NovelToon NovelToon
Luka Sang Pengganti

Luka Sang Pengganti

Status: tamat
Genre:Pengantin Pengganti / Pengganti / Dosen / Tamat
Popularitas:23.6k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Zahra mencintai Akhsan, kakak kandungnya yang juga menjadi dosen di kampusnya. Menyadari perasaan tak wajar adiknya, Akhsan membangun benteng tinggi dan memilih untuk meminang Gea guna memutus harapan Zahra.
Namun, tragedi berdarah terjadi tepat malam hari saat mereka akan menikah. Kecelakaan hebat merenggut nyawa Gea dan mengungkap fakta mengejutkan—Akhsan ternyata bukan anak kandung Papa Hermawan. Demi menjaga nama baik keluarga dari undangan yang telah tersebar, Papa Hermawan mengambil keputusan ekstrem: Zahra harus menggantikan posisi Gea di pelaminan.
Pernikahan yang dahulu menjadi dambaannya kini berubah menjadi mimpi buruk bagi Zahra. Akhsan yang hancur karena kehilangan Gea berubah menjadi sosok yang dingin dan kejam. Ia menuduh Zahra sebagai dalang di balik kecelakaan maut tersebut, menjebak Zahra dalam pernikahan tanpa cinta yang penuh dengan kebencian dan air mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Di studio foto, Aruna tampil dengan profesionalisme yang luar biasa.

Meski kepalanya terasa ditusuk ribuan jarum akibat lampu flash, ia tetap memakai "topeng" kecantikannya dan berpose dengan anggun.

"Cantik sekali, Aruna! Kamu tidak pernah mengecewakan!" puji sang fotografer setelah jepretan terakhir.

"Terima kasih. Aku harus segera pergi," ucap Aruna singkat. Rasa mual kembali menyerang, dan penglihatannya mulai dihiasi bintik-bintik putih.

"Kita antar ya?" tawar salah satu kru studio yang khawatir melihat wajah Aruna yang pucat.

Aruna menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Tidak perlu, aku ingin mencari udara segar."

Ia kemudian berjalan perlahan menuju sebuah taman di dekat studio.

Aruna duduk di bangku kayu, mencoba memfokuskan matanya pada anak-anak kecil yang sedang berlari di rumput. Namun, tawa riang mereka terdengar jauh, dan bayangan mereka tampak seperti siluet abu-abu yang bergerak tanpa bentuk yang jelas.

Sementara itu, di apartemen, Indri panik luar biasa mendapati kamar Aruna kosong.

Ia mencoba menghubungi Christian, namun ponsel kakaknya sedang tidak aktif karena sedang memimpin rapat penting dengan investor.

Tanpa pilihan lain, Indri menghubungi Akhsan.

"Mas Akhsan! Kak Aruna menghilang! Dia tidak ada di apartemen!" teriak Indri di telepon.

Akhsan terperanjat. Tanpa pikir panjang, ia meninggalkan meja kerjanya dan melajukan mobilnya menyusuri jalanan yang mungkin dilalui Aruna.

Berdasarkan intuisi, ia teringat studio foto lama Aruna dan melihat sosok wanita yang ia kenal sedang duduk sendirian di taman.

"Aruna..." panggil Akhsan sambil mengatur napasnya.

Aruna menoleh, menyipitkan matanya dengan keras seolah mencoba mengenali siapa yang datang.

"Mas, kenapa kamu di sini? Mas Akhsan kan harus kerja."

"Kamu dicari Indri. Christian akan mengamuk kalau tahu kamu pergi diam-diam. Ayo, aku antar kamu pulang sekarang," ajak Akhsan dengan nada cemas.

Sebelum berdiri, Akhsan ingin mencairkan suasana.

"Mau kopi dulu supaya lebih tenang?"

Aruna tersenyum pahit. "Mas, aku sedang hamil jadi tidak minum kopi lagi."

Ia kemudian menatap ke arah tempat parkir di belakang Akhsan.

"Mas pakai mobil siapa? Kok warna hitam?"

Langkah kaki Akhsan terhenti seketika. Jantungnya berdegup kencang karena rasa heran dan takut yang mendadak muncul.

Ia menoleh ke arah mobilnya yang terparkir tepat di bawah sinar matahari.

"Hitam?" tanya Akhsan dengan suara bergetar.

"Aruna ,mobil Mas yang itu. Warnanya silver, bukan hitam."

Aruna terdiam. Ia menatap kembali ke arah mobil itu.

Di matanya, kilauan perak mobil Akhsan telah berubah menjadi gelap pekat, seolah filter hitam telah diletakkan di depan matanya.

