NovelToon NovelToon
Luka Yang Menyala

Luka Yang Menyala

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Bullying dan Balas Dendam
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Mereka merampas segalanya dari Galuh Astamaya.

Harga dirinya, keluarganya, dan bahkan tempat tinggalnya.

Ketika keadilan tak berpihak padanya, dan doa hanya berbalas sunyi.

Galuh memilih jalan yang berbeda. Ia tidak lagi mencari keadilan itu.

Ia menciptakannya sendiri ... dengan tangan yang pernah gemetar. Dengan hati yang sudah remuk. Kini dalam dirinya, luka itu menyala, siap melalap orang-orang yang telah menghancurkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Zainal Buana berdiri di depan jendela besar ruang kerjanya. Dari lantai atas gedung itu, hamparan kota terlihat sibuk dan tak peduli ... seolah tak tahu bahwa di ruangan ini, ambisi besar sedang dipertaruhkan.

Ia berbalik ke meja kerjanya. Berkas-berkas tersusun rapi, grafik kampanye terpampang di layar tablet, sementara sebuah buku catatan terbuka menampilkan angka-angka yang ia coret berulang kali.

Zainal menghela napas berat. "Kurang," gumamnya pelan. Dana yang tersedia jelas tidak memadai untuk ambisinya. Konsultan politik, logistik lapangan, baliho, relawan, media ... semuanya menuntut biaya besar. Nama besar saja tak cukup. Popularitas bisa dibentuk, tapi tanpa dana, semuanya akan pincang di tengah jalan.

Ia mengusap wajahnya, lalu duduk bersandar. Alisnya berkerut, pikirannya berputar cepat, menyisir satu per satu kemungkinan ... donatur lama, pengusaha daerah, jaringan lama yang sudah ia peras sebelumnya.

Tak ada yang benar-benar menjanjikan.

Hingga sebuah nama muncul begitu saja di benaknya. "Freya." Zainal tersenyum tipis, senyum yang lebih mirip kalkulasi daripada kehangatan.

Ia teringat cara Freya berbicara ... tenang, terukur, cerdas. Cara perempuan itu membaca peluang bisnis dengan cepat. Dan tentu saja ... posisi Freya yang jelas bukan orang sembarangan. "Mungkin gadis itu bisa membantu," gumamnya.

Bukan sekadar soal uang, Zainal tahu itu. Freya adalah pintu. Pintu menuju sumber daya yang lebih besar, jaringan yang lebih kuat, dan kemungkinan dukungan yang bisa ia kemas dengan rapi, entah sebagai investasi, kerja sama proyek, atau bentuk lain yang tampak sah di atas kertas.

Ia mengambil ponselnya, menatap layar beberapa detik tanpa menekan apa pun.

"Belum sekarang," pikirnya. "Semua harus disusun dengan cermat." Di dalam ruang kerja itu, sebuah strategi baru, mulai terbentuk ... tenang, licin, dan berbahaya.

_____

Gazebo itu berdiri anggun di sisi rumah mewah yang Freya dan Shankara tempati. Pilar-pilarnya berwarna putih gading, dikelilingi taman hijau yang terawat rapi. Angin berembus pelan, menggoyangkan tirai tipis yang tergantung di sisi gazebo, menciptakan suasana damai yang kontras dengan percakapan di dalamnya.

Freya duduk berhadapan dengan Shankara. Secangkir teh di hadapannya sudah dingin, tak tersentuh sejak tadi.

Tatapannya tertuju pada kolam kecil di kejauhan, sementara Shankara berdiri bersandar pada salah satu tiang, wajahnya tenang ... terlalu tenang untuk sebuah obrolan biasa. "Freya," ujar Shankara akhirnya, suaranya rendah dan terukur. "Jika Zainal Buana benar-benar membutuhkan dana untuk kampanyenya sebagai kepala provinsi ... maka kamu harus membantunya."

Freya menoleh. Wajahnya tak menunjukkan keterkejutan, hanya kesiapan untuk mendengar kelanjutannya.

"Tapi bukan tanpa syarat," lanjut Shankara. Ia melangkah mendekat, lalu duduk di hadapan Freya. "Aku tidak pernah memberi tanpa jaminan."

Freya mengangkat alis tipis. "Jaminan seperti apa, Tuan?"

"Sertifikat tanah perkebunan miliknya," jawab Shankara tanpa ragu. "Dan seluruh aset yang bisa ia jadikan pengikat. Bukan janji. Bukan kata-kata. Dokumen sah."

