Alina Elviana dan Rafael Mahendra menikah karena perjodohan. Namun hati Rafael tak pernah benar‑benar di sini, ia masih menyimpan perasaan pada seseorang di masa lalunya.
Revan Adinata, asisten yang bergabung enam bulan lalu, justru lebih memahami Alina, hadir mengisi kekosongan yang ditinggalkan suaminya. Namun di balik sikap tenang dan setianya, Revan menyimpan rahasia besar yang tak boleh terungkap.
Saat perasaan terlarang mulai tumbuh, Alina harus memilih: bertahan dalam pernikahan yang hampa, atau mengikuti suara hati yang terancam hancur saat kebenaran terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20
Lampu‑lampu jalan berderet di sisi jalan, cahayanya memantul samar di kaca jendela mobil yang melaju stabil. Di dalam kabin yang dingin karena AC, Alina duduk di sisi kiri kursi belakang, menatap ke luar tanpa bergerak. Rafael duduk terpisah di sisi kanan, jarak yang tak terlihat namun terasa nyata di antara mereka.
Rafael melirik ke arah Alina, suaranya rendah, hampir tertutup suara mesin mobil.
"Alina… nanti di depan Papa dan Mama, tolong jangan pasang wajah seperti itu. Jangan sampai mereka curiga ada apa‑apa."
Alina tidak menjawab. Hanya napas hangatnya yang membentuk embun tipis di kaca.
"Alina, aku sedang bicara sama kamu."
Alina masih diam. Ia justru menempelkan keningnya perlahan ke kaca, membiarkan pantulan wajahnya yang berkaca‑kaca terlihat samar di sana.
Rafael menghela napas kasar, memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut. Tangannya terulur ingin meraih tangan Alina, tapi berhenti di udara lalu jatuh kembali ke pangkuannya.
"Ya sudah… terserah. Yang jelas, jangan buat keluargaku bertanya‑tanya dengan sikapmu itu."
Mobil terus melaju. Tiga puluh menit itu terasa jauh lebih lama, seperti berjam‑jam.
Sampai akhirnya gerbang tinggi kediaman keluarga Mahendra terbuka perlahan. Lampu taman menyala semua, menaburkan cahaya keemasan ke halaman luas.
Di teras depan sudah berdiri Tuan Andika, Nyonya Diah, Kayla, dan agak terpisah di depan, Revan dengan kemeja serta jas hitam yang rapi.
Mobil berhenti bergetar. Sebelum sopir sempat turun, Revan sudah maju duluan menuju pintu sebelah kiri. Ia membuka pintu untuk Alina. Angin malam masuk membawa udara sejuk.
"Silakan, Nyonya," ucapnya pelan.
Alina mengangkat kepala. Tatapan mereka bertemu sekejap — terlalu singkat untuk dilihat orang lain, tapi terlalu lama untuk mereka berdua. Revan tersenyum tipis, senyum yang hanya mereka yang tahu maknanya. Di sisi kanan, Rafael turun sendiri dari mobil.
Nyonya Diah langsung maju, merangkul Alina dengan hangat, tangannya mengusap punggung wanita itu.
"Rafael, Alina… akhirnya sampai. Sudah lama kalian tidak datang ke sini."
Tuan Andika menepuk bahu Rafael. "Lama di jalan? Tadi Papa telepon Revan, katanya kalian berangkat jam tujuh."
"Macet sedikit, Pa," jawab Rafael singkat.
Alina memaksakan senyum tipis. "Ya, Ma. Rafael selalu sibuk, jadi kami jarang sempat datang."
Kayla menyusul cepat dari belakang, lalu merangkul lengan Alina dengan riang.
"Kak Alina! Aku kangen. Kakak sudah janji mau ajarin aku bikin kue!"
Alina mengangguk pelan. "Iya, nanti Kakak ajarin."
Semua mata tertuju pada pasangan itu. Revan berdiri agak di belakang dekat pilar teras, tangan terlipat di depan, menunduk sopan sambil memberi jarak.
Tuan Andika memberi isyarat dengan tangan. "Ya sudah, masuk dulu semua. Makan malam sudah siap. Revan, kamu juga ikut masuk."
Rafael berjalan duluan di samping Papanya. Nyonya Diah menggandeng Alina bersama Kayla masuk ke dalam. Revan berjalan paling belakang, sendirian.
Di ruang makan besar, meja kayu panjang sudah tertata rapi, piring‑piring putih, gelas kristal, dan lilin kecil yang berkilau lembut di tengah meja.
Tuan Andika duduk di ujung meja, Nyonya Diah di sebelahnya.
"Revan, sini duduk. Jangan berdiri terus," ujar Tuan Andika sambil menunjuk kursi kosong di samping Kayla. "Temani Kayla."
Revan sempat melirik Rafael sejenak, lalu mengangguk. "Baik, Tuan."
Ia duduk di samping Kayla, tepat berhadapan dengan Rafael dan Alina.
