Ricky Riswan ( Yasir Hamdan)seorang pekerja di kota Jakarta yang baru saja mendapatkan gelombang PHK dari perusahannya tempatnya bekerja, ia memutuskan untuk kembali ke Tasikmalaya, di mana tanah kelahirannya berada ,ia berencana untuk mengembangkan dan mengolah lahan milik keluarganya , hanya saja di tengah jalan ,mobil bus yang ditumpanginya mengalami kecelakaan dan meledak ,dan saat ia sadar ia berada di desa yang sangat asing bagi dirinya dan baru mengetahui bahwa dirinya akan dijadikan sebagai pengantin pria untuk dua gadis yang tidak dia kenal , bagaimana kelanjutan cerita ini, masih lama bro ,mungkin nunggu dua tahun atau lebih...!!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pecinta timur10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 17 belanja kebutuhan rumah tangga yang banyak
" mau beli apa jang ?" Seorang pria paruh baya dengan pakaian berwarna putih bersih bertanya kepada pemuda yang tampak melihat lihat pakaian yang tergantung di atas tali .
Yasir menoleh dan menganggukan kepala , namun ia tidak segera menjawab karena baru ingat bahwa dirinya tidak membawa uang sepeserpun.
" tunggu dulu mang , aku mau menjual buah durian dulu " kata Yasir berlalu dari lapak penjual pakaian itu .
Melihat hal itu ,penjual pakaian yang awalnya antusias, menjadi sedikit kesal , dan kembali fokus ke beberapa pakaiannya yang belum di tata .
Yasir berjalan dengan buah duriannya, ia melangkah masuk ke bagian penjualan buah dan sampai di kios yang cukup besar , di mana berbagai macam buah tertata rapi di depannya.
" assalamualaikum... pak ?"
" waalaikum salam, mau beli jang ?"
" tidak pak ,saya mau menjual durian ini " kata Yasir tersenyum, seraya meletakan buah durian yang diikat dengan tali bambu .
" apakah sudah masak ?"
" sudah pak, di jamin , silahkan buka satu ,dan bapak bisa melihatnya secara jelas " kata Yasir mengangkat satu buah durian dan mengambil parang yang ada di dekat penjual buah .
" tidak perlu jang ..,sepuluh ini ,lima gulden , bagaimana jang?"
" umhh tidak apa apa , dan dua kelapa tua , ini sangat bagus untuk di buat santan , bapak bisa membelinya empat sen !"
" okelah tidak masalah , kebetulan aku membutuhkannya " ujarnya tersenyum. Setelah jual beli singkat itu , Yasir pergi ke dalam pasar yang paling ujung , di mana ia memiliki tempat yang cukup nyaman di dalam pasar besar kota kecamatan tersebut.
Beberapa pedagang yang mengenalnya, menyapa dengan ramah dan ada pula yang menawarkan beberapa barang yang di miliki para pedagang, namun Yasir hanya menggelengkan kepala dengan pelan , lalu langsung masuk ke dalam pos kecil yang ada di dalam pasar.
" ehh bang ... apa kabar !" Seorang pemuda yang cukup rapi dengan antusias menyambut kedatangan Yasir yang ada di depannya.
" baik baik saja , bagaimana dengan pak Lastro , apakah beliau ada di dalam.?" Yasir menatap sejenak ke arah pemuda yang menyapanya ini dan lalu masuk segera ke dalam kantor yang menyerupai pos kecil.
Di dalam terlihat seorang pria tua dengan pakaian sederhana, terlihat mirip seperti pakaian satpam, namun memiliki warna hitam yang polos dengan nama Lastro di atas saku kanannya .
" apa kabar pak !" Sapa Yasir tersenyum seraya datang mendekat .
" ehh kamu baru datang jang , kemana saja selama tiga hari ini ?" Tanya pria tua bernama Lastro itu .
" aku sibuk di rumah , biasa.. !" Jawabnya singkat.
" ohh , tuh bapak ada tiga botol , kalau mau ambil saja " ujar pak Lastro menoleh ke arah sudut ruangan , di mana ada tiga botol minuman jenis bintang kuning dengan ukuran yang cukup besar dan memiliki warna hijau tua .
Yasir menggelengkan kepala, senyumnya masih mengembang " tidak pak , aku sudah pensiun sekarang, kasihan sama istri di rumah bila minum minum lagi " katanya dengan mata yang tulus .
Mendengar hal itu , sang pria tua yang awalnya biasa biasa saja , langsung berdiri kaku , matanya menatap ke arah pemuda yang tampak tersenyum itu dengan tatapan tidak percaya.
