Nayara tak pernah menyangka, pria yang dinikahinya dengan penuh cinta, justru tega mengkhianatinya.
Adrian berselingkuh, bahkan menghamili wanita lain, di belakang dirinya.
Di tengah luka dan pengkhianatan, hadir seorang pria yang mencintainya.
Rendra, pria yang mencintai Nayara dalam diam dan bersedia memberinya ketulusan, dan cinta yang tak pernah ia dapatkan dari suaminya sendiri.
Kini, Nayara dihadapkan pada pilihan yang menyakitkan: bertahan demi pernikahan yang telah dikhianati atau pergi bersama luka yang belum sembuh.
Sementara itu, ada hati lain yang menunggunya, berharap suatu hari Nayara mampu membuka kembali pintu cintanya.
Namun, ketika Nayara akhirnya menentukan pilihannya, siapa yang akan ia genggam, suami yang mengkhianatinya, atau pria yang mencintainya? Dan akankah Adrian rela kehilangan istri yang selama ini ia sia-siakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23: Rahasia di Balik Pernikahan
____🌺
BRAK!
Pintu depan rumah didorong terbuka dengan kasar hingga membentur dinding di baliknya.
Adrian yang sedang duduk gelisah di sofa ruang tamu langsung berdiri. Pria itu sudah pulang lebih awal dari kantor. Kemejanya terlihat kusut, dasinya sudah dilonggarkan, dan wajahnya tampak tegang saat melihat Nayara melangkah masuk dengan napas memburu serta tatapan mata yang tajam.
"Nay, kamu dari mana? Mama baru saja meneleponku. Katanya kamu—"
Adrian menghentikan ucapannya ketika melihat ekspresi istrinya.
"Jabatan direktur cabang, Mas?" potong Nayara cepat. Suaranya menggema keras di ruang tamu yang sunyi.
Langkah Adrian terhenti. Mulutnya yang semula terbuka perlahan terkatup. Wajah pria itu berubah semakin pucat.
Nayara berjalan mendekat, lalu berhenti tepat dua langkah di hadapan suaminya. Ia menatap Adrian dari ujung kepala hingga kaki dengan sorot mata penuh rasa jijik.
"Kenapa kamu diam, Mas?" cecar Nayara sambil mengepalkan tangan di sisi tubuhnya.
"Ibumu baru saja menunjukkan dokumen perjanjian kerja sama itu kepadaku. Ada klausul khusus yang mencantumkan nama Selena dan direktur utama perusahaanmu. Di dalamnya ada pembahasan tentang jabatan, posisi, dan uang."
Adrian menelan ludah dengan susah payah. Ia mengusap tengkuknya, berusaha menghindari tatapan istrinya.
"Itu ... urusan internal perusahaan, Nay. Kamu tidak mengerti," jawab Adrian terbata-bata.
"Urusan internal yang membuat keluargamu begitu mendukung Selena?" tanya Nayara dengan nada meninggi. "Aku pikir perselingkuhan kalian cuma masalah nafsu dan keegoisanmu! Ternyata jauh lebih buruk dari itu. Keluargamu mendukung perempuan itu bukan cuma karena bayi di perutnya, kan? Mereka mendukung Selena karena dia bagian dari rencana bisnis keluarga kalian!"
"Itu rencana Mama dan Papa, Nayara! Bukan rencanaku!" bantah Adrian keras. Pria itu akhirnya mengangkat wajah, berusaha membela diri.
"Tidak usah berbohong lagi, Mas!" sergah Nayara. "Ibumu sendiri yang mengatur agar perusahaan tempat Selena bekerja memenangkan tender! Ibumu sengaja membawa mantan pacarmu kembali ke dekatmu! Dan kamu menyetujuinya!"
"Aku tidak punya pilihan, Nay!" balas Adrian dengan wajah putus asa.
Ia memajukan tubuhnya, mencoba membuat istrinya memahami keadaan yang dihadapinya.
"Enam bulan lalu, perusahaan cabang yang aku pegang hampir bangkrut. Papa mengancam akan mencopot jabatanku kalau aku tidak bisa mendatangkan investor baru. Satu-satunya investor yang bersedia memberikan dana besar saat itu adalah perusahaan tempat Selena bekerja!"
"Lalu, sebagai balasannya, kamu memberikan tubuhmu kepadanya?" cecar Nayara dengan mata membelalak. "Kamu tidur dengannya sebagai bisnis?!"
"Bukan begitu!" teriak Adrian frustrasi. Ia mengacak rambutnya dengan kasar.
"Awalnya, hubungan kami hanya urusan pekerjaan! Tapi Mama dan Selena terus menekanku. Selena memanfaatkan posisinya di perusahaan untuk memintaku menemaninya. Dia bahkan mengancam akan membatalkan investasi kalau aku tidak mau meluangkan waktu bersamanya! Aku terjebak, Nay!"
Nayara tertawa sumbang. Tawa pendek itu terdengar hambar, tetapi menyimpan luka yang begitu dalam.
"Terjebak?" ulang Nayara sinis. "Kamu memesan kamar hotel mewah untuknya dan membelikannya bunga mawar. Itu bukan perbuatan orang yang terjebak, Mas. Itu nafsu laki-laki yang menikmati perselingkuhannya sendiri."
Adrian menggelengkan kepala dengan cepat.
"Kamu tidak tahu betapa beratnya tekanan dari keluargaku," jelas Adrian dengan suara tertahan.
