Memasuki bangku kuliah dengan penampilan cupunya, membuat Ananda Ayunindia menjadi target empuk perundungan oleh Tristan Bratadikara dan komplotannya. Tak sekadar dibully, Ananda bahkan dijadikan bahan taruhan hingga berujung kehamilan. Hancur dan trauma, ia terpaksa melepas beasiswanya dan pergi menghilang.
Enam tahun berlalu. Ananda yang kini telah lulus kuliah dan menetap di Bandung, berhasil diterima bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan raksasa di Jakarta. Demi masa depan putra kecilnya dan sang ibu yang sudah renta, Ananda terpaksa kembali ke kota penuh memori kelam tersebut.
Siapa sangka, pimpinan tertinggi di perusahaan baru tempatnya bekerja adalah Tristan Bratadikara, pria yang dahulu menghancurkan hidupnya. Namun, Ananda yang sekarang bukan lagi gadis cupu yang bisa ditindas, ia telah bermetamorfosis menjadi wanita yang cantik, energik, dan pemberani. Akankah Tristan mengenali korbannya di masa lalu, atau justru bertekuk lutut pada sosok Ananda yang baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14
Begitu tiba di meja kerjanya, Ananda mendudukkan diri dengan perasaan campur aduk. Ia merogoh saku blazer miliknya, mengambil kartu nama restoran mewah yang tadi diberikan oleh Kevin. Namun, saat netranya membaca baris alamat yang tertera di kartu tersebut, tubuh Ananda seketika menegang. Wajahnya berubah pucat pasi, dan jantungnya berdegup begitu kencang seolah ingin melompat keluar.
Hotel Permata, lantai 5.
Nama hotel itu tertulis dengan sangat jelas. Hotel yang menjadi saksi bisu malam paling kelam dalam hidupnya enam tahun yang lalu. Tempat di mana masa depan dan harga dirinya direnggut paksa oleh Tristan akibat jebakan keji dari komplotan Bella.
"Ini... ini tidak mungkin," gumam Ananda dengan suara bergetar, meremas pinggiran kartu nama itu hingga agak lecek. "Bukankah tadi Pak Kevin bilang ini alamat restoran tempat pertemuan penting? Tapi kenapa... kenapa lokasinya harus di Hotel Permata?"
Tak lama kemudian, Kevin kebetulan melintas di dekat meja kerja Ananda. Melihat ekspresi syok sang sekretaris yang menatap kosong ke arah kartu nama, Kevin menepuk jidatnya sendiri dan menghampirinya.
"Eh, Nanda! Sori, sori banget, gue lupa memperjelas tadi," ucap Kevin dengan wajah tak enak hati. "Lyon Resto itu memang lokasinya berada di dalam gedung Hotel Permata, tepatnya di lantai lima. Sori ya, gue baru jelasin hal ini sekarang sama elo, Nan!"
Ananda tersentak, lalu buru-buru menguasai ekspresi wajahnya agar tidak terlihat mencurigakan. Ia menelan ludah dengan susah payah. "Oh... i... iya, Pak Kevin. Tidak apa-apa."
Sekitar jam sebelas siang, dengan perasaan yang diselimuti kecemasan mendalam, Ananda akhirnya berangkat menuju lokasi pertemuan. Ia duduk di kursi belakang mobil operasional yang diantar oleh sopir perusahaan, sambil mendekap erat tas berisi dokumen-dokumen penting untuk klien dari Singapura.
Begitu mobil berhenti di area drop off Hotel Permata, Ananda melangkah keluar dengan kaki yang terasa berat. Saat ia memasuki lobi, ia bisa melihat bahwa hotel ini telah mengalami banyak perubahan drastis, arsitekturnya kini terlihat berkali-kali lipat lebih mewah dan megah dibandingkan enam tahun yang lalu. Namun, kemewahan itu sama sekali tidak bisa menghapus memori traumatis di benaknya.
Setiap sudut tempat ini seolah memanggil kembali rasa sakit, teriakan histerisnya, dan air mata yang tumpah malam itu. Rasa sesak kian menghimpit dadanya, terutama saat ia melangkah masuk ke dalam lift dan menekan tombol angka lima.
Ting!
Pintu lift terbuka di lantai lima, menyajikan pemandangan Lyon Resto yang begitu mewah dengan konsep bergaya Eropa, tepatnya berarsitektur Prancis yang elegan. Ananda menarik napas dalam-dalam, memantapkan langkahnya, dan segera menghampiri meja resepsionis di bagian depan untuk menanyakan keberadaan bosnya.
"Permisi, saya mencari meja atas nama Tuan Tristan Bratadikara," ujar Ananda formal.
