Follow Instagram Author @tulisan_bee 😘
Session 1 - Xavier - Cassandra [Tamat]
Session 2 - Roman - Alesha [Tamat]
Session 3 - Ongoing
Tiga tahun menjalani pernikahan akhirnya membawa Alesha pada keputusan penting, yaitu meminta perceraian dari sang suami, Roman Alvero.
Apakah keretakan rumah tangga itu akan berakhir di persidangan? Atau mampukah Roman, mempertahankan Alesha sekali lagi?
~Selamat membaca terima kasih sudah mampir~ ♥️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NadiraBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Kencan (1)
"Dia datang, terus datang. Seperti penagih hutang." ~Cassandra Aglenia.
.
.
.
Cassandra Aglenia POV.
Rasanya aku ingin menyerah saja. Hidupku ini apa tidak terlalu berat ya? Sudahlah harus kuliah dengan biaya seminimal mungkin, bekerja banting tulang sana sini untuk membantu ekonomi keluarga, sekarang di hadapkan pada pria sinting yang menyebutku sebagai miliknya. Astaga, aku bisa pecah kepala kalau seperti ini terus.
Bahkan saat aku berfikir keras bagaimana caranya untuk mendapat uang agar Ibu dan Ayah tidak bertengkar untuk beberapa hari, Alesha tiba-tiba datang dan menyodorkan sebuah surat. Surat dengan tulisan tangan seseorang di dalamnya. Di zaman secanggih ini mungkin dia berfikir hal itu romantis? Cih, dia kuno sekali. Kenapa tidak mengirim pesan melalui aplikasi pesan instan atau apalah itu. Kenapa harus surat?
Perutku mual membacanya. Ditambah lagi aku belum makan dengan baik sejak pagi tadi. Jadwal kuliahku hari ini kosong, dan aku berniat untuk mencari cara agar bisa segera mendapatkan uang. Namun membaca surat lelaki itu membuatku ingin muntah saja.
Entah dia siapa, apa keperluannya, hingga kenapa aku bisa terlibat dengannya, aku juga tidak tahu. Dia datang tiba-tiba, meneleponku di tengah malam dan kini mengajakku kencan melalui surat ini. Ya Tuhan, ampuni dosa-dosaku.
***
Author POV.
Cassandra terbelalak kaget melihat lelaki itu telah berdiri di luar kafe. Kali ini dia tidak masuk sebagai pengunjung, namun dia mondar-mandir di luar kafe seperti orang kurang kerjaan. Cassandra berusaha mengabaikannya, meskipun dia tahu lelaki itu telah tahu dia meliriknya karena mata mereka yang beradu pandang beberapa detik lalu.
Alesha yang sedang mengatur display kue di samping Cassandra menyenggol lengan gadis itu pelan.
"Cass, itu dia. Yang ngirimin lo surat," katanya setengah berbisik. Matanya tidak lepas dari cowok keren itu, kali ini dia telah bertukar outfit, mengenakan jeans keluaran sebuah brand ternama dan balutan jaket kulit.
Cassandra masih menunduk, tidak menaikkan kepalanya.
"Abaikan aja," katanya membalas Alesha, yang dibalas dengan senggolan lebih keras kali ini.
"Dia terus liat kesini. Astaga, kenapa ganteng banget sih," ujar Alesha terpukau. Cassandra refleks menegakkan kepalanya, tanpa sadar bertatapan dengan pria itu.
Pria itu tersenyum dari luar kaca. Dia melambaikan tangannya dan memberi isyarat pada Cassandra untuk menghampirinya di luar kafe. Tentunya dengan senyuman manisnya yang membuatnya memang --tampan. Cassandra mengutuk dirinya sendiri. Setelah beberapa detik berfikir, dia akhirnya memutuskan sesuatu.
"Gue keluar bentar ya," katanya pada Alesha. Gadis itu langsung mengangguk.