"Sejak bertahun-tahun lalu, bahkan sebelum aku bertemu denganmu, Mama dan Papa memang sudah merencanakan pernikahanku dengan Selena. Keluarganya punya koneksi bisnis yang sangat menguntungkan bagi Mahendra Group."
Alis Nayara bertaut tajam.
"Lalu, kenapa kamu menikahi ku?" tanya Nayara dengan nada menuntut. "Kalau keluargamu sudah merencanakan semuanya dengan Selena, kenapa kamu repot-repot menikahi ku dua tahun lalu?!"
"Karena aku mencintaimu, Nayara!" jawab Adrian lantang sambil menatap lurus ke mata istrinya. "Aku menentang rencana mereka! Aku bertengkar hebat dengan Papa saat mengatakan bahwa aku ingin menikah denganmu! Aku menolak dijodohkan dengan Selena karena aku mencintaimu!"
"Mencintaiku?" ulang Nayara sembari menunjuk dadanya sendiri. "Kamu bilang kamu mencintaiku?"
"Iya!" tegas Adrian. "Pernikahan kita ini adalah keputusanku sendiri, Nay! Aku yang memperjuangkan kamu di depan keluargaku!" lanjutnya dengan penuh keyakinan.
Namun, Nayara tidak lagi terpengaruh oleh kata-kata manis itu. Ia masih mengingat dengan jelas setiap kalimat hinaan yang dilontarkan Marissa setengah jam sebelumnya.
"Pembohong," desis Nayara tajam.
"Aku tidak bohong, Nay! Aku benar-benar memilihmu waktu itu!" sanggah Adrian.
"Kamu menikahi-ku bukan karena kamu mencintaiku, Mas," potong Nayara telak.
"Ibumu sudah menceritakan semuanya kepadaku. Kamu dan keluargamu memilihku karena aku gampang diatur. Karena latar belakang keluargaku sudah hancur, kalian pikir aku bisa disuruh diam di rumah!"
Nayara menarik napas dalam-dalam, tetapi dadanya tetap terasa sesak.
"Kalian membutuhkan perempuan penurut untuk dijadikan tameng citra baikmu sebagai pria berkeluarga. Sementara di belakangku, kamu dan ibumu tetap menjalankan rencana kotor kalian bersama Selena!"
"Itu cuma pikiran Mama, bukan pikiranku!" seru Adrian dengan wajah memerah karena marah. "Bagi Mama, mungkin pernikahan kita cuma alat. Tapi bagiku tidak, Nay! Aku benar-benar menyayangimu. Aku ingin membangun rumah tangga bersamamu!"
"Rumah tangga?" ulang Nayara dengan tawa getir. "Rumah tangga, yang suaminya membiarkan istrinya dihina habis-habisan oleh keluarganya sendiri? Rumah tangga, yang suaminya menghamili mantan pacarnya, lalu menyuruh istrinya menerima anak itu?!"
Nayara mendorong dada Adrian dengan kedua tangannya.
Adrian terdorong mundur satu langkah. Namun, ia segera menangkap kedua pergelangan tangan istrinya dan mencengkeramnya erat.
"Dengarkan aku, Nayara!" pinta Adrian dengan napas memburu. "Aku tahu aku salah karena kembali berhubungan dengan Selena. Aku tidak akan menyangkal kesalahanku. Tapi tolong, percayalah pada satu hal ini. Pernikahanku denganmu adalah keputusanku sendiri, Nay. Kamu istriku."
Nayara menunduk, menatap tangan suaminya yang mencengkeram pergelangan tangannya.
Sesaat kemudian, ia menarik tangannya dengan satu sentakan keras hingga terlepas.
"Jangan sentuh aku, Mas!" bentak Nayara.
Adrian terdiam.
"Aku sudah muak dengan semua alasanmu, Mas. Kata-katamu tidak ada harganya lagi," ujar Nayara dengan suara sedingin es.
"Aku tidak peduli lagi apakah pernikahan ini pilihanmu atau pilihan ibumu. Yang aku tahu, aku akan mengakhirinya hari ini juga."
Setelah berkata demikian, Nayara memutar tubuhnya dan berjalan cepat melewati ruang tamu menuju koridor samping yang mengarah ke ruang kerja pribadi Adrian.
Ruangan itu menjadi tempat mereka menyimpan brankas kecil berisi berbagai dokumen penting rumah tangga.
Melihat arah tujuan istrinya, Adrian langsung menyadari apa yang hendak dilakukan Nayara. Kepanikan kembali muncul di wajahnya. Ia segera berlari menyusul perempuan itu.
"Nay, kamu mau ke mana? Jangan bertindak gegabah!" seru Adrian sambil berusaha menghalangi jalannya.
"Minggir, Mas. Aku mau mengambil buku nikahku, ijazahku, dan akta kelahiranku," jawab Nayara tanpa menoleh. Ia mendorong bahu suaminya untuk membuka jalan. "Aku membutuhkan semua dokumen itu untuk mengurus gugatan cerai ke pengadilan besok pagi."
"Aku sudah bilang, aku tidak akan menceraikan kamu!" bentak Adrian.
Ia berdiri di depan pintu ruang kerja dan merentangkan kedua tangannya untuk menghalangi jalan masuk.
"Aku tidak akan membiarkanmu mengambil buku nikah itu!"
emang lu doang yang bisa 🤣🤣