Di meja tersaji steak dengan kentang panggang, salad segar, roti hangat, dan botol wine yang belum dibuka di tengah.
Nyonya Diah menyendokkan salad ke piring Alina. "Alina, coba ini. Kamu suka makanan yang segar‑segar begini kan?"
Alina menunduk sopan. "Terima kasih, Ma."
Rafael mengulurkan tangan, meraih tangan Alina di atas meja, mengusap punggungnya dengan ibu jari, untuk menunjukkan pada orang tua bahwa mereka pasangan yang rukun.
"Makan banyak ya, sayang. Ini semua makanan kesukaanmu," ucapnya dengan nada lembut.
Dari seberang meja, Revan melihat itu. Tangannya mengepal perlahan di atas pangkuannya.
"Kak Revan, habis makan nanti temenin aku cari angin di halaman belakang ya?" bisik Kayla ke arah Revan.
Revan mengangguk tanpa sadar, tapi matanya tetap tertuju ke seberang, ke tangan Rafael yang menggenggam tangan Alina, sampai akhirnya mata mereka bertemu.
Tuan Andika meletakkan gelasnya perlahan, suaranya berubah jadi serius. "Rafael, Alina… Papa dan Mama sebenarnya memanggil kalian malam ini ada yang mau dibicarakan. Tentang rencana perjodohan."
Udara seketika membeku.
Rafael mengangkat kepala, alisnya bertaut. "Perjodohan? Siapa yang mau dijodohkan, Pa?"
Tuan Andika tidak menjawab langsung. Matanya bergerak ke seberang meja, ke arah Revan dan Kayla.
"Kayla," ucapnya tegas. "Papa ingin menjodohkan dia dengan Revan."
Prang!
Garpu di tangan Alina tergelincir, jatuh ke piring dengan bunyi keras. Semua mata langsung menoleh padanya.
"Ah… maaf," Alina buru‑buru mengambil garpu itu, tangannya gemetar. "Aku tidak hati‑hati."
Nyonya Diah tersenyum maklum. "Tidak apa‑apa, Nak."
Di seberang, Revan juga terpaku. Punggungnya yang tadi tegak kini kaku seperti batu. Ia menatap Tuan Andika dengan mata yang tak percaya.
"Tuan…" suaranya hampir tidak terdengar.
Rafael menatap bolak‑balik ke arah Papanya, Kayla, lalu Revan. Rahangnya mengeras.
"Revan dan Kayla?" ulangnya dengan nada datar. "Sejak kapan Papa merencanakan hal ini?"
Tuan Andika bersandar ke sandaran kursi, tatapannya penuh keyakinan. "Sudah lama. Revan sudah seperti anak laki‑laki Papa sendiri. Papa lihat dia kerja keras dan setia. Papa tidak mau cari orang lain untuk Kayla. Dia orang yang paling Papa percaya untuk menjaganya."
Wajah Kayla memerah padam. Ia menunduk dalam‑dalam, tapi melirik Revan dari sudut mata, ada malu dan harapan yang tak bisa disembunyikan.
Mata Revan bergerak tanpa sadar ke seberang meja, tepat ke arah Alina. Dan Alina juga sedang menatapnya dengan tatapan panik.
Rafael meletakkan pisau dan garpunya perlahan, tapi bunyi yang dihasilkan terdengar keras saat beradu dengan piring keramik. Senyum tipis muncul di bibirnya, tanpa kehangatan sama sekali.
"Menarik," ucapnya sambil menatap lurus ke arah Revan. "Jadi… kamu akan jadi adik iparku, Revan?"
Revan mengepalkan tangan di bawah meja sampai buku‑jarinya memutih. Ia menelan ludah susah payah, lalu menjawab dengan suara yang dipaksa tenang.
"Maaf, Tuan. Saya rasa… Nona Kayla masih terlalu muda untuk hal seperti ini."
"Siapa bilang?" potong Tuan Andika dengan tegas. "Kayla sudah dua puluh satu tahun. Usia yang pas. Lagipula ini baru rencana. Kita bicarakan pelan‑pelan."
Nyonya Diah menimpali sambil tersenyum lembut ke arah Kayla dan Revan. "Iya, Mama juga setuju. Lagipula, Mama sudah melihat sejak lama kalau Kayla sudah menyukai Revan sejak pertama kali mereka bertemu."
Kalimat Nyonya Diah itu jatuh seperti lampu sorot yang tiba‑tiba menyinari wajah Kayla. Kayla langsung menunduk lebih dalam, telinganya memerah padam sampai ke pangkal leher.
"Mama…" gumamnya pelan, hampir seperti merengek pelan. "Jangan bilang begitu…"
Tapi Nyonya Diah hanya tertawa kecil, sama sekali tidak sadar bahwa suasana di seberang meja sudah hancur berantakan.
