“Ketika aku masih menjadi Tuan Muda, kalian semua menghormatiku. Namun, setelah dantianku hancur, bahkan keluargaku sendiri menganggapku sampah.”
“Aku telah mengorbankan segalanya untuk kalian. Apakah penghinaan dan pengkhianatan ini balasan yang pantas kuterima?”
Dikhianati sekte, dihina keluarga, dan ditinggalkan orang-orang yang dicintainya, Qin Xuan kehilangan segalanya.
Namun, ketika semua orang menganggapnya tidak berguna, sebuah pagoda misterius justru memilihnya sebagai penguasa.
Mereka telah menghancurkan hidupnya. Kini, Qin Xuan akan membuktikan bahwa mereka telah meremehkan orang yang salah.
🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Mengguncang Peringkat Manusia
Butiran cahaya yang berasal dari hancurnya Jejak Bela Diri Kuang Gang terus mengalir memasuki tubuh Qin Xuan.
Awalnya, ia mengira cahaya tersebut hanyalah sisa energi dari ujian. Namun, setelah merasakan perubahan di dalam tubuhnya, matanya langsung berbinar.
Cahaya itu mengandung energi murni yang sangat besar, disertai sedikit Kekuatan Hukum. Begitu terserap, energi tersebut menyebar ke seluruh tubuh dan memperkuat otot serta tulangnya.
Qin Xuan bahkan merasakan kekuatannya yang semula mencapai delapan puluh sembilan banteng mulai meningkat, perlahan mendekati sembilan puluh banteng.
Jadi, mengalahkan Jejak Bela Diri juga memberikan keuntungan sebesar ini.
Ia tersenyum puas. Selain membantu penyerapan Darah Sejati Iblis Pedang, Tangga Ujian Langit ternyata mampu meningkatkan kekuatannya secara langsung.
Tanpa membuang waktu, Qin Xuan kembali mendaki.
Pada saat yang sama, lonceng kuno di puncak Menara Pertarungan Kota Tianfeng berdentang lima kali berturut-turut.
Suara tersebut menggema ke seluruh kota.
Di arena tingkat Manusia, sebuah papan peringkat kuno berukuran sangat besar turun dari udara. Tiga puluh tiga nama terukir di permukaannya, tersusun berdasarkan kedudukan masing-masing pendekar.
Di hadapan ribuan pasang mata, nama Kuang Gang pada urutan ketiga puluh tiga perlahan menghilang. Sesaat kemudian, nama Qin Xuan muncul menggantikannya.
Sebuah suara tua bergema dari menara, mengumumkan keberhasilan Qin Xuan mengalahkan Jejak Bela Diri Kuang Gang dan resmi menempati urutan ketiga puluh tiga dalam Peringkat Manusia.
Para penonton bersorak. Meskipun telah memperkirakan hasil tersebut, mereka tetap terkesima ketika menyaksikan perubahan pada papan peringkat.
Guru Liu, yang bernama lengkap Liu Yunshi, segera mengeluarkan batu giok komunikasi. Ia harus menyampaikan kabar itu kepada pihak Akademi Bela Diri Tianyuan.
Baginya, Qin Xuan bukan lagi sekadar pendekar muda berbakat. Pemuda itu memiliki kemampuan yang dapat membantu akademi menghadapi Kompetisi Para Jenius Seratus Perguruan Bela Diri, yang akan diselenggarakan tiga bulan kemudian dan diikuti peserta dari seluruh Wilayah Tandus.
Apa pun yang terjadi, akademi harus berusaha merekrutnya, pikir Liu Yunshi.
Sementara itu, di dalam dunia ujian, Qin Xuan telah mencapai anak tangga keempat ratus lima puluh.
Tekanan yang menimpanya kini setara dengan kekuatan empat puluh lima banteng. Bayangan-bayangan banteng muncul di sekeliling tubuhnya ketika ia mengerahkan tenaga untuk menahan tekanan tersebut.
Tiba-tiba, seorang pemuda berjubah hitam muncul menghalangi jalan.
Wajahnya tegas, dengan tatapan dingin yang tidak menunjukkan emosi.