"Sukses!" serunya tertahan, pandangannya mengikuti langkah Cassandra yang perlahan menuju pintu untuk menghampiri pria itu.
Xavier tersenyum lebar.
"Kau sehat?" tanyanya basa-basi. Kini menatap pada Cassandra yang berdiri tepat di depannya.
Tidak menjawab, Cassandra mengeluarkan sepucuk surat dari dalam kantong celemeknya, menyerahkan kembali pada pria itu.
"Ah, kau sudah membacanya? Bagaimana?" tanya Xavier senang.
Cassandra menggigit bibirnya. Pria ini sungguh tak tahu malu. Bisa-bisanya dia dengan mudahnya tersenyum lebar begini.
"Kau mengirimiku surat?" tanya Cassandra kembali. Xavier mengangguk bangga.
"Setidaknya ketik lah suratmu itu. Kau tidak tahu tulisanmu jelek?" Cassandra telah berkacak pinggang di depan lelaki itu, tersenyum penuh kemenangan.
Xavier tidak menduga reaksi Cassandra akan seperti ini. Dia menduga Cassandra akan memujinya romantis, atau apalah seperti di film-film. Namun kenyataannya sungguh di luar dugaan.
"Dan kau mau berkencan denganku?" tanya Cassandra lagi, menatap Xavier tajam.
"Jangan harap. Aku tidak akan pernah kencan denganmu!" katanya kesal.
Tanpa menunggu jawaban Xavier, dia berbalik badan untuk beranjak dari sana, namun lengannya telah ditahan oleh pria itu. Cassandra bergidik dalam hati. Adegan ini lagi, fikirnya.
Dia membalik badan. Ingin kembali menyemprot lelaki itu. Bukan, memakinya saja lebih baik.
Xavier berdiri di sana dengan tenang, tersenyum kecil di sudut bibirnya sebelum membuka suara.
"Baiklah, aku minta maaf. Lain kali akan ku kirimkan surat dengan ketikan," kata pria itu jelas. Cassandra melirik lengannya yang masih berada dalam genggaman Xavier.
"Bisa kau lepaskan tanganmu?" tanyanya sinis.
Xavier tidak bergeming, tidak menghiraukan kata-kata Cassandra barusan.
"Berkencanlah denganku. Aku perlu membawa seseorang ke pesta temanku. Jadilah pacarku," katanya setenang air.
Cassandra terbatuk mendengar penuturan pria itu. Anehnya, pria itu terlihat tenang sekali.
"A.. Apa? Pacarmu?!" katanya terbelalak.
Xavier mengangguk dan tersenyum.
"Aku bosan didekati banyak wanita. Jadilah pacarku dan temani aku malam ini. Akan aku berikan apapun yang kau mau," kata Xavier lagi.
Cassandra menatap curiga pada lelaki di depannya ini, namun tiba-tiba dia teringat akan kesulitan yang dihadapi keluarganya belakangan ini. Dilihat dari penampilannya, lelaki ini mungkin saja memiliki banyak uang.
Cassandra bergelut dalam fikirannya. Namun harga dirinya tidak serendah itu. Dia tidak mau menjual dirinya hanya untuk uang.
Melihat Cassandra berfikir sejenak, Xavier tersenyum.
"Kau butuh uang? Aku akan berikan. Namun bantu aku malam ini," bujuknya lagi.
Cassandra ragu-ragu.
"Apa yang harus aku lakukan?"
Xavier menyeringai senang.
"Jadi pacarku saja," katanya mendekat, mengurangi jarak di antara mereka. Cassandra refleks memundurkan badannya cepat.
Xavier menurunkan kepalanya pelan, memastikan Cassandra mendengar kata-kata yang akan dia katakan, tepat di telinga gadis itu.
"Dan mungkin aku akan menggandeng tanganmu,"
.
.
.
🌾Bersambung🌾
~Yuk dukung dgn like, vote dan komen ya readers.. selamat membaca 🙏
modusnya bisa aja bang roman!
atau gabungan di cerita cassandranya ya