Akhsan masih mematung di tempatnya berdiri. Ia menatap mobilnya yang berwarna silver terang, lalu beralih menatap mata Aruna yang tampak kosong meskipun ia sedang tersenyum.

Perbedaan warna antara silver dan hitam bukanlah kesalahan kecil; itu adalah tanda adanya gangguan serius pada saraf mata.

"Aruna, jangan berbohong. Mobil itu jelas-jelas silver," ucap Akhsan dengan suara rendah namun menekan.

Ia melangkah maju, menghalangi pandangan Aruna dari keramaian taman.

"Jelaskan padaku, apa yang sebenarnya terjadi dengan matamu? Kenapa kamu salah melihat warna?"

Aruna sempat tersentak, namun dengan cepat ia tertawa kecil—sebuah tawa yang terdengar sangat dipaksakan.

"Aku tidak apa-apa, Mas. Aku hanya mau mengetes kamu, apakah kamu masih memperhatikan detail atau tidak," jawab Aruna sambil berdiri, tangannya meraba ujung bangku taman untuk mencari keseimbangan.

"Ternyata penglihatanmu masih tajam ya, Mas."

"Jangan bercanda, Aruna! Ini bukan masalah sepele!" Akhsan mencoba meraih bahu Aruna, namun Aruna menghindar dengan halus.

"Sudahlah, Mas. Ayo antar aku pulang sebelum Mas Christian selesai rapat. Aku tidak mau dia khawatir tanpa alasan," potong Aruna tegas, nada bicaranya berubah menjadi dingin untuk mengakhiri kecurigaan Akhsan.

Akhsan akhirnya mengalah, meski hatinya diliputi kegelisahan yang luar biasa.

Ia membantu Aruna masuk ke dalam mobil.

Sepanjang jalan menuju apartemen, suasana terasa sangat kaku.

Akhsan sesekali melirik Aruna yang hanya menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, memejamkan mata seolah-olah ia sangat kelelahan menghadapi cahaya di luar.

Akhsan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi namun tetap stabil menuju apartemen, di mana ia tahu Indri pasti sedang mondar-mandir dalam kepanikan.

Sesampainya di depan lobi apartemen, mobil itu berhenti. Indri yang sedang menunggu di teras langsung berlari menghampiri begitu mengenali mobil Akhsan.

"Kak Aruna!" teriak Indri sambil membuka pintu mobil.

Wajahnya tampak merah karena habis menangis.

"Kakak dari mana saja? Aku hampir saja lapor polisi kalau Mas Akhsan tidak menemukan Kakak!"

Aruna turun dari mobil dengan bantuan Indri. Ia menoleh ke arah Akhsan, memberikan tatapan yang seolah-olah memohon agar rahasia tentang "mobil hitam" tadi tidak diceritakan kepada siapa pun.

"Maafkan aku, Indri. Aku hanya butuh udara segar," ucap Aruna lembut.

Akhsan hanya terdiam di balik kemudi. Ia melihat punggung Aruna yang dituntun oleh Indri masuk ke dalam lift.

Ada sesuatu yang hancur di dalam hati Akhsan; ia sadar bahwa Aruna sedang menanggung beban yang sangat berat sendirian, namun ia tidak lagi memiliki hak untuk menjadi sandaran bagi wanita itu.

Sore harinya dimana pintu apartemen terbuka dengan bantingan halus namun tegas.

Christian melangkah masuk dengan raut wajah yang tidak bisa disembunyikan—campuran antara kelelahan rapat dan kemarahan yang tertahan.

Ia mendapati Aruna sedang duduk di sofa ruang tamu, masih mengenakan mantelnya, sementara Indri berdiri mematung di sudut ruangan dengan wajah serba salah.

Christian meletakkan tas kerjanya di meja dengan dentuman yang cukup keras.

Ia menatap Aruna dengan tajam, sebuah tatapan kecewa yang lebih menyakitkan daripada kemarahan.

"Kamu kenapa tetap pergi, Aruna?" tanya Christian, suaranya rendah namun bergetar.

Aruna mencoba mendongak, berusaha memfokuskan matanya pada wajah Christian yang tampak seperti siluet gelap di matanya yang mulai kabur.

"Chris, aku..."

"Aku sudah memintamu istirahat. Aku sudah melarangmu bekerja," potong Christian cepat.

Ia melangkah mendekat, berlutut di depan istrinya agar mata mereka sejajar.

"Kalau kamu pingsan di jalan bagaimana? Kalau terjadi sesuatu pada janin kita saat kamu di bawah lampu studio itu, siapa yang mau disalahkan? Kamu tidak memikirkan keselamatanmu sendiri?"

Air mata Aruna mulai menggenang, namun ia menahannya agar tidak jatuh.

