NovelToon NovelToon
Mari Bercerai, Mas!

Mari Bercerai, Mas!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami
Popularitas:35.4k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

“Mari bercerai, Mas!”

Rania menatap lurus ke mata suaminya tanpa gentar, meski hatinya terasa hancur perlahan.

Harsa membeku. Kata cerai tak pernah ada dalam hidupnya. Baginya, Rania adalah miliknya selamanya, takdir yang tak bisa diubah siapa pun.

“Apa katamu?!”

Rania menggigit bibir, menahan sesak di dada sebelum akhirnya berkata pelan namun tegas, “Aku ingin bercerai. Aku sudah lelah menjadi istrimu!”

Selama tiga tahun pernikahan mereka, semuanya baik-baik saja. Harsa mencintainya dengan cara yang hangat. Sampai kematian sang adik mengubah segalanya.

Sejak saat itu, Harsa seolah perlahan menjauh darinya. Semua waktunya habis untuk menjaga janda adiknya dan keponakan kecil mereka. Sedangkan Rania, hanya menjadi bayangan di rumahnya sendiri.

Tak ada yang tahu, di balik senyum tenangnya, Rania sedang berjuang melawan penyakit yang mematikan.

Akankah Harsa setuju dengan perceraian itu? Ataukah Rania memilih pergi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 33

Harsa melangkah keluar ke area halaman belakang dengan sisa-sisa napas yang masih memburu setelah melarikan diri dari kamar Wulan. Ia mendapati ibunya, Ratna, sedang duduk di kursi santai sembari mengawasi Gavin yang asyik melempar kerikil ke dalam kolam renang.

Harsa mendekat, lalu berdeham pelan untuk mengalihkan perhatian sang ibu.

“Bu... apa dari tadi belum ada tanda-tanda Rania pulang? Atau mungkin dia ada menelepon Ibu?”

Mendengar nama menantunya disebut, wajah Ratna yang semula tenang langsung berubah ketus. Ratna mendengus kencang sembari melipat kedua tangannya di dada.

“Pulang? Jangan harap perempuan egois itu ingat jalan pulang jam segini! Jangankan menelepon, dipikirnya rumah ini hotel apa? Benar-benar menantu kurang ajar, kelayapan dari pagi sampai menjelang malam tidak jelas juntrungannya!”

“Bu, tolong jangan bicara begitu. Rania mungkin sedang ada urusan penting di luar. Kemarin dia juga ke rumah sakit,” bela Harsa, mencoba meredam emosinya sendiri.

“Urusan penting apa sampai menelantarkan suami dan mertua, Harsa?!” semprot Ratna tidak mau kalah. “Ibu tidak mau tahu ya, pokoknya Rania itu menantu yang sama sekali tidak becus! Rumah berantakan dia tidak peduli, kamu tidak diurus, bahkan Ibu dicueki begitu saja sejak kemarin. Kalau dia memang sudah tidak niat jadi istrimu, untuk apa dipertahankan?”

Ratna menatap putra sulungnya itu lekat-lekat, lalu melanjutkan kalimatnya dengan nada enteng tanpa beban.

“Lagipula, tadi subuh Ibu dengar sendiri dari balik pintu. Dia menuntut cerai darimu, kan? Ya sudah, kalau dia minta cerai, ceraikan saja! Lapangkan jalan untuknya keluar! Masih banyak wanita di luar sana yang jauh lebih baik, lebih penurut, dan lebih menghargaimu ketimbang si Rania itu!”

“Ibu! Jaga bicara Ibu!” bentak Harsa, wajahnya memerah padam karena terkejut mendengarkan kalimat sekasar itu keluar dari mulut ibunya sendiri. “Rania itu istri sah Harsa! Bagaimana bisa Ibu bicara soal perceraian semudah itu?!”

Ratna tetaplah Ratna, seorang ibu mertua yang tidak tahu malu, keras kepala, dan selalu ingin menang sendiri. Ia sama sekali tidak merasa bersalah. Padahal, jika mau mengingat kembali ke belakang, selama tiga tahun ini Ranialah yang selalu bersikap teramat baik, luar biasa sabar, dan selalu royal membelikan apa pun yang Ratna inginkan tanpa pernah mengeluh sedikit pun.

Namun, semua kebaikan Rania seolah lenyap tak berbekas di mata Ratna hanya karena satu tahun terakhir ini Rania mulai menunjukkan sikap dingin.

Ratna justru malah memuja Wulan setinggi langit. Wanita itu berdiri dari kursinya, lalu menepuk pundak Harsa dengan mimik wajah serius.

