Aruna dan Genta adalah definisi air dan minyak. Di kantor penerbitan tempat mereka bekerja, tidak ada hari tanpa adu mulut. Namun di balik layar ponsel, mereka adalah dua penulis anonim yang saling mengagumi karya satu sama lain melalui DM NovelToon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Playlist dan Perang Frekuensi
Mobil hitam itu melaju stabil di jalur tengah tol Cipularang. Di luar jendela, jajaran pohon jati yang kokoh dan perbukitan hijau mulai kelihatan, tapi suasana di dalam mobil masih sama, sekaku kerah kemeja Genta yang disetrika pakai pelicin dosis tinggi.
Gue melirik Genta. Pria itu masih fokus menatap jalan seolah lagi mengedit naskah penting, sementara kedua tangannya memegang kendali setir dengan posisi simetris. Gue ngerasa mulai ngantuk karena bosan. Gue butuh suara. Gue butuh sesuatu buat mengalihkan fakta kalau gue lagi terjebak dalam satu mobil bareng pria yang lebih mirip patung lilin daripada manusia.
“Pak,” panggil gue, memecah kesunyian yang menurut gue sudah masuk tahap tingkat tinggi.
“Ya?” jawab Genta singkat, padat, dan nggak informatif.
“Bosen nih, Pak. Kayaknya kalau kita diem-dieman terus begini, saya bisa denger suara bakteri lagi kawin di kursi belakang. Boleh nyalain radio?”
Genta cuma mengangguk tipis sekali. “Silakan. Asal jangan frekuensi yang isinya orang bergosip.”
Gue memutar bola mata. Gue segera menekan tombol power dan mengaktifkan Bluetooth. Dengan senyum penuh kemenangan, gue putar lagu indie folk yang lagi naik daun. Petikan gitar akustik yang mendayu, diikuti suara vokalis pria yang mendesah lirih soal "elegi rindu yang tak kunjung menemui titik."
Gue memejamkan mata, kepala gue bergoyang pelan mengikuti irama. Rasanya puitis banget, 'Senja' banget. Tapi, kebahagiaan itu cuma bertahan sepuluh detik sebelum gue dengar suara dengusan dari arah kursi pengemudi.
Genta mengernyit, dahinya berkerut seperti habis mencium bau sampah. “Lagu apa ini, Aruna? Nggak ada strukturnya. Melodinya malas, dan liriknya... apa tadi? Elegi rindu yang nggak menemui titik? Itu secara tata bahasa hiperbola banget dan nggak efisien.”
Gue langsung tegak, menatap Genta nggak terima. “Ini namanya seni, Pak! Estetika! Perasaan itu memang sering kali hiperbola, nggak bisa diukur pakai penggaris atau dianalisis pakai rumus logika Bapak yang kaku itu.”
“Seni tetap butuh presisi,” balas Genta telak. “Kalau rindunya nggak ketemu titik, ya berarti dia nggak mau selesai. Itu namanya pemborosan kata-kata. Penulis lagu ini pasti nggak pernah belajar cara nyusun paragraf yang efektif.”
“Aduh, Pak! Ini lagu buat dinikmatin pakai hati, bukan buat dikasih track changes!” Gue mulai gemas. “Bapak ini bener-bener ya, hidupnya kayaknya isinya cuma subjek, predikat, objek, sama tanda titik.”
Genta nggak membalas. Alih-alih berdebat, tangannya yang panjang tiba-tiba bergerak ke arah layar monitor mp3 di dashboard mobilnya. Tanpa permisi, dia menekan tombol next dan mengganti sumber audio ke playlist pribadinya.
Seketika, suara gitar hangat tadi diganti denting piano klasik yang berat dan lambat. Musik orkestra tanpa vokal yang terdengar agung, tapi di telinga gue, ini terdengar kayak musik latar adegan pemakaman bangsawan di film-film kolosal.