“Zhang Ming, peringkat ketiga puluh dua. Kalahkan aku untuk mengambil kedudukanku.”
Begitu selesai berbicara, Zhang Ming langsung menerjang dari anak tangga yang lebih tinggi. Ia mengerahkan kekuatan empat puluh lima banteng, lalu menghantamkan tinjunya ke arah Qin Xuan.
Qin Xuan tidak menghindar. Ia membalas dengan satu pukulan.
Kedua tinju bertabrakan, menghasilkan ledakan keras. Tubuh Qin Xuan tetap berdiri kokoh, sedangkan Zhang Ming terdorong beberapa langkah ke belakang.
Tanpa menunjukkan rasa sakit, Zhang Ming kembali menyerang. Kali ini, jari-jarinya membentuk cakar, sementara bayangan seekor burung raksasa muncul di belakangnya.
Serangan tersebut berasal dari teknik bela diri tingkat Mendalam kelas tinggi yang mampu meningkatkan kekuatannya.
Namun, Qin Xuan tetap tenang. Ia mengalirkan energi darah ke lengannya, kemudian melancarkan pukulan kedua.
Tinju dan cakar bertabrakan.
Zhang Ming langsung terpental, menghantam anak tangga dengan keras. Tubuhnya pecah menjadi butiran cahaya yang kembali diserap Qin Xuan.
Di luar, lonceng menara kembali berdentang lima kali.
Nama Qin Xuan naik ke peringkat ketiga puluh dua.
Akan tetapi, Qin Xuan tidak berhenti untuk merayakannya. Ia terus menaiki tangga, mencari lawan berikutnya.
Pada anak tangga kelima ratus empat puluh, ia bertemu Jejak Bela Diri pendekar peringkat ketiga puluh satu.
Pendekar tersebut memiliki kekuatan lima puluh empat banteng, yang berarti telah mencapai tingkat kekuatan keenam dalam sistem sembilan tingkatan, atau batas Enam-Sembilan.
Kekuatannya jauh melampaui Zhang Ming.
Meski demikian, Qin Xuan masih mampu mengalahkannya hanya dengan satu pukulan. Tubuh tiruan itu hancur, lalu berubah menjadi cahaya yang memperkuat tubuhnya.
Lonceng kembali berbunyi.
Setelah itu, pendakian Qin Xuan semakin cepat.
Pada anak tangga kelima ratus lima puluh tiga, ia mengalahkan pendekar peringkat ketiga puluh. Anak tangga kelima ratus enam puluh satu mempertemukannya dengan pendekar peringkat kedua puluh sembilan.
Di anak tangga kelima ratus delapan puluh, lawannya telah meningkat menjadi pendekar peringkat kedua puluh lima. Tidak lama kemudian, ia mencapai anak tangga kelima ratus sembilan puluh tiga dan mengalahkan pendekar peringkat kedua puluh.
Pada anak tangga keenam ratus tujuh, pendekar peringkat kedelapan belas pun tumbang di tangannya.
Setiap kemenangan membuat energi murni terus mengalir ke tubuh Qin Xuan. Semakin kuat lawannya, semakin besar pula manfaat yang diperolehnya.
Sementara itu, lonceng Menara Pertarungan terus berdentang.
Awalnya, para penonton selalu berseru setiap kali nama Qin Xuan naik. Namun, setelah lonceng berbunyi berulang kali dalam waktu singkat, mereka mulai kehabisan kata-kata.
Dalam waktu setengah hari, Qin Xuan telah berhasil memasuki dua puluh besar Peringkat Manusia.
“Dia sudah mencapai peringkat dua puluh,” gumam seorang penonton. “Apa dia masih bisa naik lebih tinggi?”
Tidak seorang pun berani memastikan jawabannya.
Liu Yunshi terus memperhatikan papan peringkat. Semakin tinggi nama Qin Xuan, semakin besar pula keinginannya membawa pemuda itu ke Akademi Bela Diri Tianyuan.