Freya menarik napas pelan, mulai memahami arah permainan ini. "Jika dia menolak?"

Shankara tersenyum samar ... senyum yang sama sekali tak menyentuh matanya. "Dia tidak akan menolak," katanya dingin. "Ambisi membuat orang buta. Dan aku tahu, saat ini ... dia sedang butuh uang yang cukup banyak." Ia kemudian meraih tangan Freya, menggenggamnya dengan tekanan ringan namun pasti. "Saat semua sudah di tangan kita," lanjutnya, suaranya merendah, "Saat itulah kita jatuhkan dia. Dendammu akan terbalas." Freya menatap Shankara lekat-lekat. "Video-video tak senonoh dari kedua anaknya, " Shankara menyebutkannya seolah sedang membaca daftar belanja. "Dan juga dirinya sendiri. Ditambah fakta-fakta lain yang sudah aku kumpulkan ... aliran dana, transaksi gelap, dan kebohongan publik yang ia bangun."

Freya terdiam beberapa detik. Bukan karena ragu, melainkan karena menyadari betapa matang rencana itu disusun. "Jadi sejak awal ... Anda sudah menyiapkannya?"

"Tentu saja, Freya. Sejak kamu menyebut nama dia sebagai orang yang menghancurkanmu dan keluargamu. Aku langsung mencari tahu tentang dia dan mengumpulkan segala keburukannya," jawab Shankara diiringi seringai.

Angin kembali berembus, dedaunan berdesir pelan. Freya menggenggam balik tangan Shankara, matanya kini memancarkan keteguhan yang sama. "Baik, Tuan," katanya mantap. "Aku akan memainkannya sesuai skenario Anda."

Shankara mengangguk kecil. "Bagus."

______

Pitaloka melangkah masuk ke apartemennya yang berada tak jauh dari area kampus. Ruangan itu sunyi, hanya lampu kecil di sudut ruang tamu yang menyala, memantulkan bayangan dirinya di dinding. Ia meletakkan tas, lalu menjatuhkan tubuhnya ke sofa dengan napas panjang.

Ponselnya masih berada di genggaman.

Baru saja ia menutup panggilan dengan Safwan Haidar. Suara pacarnya masih terngiang di kepala ... hangat, perhatian, menanyakan kabarnya, mengingatkannya untuk istirahat. Percakapan yang aman. Terlalu aman, mungkin.

Belum sempat pikirannya benar-benar tenang, layar ponselnya kembali menyala.

Sebuah pesan masuk. Dari temannya.

Sherly: Pita, ikut dugem malam ini yuk. Sekalian refreshing.

Pitaloka menatap pesan itu lama. Jarinya melayang di atas layar, ragu untuk membalas. Dadanya terasa sedikit sesak.

Ia membayangkan nama besar keluarganya, nilai-nilai yang selalu ditanamkan sejak kecil.

Dan wejangan-wejangan yang selalu diucapkan ibunya. "Ingat Pita ... jaga diri dan jaga nama baik keluarga kita. Jangan sampai kamu melakukan perbuatan yang memalukan. Ingat ... Ayahmu adalah seorang pejabat. Jangan sampai kelakuan burukmu menghancurkan reputasinya!"

Ia tahu betul, satu langkah saja bisa menjadi bahan bisik-bisik. Bisa mencoreng nama baik. Bisa mengecewakan banyak orang. "Apa boleh aku pergi dugem?" gumamnya pelan.

Namun rasa penasaran datang pelan-pelan, lalu mendesak. Dunia yang selama ini hanya ia dengar dari cerita orang lain kini terasa begitu dekat.

Musik, lampu, kebebasan ... semua itu memanggilnya dengan cara yang sulit diabaikan.

Setelah beberapa detik yang terasa panjang, Pitaloka akhirnya menarik napas dan mengetik balasan singkat.

"Oke. Aku ikut."

Pesan terkirim.

Jantungnya berdegup lebih cepat ... antara takut dan bersemangat.

Balasan dari Sherly datang lagi.

"Nah, gitu dong, Pita. Nanti malam, aku dan Bella akan menjemputmu. Dandan yang seksi dan cantik ya?"

Ia pun bangkit, melangkah menuju kamar. Lemari dibukanya perlahan, matanya menyapu deretan pakaian hingga berhenti pada pilihan yang jarang ia sentuh, sebuah tanktop warna hitam dan rok mini. Pitaloka menggigit bibirnya sesaat, lalu mengeluarkannya.

