Mengisahkan Livia Winarti Samego, seorang wanita 30 tahun yang harus menerima nasib bahwa ia diduakan oleh suaminya, Attar Pangestu dengan wanita lain yang tidak bukan adalah Sheila Nandhita, teman baiknya. Livia harus berjuang seorang diri dalam perpisahannya dengan Attar hingga takdir mempertemukannya dengan Ayub Sangaji, seorang mahasiswa jurusan pendidikan olahraga di sebuah kampus yang tampan dan menggoda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Palu Hakim Dan Rasa Tak Enak
Suara palu yang menghantam meja itu terdengar seperti petir di telinga Attar. Pria itu tertunduk lesu di kursi pemohon. Bahunya berguncang. Di balik kacamata hitamnya, air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh. Di mata hukum negara dan agama, wanita yang sangat ia cintai—dan sangat ia sakiti—kini bukan lagi miliknya. Ia resmi menjadi orang asing dalam hidup Livia.
Livia menghela napas panjang. Bukan napas kesedihan, melainkan napas kelegaan yang murni. Ia menoleh ke arah Attar sejenak, memberikan tatapan perpisahan yang tenang, lalu berdiri dan melangkah keluar tanpa menoleh lagi.
"Liv..." suara Attar tercekat di tenggorokan. Ia ingin mengejar, ingin memohon satu kesempatan lagi, namun kakinya terasa seberat timah. Ia hanya bisa melihat punggung Livia menjauh, hilang di balik pintu jati besar yang tertutup rapat.
****
Sementara itu, di balik tembok beton Lembaga Pemasyarakatan Wanita yang dingin dan lembap, sebuah rencana jahat sedang dimasak dalam kegelapan. Sheila Nandhita tidak pernah benar-benar menyerah. Kegilaannya justru menjadi bahan bakar bagi kecerdikannya yang melintasi batas normal.
Di sudut kantin penjara yang remang-remang, Sheila duduk berhadapan dengan Bu Apri, wanita paruh baya yang dulu menjadi asisten pribadi sekaligus "arsitek" di balik pertemuan-pertemuan gelap Sheila dan Attar. Bu Apri masuk penjara karena kasus penipuan, namun di dalam sini, ia kembali menemukan sekutunya.
"Semua sudah siap, Sheila," bisik Bu Apri sambil menggeser sebuah bungkusan plastik hitam di bawah meja. "Hari ini ada kunjungan besar dari yayasan keagamaan. Suasana akan sangat kacau. Ini satu-satunya kesempatanmu."
Sheila menyeringai. Matanya berkilat-kilat liar. "Kamu memang berguna, Apri. Setelah aku keluar, aku akan memastikan Livia merasakan neraka yang lebih panas dari ini."
Sheila membawa bungkusan itu ke dalam bilik toilet yang kumuh. Dengan tangan gemetar karena adrenalin, ia membuka isinya. Sebuah gamis hitam lebar, kerudung panjang menjuntai, dan sebuah cadar yang hanya menyisakan celah sempit untuk matanya.
****
Suara riuh rendah para pengunjung dan petugas memenuhi lapangan lapas. Ratusan wanita mengenakan pakaian serupa masuk dan keluar untuk mengikuti pengajian akbar. Di tengah hiruk-pikuk itu, sesosok wanita keluar dari toilet dengan langkah yang sangat tenang, sangat kontras dengan badai yang berkecamuk di dalam otaknya.
Sheila mengenakan gamis itu. Tubuhnya yang kurus tenggelam dalam kain hitam yang menjuntai. Cadar menutupi wajahnya yang penuh luka dan noda air mata kegilaan. Ia berjalan menunduk, memegang sebuah buku doa kecil seolah ia adalah bagian dari rombongan pengajian.
Setiap kali ia melewati penjaga, jantungnya berdegup kencang, namun bukan karena takut, melainkan karena rasa senang yang membuncah. Saat ia berhasil melewati gerbang besi terakhir dan menghirup udara luar yang berbau asap knalpot dan kebebasan, Sheila tidak bisa lagi menahan dirinya.
Ia berjalan menuju sebuah gang sempit di seberang lapas. Di sana, ia melepas cadarnya perlahan. Wajahnya yang pucat pasi terpapar sinar matahari. Air mata mulai mengalir deras, namun bibirnya membentuk lengkungan tawa yang paling mengerikan yang pernah ada.
"Hah... hah... hahahahaha!"
