Zahira Aulia Utami menikah dengan Galang Putra Hadian. Mereke sudah menikah selama delapan tahun dan di karuniai seorang putri cantik bernama Cantika Alya Putri Hadian, berusia enam tahun. Namun putri mereka memiliki hal yang berbeda dengan putri orang lain pada umumnya. Dia memiliki sesuatu yang spesial.
Rumah tangga mereka sebeanrnya baik-baik saja. Hanya memang satu tahun terakhir Aulia dan Galang sering bertengkar. Dan inti dari masalahnya adalah Cantika, Galang merasa malu memiliki anak yang dia pikir ga-gu. Dan itu semua karena Aulia. Dia menyalahkan Aulia sehingga membuatnya malu saat membawa mereka dalam pertemuan keluarga atau saat acara di kantor.
Semenjak itu, hubungan mereka terasa hambar, Galang seing pulang telat ke rumah.
pertengkaran terus berlanjut, apalagi keluarga Galang juga ikut campur hingga akhirnya Aulia dan Cantika melihat Galang bersama dengan seorang wanita bergandengan mesra. Hati Aulia rasanya semakin membeku. Tak ada lagi alasan untuk bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aulia 28
Keesokan harinya, pancaran sinar matahari pagi seolah membawa energi baru yang sudah lama hilang dari diri Aulia. Setelah malam yang melelahkan dan penuh ketegangan, tidak ada lagi ruang untuk keraguan. Fokus utamanya hari ini adalah bergerak cepat demi mengamankan masa depan Cantika.
Saat mengantarkan Cantika ke sekolah luar biasa tempat putrinya menjalani terapi, Aulia mengedarkan pandangannya ke koridor. Begitu menangkap sosok Ghani yang sedang berbincang dengan salah satu guru, Aulia segera mempercepat langkahnya.
"Pak Ghani," panggil Aulia setengah berbisik setelah mendekat.
Ghani menoleh dan langsung meminta izin sejenak kepada lawan bicaranya. Menatap wajah Aulia yang jauh lebih tegap dan tenang dibanding kemarin, Ghani mengembuskan napas lega. Kemudian dia mengajak Aulia untuk mengobrol di tempat yang jauh lebih nyaman untuk membicarakan masalah yang tentunya sangat pentng bagi Aulia.
"Bu Aulia. Bagaimana keadaanmu? Apa Cantika..."
"Aku baik-baik saja Pak Ghani... Begitupun dengan Cantika. Semalam aku mengusir Galang dari rumah kami. Rumah yang memang sebenarnya di beli lebih banyak menggukan uang tabungan aku dahulu, dan sisa 30% nya di cicil oleh Galang. Namun, aku tahu jika sebentar lagi keluarganya akan datang menemui saya dan tak akan terima kalau aku mengusir Galang. Apalagi aku juga mengatakan akan menggugat cerai dia..." Aulia menjeda kalimatnya, sedangkan Ghani masih mendengarkan dan tak menyela cerita Aulia.
"Aku sudah merapikan semua berkas yang kita bicarakan kemarin. Aku butuh bertemu Pak Yuda hari ini juga, Pak Ghani. Semakin cepat surat gugatan itu sampai ke tangannya, semakin cepat aku dan Cantika lepas dari lingkaran beracun ini."
Ghani tersenyum tipis, memamerkan rasa bangganya melihat ketegasan sahabat lamanya telah kembali.
"Baiklah Bu Aulia. Saya sudah menduga kamu akan bergerak cepat, jadi tadi pagi-pagi sekali aku sudah menghubungi Pak Yuda. Beliau ada waktu luang siang ini setelah jam makan siang di kantornya. Kebetulan letaknya tidak jauh dari sini. Nanti setelah anak-anak masuk kelas, kita langsung berangkat bersama."
Tepat pukul sembilan pagi, Aulia dan Ghani sudah duduk di dalam ruang kerja sebuah kantor hukum yang tertata rapi. Dindingnya dipenuhi rak buku tebal berisi hukum perdata dan kompilasi hukum Islam. Di hadapan mereka, duduk Pak Yuda, seorang pengacara senior bertubuh tegap dengan tatapan mata yang tajam namun memancarkan aura mengayomi.
"Selamat siang, Ibu Aulia," sapa Pak Yuda dengan suara beratnya yang menenangkan dan memberi anggukan kecil kepada Ghani.
"Pak Ghani sudah menceritakan garis besar duduk perkaranya kepada saya kemarin. Dan saya juga sudah membaca pesan singkat yang Anda kirimkan semalam. Boleh saya lihat semua dokumen pendukung yang Ibu bawa?"
