Dijodohkan dengan putra seorang bos mafia? Fiorella Ferraz, delapan belas tahun, sudah bertekad menolak. Dia diseret dari Berlin ke Sydney untuk pesta pertunangan yang tidak pernah dia inginkan, dan di depan semua orang dia berani berkata: aku tidak mau menikah.
Satu orang tidak terima dibantah. Argo Romanov, bos mafia Australia sekaligus calon mertuanya, pria dingin yang tak pernah ditentang siapa pun. Gadis keras kepala itu langsung dia tahan di rumahnya, "sampai tahu aturan".
Namun semakin sering mereka bertengkar, semakin sulit Fiorella menjelaskan kenapa tubuhnya bereaksi setiap kali pria itu mendekat. Dan semakin keras Argo berusaha menjauh, semakin ia kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Di tengah peperangan antar mafia, kontrak pernikahan yang membelenggu dua keluarga, dan rahasia yang menunggu terbongkar, siapa yang sebenarnya sedang menaklukkan siapa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larissa Marcelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17 - Saling Tertarik
...ARGO ROMANOV...
Bocah gila! Gila dan sinting! Dia berani-beraninya menciumku. Tak pernah kubayangkan dia seberani itu, sampai menyuruhku mencium bibirnya. Dia tidak takut padaku, tidak ada sedikit pun rasa gentar di matanya, dan dia tidak peduli kalau ada yang melihat kami. Sialan, nyaris saja ketahuan. Kalau yang datang Loretha, bukan Blake, habis aku. Hidup bocah itu juga ikut hancur.
Aku mulai gila. Tiap kali memejamkan mata, aku mendengar suara manisnya. Rasa bibir mungil itu di bibirku bikin pikiranku melantur ke mana-mana. Dia ada di dalam rumahku, ini gila namanya. Argo, jangan rusak semuanya cuma gara-gara vagina perawan.
* * *
Aku terbangun kaget karena ponselku berbunyi. Hati-hati aku bangkit supaya Loretha tidak terbangun, lalu menoleh ke arahnya, dia tidur nyenyak. Kuambil ponselku dan kulihat nama Fiorella, dia baru saja mengirim pesan.
📱 Maaf soal ciuman tadi, aku tidak bermaksud bikin kamu kesal. Aku di kamar dengan kamar mandi dalam di lantai tiga. Kalau tidak mau datang, aku mengerti.
📱 Kamu butuh baju pasien gangguan jiwa, dasar gila. Rumah ini penuh kamera, kembali ke kamarmu dan tidur.
📱 Aku cuma mau minta maaf, Tuan Argo, tapi aku mengerti. Aku kembali ke kamarku.
📱 Tetap di situ, Nona. Aku datang!
Aku memakai celana training dan kaus, lalu keluar kamar pelan-pelan. Hidupku sudah di ujung tanduk, persetan, aku harus tahu apa maunya di tengah malam begini.
Sampai di sana, kubuka pintu perlahan dan kulihat dia duduk di ranjang memakai jubah mandi hitam. Aku masuk dan menutup pintu di belakangku.
"Hai, Tuan Argo." Aku langsung terangsang begitu dia membisikkan namaku.
"Kamu sedang apa?" Aku mendekat. Dia bangkit dari ranjang, membuka jubahnya, dan membiarkannya jatuh ke lantai.
Mataku menyusuri tubuhnya yang terpahat sempurna. Dadanya terbuka sepenuhnya, putingnya merah muda dan bulat. Mulutku berliur, penisku seperti punya nyawa sendiri. Dia hanya memakai celana dalam renda hitam.
"Kalau kamu tidak meniduriku sekarang juga, aku akan menyerahkan diri ke laki-laki lain, dan kamu tidak bisa mencegahku."
"Kamu itu jalang kecil, Fiorella. Mau menyerahkan diri ke sembarang orang?"
"Hanya padamu, Tuan Argo." Dia mendekat dan mengalungkan lengannya ke bahuku. Jantungku belum pernah berdetak sekencang ini.
"Aku akan menyetubuhimu dengan keras, Fiorella. Aku akan menyakitimu, dan jangan merengek sesudahnya."
"Aku tidak akan merengek, Tuan Argo." Dia berlutut dan menarik celanaku ke bawah. Begitu melihat tonjolan di balik celana dalamku, dia mendongak menatapku.
"Takut?" Dia tersenyum dan menurunkan celana dalamku. Penisku yang tegang berada beberapa senti dari mulutnya. "Mulut kecil ini muat sebesar itu?" Sebagai jawaban, dia menggenggam penisku. Tangannya mungil sekali. Dia mulai mengurutnya pelan-pelan.
Dengan mudah kuangkat dia dan kulempar ke ranjang.
"Hmm..." Dia mengerang.
"Aku tiduri kamu sekarang juga, bocah nakal." Kubuka kakinya. Vagina itu sudah siap kunikmati ketika dia mulai berteriak.
"Berhenti, Argo! Berhenti!"
"Diam, pelankan suaramu."
"Berhenti, kumohon!" Dia terus berteriak.