“Harsa, buka matamu lebar-lebar. Lihat Wulan! Dia wanita yang sempurna untukmu. Dia telaten, pintar memasak, lembut, dan yang paling penting... dia sudah memberimu Gavin. Coba kamu pikirkan baik-baik, daripada kamu pusing menghadapi Rania yang makin hari makin membangkang, lebih baik kamu menikah saja dengan Wulan! Jadikan Wulan istrimu, biar Gavin punya Papa yang sah!”

Harsa terdiam membeku di tempatnya berdiri. Tatapan matanya beralih menembus kaca besar yang membatasi halaman belakang dengan area dapur. Di dalam sana, terlihat Wulan sedang sibuk memotong sayuran dengan gerakan yang teramat anggun, sesekali menyeka keringat di pelipisnya.

Seketika itu juga, bisikan-bisikan setan mulai kembali merayapi isi kepala Harsa. Memang tidak bisa dipungkiri, selama satu tahun terakhir ini, semenjak Bima tiada, Harsa jauh lebih banyak menghabiskan waktu, perhatian, dan tumpahan tawanya bersama Wulan juga Gavin. Jauh di dalam lubuk hatinya, Harsa merasa teramat nyaman dan dihargai saat berada di dekat Wulan, meskipun selama ini ia selalu menepis perasaan aneh itu dengan kedok tanggung jawab.

Ada satu hal lagi yang mendadak melintas di pikiran Harsa, sebuah keinginan terbesar seorang pria dewasa. Harsa sangat ingin memiliki anak kandung dari darah dagingnya sendiri.

Jika bicara soal kekurangan fisik atau perangai, Rania sama sekali tidak punya kekurangan apa pun. Istrinya itu cantik, anggun, berpendidikan, dan mandiri. Hanya ada satu noda di dalam pernikahan mereka, Rania belum juga memberikannya keturunan setelah tiga tahun menikah.

Selama ini, Harsa memang tidak pernah menuntut atau mempermasalahkan hal itu secara terbuka. Mereka bahkan belum sempat pergi memeriksa diri ke dokter spesialis kandungan karena kesibukan kerja Harsa yang luar biasa padat belakangan ini.

Tetapi, jika mengingat kembali ucapan ibunya beberapa hari lalu yang sempat menuduh Rania mandul, mungkinkah tuduhan itu benar?

“Kalau Rania tidak mandul, pasti dia sudah hamil sejak dulu, kan? Meskipun belakangan ini kami jarang melakukannya, tapi di awal pernikahan dulu kami sangat sering berhubungan suami istri. Kenapa sampai sekarang rahimnya tetap kosong?” batin Harsa mulai berasumsi negatif.

Pikiran Harsa kian carut-marut oleh prasangka buruk yang sengaja ia ciptakan sendiri untuk menutupi rasa bersalahnya pada Rania. Ditambah lagi ucapan pedas Ratna yang kian membuatnya semakin bimbang.

“Papa Harsa!”

Panggilan itu seketika memutus lamunan hitam Harsa. Gavin berlari kecil dari tepi kolam, lalu memeluk erat kaki celana Harsa dengan wajah yang teramat ceria.

“Papa... Gavin lapar. Mau makan masakan buatan mama di dalam. Ayo masuk, Pa!”

Harsa menunduk, menatap wajah polos Gavin yang sangat mirip dengan Wulan. Rasa nyaman itu kembali hadir, seolah-olah mereka adalah sebuah keluarga kecil yang utuh.

Harsa tersenyum tipis, lalu menggendong Gavin ke dalam pelukannya. “Iya, anak pintar. Ayo kita masuk ke dalam, kita makan bersama mama Wulan," ucap Harsa berjalan masuk ke dalam rumah sembari memgajak ibunya.

*

*

Prang!

Seketika cangkir teh yang berada di genggaman Rima jatuh menghantam lantai dan hancur berkeping-keping. Matanya membelalak lebar, menatap lurus ke arah pintu utama. Di sana, berdiri putri kesayangan yang sudah tiga tahun ini tak pernah lagi menginjakkan kaki di rumah ini.

Melihat tubuh Rania yang kini teramat kurus, serta wajah manisnya yang berubah pucat dan tirus, hati Rima seketika mencelos.

Sakit, rasanya teramat sakit.

“Rania... putriku?!” pekik Rima dengan suara bergetar hebat.

Tanpa memedulikan pecahan beling di dekat kakinya, Rima berlari kencang menghampiri Rania. Ia langsung merengkuh tubuh ringkih itu ke dalam dekapan hangatnya. Detik itu juga, tangis Rima pecah seketika. Tangisan seorang ibu yang selama tiga tahun ini memendam rasa rindu, luka, dan kehampaan yang teramat pekat pada putri kandungnya.

