Marsya adalah seorang dokter umum yang memiliki masa lalu kelam. Bahkan akibat kejadian masa lalu, Marsya memiliki trauma akan ketakutannya kepada pria tua.
Hingga suatu malam, Marsya mendapatkan pasien yang memaksa masuk ke dalam kliniknya dengan luka tembak di tangannya. Marsya tidak tahu jika pria itu adalah ketua mafia yang paling kejam.
Marsya tidak menyangka jika pertemuan mereka adalah awal dari perjalanan baru Marsya. Dan yang lebih mengejutkan lagi, ternyata ketua mafia yang bernama King itu ada kaitannya dengan masa lalu Marsya.
Akankan Marsya bisa membalaskan dendam masa lalunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17 Kecurigaan Marsya
Sesampainya di rumah, Arsy dan Ratu langsung berlari masuk ke dalam kamar masing-masing. Begitu pun Andrew yang pergi entah ke mana. Marsya sedikit lelah, dia pun melangkahkan kakinya menuju kamarnya.
Pada saat Marsya hendak masuk ke dalam kamarnya, tiba-tiba Marsya dikagetkan dengan kemunculan Raja yang keluar dari kamar Tessa. Marsya yang takut ketahuan, akhirnya bersembunyi di balik dinding. Raja dan Tessa tampak mesra membuat Marsya membelalakkan matanya.
"Bukanya Nyonya Tessa calon istrinya Tuan King? tapi kenapa sekarang malah mesra-mesraan bersama Tuan Raja?" batin Marsya.
Marsya memang sudah sejak lama merasa curiga kepada Tessa dan Raja. Dari semenjak kepulangannya, Raja yang selalu menjaga dan mengurus Tessa dan itu membuat Marsya mulai curiga akan hubungan keduanya. "Apa jangan-jangan mereka ada hubungan tersembunyi?" batin Marsya.
Raja dengan cepat pergi dari sana dan Tessa pun kembali masuk ke dalam kamarnya. Merasa sudah tidak ada siapa-siapa Marsya pun dengan cepat masuk ke dalam kamarnya. Marsya memegang dadanya, merasa sangat terkejut dengan apa yang barusan dia lihat.
"Apa-apaan ini, sebenarnya ada hubungan apa antara mereka berdua? apa Tuan King tahu semua ini? tapi kalau dilihat-lihat Arsya dan Ratu memang lebih mirip kepada Tuan Raja dibandingkan Tuan King, apa jangan-jangan anak-anak itu anaknya Tuan Raja?" batin Marsya.
Pada saat Marsya sedang merasa kaget dengan apa yang barusan dia lihat, berbeda dengan King yang saat ini sedang melakukan misi penyelundupan barang-barang terlarang. Dia akan bertemu dengan Mafia lainnya karena Mafia itu memesan barang-barang terlarang dari King. King hanya membawa dua orang pengawal karena dia berpikir kalau Mafia itu hanya ingin memesan barang dari dirinya.
"Ini barang yang anda minta," ucap King dengan memberikan sebuah koper hitam dan menyimpannya di atas meja.
Seorang pria yang diketahui sebagai bosnya itu membuka koper dan memeriksa barang yang dia pesan. Isinya benar-benar sesuai dengan pesanannya, namun dia tampak memainkan mata kepada anak buahnya sebagai kode. Secepat kilat, anak buah orang itu semuanya menodongkan senjata kepada King dan kedua pengawalnya.
"Apa maksud dari semua ini?" geram King.
"Jangan membodohi aku, kamu pikir aku orang bodoh yang tidak tahu apa-apa! itu bukan barang asli tapi palsu!" bentak si ketua Mafia kepada King.
King membelalakkan matanya, dia tidak percaya dengan apa yang diucapkan kliennya itu. "Apa? jangan main-main denganku, aku tidak pernah menjual barang palsu," sahut King dengan tatapan tajamnya.
"Terus, ini apa buktinya!" si Bos Mafia melempar koper itu sehingga barang-barang yang ada di dalamnya berserakan.
King mengambil satu bungkus barang itu, sementara anak buah si bos Mafia masih fokus menodongkan senjata mereka ke arah tubuh King. Mereka tahu siapa King, mereka harus berhati-hati dan tidak boleh lengah. King mulai mencicipi barang itu dan ternyata memang benar barang itu palsu dan King bingung siapa yang sudah berani menukar barangnya itu dengan yang palsu.
"Brengsek, siapa yang sudah berani menukar barang ini?" batin King dengan geramnya.
