Nadia tak suka dengan perjodohan yang orang tuanya berikan padanya dengan Jayden Mahendra.
Jayden san Nadia kini resmi menjadi suami istri, tapi pernikahan mereka masih harus di sembunyikan sampai mereka lulus sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Smarrr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Nadia bangun karena shock setelah mendengar jika Jay sebenarnya sudah berumur 27tahun.
"Beneran 27?" tanya Nadia memastikan.
"Iya sayang, kenapa sayang? kamu ngak percaya?" Nadia melihat Jay dari atas sampai ke bawah.
"Kok bisa muka lo masih muda begini? masih kaya anak SMA, sedangkan temen- tmeen lo yang lain udah keliatan dewasa."
"Oprasi sayang," jawaban Jay membuat Nadia terhenyak kaget.
"Berarti ini bukan muka asli dong? jangan-jangan muka lo jelek ya?''tukas Nadia memundurkan badanya menjauh dari Jay.
Jay terkekeh mendengar ucapan Nadia. " Bercanda sayang, muka aku dari dulu udah begini, kalau keliatan muda berati aku pinter ngerawat muka aku dong, tapi bukan muka aku yang sebenarnya masih keliatan masih muda, mereka aja yang mukanya boros dan kliatan tua."
"Jadi dari awal lo emang niat buat nikah sama gue kan? atau jangan- jangan ini semua adalah rencana lo ya?"
Jay menarik badan Nadia agar mendekat kembali dengan dirinya, jay juga mnegangguk mengiyakan pertanyaan Nadia.
"Iya sayang, itu rencana aku, dan demi kamu juga aku rela masuk ke sekolah lagi, demi kamu aku rela melakukan apapun asal kamu bisa di samping aku, jadi jangan berharap buat kabur lagi atau deket-deket dengan cowok lain kalau nggak mau liat cowok itu berakhir mengenaskan, aku masih bisa di bilang baik sama cowok jelek itu, karena kamu yang keliatan banget kecintaan banget sama cowok jelek itu. dan..."
Cup.
Nadia mengecup bi bir Jay sekilas,
"Kepanjangan jelasinya, gue tau kalau lo cinta sama gue tulus, sorry buat hal kemarin karena gue masih belum sadar dengan semua yang lo lakuin buat gue."
"Ehem... jadi sekarang kamu udah mulai suka sama aku?"
Cup.
Nadia kembali mengecup bi bir Jay. "Apa?"
tanya Jay yang ingin mendengar jawaban Nadia secara langsung.
Bugh.
kini Nadia malah memukul dada bidang Jay, "
Pura- pura bego lagi!" ketus Nadia.
"Aku nggak pura- pura bego sayang, aku emang bego beneran, cowok mana yang suka sama cewek sampe bertaun-tahun dan mau nunggu sampai dia sampe bertaun-tahun dan mau nunggu sampai dia remaja? cowok mana yang mau rela berbagi ceweknya yang malah ngebela cowok lain? cowok mana yang mau... mmm."
Jay tak bisa melanjutkan ucapanya lagi karena kini Nadia lebih dulu menyekop bi bir Jay, Nadia bahkan bahkan tak sungkan lagi untuk naik ke pangkuan Jay yang duduk di sofa.
Mengh isap, mel umat bi bir Jay dengan lembut, keduanya kembali terbalut gaurah yang membara. dan Jay menyukai aksi Nadia kali ini yang beraksi
lebih dulu.
Jay menekan pinggul Nadia membuat di bawah sana serasa di jepit, kedua telapak tangan Jay yang tak mau diam kini merajalela ke pungggung Nadia dari balik kaos yang Nadia kenakan.
.
.
.
.
"Makasih ya Om dokter," ucap Mela yang sebenarnya ingin tahu nama Arga, tapi dirinya masih saja malu.
"Sama-sama, kalau gitu saya pamit dulu ya, mari," jawab Arga dengan sopan dan wibawa
Mela menatap pungung dokter yang ia belum tahu namanya itu hingga menghilang dari pandanganya.
"Ganteng banget sih astagaa... mirip sama mingyu," gumam Mela yang beraharap ada pertemuan lagi dengan dokter tersbut.
Dan Baru saja Mela akan masuk ke dalam rumah, tiba-tiba ada tiga orang berpakaian hitam berjalan menghampiri Mela, memebuat Mela yang ingin berlari masuk gagal karena langkah orang itu lebih cepat darinya.
Mela tak sempat meminta tolong karena kini mulutnya sudah di bungkam oleh kain yang ia sendiri juga tak tahu de beri obat apa, hingga pada akhirnya dia tak sadarkan diri.
Setelah itu, karena keadaan rumah Mela yang masih sepi karna kedua orang tuanganya yang belum pulang dari kerja buruh pabrik dengan mudahnya tiga orang itu memebawa Mela masuk ke dalam mobil menuju orang suruhan mereka.
"Gimana?" tanya seseorang yang tak lain adalah Kevin.
"sudah kami bereskan tuan, dia sudah di dalam gudang kosong, di tempat tuan mengatakanya tadi."