Pelayan restoran tersebut langsung tersenyum dengan sangat ramah setelah memeriksa daftar reservasi. "Pasti dengan Ibu Ananda, ya? Kebetulan Tuan Tristan sudah menunggu Anda di dalam ruang VVIP sejak tadi. Mari, silakan saya antar, Ibu."
Ananda mengangguk kaku lalu mengekori langkah pelayan tersebut. Sepanjang lorong menuju ruangan privat, netranya menatap takjub pada interior restoran yang teramat berkelas ini, meskipun di sisi lain hatinya terus merutuki takdir yang membawanya kembali ke tempat terkutuk ini.
Pelayan berhenti di depan sebuah pintu kayu besar berukir indah, lalu membukanya dengan perlahan. "Silakan, Ibu."
Begitu pintu terbuka, pandangan Ananda langsung tertuju pada sosok pria yang duduk di salah satu kursi mewah di dalam ruangan VVIP tersebut. Tristan sedang duduk dengan santai sembari menyilangkan kakinya, kedua tangannya terlipat di depan dada. Pria itu tampak begitu berwibawa di dalam ruangan yang privat dan elegan itu.
Mendengar suara pintu terbuka, Tristan mendongak. Detik itu juga, mata keduanya saling bertemu di udara. Tristan melemparkan tatapan yang begitu tajam, dalam, dan intens seolah sedang mencoba menguliti dan mencari jawaban atas kecurigaannya semalam langsung dari sepasang bola mata sekretarisnya.
Ditatap seintens itu, Ananda mendadak kehilangan keberaniannya. Ia tidak sanggup menatap mata tajamnya Tristan lebih lama lagi karena takut pertahanannya runtuh atau rahasianya terbongkar di tempat yang penuh trauma ini. Dengan perasaan gugup yang coba ia sembunyikan rapat-rapat di balik wajah datarnya, Ananda mulai melangkah masuk mendekati mejanya Tristan.
Ananda melangkah mendekat dengan ritme yang teratur, mencoba menyembunyikan gemuruh di dadanya. Tristan tidak sedikit pun memutuskan pandangannya. Sejak kejadian semalam, sosok sekretaris barunya ini benar-benar telah menyita seluruh perhatiannya. Wajah polos Ananda tanpa riasan yang ia lihat di rumah kontrakan itu terus terngiang-ngiang, membangkitkan kerinduan mendalam pada sosok si itik buruk rupa, satu-satunya wanita yang selalu ia cari dan ia rindukan selama enam tahun ini.
"Duduklah, Nanda," ucap Tristan dengan nada suara yang tidak biasanya, terdengar begitu lembut sembari menepuk jok empuk di sampingnya.
Ananda tahu ia tidak bisa membantah di situasi formal seperti ini. Ia segera mendudukkan dirinya di samping Tristan, menjaga jarak aman yang wajar. Seketika, keheningan yang canggung menyelimuti ruangan VVIP tersebut. Enggan terjebak dalam atmosfir yang membingungkan ini, Ananda bergegas membuka tasnya dan mengeluarkan berkas kerja mereka.
"Tuan, dokumen yang Anda minta sudah saya siapkan semua, termasuk dokumen kerja sama dengan Wilmar World Group milik Tuan Samuel Yong," ujar Ananda mencoba memulai percakapan yang profesional.
Tristan meraih dokumen tersebut. Ia membukanya, meneliti baris demi baris secara detail untuk memastikan tidak ada kesalahan fatal. Tak butuh waktu lama, seulas senyum tipis yang tulus terukir di bibir tegasnya.
"Good job... Aku suka ketikan dokumen ini. Sangat rapi dan pemilihan katanya mudah dipahami. Ini akan membuat Tuan Sam tidak kesulitan memahami poin-poin kerja sama antara Bratadikara Group dan Wilmar World Group," puji Tristan, benar-benar puas dengan kinerja Ananda yang luar biasa.
Tepat setelah pujian itu dilontarkan, pintu ruang VVIP terbuka. Tuan Samuel Yong melangkah masuk dengan senyum sumringah, didampingi oleh seorang asisten pribadi di belakangnya. Namun, begitu sosok sang asisten tertangkap oleh netranya Tristan dan Ananda, atmosfir di dalam ruangan seketika membeku. Pria itu memiliki wajah yang sangat familiar di masa lalu mereka.
‘Kenapa si bedebah Andre ada di sini?! Dasar sial!’ batin Tristan, emosinya langsung menyala hebat.
Ia mengepalkan tangannya di bawah meja, sekuat tenaga meredam amarahnya agar tidak meledak di depan klien besarnya.
Sementara itu, Ananda mematung dengan tubuh yang mendadak dingin. Ia benar-benar syok. Kemarin ia harus berhadapan dengan Bella, dan hari ini takdir justru menyeret Andre ke hadapannya.