Ia tidak ingin terlihat lemah, terutama di saat ia sedang menyembunyikan kenyataan bahwa penglihatannya mulai hilang.

"Chris, tolong mengertilah. Ini pemotretan terakhirku. Aku tidak mau meninggalkan pekerjaan dengan kesan yang buruk," bisik Aruna sambil meraih tangan Christian.

"Aku janji, setelah ini aku akan tetap di apartemen. Aku tidak akan ke mana-mana sampai bayinya lahir. Aku janji, Mas."

Christian menghela napas panjang, kekecewaannya perlahan mencair menjadi rasa khawatir yang mendalam.

Ia menggenggam balik tangan Aruna yang terasa dingin dan bergetar.

"Janji?" tanya Christian memastikan.

"Aku janji," jawab Aruna dengan senyum tipis yang dipaksakan.

Christian lalu menarik istrinya ke dalam pelukannya.

Di balik pundak Christian, Aruna memejamkan matanya rapat-rapat.

Ia merasa bersalah karena telah melanggar perintah suaminya, namun ia juga merasa takut.

Ia tahu, "janji untuk tetap di apartemen" bukan hanya karena ia ingin patuh, tetapi karena ia sadar bahwa sebentar lagi ia mungkin tidak akan bisa berjalan keluar rumah sendirian tanpa menabrak dinding.

Indri yang melihat pemandangan itu hanya bisa menarik napas lega. Namun, di parkiran apartemen, Akhsan masih duduk di dalam mobilnya.

Pikirannya masih terngiang akan kata-kata Aruna:

"Kenapa mobilnya warna hitam?"

1
ChinbeeCan
aneh jg nih si Bpk anak masih d rumah sakit sltetep suruh nikah pula
Daulat Pasaribu
kayaknya si gea sengaja dicelakain ama adik tiri sama mama tirinya
Piyah
malas baca karakter aruna
Piyah
malas liar lillliatli
Ariany Sudjana
ga suka dengan karakter Aruna ini, bodoh sekali. katanya takut ga bisa melihat, tapi ga mau berobat. dan sekarang sudah ga bisa melihat, masih juga ga mau kasih tahu ke suaminya. ini namanya kamu menyusahkan diri kamu dan juga orang lain. ini bukan perempuan mandiri, tapi perempuan bodoh namanya
Herdian Arya
yahhh elahh Aruna udah tau sekarat malah banyak acaranya.
Piyah
ga suka banget sm aruna yg skrng
ga mau jujur punya penyakit
mas bacanya, ini aja bacanya langsng lompat
Ariany Sudjana
ga suka dengan karakter Aruna, bodoh atau gimana sih? sudah jelas ada tumor di mata, tapi memilih menahan semua sendiri. perempuan mandiri itu bukan seperti itu, itu namanya menyusahkan orang lain, kalau ada situasi yang darurat. kalau kamu mandiri, kamu berobat, dan harus ada orang yang tahu kondisi kamu, jika sesuatu yang buruk terjadi
Ariany Sudjana
Aruna ini bodoh yah, memilih merahasiakan sakit yang sudah parah, dan keras kepala dengan tetap pergi pemotretan. kamu ga pikir yah, kalau kamu tambah parah, semua orang kamu buat sibuk urus kamu, dasar keras kepala kamu
my name is pho: sabar kak🤭
total 1 replies
Ariany Sudjana
kamu bodoh Aruna, dengan membiarkan suami dan keluarganya tidak mengetahui penyakit yang kamu derita.. setidaknya kalau mereka tahu, mereka bisa berusaha mencari pengobatan terbaik, kalau perlu sampai ke luar negeri
Ariany Sudjana
puji Tuhan, Aruna hamil 🙏
Himna Mohamad
lanjut kk
my name is pho: iya kak🥰
total 1 replies
Fatma
jangan bilang nanti aruna malah balikan sama akhsan, suaminya gmn?
Masha 235
lha terus christian kepiye aruna ...mau diapain ..
my name is pho: sabar kak 🤭
total 1 replies
Piyah
,masa begitu, arunany
Dwi Winarni Wina
balas dendam siap dimulai tunggu kehancuranmu akhsan...
Dwi Winarni Wina
siulet bulu sisil kayak cacing kepanasan🤣🤭
Dwi Winarni Wina
Akhsan merindukan zahra pret tega sekali menyiksa zahra, siap2 aruna cristian akan balas dendam🤣
Dwi Winarni Wina
Zahra akan ganti identitas dengan barunya, siap2 balas dendam...
Dwi Winarni Wina
Zahra adiknya cristian akan membalas dendam sm keluarga hermawan dan akhsan akan melakukan operasi plastik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!