Jika satu kesempatan memasuki Gua Sumber Suci belum cukup, ia bersedia mengusahakan hadiah tambahan. Bahkan kesempatan mempelajari Prasasti Orang Suci Kuno atau memperoleh peninggalan Orang Suci Kuno akan dipertimbangkannya.
Liu Chengfeng juga mulai merasa penasaran.
“Dengan bakat sebesar ini, seharusnya namanya sudah dikenal sejak lama,” gumamnya.
Ia telah memerintahkan bawahannya menyelidiki asal-usul Qin Xuan. Dalam benaknya bahkan muncul kemungkinan bahwa pemuda tersebut berasal dari kekuatan besar di luar Dinasti Zhao Agung.
Di dunia ujian, Qin Xuan akhirnya mencapai anak tangga keenam ratus empat puluh delapan.
Seorang lelaki bertubuh besar telah menunggunya di sana.
“Zhang Qingzhi.”
Hanya satu nama yang diucapkan sosok tersebut sebelum energi darah yang sangat kuat meledak dari tubuhnya.
Enam puluh empat bayangan banteng muncul di udara.
Qin Xuan sedikit terkejut. Ia mengenali nama itu sebagai salah satu dari lima jenderal besar Dinasti Zhao Agung, yang bertugas menjaga perbatasan utara.
Zhang Qingzhi sekarang merupakan pendekar yang telah lama melampaui Alam Bintang Langit. Namun, sosok di hadapan Qin Xuan hanyalah Jejak Bela Diri yang ditinggalkannya sekitar dua puluh tahun lalu.
Meski demikian, kekuatan enam puluh empat banteng sudah cukup membuktikan betapa mengerikannya bakat sang jenderal ketika masih muda.
Jumlah itu bahkan telah melampaui batas Tujuh-Sembilan, yaitu tingkat kekuatan ketujuh dalam sistem sembilan tingkatan yang setara dengan enam puluh tiga banteng.
Zhang Qingzhi langsung menyerang dari atas menggunakan teknik bela diri tingkat Mendalam kelas tinggi. Energi darahnya bergulung deras, membawa tekanan yang jauh lebih kuat daripada semua lawan sebelumnya.
Qin Xuan mengangkat kepalanya.
Tanpa menggunakan senjata ataupun teknik khusus, ia mengepalkan tangan dan menghantamkan tinjunya ke atas.
Ledakan dahsyat mengguncang Tangga Ujian Langit.
Enam puluh empat bayangan banteng di belakang Zhang Qingzhi pecah bersamaan. Tubuh tiruan sang jenderal ikut hancur, berubah menjadi hujan cahaya yang menyelimuti Qin Xuan.
Pada saat yang sama, lonceng Menara Pertarungan Kota Tianfeng kembali berdentang.
Namun, kali ini sesuatu yang berbeda terjadi.
Bukan hanya menara di Kota Tianfeng yang berbunyi. Lonceng Menara Pertarungan di berbagai wilayah Dinasti Zhao Agung ikut berdentang, seolah menyampaikan kabar yang sama ke seluruh negeri.
Di ibu kota Dinasti Zhao Agung, sejumlah tekanan energi yang sangat kuat tiba-tiba muncul dari berbagai penjuru.
Bahkan para ahli yang berada di dalam istana kekaisaran turut memperhatikan suara lonceng tersebut.
“Lonceng Menara Pertarungan berbunyi serentak?”
“Seseorang berhasil memasuki sepuluh besar Peringkat Manusia!”
“Siapa yang mampu mengalahkan Jejak Bela Diri Jenderal Zhang Qingzhi?”
Selama bertahun-tahun, hampir tidak ada pendekar yang mampu menyingkirkan Jejak Bela Diri sang jenderal.
Hanya beberapa jenius luar biasa, termasuk Putra Mahkota, murid tertua Gunung Dewa Langit, dan seorang putri Keluarga Nangong, yang pernah melampauinya.
Kini, seorang nama baru telah muncul.
Qin Xuan resmi memasuki sepuluh besar Peringkat Manusia.
Dan keberhasilannya mulai menarik perhatian para tokoh terkuat di seluruh Dinasti Zhao Agung.
......................
Bersambung...