Malam nanti, ia memilih menjadi versi dirinya yang lain.

Di depan cermin, ia menatap pantulan wajahnya sendiri ... ada keraguan di sana, tapi juga nyala kecil rasa ingin tahu yang tak bisa lagi dipadamkan. "Cuma satu kali, kok. Aku hanya ingin tahu rasanya dugem tuh seperti apa," katanya sambil tersenyum kecil.

_______

Mobil Sherly berhenti di depan apartemen milik Pitaloka. Dia dan Bella menunggu Pitaloka turun sambil mendengarkan musik yang berdentum pelan dari speaker.

Tak lama, Pitaloka muncul. Namun ia berdiri sejenak di depan pintu mobil yang sudah dibuka oleh Sherly, tangannya menggenggam tas erat-erat.

"Ayo, Pita. Santai dong. Jangan gugup kayak gitu," bujuk Sherly sambil tersenyum lebar.

"Iya, cuma sebentar kok. Kamu butuh hiburan," timpal Bella.

Pitaloka ragu. Namun tawa mereka, nada ringan, dan rasa takut dianggap pengecut akhirnya mengikis kebimbangannya.

Ia masuk ke mobil, menutup pintu, dan sejak saat itu malam mulai melaju terlalu cepat.

Lampu club malam menyilaukan mata. Musik menghantam dada. Begitu masuk, ketiganya langsung larut di lantai dansa. Gerak tubuh, tawa lepas, dan dentuman bass membuat Pitaloka sejenak melupakan siapa dirinya di luar ruangan itu.

Setelah puas berdansa, mereka duduk di salah satu sofa. Minuman beralkohol datang bertubi-tubi.

Awalnya Pitaloka ragu-ragu meneguk minuman memabukan itu, tapi selanjutnya ... ia tak ragu lagi.

"Minum lagi, Pita!" teriak Sherly dengan mata yang sudah teler.

"Yang banyak, Pit! Biar benar-benar enjoy!" timpal Bella sambil menggoyangkan tangannya di atas kepala.

Pitaloka sempat menggeleng, tapi gelas sudah disodorkan. Satu ... dua ... ia mulai kehilangan hitungan. Kepalanya ringan, pandangannya sedikit berputar. Saat ia menoleh, kedua temannya sudah kembali ke lantai dansa, meninggalkannya sendirian di sofa. Ia berniat menyusul, tapi tubuhnya terasa lemas.

Di saat itulah seorang lelaki mendekat.

Penampilannya rapi, senyumnya tipis, suaranya rendah namun terdengar ramah. Ia duduk tak terlalu dekat, mengajak bicara.

Pitaloka mencoba fokus, tapi kata-kata terasa seperti berlapis kabut.

"Kamu kelihatan kurang enak badan," ujar lelaki itu. "Mau istirahat di tempat yang lebih tenang?"

Pitaloka ingin menolak, tapi lidahnya terasa berat. Kepalanya mengangguk samar, lebih karena pusing daripada setuju.

Ia tak sadar kapan tangannya digenggam, kapan langkahnya diarahkan menjauh dari keramaian.

Musik makin redup saat mereka menaiki tangga menuju lantai atas. Lelaki tadi memapah tubuhnya dengan erat, seolah takut Pitaloka lepas.

Di koridor yang lebih sepi itu, Pitaloka tersadar ... jantungnya berdegup keras.

Ada rasa tidak nyaman yang tiba-tiba menekan dadanya. Ia ingin pulang, tapi tubuhnya tak sanggup bergerak bebas.

"Ayo kita istirahat di dalam," bisik lelaki itu sambil membuka pintu kamar di hadapan.

"Ah ... aku ..." Pitaloka bergumam, berusaha menolak, tapi sang lelaki keburu mendorongnya masuk ke dalam kamar.

Dan ketika Pitaloka mendongak, menatap sekeliling kamar, bola matanya nyaris keluar dari tempatnya.

1
partini
potong aja burung nya ,kan bagus nafsu membara tapi tidak bisa
Ama Apr: haha iya
total 1 replies
partini
hemmmm tuh lobang ndowerr ya Thor 🤣🤣🤣🤣
Ama Apr: haha, kayaknya sih kk
total 1 replies
partini
waduh
Ama Apr: 😵😵😵 Wkwk
total 1 replies
partini
lanjut
Ama Apr: Siap, makasih kk Parti😘
total 1 replies
partini
tadi dapat notif belum ku buka
Ama Apr: makasih kk🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!