang di belakangnya. Sambil perlahan mengemudikan mobil, ide muncul di kepalanya. "Hari libur gini, biasanya Nona Rihana membawa adiknya ke wahana air. Kalau kalian tak ada tujuan untuk didatangi, bagaimana kalau menguntit dua anak itu. Eh maksud saya menonton dari jauh keceriaan mereka." usul Miko.
"Ide bagus. Aku mau lihat bagaimana Rihana berbahagia bersama adiknya," sahut Zella.
"Kolam renang? Sepertinya aku tak bisa seperti orang sehat yang menikmati indahnya pemandangan di tepi kolam renang outdoor."
"Pak Abi dan Nyonya Zella tak harus menyaksikan dari tepi kolam. Tapi dari ruangan ber AC yang ada di lantai dua, kalian bisa memandangi kedua anak itu sambil menikmati makanan."
"Bagaimana mengenali mereka dari jauh? Mataku tak sejeli itu," ucap Zella.
"Nanti aku yang informasikan posisi mereka di mana," jawab Miko.
Zella dan Abi setuju dengan ide Miko. Mobil yang mereka tumpangi melaju cepat menuju wahana air yang ada di sebuah restoran ternama di kota itu.
Seperti yang Miko usulkan, Zella dan Abi berada di lantai 2 restoran, dengan pemandangan menghadap kolam renang. Sedang Miko berada di sekitar kolam, agar mudah menemukan 2 majikannya itu. Dengan cepat Miko menemukan Rihana dan Rayhan, Miko segera mengabarkan itu pada Abi.
Di lantai 2.
"Lihat kolam tengah itu, di sana Rihana melatih Rayhan untuk berenang." Abi menunjuk kearah 2 anak yang berada di tepi kolam.
"Akhirnya mereka terpantau cctv!" ucap Zella ceria. Tatap mata Zella terus tertuju pada dua anak itu.
Sedang tatap mata Abi terpaku tertuju pada Zella.
Kau benar menyukai kedua anakku atau hanya pura-pura suka aku tak peduli. Tapi aku mulai merasa bahagia jika bersamamu. Batin Abi.
"Permisi, ini menunya. Tuan dan Nyonya mau pesan apa?"
Pertanyaan itu menyadarkan Abi dari lamunan indahnya. Abi menoleh pada Zella, wanita itu masih memandang kearah kolam renang, sesekali senyum menghiasi wajahnya. Abi membiarkan keceriaan itu, dia memesan menu yang dia inginkan.
"Zella," Abi terpaksa mengganggu kebahagiaan wanita itu.
"Iya?" Zella langsung menoleh.
"Pesan apa yang kamu mau, waktu kita masih panjang untuk menyaksikan kebahagiaan mereka." Abi menyodorkan tab untuk memesan makanan.
Zella tersenyum dan langsung melihat tab yang Abi sodorkan padanya. Pesanan mereka tercatat, keduanya kembali menatap kearah kolam renang. Menyaksikan kebahagiaan adik-kakak itu di sana.
***
Di tempat lain.
Seorang pria paruh baya meregangkan badannya. Yang dia ketik tak banyak, tapi rasanya seluruh saraf tubuhnya terasa tegang. Dia mengamati hasil ketikannya. Merasa puas dengan penyusunan kata-kata, dia mencetak catatan itu. Bunyi mesin printer pun memecah kesunyian di ruangan itu.
Tangan pria itu memegangi lembaran kertas yang baru keluar dari mesin printer, kedia matanya memandangi hasil cetakannya. Dia tersenyum dan langsung melakukan panggilan telepon.
"Seperti dugaanmu, Abi memberikan seluruh hartanya untuk dua anak yang tak diinginkannya itu." ucapnya setelah panggilan terhubung.
"Mungkin dia merasa bersalah karena mengabaikan kedua darah dagingnya. Apa surat hibah itu sudah ditanda tangani Abi?"
"Belum, baru selesai ku buat. Urusan tanda tangan aku tidak tahu kapan."
"Terima kasih informasimu. Nanti cek rekeningmu. Apakah itu cukup? Kalau dirasa kurang, akan ku tambahkan nanti."
"Oke siap. Senang berbisnis denganmu."
Panggilan itu seketika terputus.