Rania memejamkan mata, menghirup dalam-dalam aroma tubuh ibunya yang begitu menenangkan. Ia balas memeluk erat tubuh Rima, mencoba menyalurkan seluruh sisa kekuatan yang ia miliki.

“Bagaimana kabar Mama?” tanya Rania dengan setenang mungkin. Ia menahan sekuat tenaga agar air matanya tidak tumpah. Ia sama sekali tidak ingin memperlihatkan kalau dirinya saat ini sedang sakit parah.

“Mama baik-baik saja, Nak... Mama baik,” isak Rima, tangisannya justru kian histeris sembari menciumi puncak kepala dan kedua pipi tirus Rania. “Mama kangen sekali sama kamu, Rania. Kenapa kamu baru datang sekarang, sayang? Setiap hari Mama selalu menunggu kamu mengetuk pintu ini atau menghubungi Mama lebih dulu. Mama rindu...”

“Maafkan Rania, Ma... Maafkan Rania yang durhaka ini,” bisik Rania, akhirnya air matanya lolos jua mendengar ratapan sang ibu.

“Siapa yang datang, Ma? Kenapa kamu teriak-teriak dan—”

Ucapan Aditya Wiranata seketika terputus di udara. Langkah kaki pria paruh baya itu mendadak terkunci rapat begitu melihat sosok wanita muda yang tengah berada di dalam pelukan istrinya.

Aditya membeku di tempat. Wajah tegasnya mendadak pias. Sepasang matanya yang mulai berkerut menatap lurus pada putri tunggalnya yang dulu pergi demi pria lain.

“Rania...”

1
evi carolin
Wulan goblok , Harsa bersiaplah kamu akan peringatan keras dr CEO ,duh pengennya kena pecat deh Krn kelakuan Wulan sendiri biar tambah pusing dan beban
evi carolin
semoga semua fasilitas yg dinikmati mereka selama sdh siap dicopot oleh Rania kalau dia sdh pergi ,Gedeg aq liat kelakuan mereka terlebih mertua ga tau diri
evi carolin
siap siap aja si ibu ya kalau nikmat jabatan anakmu dicopot ....
Al Fatih
Jangan2 itu Gavin yaa,, duh si Wulan rahasia gelapnya banyak bngt
Mita Paramita
Thor cepet bongkar kebusukan Wulan jadi gemes liat tingkah gak tau diri Wulan 🤣🤣🤣
deeRa
Coba tolong jedotin kepala nya Harsa😌
Yessi Kalila
rasanya pengin banget nendang pelakor yg bernama Wulan.... 😄😄😄
vj'z tri
yang kaya itu Rania woi Rania 🤧🤧
tinie
mirip Gavin yaa
tinie
waah bisa jadi sampai disana malah ketemu sama wulan
ollyooliver
wahhhh....jeng..jeng..jengggggggg. harsa..harsa, kesalahanmu mmng gk fatal amat, gk selingkuh, gak adu kokop atas bawah. tapi bayaran satu tahun menyakiti rania..bener" dibayar fatal..ah mantap.🤤
tinie
dalam mimpi mu
mana ada menejer memecat seorang ceo🤣🤣🤣

gilaaa
ollyooliver
oalahhh..
tinie
wanita tak tau diri
ollyooliver
waduhhhh...gavin kaliii anaknya
ollyooliver
beruntung? ketiban sial itu rania😌
ollyooliver
tenang aja..dia begini bukan karna dia mau, atau karema rasa bersalahnya pd rania.. tapi karena mertuanya. tenang aj, nanti balik kesetelan awal. rania gk ada apa"nya dibandingkan dirimu..harsa aja ,mudah berpaling😌
ollyooliver
sikapnya berubaah karna ancaman pasti, kalau gk..mana mau dia beginiin wulan tersayangnya. ttp ya rania bukan prioritas. kalaupun nanti jadi prioritas...cuman dua jawabannya. satu...karena keluarga rania tau harsa perlakukan wulan bagaimama terutama aditya. kedua, kalau jadi mantan istri..baru deh ngejar" rania tapi ttp saja bukan karnaa cinta atau pun perasaannya. kasihan dan rasa bersalha, menyesal tentu. dan semuanya gk ada perbuatan yg tulis dri hati harsa..karena dia bertindak selalu karema alasan lain...bukan karena RANIANYA😌
ollyooliver
penasaran deh, apa yg dikatakan aditya
MamDeyh
Up lg Kak
Senja: kak nita sebelah ya tadi, typo😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!