Ophelia Martin datang menggantikan kakak tirinya untuk menikahi seorang mafia, Bleiz Russo, karena hutang ayah tirinya.
Dia siap menghadapi monster yang dia pikir tua dan bengis itu.
Tapi ketika Ophelia memasuki kastil gelap dan dingin milik Bleiz Russo—dia tidak menemukan kakek-kakek keriput bertato dan tatapan menjijikkan itu.
Yang dia temui justru pria berusia tiga puluh tahunan dengan wajah mempesona, mata elang sedingin es, dan tubuh tegap yang terbalut jas berwarna gelap setara dengan auranya.
Pria itu ternyata menyodorkan kontrak sederhana, bukan sebuah pernikahan normal yang mungkin hanya akan berjalan sementara.
Ophelia hanya disuruh hamil darah dagingnya, dan itu membuat hutang ayah tirinya lunas. Tidak perlu ada cinta. Tidak perlu ada tuntutan. Bleiz hanya perlu wadah untuk pewarisnya.
Bleiz menyentuhnya seperti barang berharga, tapi menatapnya seperti debu tak berarti. Ophelia pernah menyaksikan sendiri bagaimana tangan kuat itu dengan tenang mematahkan tulang pengkhianatnya. Dia pikir dia akan mati ketakutan.
Tapi ternyata setiap kali jarak mereka hanya beberapa sentimeter, justru detak jantungnyalah yang paling berisik?
Ophelia harus mengingat satu aturan. Jangan pernah jatuh cinta pada iblis yang hanya menginginkan rahimmu.
Namun bagaimana caranya bertahan, ketika iblis itu mulai membelai perutnya yang mulai berisi, dengan tatapan yang untuk sekilas terlihat seperti ... ketakutan akan kehilangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zarin.violetta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serangan Tiba-tiba
Gudang tua di pinggiran kota itu tampak sunyi dan ditinggalkan. Dindingnya berlumut, atapnya bocor, dan bau apek.
Tapi di sinilah Bleiz memilih untuk bertemu dengan Elena.
Bleiz tiba lebih dulu dengan lima pengawal terbaiknya. Marcus dan Salvatore memeriksa setiap sudut gudang dengan teliti sebelum memberi isyarat bahwa tempat itu aman.
"Aman, Tuan," lapor Marcus. "Tapi aku tetap tidak suka dengan tempat ini. Terlalu banyak sudut gelap dan buta."
"Kita tidak punya pilihan," jawab Bleiz dingin. "Aunt Elena tidak mau bertemu di tempat yang mudah dilacak. Dia punya alasan untuk paranoid. Lagipula, informasinya sangat berharga."
Marcus mengangguk meskipun ekspresinya masih waspada. "Baik, Tuan. Tapi aku akan menempatkan dua orang di pintu masuk dan dua di lantai atas. Aku akan tetap di sisimu."
"Lakukan."
Bleiz berjalan ke tengah gudang, matanya menelusuri setiap sudut.
Pintu gudang terbuka, dan Elena masuk dengan mantel panjang menutupi tubuhnya. Wajahnya tampak lelah tapi matanya tetap waspada.
"Bleiz," sapanya pelan. "Terima kasih sudah datang."
"Tentu saja," jawab Bleiz. "Kau bilang ini penting."
Elena berjalan mendekat. "Ini lebih dari penting. Aku menemukan sesuatu yang bisa mengubah segalanya. Kau tahu kan bahwa Stefano memiliki hubungan dengan sindikat narkoba internasional dan juga kejahatan lainnya. Aku punya bukti, dokumen, rekaman, semuanya. Dengan ini, dia bisa dijebloskan ke penjara seumur hidup.”
Bleiz mengerutkan kening. "Kau yakin? Bagaimana kau bisa mendapatkannya?”
"Dengan bantuan beberapa orang dan Chloe, saudara tiri Ophelia. Maaf aku tak tak bilang padamu soal ini. Tapi ini penting agar Stefano tak curiga." Elena mengeluarkan sebuah flash drive dari sakunya. "Ini salinannya. Yang asli masih ada padaku."
Bleiz meraih flash drive itu, tapi saat jarinya menyentuhnya, sesuatu tiba-tiba terjadi.
Pintu gudang terbuka dengan keras. Puluhan pria bersenjata masuk dari semua arah, dari pintu utama, dari jendela-jendela, bahkan dari lantai dua. Mereka adalah anak buah Don Stefano, dan mereka datang dengan senjata.
"Tuan! Kita terkepung!" teriak Marcus sambil menarik Bleiz ke belakang.
Tapi semuanya sudah terjadi terlalu cepat. Dua pengawal Bleiz yang berada di pintu masuk jatuh tertembak sebelum mereka sempat bereaksi.
Dua lainnya di lantai atas berusaha melawan, tapi jumlah musuh terlalu banyak.
Bleiz melihat sekeliling dengan cepat. Dia hanya punya tiga pengawal yang tersisa, termasuk Marcus. Sementara musuh, setidaknya ada tiga puluh orang, mungkin lebih.
"Kita kena jebakan," desis Bleiz, matanya menatap Elena dengan curiga. "Kau mengkhianatiku?"
Elena tampak pucat. "Tidak! Aku tidak tahu ini akan terjadi. Pasti ada mata-mata di antara pengawalmu!"
Bleiz mengertakkan gigi. Dia tahu Elena mungkin benar. Ada seseorang di antara orang-orang kepercayaannya yang membocorkan lokasi pertemuan ini. Tapi sekarang bukan waktunya untuk menyalahkan.
"Marcus, kita harus bertahan!" perintah Bleiz sambil menarik senjatanya. "Kita harus keluar dari sini hidup-hidup!"
Tembakan mulai bergema di seluruh gudang. Bleiz dan tiga pengawalnya berlindung di balik tumpukan peti kayu, sementara peluru-peluru menghujani mereka dari segala arah.
"Marcus, kau bisa lihat berapa banyak dari mereka?" teriak Bleiz di atas suara tembakan.
"Setidaknya tiga puluh, Tuan! Mungkin lebih!" balas Marco. "Mereka menguasai semua titik keluar!"
Bleiz mengepalkan tangannya. Ini adalah situasi yang paling buruk. Dia datang dengan persiapan minimal karena mengira pertemuan ini rahasia.
Tapi sekarang dia terjebak dalam perangkap yang kemungkinan sudah direncanakan Don Stefano sejak awal.
*
*
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN
😭😭😭😭
kasihan phelia,sudah di titik kesabaran yg sudah habis..
biar bleiz merasa kehilangan...
😁😁