Tawa itu dimulai dari sebuah bisikan, lalu naik menjadi ledakan histeris yang mengguncang tubuhnya. Sheila memegangi perutnya, tertawa hingga air matanya membasahi kain gamis hitamnya. Ingusnya mengalir lagi, namun ia tidak peduli. Ia merasa seperti dewa yang baru saja turun ke bumi untuk memberikan hukuman.
"Livia... Attar..." gumamnya di sela-sela tawa melengkingnya. "Kalian pikir kalian bebas karena sudah cerai itu? Hahahaha! Permainan baru saja dimulai! Aku akan datang sebagai bayangan yang akan mencabut nyawa kalian!"
Tawanya bersahutan dengan bunyi klakson kendaraan di jalan raya, menciptakan suasana yang begitu horor bagi siapa pun yang mungkin mendengarnya dari kejauhan. Sheila segera mengenakan kembali cadarnya, menyelinap ke dalam sebuah angkutan umum yang sedang menunggu penumpang, menghilang di tengah belantara Jakarta yang kejam.
****
Malam harinya, Livia duduk di ruang tamu apartemennya yang kini sudah diperbaiki. Listrik sudah menyala terang, namun ia tetap merasa kedinginan. Ia memegang akta cerainya, menatap nama Attar yang kini hanya menjadi sejarah.
Ayub sedang di dapur, membuatkan teh hangat untuk Livia. "Mbak Livia, kenapa melamun? Semua sudah selesai, kan?"
Livia menoleh, mencoba tersenyum, namun senyumnya tidak sampai ke mata. "Entahlah, Ayub. Perasaanku masih tidak enak. Rasanya seperti ada mata yang terus mengawasiku dari balik jendela ini."
Livia tidak tahu bahwa di seberang gedung apartemennya, di sebuah bangunan tua yang terbengkalai, sesosok wanita berpakaian hitam sedang berdiri di kegelapan. Sheila menatap jendela unit Livia dengan tatapan kosong namun penuh dendam. Ia memegang sebilah pisau dapur yang baru saja ia curi dari sebuah warung makan.
"Selamat atas perceraianmu, Livia," bisik Sheila di balik cadarnya. "Nikmati malam tenangmu, karena besok... aku akan memastikan kamu tidak akan pernah ingin bangun lagi."
Sheila kembali tertawa rendah, suara tawanya tertutup oleh gemuruh mesin kota, bersiap untuk meluncurkan teror terakhir yang akan menentukan siapa yang akan tetap berdiri di akhir drama berdarah ini.
****
Lampu kantor Attar yang remang-remang seolah menegaskan kehampaan hidupnya setelah ketukan palu hakim di pengadilan tempo hari. Ia duduk tertegun, menatap dokumen proyek yang tak lagi bermakna, sampai getaran ponsel di meja kaca itu memecah kesunyian dengan suara yang kasar.
Sebuah nomor kantor kepolisian muncul di layar.
"Halo?" suara Attar parau.
"Bapak Attar Pangestu? Kami dari Lembaga Pemasyarakatan. Kami harus mengabarkan berita darurat. Tahanan atas nama Sheila Nandhita telah melarikan diri sekitar dua jam yang lalu dalam sebuah penyamaran saat acara kunjungan yayasan. Kami meminta Anda dan Ibu Livia untuk meningkatkan kewaspadaan."
Ponsel itu hampir terlepas dari genggaman Attar. Wajahnya seketika pucat pasi, peluh dingin membasahi keningnya. Jantungnya berdegup kencang, memukul-mukul rongga dadanya dengan ritme yang menyakitkan.
"Bagaimana bisa?! Dia wanita gila, dia berbahaya!" teriak Attar, suaranya naik satu oktav karena panik yang luar biasa. "Kalian membiarkan iblis itu lepas kembali?!"
Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, Attar menyambar kunci mobilnya. Pikirannya hanya tertuju pada satu titik: Apartemen Livia. Ia tahu benar, dalam otak Sheila yang sudah rusak oleh obsesi dan kegilaan, Livia adalah sasaran utama. Sheila tidak akan berhenti sebelum ia melihat Livia hancur atau mati.
****
Di lantai atas sebuah gedung apartemen mewah, Livia sedang berdiri di dapur, mencoba menyeduh teh untuk menenangkan sarafnya yang tegang sejak sore. Ayub belum kembali dari kampus karena ada kelas tambahan, dan untuk pertama kalinya sejak kejadian di gudang tua, Livia merasa benar-benar sendirian.
Srekk...
Livia menoleh cepat ke arah pintu balkon. Hanya suara tirai yang tertiup angin AC. Namun, perasaannya mengatakan hal lain. Aroma udara di ruangan itu mendadak berubah—terasa lebih berat, lebih dingin.