Monitor medis di sudut kamar VVIP sebuah rumah sakit modern di Manhattan berdetak dengan irama yang semakin lambat. Beep... beep... beep...
Di atas ranjang pesakitan, terbaring sesosok pria tua berusia delapan puluh tahun. Rambutnya telah memutih sepenuhnya, kulitnya mengeriput dimakan usia, namun sorot matanya di balik kacamata baca masih menyiratkan ketajaman yang luar biasa.
Namanya Arthur Sterling.
Di dunia bisnis internasional dan bursa Wall Street, namanya adalah legenda—seorang taipan yang mengendalikan gurita bisnis raksasa dari balik layar, pria yang namanya selalu menghiasi halaman utama majalah Forbes sebagai orang terkaya nomor satu di muka bumi.
Namun, di detik-detik terakhir hidupnya, harta triliunan dolar, gedung-gedung pencakar langit di distrik finansial utama dunia, dan kekuasaan mutlak atas pasar keuangan global terasa tidak ada artinya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars Is Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 — Bayangan di Balik Angka
Senin, 17 Oktober 2016.
Pukul 06.20 pagi, Arthur Sterling sudah duduk di depan laptopnya ketika suara hujan mulai terdengar dari balik jendela apartemen kecilnya di Queens.
Akhir pekan telah berlalu dengan cepat. Setelah menyelesaikan pekerjaan untuk Samuel Carter, ia menghabiskan sebagian besar hari Minggu untuk mempelajari laporan keuangan beberapa perusahaan teknologi dan menyusun daftar calon pelanggan bersama Daniel.
Namun, pikirannya terus kembali kepada dua hal.
Clara Vance.
Dan Aurelia Therapeutics.
Dua hal yang sangat berbeda, tetapi sama-sama berpotensi mengubah jalan hidupnya.
Arthur membuka surel dan memeriksa pesan masuk. Belum ada balasan baru dari Richard Coleman setelah laporan analisis yang dikirimkannya pada Sabtu malam.
Itu bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan.
Richard telah mengatakan bahwa ia akan memeriksa dokumen tersebut pada awal pekan. Seorang direktur investasi tentu memiliki pekerjaan lain yang jauh lebih penting daripada membaca laporan seorang mahasiswa yang belum memiliki rekam jejak profesional.
Arthur justru lebih tertarik pada berita terbaru mengenai Aurelia Therapeutics.
Ia membuka situs perusahaan, memeriksa pengumuman resmi, lalu membaca kembali informasi mengenai kandidat obat yang sedang menjalani uji klinis tahap akhir.
Tidak ada pengumuman besar.
Tidak ada perubahan yang cukup berarti untuk mengubah penilaiannya.
Namun, harga saham perusahaan itu bergerak sedikit lebih tinggi dibandingkan penutupan sebelumnya.
Arthur mengamati pergerakan tersebut tanpa tersenyum.
Kenaikan kecil tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan risiko yang masih ada. Begitu pula penurunan harga tidak selalu menunjukkan bahwa analisisnya salah.
Ia harus menahan diri agar tidak memandang setiap pergerakan pasar sebagai pertanda.
Dalam kehidupan pertamanya, Arthur pernah menghasilkan keuntungan besar dari sebuah investasi yang awalnya tampak tidak menjanjikan. Keberhasilan itu membuatnya percaya diri, dan selama bertahun-tahun ia terus mengembangkan naluri bisnisnya.
Namun, ia juga pernah kehilangan uang dalam jumlah yang tidak sedikit karena menganggap pola masa lalu pasti terulang.
Pengalaman memberinya pengetahuan.
Tetapi pengalaman juga bisa menjadi jebakan ketika seseorang mulai percaya bahwa ia tidak mungkin salah.
Arthur menutup halaman saham tersebut.
Dua minggu lagi, ia memperkirakan pengumuman penting akan muncul. Sampai saat itu tiba, ia tidak memiliki alasan untuk mengambil keputusan impulsif.
Ia mengalihkan perhatian ke daftar pekerjaan hari itu.
Ada tiga calon pelanggan yang harus dihubungi, satu rancangan situs yang perlu diperbaiki, dan satu laporan analisis yang mungkin akan mendapat kritik dari Richard.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, jadwalnya dipenuhi pekerjaan yang harus ia selesaikan sendiri.
Tidak ada sekretaris pribadi.
Tidak ada tim analis.