Gue melongo. “Pak? Serius? Bapak mau kita tidur di jalan? Ini mah musik buat pengantar tidur atau buat ngiringin jenazah ke liang lahat, Pak!”
“Ini Chopin, Aruna. Komposisi yang jenius. Musik klasik itu menata frekuensi otak supaya fokus,” jawab Genta tenang.
“Fokus buat pingsan karena bosen, maksudnya?” Gue mendengus keras. Gue langsung menyambar HP di paha dan membuka aplikasi NovelToon.
Senja_Sastra: Kaka’s! Tolongin gue! Si Monster bener-berner gila! Dia baru aja ngesabotase lagu indie favorit gue dan ganti jadi musik pemakaman klasik! Sumpah, selera musiknya minus seratus! Gue berasa lagi ada di dalem ambulans yang jalannya pelan banget!
Satu menit kemudian, mobil melambat karena macet di lampu merah keluar tol Pasteur. Gue lihat Genta melirik HPnya di dashboard. Matanya sedikit menyipit. Gue buru-buru memalingkan wajah ke jendela, pura-pura sibuk memperhatikan penjual tahu sumedang, padahal jantung gue sudah berdebar nggak karuan.
Di kursi pengemudi, Genta merasakan getaran aneh di dadanya. Ada senyum miring yang muncul di sudut bibir Genta—tipis banget, hampir nggak kelihatan kalau nggak diperhatiin secara teliti. Dia mengetik balasan dengan satu tangan.
Drrtt. HP gue bergetar.
Kaka’s: Klasik itu menenangkan saraf, Senja. Mungkin dia sengaja ganti lagunya biar lo nggak terlalu berisik.
Gue baru aja mau membalas, pas pesan tambahan dari Kaka’s masuk.
Kaka’s: ...atau mungkin, dia cuma mau suasana jadi lebih tenang supaya dia bisa fokus nyetir... atau mungkin fokus dengerin suara napas lo?
Deg.
Wajah gue mendadak panas. Gue merasa kayak baru aja disiram air mendidih. Gue melirik Genta penuh kecurigaan. Pria itu masih diam, wajahnya kembali datar seolah nggak kirim pesan yang bikin jantung orang copot.
“Bapak... kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya gue menuduh, meskipun suara gue sedikit gemetar.
Genta menoleh sekilas. “Siapa yang senyum? Saya cuma mikir kalau naskah kolaborasi kita butuh lebih banyak unsur... ketenangan. Kayak musik ini.”
Gue mendengus, berusaha menutupi rona merah di pipi. “Ketenangan Bapak itu membosankan. Bapak harus belajar kalau hidup itu butuh sedikit kekacauan biar seru.”
“Kekacauan seperti kamu?” tanya Genta pendek.
Gue terdiam. Nggak tahu itu hinaan atau... sesuatu yang lain. Gue balik ke HP, ngetik buat Kaka’s dengan jempol gemetaran.
Senja_Sastra: Kaka’s! Lo apa-apaan sih! Jangan becanda yang nggak lucu deh. Masa dengerin napas? Emangnya dia stetoskop?!
Genta melajukan mobil lagi saat lampu hijau. Dia nggak membalas, tapi dalam hati, dia mengakui satu hal, perjalanannya ke Bandung kali ini terasa jauh lebih singkat.
Genta mengeraskan sedikit volume musik Chopinnya, dan kali ini, gue nggak protes lagi. Gue cuma nyenderin kepala ke kaca jendela, mencoba mengatur detak jantung gue yang mendadak punya ritme sendiri, lebih berantakan dari lagu indie mana pun yang pernah gue dengar.
genta sama aruna biar sambil joget 🤭
Mungkin bisa ditambah kata-kata seperti “seolah-olah”, “kayaknya”, atau “gue merasa” biar tetap konsisten.
Overall adegannya sudah tegang banget kok, ini cuma detail kecil aja 🤍 Maaf ya kak🫣🙏🏻🙏🏻