Jalan Kehidupan yang tak pernah Terduga seakan membuatku mendapat kenyataan Yang Tak pernah aku sangka.
pertemanan yang ku kira Biasa, nampak berbeda kala Cinta hinggap diantara kita.
sialnya aku tak pernah menyadari dan baru ku ketahui kala kau telah pergi.
dulu aku tak pernah memikirkan akan hadir cinta diantara kita, dengan status kita yang berbeda.
kau seorang gadis manis se elok bunga, sedang aku seorang Duda yang terluka.
dinama kala ketulusan menghancurkan segalanya. terombang - ambing sendiri dalam sepi hingga aku berjumpa seorang wanita yang setara. lalu singgah dan ingin menetap, namun memudar kala suatu fakta yang membuat semua sirna.
semua salahku, dan semua karenaku.
aku yang larut dalam kecewa pada diri ini, memilih pergi meninggalkan rumah yang selama ini menemani lukaku seorang diri.
akan tetapi dari tempat baru inilah semuan berawal, dari sebuah kota di pulau seberang.
cinta yang dulu belum selesai, kini harus bertemu meminta pertanggung jawaban.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author_Karbitan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ada Yang mengejarku
Aku menghela nafas panjang lantas menghembuskannya dengan kasar, saat ini aku benar-benar kesal dengan intimidasi dan ancaman dari suami Dea yang menuduhku macam - macam.
Rasanya aku ingin bertemu dengannya lalu aku hajar dia dengan membabi - buta. Hanya membuat emosiku naik saja di siang yang cukup melelahkan ini.
" kamu kenapa Yok ? kok kayaknya marah banget "
Ucap Arif di kala melihatku terdiam dengan nafas yang tak beraturan serta tatapanku tajam kedepan.
" Gapapa Rip, hanya emosi saja "
" Emosi sama yang barusan menelepon mu ? "
" iya "
" memangnya dia siapa Yok ? kok tiba - tiba kalian berdebat sampai emosi begitu ? "
" Suaminya temen "
" lohh..... memangnya kenapa ? kamu gangguin istrinya ? "
" Aku gak mengganggu istrinya, istrinya saja yang sering menggangguku "
" Lahhhh..... kok bisa ? "
Tanya Arif yang penasaran dengan ceritaku, lantas aku jelaskan se jelas - jelasnya apa yang aku alami selama ini.
Dia cukup tercengang dan seakan tak percaya dengan apa yang aku ceritakan, dia beranggapan kalau aku hanya membuat cerita rekayasa tentang apa yang sedang terjadi pada diriku berikut dengan kisah yang harus kandas antara aku dan mbak Winda.
" Jadi kamu kepergok sama Winda saat kamu baru keluar hotel Yok ? "
" Ya begitulah "
" Gimana ceritanya kau bisa tidur dengan temanmu yang suka sama kamu tapi kamu gak sadar ? "
" entahlah Rip, aku juga tidak paham "
" Saat ini Dia sering menghubungimu dan curhat tentang masalah rumah tangganya ? "
Aku hanya mengangguk saja disambut oleh Arif yang menggelengkan kepalanya.
" Ya wajar aja suaminya naik darah, istrinya masih ngehubungin orang yang sangat dia cintai sampai memberikan kehormatannya, ya pastilah dia ngehubungin kamu, soalnya hanya kamu yang ada di pikirannya "
" tapi aku kan gak menyanggahi Dea terus Rip, dan malah aku dorong agar mencintai suaminya dengan sepenuh hati "
" Tapi perasaan orang kan gak ada yang tahu toh ? lagian kamu bisa - bisanya mau tidur dengan gadis yang masih ting - ting "
" khilaf "
Sahutku dengan suara yang cukup serak dan datar.
" Rupanya kau bermain api selama ini Yok, kamu udah punya hubungan dengan Winda, malah kepergok tidur sama wanita lain, ya wajar saja jika Mbak Winda mutusin kamu ! cuma kamu beruntung bisa lepas dari jerat Janda. Tidak seperti diriku yang saat ini pusing harus bagaimana "
Ucap Arif dengan kaki yang ada diatas kursi sambil menghisap rokok kreteknya yang mengepulkan asap cukup banyak.
Tatapannya lurus kedepan, akan tetapi kosong seperti tak punya harapan.
" Tapi aku merasa bersalah pada mereka Rip, dan Aku juga merasa bersalah pada diri sendiri. Mungkin inilah sebuah akibat yang harus aku terima saat ini "
Ucapku menyesali apa yang sudah terjadi.
" kalau sudah terjadi mau bagaimana lagi Yok, udalah aku mau pulang dulu, nampaknya aku tambah pusing ada disini "
Ucapnya lantas berdiri dari kursi yang sedari tadi dia duduki. dan bergegas menuju ke pintu untuk keluar dari rumah.
" heyyy..... gimana dengan masalahmu "
" entahlah aku gak tahu juga "
Sahutnya sambil berlalu pergi meninggalkanku seorang diri.
Tak mau ambil pusing, lantas aku pergi ke kamar untuk rebahan sambil scroll media sosial barangkali ada lowongan kerja yang sekiranya bisa aku ambil dan coba - coba.
Keseharian ku yang membosankan masih saja berlangsung sampai saat ini.
