Ini Novel Wuxia!
Di dunia persilatan yang kelam dan penuh intrik, nama Liang Shan adalah luka yang tak pernah sembuh—anak dari keluarga pendekar agung yang dibantai secara keji oleh lima perguruan besar dan puluhan tokoh bayaran.
Sejak malam berdarah itu, Liang Shan menghilang, hanya untuk muncul kembali sebagai sosok asing yang memikul satu tujuan, yaitu membalas dendam!
Namun, dendam hanyalah awal dari kisah yang jauh lebih kelam.
Liang Shan mewarisi Kitab Golok Sunyi Mengoyak Langit, ilmu silat rahasia yang terdiri dari sembilan jurus mematikan—masing-masing mengandung makna kesunyian, penderitaan, dan kehancuran.
Tapi kekuatan itu datang bersama kutukan, ada racun tersembunyi dalam tubuhnya, yang akan bereaksi mematikan setiap kali ia menggunakan jurus kelima ke atas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Tiba-tiba, suara kepakan sayap burung merpati terdengar di atap kedai. Si Buta Lu menajamkan pendengarannya.
"Cepat pergi!" serunya. "Pasukan 'Gigi Naga' milik Jenderal Long sudah ada di depan gerbang. Mereka tidak akan membiarkanmu keluar dari kota ini dengan membawa peta itu!"
Liang Shan menyambar golok dan permatanya. "Bagaimana denganmu?"
"Aku sudah lama buta, Liang Shan. Biarkan aku menyelesaikan permainan caturku ini."
Saat Liang Shan melompat keluar dari jendela belakang, terdengar suara pintu depan kedai yang didobrak paksa. Teriakan dan denting senjata segera memenuhi ruangan itu.
Liang Shan berlari di atas atap-atap rumah Kota Teratai Biru. Di belakangnya, selusin pendekar berpakaian zirah ringan mengejarnya dengan kecepatan yang luar biasa.
Mereka adalah Pasukan Gigi Naga, elit dari segala elit!
"Berhenti, pemberontak!" teriak pemimpin pasukan sambil melepaskan anak panah berantai.
Liang Shan tidak berhenti, dia memutar tubuhnya di tengah udara.
Goloknya menangkis anak panah yang melesat dan memantulkannya kembali ke arah pengejar. Salah satu pengejar jatuh dari atap dengan teriakan memilukan.
Namun, racun di tubuhnya memberikan peringatan keras. Penglihatannya mulai ganda. Ia merasa kakinya seberat timah.
"Tidak di sini ..., aku tidak boleh mati di sini ..." gumam Liang Shan sambil menggerak-gerakkan gigi.
Ia melihat sebuah kuil tua di depan. Tanpa pikir panjang, Liang Shan melompat ke dalam area kuil tersebut. Namun, di halaman kuil, sudah berdiri seorang pria paruh baya dengan baju zirah emas dan pedang raksasa di punggungnya.
Sosok itu adalah Jenderal Long Zhanyuan!
"Liang Shan," suara Jenderal Long berat dan berwibawa, seperti guntur yang tertahan. "Kembalikan apa yang bukan milikmu. Ayahmu adalah sahabatku. Jangan buat aku membunuh putranya juga."
Liang Shan berdiri tegak, meski tubuhnya gemetar hebat. Ia menunjuk Jenderal Long dengan goloknya yang hitam.
"Sahabat? Apakah itu caramu memperlakukan sahabat? Dengan membantai seluruh keluarganya?"
Jenderal Long menatapnya dengan mata yang penuh kesedihan.
Dia berkata, "Dunia ini bukan tempat untuk orang baik, Liang Shan. Kadang kita harus melakukan kejahatan besar demi mencegah bencana yang lebih besar lagi. Jika wasiat itu jatuh ke tangan klan-klan itu, perang saudara akan meletus dan jutaan rakyat akan mati."
"Dan kau pikir kau punya hak untuk menentukan siapa yang harus hidup dan siapa yang harus mati?" Liang Shan meludah darah. "Malam ini, hanya ada satu orang yang akan mati. Dan aku akan memastikan itu bukan aku."
Liang Shan mengumpulkan sisa-sisa tenaga dalamnya. Ia tahu, ini adalah pertaruhan terakhirnya. Jika gagal di sini, maka sejarah akan selamanya mencatat ayahnya sebagai pengkhianat.
Ia mulai menggerakkan goloknya. Udara di sekitar kuil mendadak berhenti bergerak.
Jenderal Long melebarkan matanya, ia merasakan hawa kematian yang begitu nyata, seolah-olah dirinya sudah berdiri di depan gerbang neraka.
"Jurus ini ..." gumam Jenderal Long, merasakan jantungnya berdebar keras.
Pedang raksasa Jenderal Long terhunus. Benturan dua kekuatan raksasa tak terhindarkan lagi.
Cahaya golok hitam bertemu dengan kilatan pedang emas, menciptakan ledakan yang meruntuhkan gerbang kuil.