" jang kamu sudah nikah , kapan itu terjadi .. ?"
" ya tiga hari yang lalu ,dan aku mengapa tidak ke kota kecamatan ya karena mengurus kedua istriku terlebih dahulu " ucapnya dengan senyum bangga.
" bagus bagus, akhirnya kamu dewasa sekarang, bagus, bapak senang mendengarnya, " kata pak Lastro menepuh bahu pemuda yang ada di hadapannya.
" terimakasih pak ,doakan saja, semoga sampai akhir..!"
" tentu ..!"
Kedua pria beda generasi itu terdiam sejenak di ruangan sempit itu , pak lastro yang memiliki kulit tua terlihat bernafas lega.
" jadi jang kamu apa masih mau bekerja di pasar ini ?"
" umh sebenarnya aku masih mau bekerja, tapi karena aku sudah berkeluarga, ya gimana ya , bagaimana kalau seminggu sekali, aku pasti akan datang, sekaligus membawa istriku belanja dan melihat lihat pasar ..."
" itu adalah keputusan terbaik, oke tapi gajimu hanya 200 sen saja, tidak ada lagi 7 gulden dalam seminggu , bagaimana?"
" sepakat .. , tapi aku mau mengambil gaji minggu lalu yang belum aku ambil "
" umhh tunggu sebentar ..!"
Pak Lastro dengan cekatan mengambil sepuluh lembar uang kertas hijau tua yang ada di dalam sakunya , lalu memberikan semuanya kepada pemuda yang ada di samping kanannya.
" sepuluh gulden , dan 500 sen , sekarang bayaranmu sudah lunas , jadi mulai minggu depan , kamu jang hanya satu kali masuk dan menerima 200 sen, bagaimana?"
" ya , tidak ada masalah..."
" sekarang kamu mau kemana jang?"
" mau beli pakaian dan kebutuhan rumah tangga, di rumah tidak ada apa apa ," ucapnya seraya berjalan keluar dengan sebelumnya mengucapkan salam selamat tinggal.
Karena urusan mengambil gaji sudah selesai , ia kembali lagi ke pasar bagian pakaian, dan bertemu kembali dengan penjual pakaian yang tampak sedang melayani beberapa pembeli.
Yasir mengambil pakaian wanita lengkap , mulai dari bagian atas sampai bawah dan bagian luar sampai dalam, juga sepatu kain , serta pakaian tidur dan juga kain selimut yang cukup tebal , setelah itu ia mengambil pakaian obral yang cukup banyak , walaupun terlihat sedikit lusuh tapi di matanya itu adalah yang paling baik daripada pakaian yang sekarang ia pakai .
" bos berapa ..?"
Penjual itu menghitung dan memperlihatkan kelima jarinya , Yasir mengerti , ia langsung memberikan lima lembar uang hijau tua kepada penjual pakaian , setelah itu ia teringat untuk membeli bahan makanan dan peralatan masak .
Dengan langkah ringan , ia berjalan menuju pasar bagian bahan bumbu masakan dan juga makanan, serta banyak peralatan dapur yang umum di kalangan masyarakat menengah ke atas.
Sampai di tempat penjual beras, ia membeli beras satu karung penuh ,yang memiliki berat sekitar 30 kg , dan tepung jagung sepuluh kilo , ia hanya mengeluarkan 300 sen uang koin untuk membeli beras dan tepung jagung itu dan kemudian berjalan menuju bagian peralatan rumah tangga.
Mulai dari panci besar hingga yang terkecil , ia beli satu persatu, dan tidak lupa piring plastik yang sudah banyak beredar di desa atau kota kecil, karena barangnya sangat banyak, ia menyewa satu kereta kuda yang khusus untuk memuat barang, sedangkan dirinya akan berjalan kaki mengikuti kereta kuda barang yang ada di depannya.
" ehh jang, kamu buat apa beli banyak barang beginian..?" Seorang pria paruh baya dengan pakaian jas kantor zaman dahulu bertanya keheranan.
" ouh pak guru Slamet , ini untuk di rumah, sedang apa pak di pasar ini , apa tidak mengajar ?"
" aku cari buku untuk murid di sekolah, dan pelajaran harus menunggu beberapa hari kedepan " ucap guru Slamet dengan nada sedikit tertekan .
" memangnya ada apa pak , sepertinya ada masalah?"
" umhh benar, ini masalah pemikiran beberapa murid bapak yang aneh , saya tidak mengerti apa yang dikatakan oleh beberapa murid di sekolah..!"
" memangnya masalahnya seperti apa?"