King masih terdiam, dia sedang memutar otak mencari cara untuk kabur dari tempat itu. Mata elang King mulai menelisik ruangan kecil yang pengap udara dan hanya terdapat satu lampu gantung yang menyala. Seketika sudut bibir King terangkat, dengan cepat dia mengambil pistol dari pinggangnya dan menembak lampu membuat ruangan itu gelap.
"Kurang ajar, jangan sampai King lolos!" teriak si Bos Mafia.
Salah satu anak buah si Bos Mafia segera menyalakan senter dan ternyata King dan kedua anak buahnya sudah tidak ada. "Mereka sudah kabur, Bos," seru salah satu anak buahnya.
"Kurang ajar, brengsek." Si Bos Mafia ngamuk karena lagi-lagi King bisa melarikan diri.
King dan kedua anak buahnya berhasil melarikan diri, jika mereka tidak kabur sudah dipastikan dia akan berakhir di tempat itu. "Siapa yang sudah berani menukar barang aku? apa ada penyelundup di tempat kita?" bentak King.
"Maaf Tuan, ini semua kelalaian kami," sahut salah satu anak buah King.
"Cari orang yang sudah menyelundup ke tempat aku!" perintah King.
"Baik, Tuan."
King pun kembali ke markasnya, dia melihat ponselnya dan pesan yang dia kirim kepada Tessa sama sekali belum Tessa balas. "Dia ke mana, kenapa pesan dari aku tidak dia balas?" geram King dan melempar ponselnya sampai hancur.
King semakin emosi, dia berharap Tessa sudah membalas pesannya karena King hanya itu yang membuatnya semangat. Namun ternyata Tessa sama sekali tidak membalasnya dan itu membuat King semakin marah kepada Tessa. Saat ini King sangat menyeramkan, suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja dan bisa diperkirakan jika ada orang yang membuatnya marah, orang itu akan tinggal nama saja.
Beberapa saat kemudian, pintu ruangannya ada yang mengetuk. "Masuk!"
"Maaf Tuan, kami sudah menemukan orang itu. Ternyata dia memang anak buah Mr.Lim namun disuruh menyamar jadi anak buah Tuan untuk menukar barang kita supaya dia bisa menyalahkan Tuan dan ada alasan untuk membunuh Tuan," ucap salah satu anak buah King.
King mengepalkan kedua tangannya. "Di mana orang itu?" tanya King dingin.
"Ada di ruangan bawah tanah."
King mengambil senjatanya dan sebuah pisau kecil. King membuka pintu ruangan bawah tanah itu, terlihat seorang pria dengan wajah yang sudah dipenuhi dengan keringat dan sangat pucat karena ketakutan. Tubuh pria itu bergetar hebat melihat kedatangan King.
"Tuan, maafkan saya. Ampuni saya," ucap pria itu memohon.
King melangkahkan kakinya mendekati si pria yang sudah sangat ketakutan. Tanpa basa-basi King langsung menusukan pisau kecil itu tepat ke jantung si pria. "Jangan main-main denganku," ucap King dengan sorot mata penuh kemarahan.
Seketika orang itu langsung tewas. King yang merasa belum puas dan dipenuhi dengan emosi, memu****si tubuh si pria membuat darah si pria muncrat ke wajah dan tubuh King. King menyeringai kala melihat tubuh mangsanya sudah hancur.
"Lempar tubuh dia ke hutan sana, biarkan hewan buas memakannya," ucap King.
"Baik, Tuan."
King pun pergi ke ruangannya dan segera mandi untuk membersihkan tubuhnya. Malam ini juga dia akan pulang karena perasaan dia sudah tidak enak. Pikirannya terus saja memikirkan Tessa.
Tok... tok... tok...
Pintu kamar Marsya ada yang mengetuk membuat Marsya kaget. Dia pun dengan cepat membukanya dan ternyata itu adalah Tessa. "Boleh aku masuk? ada sesuatu yang mau aku bicarakan denganmu," ucap Tessa.
"Bo--boleh, Nyonya. Silakan." Marsya mempersilakan Tessa masuk ke dalam kamarnya.
"Dr.Marsya, aku ingin meminta tolong kepadamu," ucap Tessa.
"Minta tolong apa?" tanya Marsya gugup.
"Jika nanti King pulang dan menanyakan kegiatan aku selama dia pergi, bilang saja kalau aku yang selalu antar jemput anak-anak dan ponsel aku pun rusak jadi dia tidak akan marah karena jujur saja aku sudah malas membalas pesan dari dia," sahut Tessa.
Marsya hanya bisa menganggukkan kepalanya, ternyata kecurigaan dia selama ini memang benar jika Tessa menjalin hubungan dengan Raja tanpa sepengetahuan King.
kurung aja mereka di ruang bawah tanah selamanya king
duh kapan sih king tau perselingkuhan raja sama tessa