Tidak ada direktur perusahaan yang menunggu instruksinya.
Hanya seorang mahasiswa berusia dua puluh tahun dengan laptop tua dan modal terbatas.
Arthur tersenyum kecil.
Ia harus memulai dari sini.
Pukul 08.10, Arthur tiba di kampus.
Daniel Brooks sudah menunggunya di depan gedung perpustakaan dengan dua lembar kertas di tangan.
"Aku punya kabar baik dan kabar buruk," katanya begitu Arthur mendekat.
Arthur mengambil salah satu lembar kertas itu.
"Apa kabar baiknya?"
"Samuel Carter memberikan nomor telepon dua pemilik usaha yang mungkin membutuhkan layanan kita."
"Bagus. Lalu kabar buruknya?"
Daniel menunjuk lembar kedua.
"Aku sudah menghubungi lima bisnis. Tiga menolak sebelum aku selesai menjelaskan, satu mengatakan mereka sudah memiliki orang yang mengurus pemasaran, dan satu lagi mengira aku menawarkan pinjaman usaha."
Arthur menahan tawa.
"Setidaknya kau mendapatkan pengalaman."
"Pengalaman tidak membayar tagihan."
"Benar. Tapi pengalaman bisa membuat kita lebih baik dalam mendapatkan pelanggan berikutnya."
Daniel menghela napas panjang.
"Kau selalu punya jawaban untuk segala sesuatu, ya?"
"Tidak. Kalau aku punya jawaban untuk segala sesuatu, kita sudah memiliki kantor di Manhattan."
Daniel tertawa, lalu mereka berjalan menuju ruang belajar.
Di meja perpustakaan, Daniel membuka laptop dan menunjukkan daftar calon pelanggan yang telah disusunnya.
Arthur memeriksanya satu per satu.
Mereka tidak akan menghubungi semua bisnis sekaligus. Sebaliknya, Arthur memilih tiga usaha yang tampaknya memiliki masalah paling jelas dengan kehadiran daring mereka.
Sebuah toko roti yang tidak mencantumkan jam operasional secara konsisten.
Sebuah bengkel yang memiliki ulasan pelanggan cukup baik, tetapi informasi layanannya sulit ditemukan.
Dan sebuah salon kecil yang belum menyediakan cara sederhana bagi calon pelanggan untuk menghubungi pemiliknya.
"Untuk toko roti ini, kita bisa menawarkan pembaruan informasi bisnis dan foto produk," kata Arthur. "Untuk bengkel, kita harus memahami layanan apa yang paling menguntungkan mereka. Jangan langsung menawarkan situs kalau masalah utamanya adalah pelanggan tidak tahu bahwa mereka menyediakan layanan tertentu."
Daniel mengangguk sambil mencatat.
"Dan salon?"
"Kita tanyakan apakah mereka sering kehilangan calon pelanggan karena orang tidak tahu cara membuat janji."
Daniel berhenti mengetik.
"Kau sadar kita baru saja mendapatkan satu pelanggan dan sekarang bertindak seolah-olah kita memiliki departemen riset pasar?"
Arthur tersenyum.
"Kita tidak memiliki departemen riset pasar. Kita hanya memiliki dua orang yang harus berpikir sebelum menghabiskan waktu."
Daniel menggeleng geli.
"Baiklah. Aku akan menghubungi mereka lagi setelah kelas."
Arthur mengangguk.
Namun, sebelum mereka melanjutkan pekerjaan, Daniel memperhatikan layar laptop Arthur yang masih menampilkan tabel keuangan sebuah perusahaan.
"Itu perusahaan farmasi yang kau investasikan?"
"Ya."
"Bagaimana perkembangannya?"
"Belum ada perubahan mendasar."
Daniel duduk sedikit lebih dekat.
"Kau yakin dengan investasi itu?"
Arthur menutup laptop setengah.
"Aku yakin pada alasan yang membuatku mengambil posisi tersebut. Itu berbeda dengan yakin bahwa hasilnya pasti sesuai keinginanku."
Daniel mengerutkan dahi.
"Jelaskan."
"Kalau aku membeli sebuah aset berdasarkan beberapa asumsi, aku harus siap mengubah penilaian ketika asumsi itu terbukti salah. Aku tidak boleh mempertahankan investasi hanya karena tidak ingin mengakui bahwa aku keliru."
Daniel memandangnya beberapa saat.
"Kau benar-benar berubah."
Arthur terdiam.
