NovelToon NovelToon
Setelah 8 Tahun ( Ditinggal Nikah)

Setelah 8 Tahun ( Ditinggal Nikah)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:345.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yutantia 10

Setelah 8 tahun pacaran, Nisa yang menunggu dilamar di hari anniversary, justru merima kenyataan pahit jika ia diputuskan oleh Sandi dengan alasan tak setara.

Tapi takdir seperti sedang mengajak bercanda, sebulan kemudian Sandi datang ke rumahnya untuk melamar. Namun bukan ia yang dilamar, melainkan Naina, sang adik yang lulusan S1 dan bekerja sebagai teler di salah satu bank swasta.

Disaat ia terpuruk, ada sosok yang tak sengaja hadir dalam kehidupannya. Sosok yang begitu baik dan humoris, tapi kadang menyebalkan. Dia adalah Januar, seoarang driver ojol.

"Kalau jodoh memang harus setara, kamu nikah sama aku aja, Mbak." Ajakan nikah Januar alias Ojan, hanya disenyumin saja oleh Nisa.

Tapi Ojan, pantang menyerah, ia terus mendekati Nisa, hingga akhirnya wanita itu luluh. Tapi satu kenyataan pahit, membuat Nisa kembali terpuruk. Ternyata selain seorang ojol, Ojan juga merupakan mahasiswa S2. Apakah sekali lagi, ia harus patah hati karena alasan kesetaraan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34

Sepanjang jalan, Dinda terus menggerutu sambil sesekali melihat Nisa yang duduk di jok belakang, ia bonceng. Kesal karena bisa-bisanya sudah masuk, malah keluar lagi, bikin malu gak sih. Hari ini Nisa gak bawa motor, sepertinya dari rumah sudah berencana mau nginap di kosannya. Padahal kan ia belum bilang boleh.

"Nis, kenapa sih tiba-tiba keluar aja? Malu-malu in gak sih?"

"Maaf." Nisa tertunduk dalam.

Dinda pengen marah, tapi gak bisa. Ia melihat Nisa seperti sedih, jadi mana bisa ia marah, bisanya cuma menggerutu dalam hati. "Jadi mau makan dimana kita?" tanyanya agak ketus.

Nisa menghela nafas berat. "Pulang aja deh. Aku capek, Din." Sebenarnya bukan fisik, tapi capek hati. Baru saja disakiti Sandi, sekarang disakiti Ojan. Apa dirinya diciptakan untuk menjadi obyek pesakitan? Sial banget gak sih. Luka lama baru sembuh, tapi sudah muncul luka baru lagi.

Siapa wanita yang bersama Ojan tadi, apa pacarnya? Nisa tersenyum kecut sambil terus memikirkan itu. Ia merasa terlalu bego, sampai berulang kali dibohongi laki-laki. Gak Sandi, gak Ojan, semua sama saja, suka mempermainkan perasaan perempuan. Sekarang pertanyaannya, dimana ia bisa mendapatkan laki-laki yang benar-benar tulus?

...----------------...

Rasa nyeri seketika menjalar di kaki Ojan saat ia memaksakan berdiri tanpa tongkat. Sebenarnya bukan sengaja, tapi reflek, sampai lupa mengambil tongkat yang ia sandarkan di salah satu kursi. Kakinya mengalami patah tulang setelah kecelakaan beberapa hari yang lalu. Kecelakaan akibat terlalu ngebut untuk nganterin pesanan makanan orang. HP nya sampai rusak juga akibat kecelakaan itu juga.

"Jan, mau kemana?" Meysha menahan lengan Ojan. Ia dimintai tolong Tante Dewi untuk menjaga anaknya.

"Mau ngejar seseorang, Sha." Ojan menggunakan kedua telapak tangannya untuk bertumpu pada meja agar kuat berdiri 1 kaki.

"Hah, ngejar!" Meysha syok. "Kaki lo patah, lupa?"

Ojan mende sah pelan, kembali duduk saat sadar tak mungkin bisa mengejar Nisa.

"Ngejar siapa sih?" Meysha menoleh, ke arah pintu.

"Pencuri."

"Hah!" Gadis itu makin syok lagi.

"Pencuri hati gue maksudnya." Ojan tertunduk lesu. Nisa pasti salah faham. Ah, kenapa juga sih, pas berduaan doang sama Meysha, kenapa gak tadi pas ada Mamanya. Dan diantara banyaknya resto, kenapa Nisa harus kesini? Dan kenapa timingnya pas banget saat ia juga ada disana, berduaan dengan Meysha.

Ojan baru saja dari rumah sakit, kontrol kakinya. Kebetulan, Mamanya baru buka restoran di dekat situ, jadi mampir untuk mengecek. Masih baru, masih butuh pengawasan ekstra agar berjalan lancar. Di rumah sakit malah ketemu Meysha, anak teman Mamanya yang lagi koas, diajak deh, mampir ke resto barunya.