Hasil tes wawancara yang semula aku tunggu nampaknya hanya menjadi harapan yang semu, bagaimana tidak semu, sudah dua minggu telah berlalu, namun tak ada panggilan jua untuk mengajakku bergabung dengan perusahaan mereka.
Keuangan semakin menipis kala kebutuhan selalu terus berjalan, sementara penghasilan saat ini benar-benar mampet bahkan tak ada satu orang pun yang membawa motornya ke rumah untuk di perbaiki.
Lalu Bagaimana dengan nasib Arif ? aku tidak tahu juga dengan apa yang terjadi padanya.
Terakhir dia menemui ku mengatakan jika dia akan menemui keluarga pacarnya.
Lantas Bagaimana dengan Dea ?
Berulang kali dia meneleponku dan mengirimkan pesan untukku, Namun tak pernah aku tanggapi dan meresponnya.
Aku sudah lelah berurusan dengan suaminya, dan aku sadar bagaimanapun juga aku bukan siapa-siapa dan bukanlah perusak rumah tangga orang.
Lebih baik aku menghindar daripada masuk ke jalan yang salah, dan menjadi obyek keretakan sebuah hubungan apalagi soal rumah tangga.
namun saat ini bukan hanya nomor dari Dea yang menggangguku, melainkan nomor asing yang sering menelpon dan juga mengirim pesan dengan nada ancaman yang masuk ke HP ku.
siapa lagi kalau bukan suami Dea, namun aku tak pernah menggubrisnya.
Di pagi yang cukup cerah ini aku motoran mengitari kota dengan tujuan menaruh surat lamaran kerja yang aku dapat dari sebuah berita.
Perjalanan kali ini cukup mulus tanpa ada hambatan dan gangguan, akan tetapi perasaanku tidak enak, seperti ada yang mengikuti ku dari belakang sejak tadi.
Akan tetapi aku tak menggubrisnya dan tetap berjalan menuju ke alamat kantor yang aku tuju.
Jam 10.00 aku sampai, lantas menemui satpam dan menyerahkan surat lamaran kerja yang sudah aku persiapkan sebelumnya.
Kemudian aku kembali ke atas motor lalu memakai Helm dan melanjutkan perjalanan kembali ke Rumah.
Perasaan di ikuti oleh orang masih saja aku alami saat ini dan sepertinya mereka memang mengincar ku sejak tadi.
namun untuk apa mereka mengincarku ? apa yang mereka harapkan dari pengangguran dan miskin ini ?
motor ku lajukan lebih cepat dan bermanuver di jalanan yang cukup macet saat ini.
Aku tak peduli dengan orang - orang yang mengumpat kala hampir menyerempetnya.
saat ini yang aku pikirkan adalah bagaimana bisa cepat sampai rumah.
Saat sedang melaju dengan kecepatan yang lumayan tinggi, aku di pertemukan dengan sebuah lampu merah yang baru saja menyala.
sialll......!!!! Aku mengumpat kala mendapat lampu menyala merah yang membuatku sangat kesal.
Sementara di belakang orang yang sedang mengikutiku semakin mendekat.
Tanpa pikir panjang, langsung aku trobos dengan lurus. beruntung tidak ada kendaraan yang melintas yang bisa membuatku tabrakan.
Aku lihat dari spion motor yang aku kendarai, nampaknya mereka sudah jauh di belakangku.
kecepatan motor aku turunkan dan mengatur napas yang tidak beraturan kala adrenaline ini dibuat naik turun oleh mereka yang mengikuti ku sedari tadi.
Namun ketenanganku rupanya masih belum sepenuhnya terjadi, sebab motor yang tadi mengejar ku kini sudah ada di belakangku lagi.
Kembali ku percepat lagi laju motorku dan terus ngebut hingga melampaui kecepatan maksimal.
Mereka terus mengikuti sampai di jalanan yang cukup sepi.
Dalam pikiranku saat ini hanya dua hal yang terjadi, yang pertama aku akan di cegat dan di hajar oleh mereka, atau mereka adalah anggota begal yang mengincar hartaku.
Namun jika mereka begal ? untuk apa mengikutiku sampai sejauh ini ? lalu untuk apa mereka mengejar ku ? sejauh ini aku tak pernah berurusan dengan orang hingga memiliki musuh.
Lalu ? siapa mereka sebenarnya.
Aku terus fokus pada jalanan yang aku lalui saat ini. dimana letak rumahku sudah jauh dan sialnya aku malah terus berjalan tanpa menyadarinya.
akkhhhh...... Pers*tan semua ini, yang terpenting aku harus segera menjauh lalu lolos dari kejaran mereka.
Terik matahari seakan sudah mencapai titik puncaknya, siang ini terasa begitu panas hingga baju yang aku kenakan bersimbah keringat.
Di depan terlihat sebuah kompleks asrama militer yang ada di kota ini, sebuah area terlarang bagi orang sipil masuk tanpa izin ke dalam sana.
Akan tetapi ini adalah suatu kesempatan bagiku untuk sembunyi terlebih dahulu di area tersebut, tanpa pikir panjang aku langsung belok dan masuk tanpa melapor pada petugas yang berjaga di depan gerbang.
Aku sedikit merasa lega, setidaknya untuk saat ini aku bisa merasakan aman sementara.