Kalimat itu kembali muncul.
Ia mendengarnya dari Daniel, Clara, bahkan beberapa orang lain yang mulai memperhatikan sikapnya di kelas.
Tentu saja ia berubah.
Ia telah menjalani kehidupan yang tidak mereka ketahui. Ia telah melihat perusahaan-perusahaan besar lahir dan runtuh, persahabatan terputus, dan orang-orang yang dicintainya menghilang tanpa kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal.
Namun, ia tidak bisa menceritakan semua itu.
"Kurasa aku hanya mulai memikirkan apa yang sebenarnya penting bagiku," jawab Arthur.
Daniel tidak bertanya lebih jauh.
Mereka kembali bekerja sampai waktu kuliah tiba.
Siang itu, Arthur mengikuti kelas penilaian perusahaan bersama Profesor William Harris.
Materi hari itu membahas perbedaan antara harga pasar dan nilai intrinsik sebuah bisnis.
Profesor Harris menuliskan dua istilah tersebut di papan tulis sebelum berbalik menghadapi para mahasiswa.
"Misalkan sebuah perusahaan mengalami penurunan harga saham sebesar tiga puluh persen dalam satu minggu," katanya. "Apakah perusahaan itu otomatis menjadi lebih murah?"
Beberapa mahasiswa mengangkat tangan.
Seorang mahasiswa di barisan depan menjawab bahwa harga yang lebih rendah berarti investor dapat membeli saham dengan biaya lebih kecil.
Profesor Harris mengangguk.
"Benar, tetapi apakah itu berarti mereka mendapatkan nilai yang lebih baik?"
Mahasiswa tersebut terdiam.
Profesor Harris mengamati ruangan.
Arthur mengangkat tangan.
"Belum tentu, Profesor. Harga saham bisa turun karena pasar bereaksi berlebihan terhadap masalah sementara. Tetapi penurunan yang sama juga bisa mencerminkan perubahan mendasar dalam prospek perusahaan."
"Bagaimana Anda membedakan keduanya?"
"Kita harus memeriksa penyebab penurunan harga. Apakah pendapatan perusahaan menurun secara permanen? Apakah keunggulan kompetitifnya melemah? Apakah manajemen kehilangan kepercayaan pasar? Atau apakah investor hanya bereaksi terhadap berita yang belum tentu mengubah kemampuan perusahaan menghasilkan arus kas di masa depan?"
Profesor Harris tersenyum.
"Jawaban yang bagus. Jadi, menurut Anda, investor harus mengabaikan pergerakan harga?"
"Tidak, Profesor. Harga adalah informasi, tetapi bukan satu-satunya informasi. Kita perlu memahami mengapa harga bergerak dan apakah alasan di balik pergerakan tersebut benar-benar mengubah nilai bisnis."
Beberapa mahasiswa mengangguk.
Profesor Harris kemudian memberikan sebuah studi kasus untuk dibahas dalam kelompok kecil.
Arthur bekerja bersama tiga mahasiswa lainnya. Mereka harus menganalisis sebuah perusahaan teknologi yang mengalami pertumbuhan pendapatan pesat, tetapi masih membukukan kerugian.
Diskusi berlangsung cukup lama.
Arthur tidak mendominasi percakapan. Ia mendengarkan pendapat anggota kelompoknya, menanyakan sumber asumsi yang mereka gunakan, dan membantu menyusun beberapa skenario yang masuk akal.
Ketika kelas berakhir, salah seorang anggota kelompok menepuk bahunya.
"Kau pernah bekerja di perusahaan investasi?"
"Belum."
"Kalau begitu, bagaimana kau bisa berpikir seperti analis?"
Arthur tersenyum.
"Aku banyak membaca."j
Jawaban itu terdengar masuk akal.
Setidaknya, cukup masuk akal untuk mengakhiri percakapan tanpa menimbulkan pertanyaan lebih jauh.
Namun, ketika Arthur keluar dari ruang kelas, ia tidak menyadari bahwa seorang mahasiswa yang duduk beberapa baris di belakangnya telah memperhatikan diskusi tersebut sejak awal.
Mahasiswa itu bernama Nathan Brooks.
Ia bukan kerabat Daniel, meskipun memiliki nama keluarga yang sama. Nathan adalah mahasiswa tingkat akhir yang sedang menjalani magang di sebuah perusahaan konsultan keuangan di Manhattan.