Aulia mengangguk mantap. Dia membuka tas kerjanya dan mengeluarkan sebuah map jinjing plastik tebal berwarna hitam. Di dalamnya, semua berkas telah dipisahkan secara rapi menggunakan pembatas warna-warni. Karakter wanita karier yang perfeksionis dan taktis kembali terlihat jelas dalam diri Aulia.
"Ini berkas pertamanya, Pak Yuda," ujar Aulia sambil menyerahkan bundel dokumen pertama.
"Ini adalah bukti cetak mutasi rekening koran dan kuitansi asli pembayaran uang muka (down payment) rumah tinggal kami delapan tahun yang lalu. Nilainya mencakup 70% dari total harga rumah saat itu, dan murni menggunakan uang tabungan pribadi saya sebelum menikah. Sisa 30% memang dicicil oleh Mas Galang. Meskipun sertifikat kepemilikannya tertulis atas nama Galang demi menjaga egonya saat itu, saya ingin rumah ini diselamatkan sebagai hak mutlak untuk Cantika."
Pak Yuda mengenakan kacamata bacanya, membalik lembar demi lembar dokumen tersebut dengan teliti, lalu mengangguk puas.
"Ini pembuktian asal-usul dana yang sangat solid, Ibu Aulia. Walaupun nama yang tertera di sertifikat adalah nama suami, bukti aliran dana sekilas ini bisa dengan kuat menggugurkan klaim kepemilikan tunggal di persidangan harta gono-gini nanti."
"Lalu ini untuk hak asuh anak," lanjut Aulia, menyerahkan bundel kedua.
"Ini berisi rekam medis Cantika, jadwal terapi rutinnya, beserta seluruh bukti pembayaran yang beberapa bulan terakhir ini saya biayai sendiri dari hasil kerja lepas saya secara daring. Di lembar bawahnya, saya juga melampirkan bukti potongan nafkah bulanan dari rekening Mas Galang yang sengaja mempersulit biaya pengobatan anak kandungnya sendiri."
Terakhir, dengan helaan napas panjang yang sarat akan ketegasan, Aulia mengeluarkan sebuah amplop cokelat besar.
"Dan ini adalah bukti perselingkuhan Mas Galang dengan wanita bernama Belinda. Ada foto-foto mereka yang diambil di pelataran restoran kemarin, rincian lokasi kejadian, serta Pak Ghani di sebelah saya ini yang bersedia maju sebagai saksi mata yang melihat langsung perbuatan mereka di tempat umum."
Pak Yuda melepaskan kacamatanya, lalu merapikan kembali seluruh berkas itu ke dalam map dengan ketukan jemari yang berwibawa. Sebuah senyuman penuh keyakinan terukir di wajah sang pengacara senior.
"Ibu Aulia, bertahun-tahun saya menangani kasus perceraian, jarang sekali saya menemukan klien yang begitu cerdas, rapi, dan taktis dalam menyiapkan alat bukti seperti Anda. Anda tidak meninggalkan celah sedikit pun bagi pihak lawan untuk berkelit," puji Pak Yuda tulus.
"Dengan seluruh bukti fisik, digital, serta kesaksian dari Pak Ghani ini, dasar gugatan kita atas pasal perselingkuhan, penelantaran ekonomi, dan hak asuh penuh Cantika berada di posisi yang sangat diuntungkan. Draft gugatan cerai ini akan saya selesaikan akhir pekan ini, dan hari Senin pagi saya sendiri yang akan mendaftarkannya ke Pengadilan Agama."
Pak Yuda menyandarkan punggungnya ke kursi, tatapannya menyiratkan kepastian hukum yang mutlak.
"Begitu surat gugatan ini resmi dikirimkan ke rumah orang tuanya atau ke kantornya, suami Ibu tidak akan hanya menghadapi perceraian. Skandal moral yang dilengkapi bukti seotentik ini akan langsung mengetuk meja manajemen tempatnya bekerja. Seperti yang kita tahu Perusahaan Pranata Utama sangat ketat soal moral karyawannya. Karena pemiliknya adalah seorang pria yang begitu menghargai hubungan. Apa anda ingin langsung bertemu dengan pemilik perusahaan langsung agar anda bisa menjelaskan aduan anda secara detail? Jika anda mau saya bisa menjadwalkan pertemuan dengan pemilik perusahaan!"
"Bukankah pemilik perusahaan ada di luar negri Pak? Setahu saya begitu, suami saya bilang perusahaan saat ini di kelola oleh orang kepercayaan dan managemennya!'
"Wah info yang salah itu!" Kekeh Pak Yudha.