"Kenapa malu, Nak? Mama lihat sendiri kok. Setiap Revan datang ke rumah, kamu yang paling semangat lari turun dari kamar. Sampai baju diganti dua kali sebelum keluar."
Rafael meletakkan sendok dan garpunya perlahan ke atas piring, lalu berdiri dengan gerakan tegas.
"Pa, boleh kita bicara sebentar berdua? Di ruang kerja?" suaranya tetap sopan, tapi ada tekanan yang tak bisa disembunyikan.
Tuan Andika menatap anaknya sejenak, lalu mengangguk pelan. "Baiklah. Ayo."
Kedua pria Mahendra itu berjalan meninggalkan meja makan. Langkah Rafael lebar dan cepat, sedangkan langkah Tuan Andika lebih lambat dan tenang.
Pintu ruang kerja yang terbuat dari kayu berat tertutup perlahan, memisahkan mereka dari keramaian di ruang makan.
Di meja makan yang tersisa sekarang hanya Nyonya Diah, Kayla, Alina, dan Revan. Keheningan canggung menyelimuti ruangan, hanya terdengar bunyi lilin yang berdesis pelan. Tak ada yang berani memulai bicara.
Alina bangkit perlahan, matanya tak berani menatap mata Revan.
"Ma, Kayla… maaf, aku ke kamar mandi sebentar ya," suaranya bergetar pelan, hampir berbisik.
Nyonya Diah langsung mengangguk. "Ya, Nak. Jangan lama‑lama ya."
Alina mengangguk singkat, lalu melangkah cepat menuju lorong belakang, berusaha menyembunyikan air mata yang sudah siap jatuh.
Tinggallah Nyonya Diah, Kayla, dan Revan di meja makan. Beberapa detik keheningan yang berat menyelimuti mereka. Tiba‑tiba ponsel Revan bergetar pelan di atas meja. Ia melirik layarnya sebentar, lalu berdiri sambil mengambil ponsel itu dengan sikap sopan.
"Maaf, Nyonya. Nona Kayla," ucapnya. "Dari kantor. Ada berkas yang harus saya cek di mobil. Tadi saya tinggalkan di sana."
Itu alasan yang sempurna. Sebagai asisten pribadi, wajar saja kapan saja harus mengurus urusan kerja.
Nyonya Diah mengangguk maklum. "Ya sudah, Nak. Tidak apa‑apa."
Kayla pun mengangguk kecil, masih menunduk dengan pipi yang memerah karena malu.
Revan berjalan menjauh dari meja, tapi tidak menuju pintu depan tempat mobil terparkir. Ia berbelok diam‑diam ke arah lorong yang sama dengan Alina.
Lorong itu remang‑remang, hanya ada cahaya lampu dinding yang temaram.
Di ujung lorong, Alina baru saja keluar dari kamar mandi. Napasnya masih tersengal pelan, sampai ia terkejut saat melihat Revan sudah berdiri beberapa langkah di depannya.
"Revan? Apa yang kamu lakukan di—"
"Menunggumu," potong Revan dengan suara rendah dan lembut, agar tidak terdengar orang lain. "Aku khawatir… suasana hatimu semakin buruk karena apa yang dibicarakan di meja tadi."
Alina menggigit bibir bawahnya yang lembap, menahan isak tangis yang hampir keluar. "Itu…"
"Aku tidak menyukai Kayla," jawab Revan cepat, tegas tanpa ragu. "Dan tidak akan mungkin menyukainya."
Alina tertegun sejenak, lalu menatap wajahnya dalam‑dalam.
"Kenapa?" tanyanya berbisik pelan. "Kayla masih muda dan cantik."
Revan melangkah mendekat perlahan, matanya tak berkedip menatap mata Alina. Ia mengangkat satu tangan, lalu mengusap pipi Alina dengan jari‑jemarinya yang hangat dan lembut.
"Karena..."
Suara Revan terhenti. Bukan karena ia tidak tahu jawabannya. Tapi karena dari ujung lorong, terdengar suara langkah kaki kecil yang tergesa.
"Ka-Kak Alina? Kak Alina di sini?"
-
-
-
Bersambung...
Maybe gt🤭
Konfliknya berlapis, bukan cuma soal Alina - Rafael - Revan. Tapi ada 2 bom waktu di sini:
Cinta terlarang Alina & Revan dan rahasia besar Revan.
Rafael sebagai suami yang dingin karena masa lalu, Revan sebagai penyelamat yang tenang dan setia. Kontrasnya dapet. Alina berada di posisi dilema dengan pilihan berat "bertahan dalam pernikahan hampa atau mengikuti suara hati". Itu bukan pilihan mudah. Apalagi ada embel-embel "Di Bawah Kendali Asisten Suami" - yang mengisyaratkan dominasi, posesif. Ini bukan cerita nikah biasa, ini cerita tentang kekosongan yang akhirnya diisi oleh orang yang seharusnya tidak boleh.
cerita kakak luar biasa. semangat berkarya🥰