Ia memperhatikan Arthur berjalan menuju tangga sambil memeriksa ponselnya.
Lalu ia mengambil ponsel sendiri dan membuka sebuah percakapan.
Ada mahasiswa di kelas penilaian perusahaan yang mungkin menarik untuk kau ketahui. Namanya Arthur Sterling.
Ia menatap pesan itu sebentar sebelum menambahkan kalimat lain.
Dia berbicara seperti seseorang yang pernah bekerja di industri ini, padahal dia masih mahasiswa.
Nathan mengirim pesan tersebut, lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku.
Ia tidak mengetahui bahwa percakapan singkat itu akan menjadi awal dari rangkaian perhatian yang tidak diinginkan Arthur.
Pukul 15.20, Arthur duduk di sebuah meja dekat jendela perpustakaan.
Ia baru saja menyelesaikan beberapa catatan kuliah ketika Clara Vance muncul sambil membawa dua buku tebal.
"Arthur, kau punya waktu sebentar?"
Arthur segera menutup buku catatannya.
"Tentu. Ada yang bisa kubantu?"
Clara duduk di kursi di hadapannya.
"Aku sedang mengerjakan analisis perusahaan teknologi untuk tugas tambahan Profesor Harris. Aku sudah membuat model valuasi sederhana, tetapi hasil akhirnya terasa terlalu sensitif terhadap asumsi pertumbuhan."
Arthur menerima laptop yang disodorkannya.
Di layar terdapat lembar kerja dengan proyeksi pendapatan, margin keuntungan, dan arus kas untuk beberapa tahun ke depan.
Arthur memeriksa model tersebut dengan teliti.
Clara telah melakukan pekerjaan yang cukup baik. Ia memahami dasar-dasar valuasi dan telah menyusun asumsi dengan rapi.
Namun, ada satu hal yang langsung menarik perhatian Arthur.
"Kau menggunakan tingkat pertumbuhan yang sama untuk seluruh periode proyeksi," katanya.
Clara mengangguk.
"Ya. Aku menggunakan pertumbuhan rata-rata dari dua tahun terakhir."
"Masalahnya, pertumbuhan perusahaan teknologi jarang berjalan dalam garis lurus. Perusahaan bisa tumbuh cepat pada tahap awal, lalu melambat ketika pasar mulai jenuh atau pesaing masuk."
Arthur menunjuk beberapa sel pada lembar kerja.
"Kau bisa membuat beberapa skenario. Satu skenario optimistis, satu skenario dasar, dan satu skenario pesimistis. Lalu kita bandingkan bagaimana perubahan asumsi memengaruhi hasil akhirnya."
Clara memandang layar.
"Tapi bagaimana kalau kita tidak tahu skenario mana yang paling mungkin terjadi?"
"Kita tidak harus berpura-pura mengetahuinya dengan pasti. Tujuan model bukan meramal masa depan secara sempurna. Tujuannya memahami faktor apa yang paling memengaruhi nilai perusahaan dan seberapa besar risiko jika asumsi kita salah."
Clara terdiam sejenak.
Kemudian ia tersenyum.
"Itu jauh lebih masuk akal daripada mencoba menemukan satu angka yang dianggap paling benar."
Arthur mengangguk.
Mereka mulai memperbaiki model tersebut bersama-sama.
Clara mengubah asumsi pertumbuhan, sementara Arthur membantu menyusun skenario untuk margin keuntungan dan kebutuhan modal. Mereka berdiskusi tentang kemungkinan perusahaan memperluas pasar, biaya pengembangan produk, dan risiko persaingan.
Sesekali, Clara mengajukan pertanyaan yang membuat Arthur harus memikirkan jawabannya dengan lebih cermat.
Ia menikmati percakapan itu.
Bukan karena Clara selalu setuju dengannya, melainkan karena perempuan itu memiliki pemikiran sendiri dan tidak takut mempertanyakan sebuah asumsi.
Setelah hampir satu jam, Clara menutup laptop.
"Terima kasih. Modelku sekarang jauh lebih masuk akal."
"Sama-sama."
Clara merapikan buku-bukunya, tetapi tidak langsung berdiri.
"Arthur, boleh aku bertanya sesuatu yang sedikit pribadi?"
Arthur menatapnya.
"Tentu."
"Kenapa kau begitu serius mempelajari investasi?"
Pertanyaan itu sederhana, tetapi jawabannya tidak.
Arthur memandang ke luar jendela.