‘Mengapa dunia ini begitu sempit? Mengapa mereka semua harus muncul kembali secara bersamaan?’ batin Ananda, berusaha keras menenangkan detak jantungnya yang mulai bergemuruh hebat.
Tristan dan Samuel segera berdiri, saling berjabat tangan erat dan melempar senyum ramah khas pebisnis papan atas. Keduanya mulai berbicara akrab, membahas sedikit soal kehidupan pribadi masing-masing sebagai intermezzo yang hangat sebelum beralih ke urusan bisnis yang serius.
Di sisi lain, Andre tampak mati-matian menyembunyikan wajahnya. Ia menghindari tatapan bengis Tristan yang menghujam nya seolah siap mengulitinya hidup-hidup malam ini juga.
‘Jika kau tidak sedang bersama Tuan Samuel, kau sudah habis di tanganku, Ndre!’ desis Tristan dalam hati, penuh dendam.
‘Alamak... kenapa gue mesti ketemu si monster Tristan di sini, sih? Selama enam tahun gue sukses menyembunyikan diri dari dia setelah lulus kuliah. Yaelah, malah ketemu di sini! Ini mah sama saja gue menyerahkan diri ke kandang singa!’ ratap Andre dalam hati, keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya.
Namun, saat Andre mencoba mengalihkan pandangannya untuk meredakan ketakutannya, netranya tidak sengaja tertuju pada sosok wanita cantik yang duduk di samping Tristan. Parasnya begitu menawan dan anggun, namun entah mengapa, Andre merasa wajah itu terasa cukup familiar, seperti mereka pernah bertemu di suatu tempat di masa lalu.
Karena menganggap wanita itu adalah sekretaris baru, Andre mencoba bersikap ramah untuk mencairkan ketegangannya sendiri. Ia mengulurkan tangan ke arah Ananda. "Halo, saya Andre, asisten Tuan Samuel."
Ananda menarik napasnya dalam-dalam, membuang rasa gugupnya jauh-jauh, lalu menyambut uluran tangan itu dengan singkat dan profesional. "Saya Ananda, sekretaris Tuan Tristan."
Setelah sesi perkenalan singkat antar sekretaris selesai, mereka semua kembali fokus pada pembicaraan sedikit pribadi. Sebelum masuk ke inti kontrak, Samuel mendadak terkekeh dan menggoda Tristan yang masih saja sendiri. "Tristan, kulihat kau masih saja betah membujang sampai sekarang. Perusahaanmu juga berkembang pesat, tapi kenapa urusan asmara masih jalan di tempat? Apa tidak ada wanita yang memikat hatimu?"
Tristan terdiam sejenak. Ia melirik Ananda sekilas, lalu menatap Samuel dengan tatapan serius yang teramat dalam. "Aku bukannya betah membujang, Sam. Aku... sedang menunggu seseorang dari masa laluku. Seseorang yang telah membuatku mengunci hatiku, hingga aku tidak bisa lagi mencintai wanita lain di dunia ini."
Mendengar pengakuan yang begitu lantang dan berani dari seorang CEO berdarah dingin seperti Tristan, Samuel sampai terkesima dan bertepuk tangan pelan. "Luar biasa... Semoga kau segera dipertemukan dengan wanita itu, Tristan. Ternyata di zaman sekarang, cinta sejati yang sekokoh itu masih ada."
Berbeda dengan Samuel yang takjub, Ananda dan Andre justru terdiam seribu bahasa, mencerna setiap bait kalimat yang baru saja diucapkan oleh Tristan.
‘Ini tidak mungkin... Pria monster dan kejam seperti Tristan mana mungkin memiliki hati dan perasaan? Mana mungkin pria brengsek sepertinya mengenal apa itu cinta sejati? Dasar bullshit! Dia hanya sedang berakting!’ batin Ananda berontak penuh sinisme, menolak mempercayai ucapan pria yang telah menghancurkan hidupnya.
Sedangkan di seberang meja, Andre justru semakin dilanda rasa bersalah yang teramat besar. Kalimat Tristan barusan menghantam nuraninya dengan keras. Gara-gara rencana busuknya enam tahun lalu yang berniat mengerjai Tristan dan si itik buruk rupa, semuanya justru berubah menjadi petaka seumur hidup.
Semenjak malam terkutuk di Hotel Permata ini, Tristan berubah total menjadi pria dingin yang selalu menjauhi wanita, termasuk mencampakkan Bella tanpa ampun. Andre tahu betul dari komunikasinya dengan Bella beberapa tahun lalu, saat Tristan memilih pindah ke Kanada bahwa pria itu hidup dalam bayang-bayang penyesalan yang tak pernah usai. Kini, ia duduk di hotel yang sama, dosa masa lalu itu kembali membayangi mereka semua dengan cara yang tak terduga.
Bersambung...