"Kerja bagus, ını bayaran kalian, sısanya menyusul jika kerja kalian bagus."
"Terimakasih tuan."
Kevin menitah ke tiga orang itu untuk menjaga Mela sampai dirinya kesana nanti malam.
"Nadia, gue udah bilang kan a
kalau lo cuma oleh sama gue, ngak ada yang boleh milikin lo selain gue, dan sebentar lagi, loa akan kembali ke sisi gue Nad gue kangen sama Lo Nad," gumam Kevin yang kemudian menghidupkan mesin motornya dan akan pergi ke gudang dimana Mela di sekap.
Tepat di depan sebuah gudang yag sudah lama tak terpakai, sebenarnya itu adalah bangunan toko keluarga Kevin yang ketika dulu masih jaya, tapi sayangnya usaha orang tua Kevin bangkrut dan kedua orang tua Kevin tak kuat emnanggung utang yan besar, mengakibatkan kedua orang tua Kein mengakhiri hidup mereka dengan tragis.
Kevin memeatikan mesin motornya dan berjalan ke arah dalam, di mana Mela yang sudah sadarkan diri tapi masih di ikat dang di sekap agartak bisa berbicara
"Lo!!!???" ucap Mela susah payah, dia mencoba berontak dengan tali yang nmengikat badanya dia atas kursi.
"Iya, ini gue, kenapa? lo kaget? seharusnya enggak sih, harusnya lo tahu dari awal kalau gue bukan orang yag gampamg kalian tangani gitu aja." desis Kevind telinga Mela.
Kevin membuka tali yang mengikat di bi bir Mela.
"Brengs ek lo! apa yang lo ayng mau sebenarnya anji ng!?"
"Santai dong, bukan lo kok yang gue ma, lo cuma gue jadiin umpan agar cewek yang gu suka dateng kesini buat nebus lo."
Mela menyeringai, "Maksud lo Nadia? lo beraharp Nadia kesini sekarang? yakin lo? siapa gue sampai Nadia mau nuker nyaawanya dengan gue? sinting lo ya?"
Plak!
Kevin bahan tak segan untuk menampar wajah Mela. "Lo terlalu berisik tahu nggak, makanya gue nggak pernah suka sama lo dari awal."
"Menurut lo gue suka sama lo? asal lo tahu, Nadia udah gue kasih tahu gimana bej atnya lo, dan lo hanay cowok yang mokondo yang manfaatin Nadia! jadi jangan harap kalau Nadia masu kesini!"
"Sumpel lagi mulutnya! dia terlalu berisik," titah
Kevin pada anak buahnya.
Dengan mudahnya salah satu orang menyumpel kembal mulut Mela dengan sebua kain. Tapi itu tak membuat gentar dan takut Mela.
Kevin menyalakan ponselnya dan menncari kontak Nadia, menggeser layar panggl untuk menghubungakan panggilan dengan Nadia.
Nadia yang masih lemas, mencari keberadaan ponselnya yang berdering.
"Siapa sih ah." gerutu Nadia tapi seketka netranya membulat saat tahu Kevin yang memebuat panggilan.
"Siapa sayang?" tanya Jay karena melihat ekpsresi Nadia yang kaget.
"Kevin, ini nggak kaya yang kamu bayangin loh," ucap Nadia panik takut jika Jay akan marah.
"Nggak usah di angkat kalau gitu," Nadia menurut saja dengn ucapan Jayden.
tapi tak lama kemudian setelah panggilan yang tak terjawab, Kevin mengirim foto dengan gambar Mela yang tersekap dan di ikat di atas kursi
"Datang sendiri dan kembali ke sisi gue, kalau lo mau sahabat lo ini selamat." - pedan dari Kevin.
Nadia kembali terbelalak dan kaget, ia juga membungkam mulutnya sendiri dengan telapak tanganya saat melihat Mela yang terikat ii atas kursi.
"Kenapa lagi sayang? dia ngancam kamu?"
Nadia tak emjawab, dia haya menunjukan foto Mela pada Jay.
"Jay bantuin, kasihan Mela, dia nggak tahu apa-apa dan nggak salah apa-apa." Nadia hampir mennagis melihat kondisi sahabatnya yang terlihat sangatv kesakitan.
"Iya sayang, aku bantuin, kamu yangtenang dulu ya."
Jay mengusap puncak kepala Nadia dnegan lembut, jay tahu bahwa saat ini Nadia pasti sedang sedih melihat Mela seperti itu.
Jay langsung mengambil ponselnya juga dan menghubungi Arnold, meminta Arnold untuk melacak keberadaan sahabat Nadia.
Tak butuh waktu lama. Arnold mengirim lokasi di mana sahabat Nadia di sekap oleh seseorang pada Jay.
"Kirim beberapa anak buah untuk menyelamatkan cewek itu, dan tangkap dalang utamanya, gue nggak mah Nadia datang kesana, tapi gue juga nggak mau kalau sahabat Nadia kenapa-kenapa. Ngerti kan?" - send Jay pada Arnold.
"Siap juragan!" Balas Arnol siap siaga.