"Aku ingin memiliki kebebasan untuk menentukan hidupku sendiri," katanya akhirnya. "Aku tidak ingin suatu hari nanti menyadari bahwa aku menghabiskan seluruh waktu mengejar sesuatu yang sebenarnya tidak pernah kupilih dengan sadar."
Clara memperhatikannya dengan saksama.
"Kedengarannya seperti kau sedang berusaha menghindari penyesalan."
Arthur terdiam sesaat.
Clara telah menyentuh sesuatu yang jauh lebih dalam daripada yang mungkin ia sadari.
"Kurasa semua orang ingin menghindari penyesalan," jawabnya.
"Benar. Tapi tidak semua orang memikirkannya ketika mereka masih muda."
Arthur tersenyum tipis.
"Mungkin aku hanya lebih takut kehilangan kesempatan daripada takut gagal."
Clara tidak langsung menjawab.
Kemudian ia berkata pelan, "Aku berharap bisa berpikir seperti itu."
Arthur menoleh kepadanya.
"Kenapa?"
Clara memandang buku-buku di tangannya.
"Kadang-kadang, aku merasa terlalu banyak hal dalam hidupku sudah ditentukan oleh harapan orang lain. Aku ingin membuat pilihan sendiri, tetapi aku belum selalu tahu bagaimana caranya."
Arthur merasakan sesuatu menegang di dadanya.
Ia mengingat potongan-potongan masa lalu yang pernah ia kumpulkan mengenai kehidupan Clara. Ia mengingat kabar tentang pernikahan perempuan itu dengan pewaris keluarga perbankan besar, serta rumor mengenai akhir hidupnya yang tragis.
Namun, ia belum memiliki bukti tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Ia juga tidak tahu bagaimana keadaan keluarga Clara saat ini atau tekanan apa yang sedang dihadapinya.
Arthur tidak ingin membuat kesalahan dengan berasumsi bahwa ia sudah memahami semua masalah perempuan itu hanya karena ia pernah mendengar cerita dari masa depan.
Jadi, ia tidak memberikan nasihat panjang.
Ia hanya berkata, "Kau tidak harus mengetahui seluruh jawabannya sekarang. Terkadang, kita bisa mulai dengan menentukan satu pilihan kecil yang benar-benar kita inginkan."
Clara menatapnya.
"Seperti apa?"
"Seperti memilih apa yang ingin kau pelajari, siapa yang ingin kau kenal, atau kesempatan mana yang ingin kau coba meskipun hasilnya belum pasti."
Clara tersenyum kecil.
"Aku akan memikirkan itu."
Arthur membalas senyumnya.
Mereka berbicara beberapa menit lagi sebelum akhirnya berpisah.
Ketika Clara berjalan meninggalkan perpustakaan, Arthur tetap duduk di tempatnya.
Ia ingin melindungi perempuan itu.
Tetapi ia mulai memahami bahwa perlindungan bukan berarti mengambil alih seluruh keputusan hidup seseorang.
Jika ia benar-benar ingin Clara memiliki kesempatan kedua yang lebih baik, ia harus memberinya ruang untuk menentukan pilihannya sendiri.
Dan untuk melakukan itu, Arthur perlu memahami dunia yang sedang dihadapi Clara sekarang.
Bukan hanya dunia yang ia ingat dari kehidupan sebelumnya.
Malam tiba ketika Arthur kembali ke apartemennya.
Ia baru saja selesai makan malam sederhana ketika ponselnya bergetar.
Sebuah surel masuk dari Richard Coleman.
Arthur segera membukanya.
Pesan itu lebih panjang daripada yang ia perkirakan.
Richard mengatakan bahwa ia telah membaca ringkasan analisis yang dikirimkan Arthur. Ia menghargai penjelasan mengenai risiko dan skenario kerugian, tetapi masih memiliki beberapa pertanyaan tentang asumsi yang digunakan untuk menilai potensi Aurelia Therapeutics.
Richard juga meminta Arthur menjelaskan bagaimana ia membedakan antara peluang yang benar-benar menarik dan peluang yang hanya tampak menarik karena investor terlalu terpaku pada kemungkinan keuntungan besar.
Arthur membaca pesan itu sampai selesai.
Kemudian ia membuka dokumen analisisnya kembali.
Ia tahu jawaban yang ingin didengar Richard bukanlah sebuah slogan tentang keberanian atau keyakinan.
