Setelah akar spiritual emasnya dirampas secara paksa oleh sepupunya sendiri dan tubuhnya dibuang ke Jurang Abu Api, Lin Xuan—seorang pemuda klan cabang yang sekarat—justru menyatu dengan Tungku Abu Takdir peninggalan zaman purba. Dari abu kehancuran, ia menempuh jalur kultivasi terlarang yang mampu melebur kutukan, meracik pil dari racun mematikan, dan menebas tatanan langit yang korup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Rahasia Tambang Batu Roh
Malam kedua sebelum Lelang Agung digelar, angin dingin berhembus kencang di sepanjang perbukitan terjal di sebelah utara Kota Awan Merah.
Di bawah kaki Gunung Utara terletak Tambang Batu Roh milik Klan Lin. Lima tahun silam, di tambang inilah ayah Lin Xuan—Lin Xiao, yang saat itu merupakan kultivator terkuat di Klan Lin pada Alam Pembukaan Meridian Lapis Lima—bersama istrinya dikabarkan tewas akibat serangan mendadak kawanan bandit gunung.
Namun, berbekal peta kulit domba dan lencana kelelawar merah yang ia rampas dari pemimpin algojo Bayangan Darah kemarin malam, Lin Xuan kini menyelinap melewati pos penjagaan luar tambang dan masuk ke sebuah celah gua tersembunyi yang tidak pernah tercatat dalam peta resmi klan.
"Hati-hati, bocah," bisik Tetua Gu melalui transmisi suara jiwa. "Di ujung terowongan bawah tanah di depan sana, aku merasakan bau amis darah manusia yang dijadikan tumbal kultivasi sesat!"
Tatapan mata Lin Xuan berubah sedingin es. Dengan langkah Jejak Tanpa Bayangan, ia merayap di sepanjang dinding batu terowongan hingga tiba di balik stalaktit besar yang menghadap ke sebuah aula bawah tanah yang luas.
Di tengah aula bawah tanah tersebut, tampak sebuah kolam batu penuh cairan darah merah kehitaman yang mendidih. Di sekeliling kolam, tergeletak belasan kerangka manusia milik para penambang yang selama ini dilaporkan "hilang akibat runtuhan tambang".
Dan di tepi kolam darah itu, berdiri dua orang yang sedang berbincang pelan: satu orang adalah Lin Kun, Tetua Ketiga Klan Lin sekaligus adik kandung Lin Zhen yang bertugas mengawasi tambang; sedangkan sosok kedua adalah seorang pria berjubah merah darah dengan wajah pucat seperti mayat hidup!
"Tetua Ketiga Lin, sepuluh penambang yang kau kirim bulan ini kualitas darahnya terlalu buruk," keluh pria berjubah merah darah itu dengan suara parau seperti gesekan besi. "Untuk menyempurnakan Bendera Jiwa Darah pesanan tetua sekte kami, aku masih membutuhkan darah jantung dari seorang gadis pemilik Meridian Es sebelum bulan purnama tiba!"
Lin Kun tersenyum penjilat sambil membungkuk hormat. "Utusan Xue, mohon bersabar sedikit. Kakakku, Tetua Agung Lin Zhen, sudah berjanji akan menyerahkan gadis bernama Lin Wan'er itu kepada Sekte Darah Langit kalian begitu utusan Sekte Awan Biru meninggalkan kota! Sama seperti lima tahun lalu ketika Sekte Darah Langit kalian membantu kami membunuh pasangan suami-istri Lin Xiao di terowongan ini dan memberikan formasi pencabut akar spiritual untuk Tianhao, kerja sama kita pasti akan berjalan mulus!"
Krak!
Batu stalaktit yang dicengkeram oleh jari-jari Lin Xuan di balik bayangan hancur menjadi bubuk halus!
Seluruh kepingan teka-teki selama lima tahun terakhir kini tersusun dengan jelas dan kejam di depan matanya.
Bukan kawanan bandit yang membunuh ayah dan ibunya! Melainkan Lin Zhen dan Lin Kun yang bersekongkol dengan sekte sesat paling dibenci di Wilayah Timur—Sekte Darah Langit—untuk membantai orang tuanya, merampas akar spiritualnya, dan kini bahkan berencana menyerahkan Wan'er sebagai tumbal darah!
"Siapa di sana?!"
Utusan Xue yang berada di Alam Pembukaan Meridian Lapis Dua langsung menoleh tajam ke arah balik stalaktit sambil mengibaskan lengan jubahnya, melontarkan tiga jarum tulang beracun yang melesat secepat kilat!
Lin Xuan tidak lagi bersembunyi. Ia melangkah keluar dari balik bayangan sambil mengayunkan Pedang Abu Hitamnya, menangkis ketiga jarum tulang itu hingga hancur menjadi percikan api.
"Lin Xuan?!" mata Lin Kun yang berada di Alam Pembukaan Meridian Lapis Satu membelalak hebat seolah melihat hantu di siang bolong. "Kau... mengapa kau bisa menemukan tempat rahasia ini?!"
"Jika aku tidak datang malam ini, bagaimana mungkin aku tahu bahwa kematian ayah dan ibuku lima tahun lalu adalah ulah kalian bersama anjing-anjing Sekte Darah Langit?" suara Lin Xuan menggema dingin di seluruh aula bawah tanah, sarat akan niat membunuh yang membuat suhu ruangan anjlok drastis.
Utusan Xue menyeringai buas begitu merasakan bahwa Lin Xuan baru berada di Alam Pemurnian Tubuh Lapis Delapan.
"Hahaha! Aku kira tetua klan cabang mana yang menyelinap masuk, ternyata hanya bocah Pemurnian Tubuh yang datang mengantar nyawa!" Utusan Xue menjilat bibirnya dengan mata merah menyala. "Lin Kun, tutup pintu terowongan! Darah dan jiwa bocah ini sangat segar untuk memberi makan Bendera Jiwa Darah milikku!"