Lalu, halaman kuil tua itu mendadak sunyi, seolah waktu sendiri menahan napas menyaksikan dua kutub kekuatan yang akan berbenturan.
Di satu sisi, Jenderal Long Zhanyuan berdiri dengan keagungan seorang gunung batu, zirah emasnya memantulkan cahaya bulan yang pucat, sementara pedang raksasa Penakluk Samudra di tangannya memancarkan hawa panas yang sanggup mengeringkan embun malam.
Di sisi lain, Liang Shan adalah bayangan maut yang rapuh, jubah hitamnya compang-camping, darah menetes dari sela jemarinya, namun matanya yang mulai menghitam menyimpan kengerian yang tak terlukiskan.
"Liang Shan," suara Jenderal Long menggelegar rendah, "Hentikan kegilaan ini sebelum jiwamu benar-benar tertelan oleh kegelapan kitab itu!"
Liang Shan tidak menjawab dengan kata-kata. Tapi menjawab dengan aura.
Udara di sekitar mereka mendadak membeku. Kelembapan malam berubah menjadi kristal-kristal es hitam yang melayang di udara.
Liang Shan mengangkat Golok Sunyi Mengoyak Langit dengan kedua tangan.
Tubuhnya bergetar, bukan karena takut, melainkan karena ia sedang membuka gerbang nadinya selebar mungkin, membiarkan Racun Tapak Sepuluh Ribu Tulang dan hawa murni goloknya bercampur menjadi satu kekuatan yang menghancurkan.
Liang Shan rupanya memutuskan untuk mengeluarkan jurus keenam, Ratapan Tak Terdengar dari Tanah Kubur.
Jurus ini tidak dimulai dengan teriakan atau gerakan cepat. Sebaliknya, Liang Shan melangkah perlahan. Setiap pijakannya menimbulkan suara gemeretak tulang dari bawah tanah yang seolah-olah ingin bangkit.
Suara angin yang tadinya menderu, kini berubah menjadi bisikan-bisikan rintihan jutaan jiwa yang terkubur dalam ketidakadilan. Suara itu tidak masuk melalui telinga, melainkan langsung menghujam jantung.
Jenderal Long Zhanyuan, sang pahlawan medan perang yang telah membunuh ribuan musuh, merasa bulu kuduknya berdiri.
Ia melihat bayangan-bayangan hantu di sekeliling Liang Shan, sosok-sosok tanpa wajah yang menangis tanpa suara.
"Ilmu sesat!" teriak Jenderal Long, mencoba menghalau rasa gentar di hatinya. Ia menghentakkan kaki, melepaskan seluruh tenaga dalam emasnya.
"Matahari Menghancurkan Kegelapan!"
Pedang raksasanya menebas lurus. Cahaya emas menyilaukan meledak, mencoba membakar habis kabut hitam yang dibawa Liang Shan. Namun, kabut itu tidak terbakar, tapi justru menyerap cahaya tersebut.
Liang Shan mengayunkan goloknya secara diagonal. Gerakannya tampak lambat, bahkan nyaris malas, namun pada saat bilah golok itu bergerak, udara di sekitarnya melengkung. Seolah ruang itu sendiri dipaksa mengingat luka-luka lama yang tertimbun di dalamnya.
Jenderal Long merasa pedangnya seolah-olah menghantam tumpukan mayat yang tak berujung, dingin, lembap, dan menyerap semua kekuatannya.
DUARR!!!
Benturan itu menciptakan ledakan hampa udara. Pilar-pilar kuil di sekeliling mereka runtuh menjadi debu. Gerbang kuil yang sudah rapuh itu hancur berkeping-keping, terlempar oleh tekanan energi yang berlawanan.
Liang Shan memuntahkan darah hitam dalam jumlah banyak. Tulang-tulang di lengannya berderak seperti patah, namun goloknya tetap menusuk maju, menembus pertahanan emas Jenderal Long.
Ujung Golok Sunyi berhasil menggores zirah emas sang Jenderal tepat di bagian dada, meninggalkan jejak hitam yang langsung menjalar seperti akar busuk.
"Ughh!" Jenderal Long terhuyung mundur.
Wajahnya yang perkasa mendadak pucat. Ia merasakan hawa kematian merambat masuk ke jantungnya, membisikkan keputusasaan yang belum pernah dirasakan seumur hidupnya.
Liang Shan memanfaatkan momentum itu. Dengan sisa tenaga yang menghancurkan kesadarannya, ia memutar tubuh dan melompat ke arah jurang di belakang kuil yang di bawahnya mengalir sungai deras.
"Jenderal ..., jika hari ini aku mati, maka hantu-hantu ini akan tetap mencarimu!" suara Liang Shan menghilang bersama jatuhnya tubuhnya ke dalam kegelapan jurang.
Jenderal Long mencoba mengejar, namun langkahnya goyah. Ia jatuh bertumpu pada pedangnya.
"Cepat ..., kejar dia ..." bisiknya kepada Pasukan Gigi Naga yang baru saja tiba, sebelum dia sendiri jatuh pingsan dengan luka hitam yang masih berasap di dadanya.