Richard ingin melihat apakah Arthur memahami bahwa peluang investasi yang baik harus dinilai berdasarkan kemungkinan hasil yang beragam, bukan hanya hasil terbaik yang diharapkan.
Arthur mulai menulis jawaban.
Ia menjelaskan bahwa peluang yang menarik tidak selalu merupakan peluang yang harus diambil. Keputusan tetap bergantung pada harga, probabilitas, besarnya potensi kerugian, dan kemampuan investor menanggung risiko tersebut.
Ia juga mengakui bahwa analisisnya memiliki keterbatasan, terutama karena informasi yang tersedia bagi investor publik tidak selalu cukup untuk menilai seluruh faktor klinis dan operasional perusahaan bioteknologi.
Setelah selesai, Arthur membaca ulang pesannya.
Ia tidak menambahkan klaim yang tidak bisa dibuktikan.
Lalu ia mengirimkannya.
Beberapa menit kemudian, balasan dari Richard tiba.
Jawaban yang masuk akal. Saya ingin mengadakan percakapan lanjutan setelah saya memeriksa beberapa hal. Saya akan menghubungi Anda kembali.
Arthur meletakkan ponselnya.
Itu bukan tawaran pekerjaan.
Bukan pula janji bahwa Richard akan membantunya membangun karier di Wall Street.
Namun, pintu itu belum tertutup.
Arthur kembali ke meja dan membuka catatan bisnisnya bersama Daniel.
Tiga calon pelanggan masih menunggu untuk dihubungi. Situs restoran Carter perlu diperiksa kembali, dan mereka harus menyiapkan laporan sederhana mengenai hasil pekerjaan minggu pertama.
Ia mulai menyusun jadwal untuk esok hari.
Pada saat yang sama, ia menyadari bahwa kehidupannya mulai dipenuhi oleh lebih banyak orang dan lebih banyak kemungkinan daripada yang ia miliki beberapa hari lalu.
Daniel memberinya kesempatan membangun sesuatu bersama.
Clara memberinya alasan untuk memperbaiki cara ia menjalani hubungan dengan orang lain.
Richard memberinya kesempatan untuk membuktikan kemampuan profesionalnya.
Dan Aurelia Therapeutics menawarkan peluang finansial yang dapat mempercepat semua rencananya, meskipun risikonya tetap besar.
Namun, ada satu hal yang tidak diketahui Arthur.
Di sebuah kantor lain di Manhattan, seorang analis muda sedang membaca ringkasan informasi mengenai transaksi opsi Aurelia yang dilakukan oleh seorang mahasiswa bernama Arthur Sterling.
Analis itu menemukan bahwa posisi Arthur cukup besar dibandingkan dengan sumber daya keuangannya yang tampak dari informasi yang tersedia.
Ia juga melihat bahwa tanggal kedaluwarsa opsi tersebut berdekatan dengan periode ketika perusahaan diperkirakan mengumumkan perkembangan penting mengenai uji klinisnya.
Bagi kebanyakan orang, hal itu mungkin hanya kebetulan.
Namun, bagi seseorang yang terbiasa mencari pola dalam transaksi pasar, kebetulan seperti itu cukup menarik untuk diperiksa lebih lanjut.
Analis tersebut membuka sebuah dokumen baru.
Di bagian atas halaman, ia mengetik:
Arthur Sterling — Asal Usul Posisi Aurelia Therapeutics.
Ia belum menuduh Arthur melakukan sesuatu yang salah.
Ia hanya ingin mengetahui bagaimana seorang mahasiswa dengan modal terbatas dapat mengambil posisi yang begitu spesifik pada sebuah perusahaan yang jarang menjadi perhatian investor besar.
Dokumen itu kemudian disimpan ke dalam sistem internal perusahaannya.
Tidak ada alarm.
Tidak ada peringatan yang muncul di layar Arthur.
Di apartemennya yang kecil, pemuda itu masih sibuk menyusun daftar pekerjaan untuk hari berikutnya, tidak menyadari bahwa keputusan investasinya mulai menarik perhatian orang-orang yang belum pernah ia temui.
Arthur mengira ia sedang membangun masa depan dengan memanfaatkan pengetahuan yang dimilikinya.
Namun, ia belum memahami satu kenyataan penting.
Semakin besar keuntungan yang ia peroleh dari masa depan, semakin banyak orang yang mungkin ingin mengetahui dari mana keuntungan itu berasal.