"Cie...punya pacar lo, Jan?" goda Meysha.

"Ya punya lah, orang gue ganteng."

"Ganteng-ganteng tapi pincang."

"Mulut!" Ojan mendelik kesal. "Sha, berapa lama sih, sembuhnya kaki gue? Sumpah, gak betah di rumah mulu, pengan bisa kemana-mana kayak dulu."

'Sabar Jan, semua butuh proses. Eh, habis ini, pasti dilarang ngojek lagi sama Mama lo."

Ojan berdecak pelan. Sejak kecelakaan itu, tiap hari, tiap detik, pokok ada kesempatan, Mamanya akan ngomel. Dan kata keramat yang paling sering diucapkan adalah, 'Awas habis ini masih ngojek lagi!'

"Gimana Mey, enak gak makanannnya?" Tanya Bu Dewi yang baru kembali dari dalam ruangan khusus karyawan. Wanita paruh baya dengan celana kulot, blouse, serta hijab senadanya, dan full make up itu, berdiri di samping Meysha, memegang bahunya.

"Enak, Tante. Nanti aku bantu rekomendasikan ke teman-teman. Pas banget lokasinya, gak perlu bawa kendaraan, kami cuma perlu jalan kaki. Aku yakin deh, restoran Tante pasti selalu rame, enak banget makanannya, sumpah."

Bu Dewi tersenyum, puas dengan pujian Meysha, namun saat menatap Ojan, keningnya auto mengkerut, salfok dengan putranya yang terlihat murung. "Kamu kenapa, Jan?"

"Kangen ngojek katanya, Tante," sahut Meysha cepat.

Ojan langsung memelototi gadis cantik yang tertawa di depannya itu.

"Awas kamu masih ngojek lagi!" Bu Dewi mendelik tajam.

"Hari apes gak ada di kalender, Mah. Ini cuma kebetulan aja."

"Enggak. Pokoknya sekali enggak ya enggak. Ingat, ada doa Mama yang menyertai di setiap langkah kamu. Tahukan, apa resikonya kalau gak nurut sama Mama?"

"Apaan sih, Mah." Ojan memutar kedua bola matanya malas.

"Pokoknya gak boleh ngojek lagi. No!"

"No no baby." Meysha menutup mulut dengan telapak tangan, tertawa cekikikan menatap ekspresi pasrah Ojan.

"Motor kamu mau Mama jual."

"Hah, jangan dong Mah! Itu motor kesayangan Ojan."

"Sayang nyawa apa sayang motor?"

"Elah Mama, namanya juga musibah."

...----------------...

Ponsel di tangan Nisa bergetar. Sudah sejak beberapa saat yang lalu, tapi ia abaikan. Tercatat ada 8 panggilan tak terjawab dari Ojan sejak sore tadi hingga sekarang, habis magrib.

[ Mbak, jangan salah faham, cewek tadi cuma teman ]

Nisa tersenyum kecut. Saat ia ajak ketemu, katanya sibuk, tapi kalau cewek lain bisa, seperti itu masih bilang hanya teman? Sudahlah, ia tak mau mengulang kebegoan untuk kedua kalinya. Sudah cukup dia dulu dibohongi Sandi, diselingkuhin, sekarang tak mau mengulang lagi.

[ Mbak, angkat telepon aku. Please... ]

[ Mbak, beneran, yang tadi cuma teman ]

Ish, bilang cuma teman lagi, gerutu Nisa dalam hati. Sekarang aja sibuk klarifikasi, tadi gak ada niatan buat ngejar dia, diem bae. Sudah jelas lah tu, apa penyebabnya, ya karena sedang sama pacarnya.

Ternyata, seseorang yang terlihat tulus, terlihat menggebu-gebu, bisa pret juga pada waktunya. .

Mendengar pintu dibuka, Nisa meletakkan ponsel ke atas bantal. Dinda masuk dengan membawa dua bungkus nasi padang. Dari ekspresi wajahnya terlihat kesal..

Dinda menghela nafas panjang. Baru masuk, sudah langsung disuguhi pemandangan Nisa yang sedang bengong. "Mikirin apa sih, Nis, Sandi? Katanya udah gak mau mikir dia lagi." Meletakan keresek berisi nasi padang ke atas meja, lalu mengambil sendok di rak.

"Apaan sih. Najis banget mikirin dia."

"Lalu, mikirin siapa?"

"Udahlah, aku lapar."

Nisa menarik satu sendok di tangan Dinda, mengambil sebungkus nasi padang, membawanya ke lantai untuk dimakan disana. Beginilah anak kos, makan tanpa meja kursi, hanya lesehan di atas lantai tanpa tikar apalagi karpet mewah. Saat bungkusan dibuka, seketika aroma rendang daging yang lezat, menguar memenuhi kosan satu petak Dinda.