Aku mundur kaget, tidak mengerti kenapa dia menjerit-jerit begitu. Karena dia tidak juga berhenti, aku menindih tubuhnya dan membekap mulutnya. Fiorella terus meronta.
"Kubunuh kamu kalau tidak berhenti bertingkah gila begini."
"Apa-apaan ini?" Loretha sudah berdiri di kamar, terkejut menatap tubuh telanjang kami.
* * *
Aku membuka mata dan mendengar jantungku menghantam dada, keringat menetes di wajahku. Aku duduk di ranjang. Loretha tidur tenang. Penisku tegang penuh gara-gara mimpi itu, mungkin itu mimpi buruk. Aku marah dan tidak tahu kenapa. Rasanya aku mau mengocok sambil memikirkan bocah itu. Aku benci diriku sendiri karena memimpikan si lolita itu, dan benci dia karena menempelkan bibirnya ke bibirku tanpa izin. Kulihat ponselku, sekarang pukul 02.00 pagi.
Aku berpakaian dan keluar kamar. Aku tidak akan bisa tidur lagi dalam waktu dekat. Mungkin ini peringatan, bocah itu pembawa masalah. Sampai di lantai bawah, kulihat lampu dapur menyala. Aku masuk dan menemukan Fiorella di sana, memakai gaun tidur putih transparan. Begitu mataku jatuh ke tubuh itu, gairahku kembali.
"Itu pakaian apa, Fiorella?" Dia menoleh kaget, tidak sadar aku masuk.
"Gaun tidur, Tuan Argo."
"Transparan?" Aku mengambil gelas dan menuangkan minuman.
"Cachaça?" tanyanya sambil menatapku.
"Ada masalah?"
"Tidak ada."
"Kamu sendiri, ngapain di sini?"
"Aku mimpi, jadi tidak bisa tidur lagi." Saat kulirik, tampak putingnya menonjol.
"Bocah, rumah ini penuh penjaga, tidak boleh berkeliaran memakai baju seperti itu."
"Baju seperti apa?" Dia memandangi tubuhnya sendiri, sengaja menantangku. "Baby doll?"
"Entah kamu sadar atau tidak, itu transparan." Mata hijaunya memergokiku sedang memelototi dadanya. Aku membuang muka dan menenggak habis isi gelas.
"Kamu biasa bangun jam dua pagi buat minum?"
"Aku minum kalau ada yang mengganggu pikiranku."
"Apa yang mengganggumu?" Dia mengitari meja dan berhenti di sampingku. Aku berusaha tidak melihatnya, pakaian itu membuatnya terlalu menggoda.
"Beberapa masalah." Aku mengisi gelas kedua. Dia menaruh tangannya di atas tanganku dan menahannya, supaya gelas itu tidak sampai ke mulutku.
"Ini bukan waktunya minum, Argo." Dia melepas tanganku dan bersandar ke meja.
Sekarang dia nyaris berhadapan denganku, seluruh tubuhnya terlihat jelas di balik kain setipis itu.
"Kamu tidak takut padaku? Aku pria berbahaya, dan kamu makin hari makin berani."
"Aku tidak takut padamu, Tuan Argo. Aku merasakan... hal lain." Dia memalingkan matanya dari mataku.
Aku bisa menebak maksudnya. Aku makin terangsang, sialan! Dia tidak boleh tahu.
"Kamu suka?"
"Suka apa?" tanyaku, pura-pura tak paham.
"Ciuman kita."
Tanpa sadar aku mendekat dan menempelkan satu jari ke bibirnya.
"Jangan bilang begitu. Itu bukan ciuman, tidak terjadi apa-apa, paham?" Fiorella memegang tanganku dan menjauhkannya dari bibirnya. Saat itu aku melihat lebam ungu di lengannya. Apa aku mencengkeramnya sekeras itu?
"Bagiku itu ciuman."
"Kamu tidak tahu apa-apa, Nona. Tidur sana." Aku menyuruhnya menyimpan botol cachaça itu kembali ke lemari.
"Kukira Tuan ini pemberani." Aku berbalik menghadapnya. "Takut istrimu tahu?"
"Tidak ada yang perlu diketahui."
"Kalau begitu Tuan takut padaku. Takut merasa tertarik padaku. Tahu apa? Persetan! Tuan memperlakukanku begini bukan tanpa alasan, melarangku dekat dengan tunanganku sendiri, protes soal gaunku yang transparan. Cara Tuan melihat tubuhku." Aku mendapati diriku menatap dadanya lagi. "Aku cantik, Argo?"
"Seksi, Fiorella." Aku tidak sanggup menahan diri, gairahku sudah terlalu tinggi. Dia tersenyum mendengar jawabanku, lalu pergi, meninggalkanku sendirian di dapur.
Setan kecil itu punya tubuh luar biasa, bokongnya bulat, dan melihatnya berkeliaran dengan pakaian begitu membuatku cemburu melebihi batas. Tinggal sedikit lebih dari 20 hari sampai dia keluar dari rumah ini sebagai istri orang, dan aku sangsi aku sanggup menjaga penisku tetap di dalam celana sampai saat itu. Tombol persetan-semuanya hampir kutekan.