"Nis, HP kamu nyala tuh, geter-geter, ada telepon kek nya." Dinda yang juga duduk di lantai, menatap ponsel di atas bantal.

"Biarin aja." Nisa berusaha fokus pada makanannya meski sebenarnya setiap suapan yang masuk, ia memikirkan Ojan. Memikirkan alasan kenapa Ojan sekitar dua bulan ini begitu melambungkan hatinya. Tega sekali cowok itu, berperilaku seolah mencintainya, tapi ternyata sudah punya pacar.

"Nis, nyala terus itu." Dinda masih salfok. "Gak kamu lihat dulu, takutnya penting."

"Biarin."

Selesai makan, Nisa yang membereskan semuanya. Dinda sudah beli, sekarang gantian dia yang beresin bekas makan mereka.

Saat Nisa keluar membuang sampah, Dinda yang penasaran melihat ponsel temannya itu.

"Ojan?" Dinda mengernyit. "Siapa Ojan?" Ia belum pernah mendengar Nisa menyebut nama itu.

Begitu Nisa kembali, buru-buru ia pura-pura beresin kasur. " Nis, Ojan siapa?" Tapi rasa penasaran membuatnya tak bisa pura-pura, ia kepo.

"Bukan siapa-siapa." Nisa mengambil ponselnya yang masih bergetar, membawanya ke luar kamar. Panggilan itu berakhir saat ia telah ada di luar.

[ Mbak, ketemu yuk. Aku mau jelasin semuanya. ]

Nisa tersenyum getir membaca pesan Ojan 10 menit yang lalu. Kemarin-kemarin nolak ketemu, kenapa sekarang ngajakin?

[ Mbak please, angkat telepon ]

Ponsel Nisa kembali bergetar beberapa detik setelah pesan itu masuk. Ia akhirnya menjawab, tak mau dikira tak tahu diri, bukan pacar kenapa cemburu.

"Hallo. Apa, Jan?"

"Akhirnya." Terdengar helaan nafas lega Ojan. "Mbak, aku ini lagi OTW ke rumah kamu."

"Hah!" Nisa langsung tepok jidat. "Aku gak ada di rumah."

1
Maharani Rani
semangat berjuang buat Ojan dan Nisa💪💪💪
Mahendra Sari Anwar
semangatttt ojan n nisa.💪💪💪🫶
kalain bisa jalanin ujian ini🫶
Septi
ini beneran atau ujian 🥺
Septi
ternyata Ojan punya kembaran
Patrick Khan
nasib nisa di tangan kak othor..pasti bisa lah nisa
Patrick Khan
pergi yg jauh nisa..biar ojan kyk orang gila..emak nya ojan jg gila hormat ternyata
Dew666
💄💄
Turwaty suketi
😍😍Semangat berjuang nis..
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
beneran terjadi perkataan ibumu nisa walo ga bentuk uang
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
ga usah takut nisa.
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
siriiikkkk
Miki Layuk Pangraran
😭😭
Sitikoe
duh kata2 bu dewi benar2 menggores hati nisa meslipun diucapkan dengan kata2 yang sopan dan nada rendah, patah hati ke 2 kalinya. banyak banget baeang kupas di sini
Siti
mending kamu kerja sama bapak nis sambil kuliah dan penuh prestasi kuliah gak pakai lama wisuda .
tp nai pasti bully dirimu tetap semangat aja nis yakin sm dirimu sendiri..
imel
mengusir dengan kata² manis.. aarrggghh
Nurul Hilmi
keluar aja nisa... jgn Terima apapun.
InsyaAllah jodoh. biar ojan yang mencarimu
Shee_👚
nisa: tidak terimakasih untuk tawarannya. tapi maaf cinta saya untuk ojan tak bisa di tukar oleh apa pun
😭😭😭😭


dah nisa lebih baik kamu resign dan kuliah dengan biaya sendiri. masih banyak pekerjaan di luaran sana.
Yeni Fitriani
ya udh nis ambil sj penawaran ibunya ojan.... tp bilng dulu sm ojan klo kamu meninggalkan ojan ats permintaan ibu dewi dan jgn kupa bulng klo kmu beneran cinta sm Ojan dan kuliahlah sampe S3 sprti yg di inginkan bu dewi.... kita lihat akan sprti apa hati bu dewek ketika melihat nisa sdh selesai pendidikan S3 dan ojan msh sj bertahan menjadi jomblo abadi....dan nisa bisa sj jd incaran byk pria yg siap menikahinya di luar sana.
Shee_👚
😭😭😭😭😭😭
nyeseknya jadi nisa, selalu kesenjangan yang jadi masalah percintaan dia. rasanya gak adil kalau hanya memandang orang hanya karena kasta apa lagi hanya masalah pendidikan😭😭
Ayila
aaa nangis bgt bacanya,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!