NovelToon NovelToon
Alencio

Alencio

Status: tamat
Genre:Bad Boy / Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: ikesweetdevil

Bagi Amanda, Farel adalah sahabat sekaligus cinta pertamanya. Meskipun lelaki itu tidak pernah menganggapnya lebih dari seorang teman, namun Amanda tidak pernah memiliki rasa lelah terlebih lagi menyerah. Ia akan selalu berusaha membuat Farel melihat ketulusan cintanya, meskipun Amanda sendiri tidak bisa mengungkapkannya secara langsung.

Namun sebuah rasa itu seolah menghilang secara perlahan saat Amanda bertemu dengan lelaki bernama Cio, lelaki aneh yang selalu menggodanya dengan sikap konyolnya. Seperti pada lelaki lainnya, Amanda selalu bersikap tak peduli, namun seiring berjalannya waktu, hatinya justru tersentuh dengan kisah kehidupannya dan perasaan tulusnya.

Di balik tawa konyolnya, Cio memiliki kisah rapuh yang tidak ingin lelaki itu ingat. Meski pada akhirnya air matanya jatuh juga kala mengingat masa kelamnya, dan semua itu hanya Cio tunjukkan di hadapan Amanda, gadis cantik yang disukainya.

Saat semua berubah sedikit demi sedikit termasuk hati Amanda, Cio justru pergi den

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikesweetdevil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 23

Part 23

"Ini sih bukan sedikit, tapi sangat berantakan." Amanda mendudukkan tubuhnya di sofa sembari menatap ke arah sekelilingnya di mana banyak barang berserakan yang tidak berada di tempatnya.

"Aku minta maaf, aku akan membersihkannya nanti. tapi kalau sekarang, aku masih belum bisa membersihkan semuanya." Cio menyengir kaku, merasa malu dengan keadaan rumahnya yang memang cukup berantakan.

"Aku mengerti. Tapi kamu sudah makan belum?" Amanda menatap iba ke arah Cio yang menggeleng pelan sembari duduk di sofa yang berada dekat dengannya.

"Belum," jawabnya lesuh yang hanya ditanggapi senyum maklum oleh Amanda.

"Aku pikir, tadi kamu masuk, makanya aku membawa makanan seperti biasa. Kalau aku tahu kamu sakit, aku pasti membawakanmu bubur." Amanda membuka kotak bekal makanannya, lalu memberikannya pada Cio yang tersenyum pucat menerimanya.

"Apa kamu tidak punya cita-cita untuk menyuapiku?" Cio menyengir ragu yang seketika ditatap malas oleh Amanda.

"Tidak sama sekali," jawab Amanda cepat yang hanya ditanggapi bibir cemberut oleh Cio. Dengan perasaan malas, Cio menyuapkan satu sendok makan kecil ke arah mulutnya lalu mengunyahnya tanpa minat, tanpa menyadari bagaimana Amanda tersenyum melihat tingkah lakunya.

"Cio."

"Hm," jawabnya singkat kala Amanda memanggil namanya. Baginya, gadis itu tidak bisa membaca kondisinya yang lemah karena sakit, hingga tega menolak untuk menyuapinya. Selain judes, bagi Cio Amanda juga tega.

"Kamu di sini tinggal sendiri?"

"Memangnya kamu melihat makhluk lain di rumah ini selain aku?" Cio menjawab acuh tak acuh sembari perlahan mengunyah makanannya.

"Banyak." Cio seketika menghentikan aktivitas makannya, menatap Amanda penuh keterkejutan dan ketakutan.

"Siapa?" tanyanya berbisik yang ingin sekali Amanda tertawai, meski pada akhirnya ekspresinya memperlihatkan ketenangan.

"Semut. Atau mungkin di sini juga ada kecoa, karena rumah ini sangat berantakan." Cio seketika mengembuskan nafasnya penuh lega, meski pada akhirnya tatapan sebalnya kini tertusuk ke arah Amanda yang terlihat tenang.

"Aku pikir hantu, aku bahkan hampir berlari meski tubuhku masih lemah." Cio menggerutu sebal tanpa mau menatap ke arah Amanda yang lagi-lagi tersenyum melihat tingkahnya.

"Kenapa kamu tidak tinggal dengan orang tuamu saja? Kata Alex, kamu pergi dari rumah dan memutuskan untuk hidup sendiri kan?" Amanda bertanya hati-hati, yang kali ini hanya ditanggapi kediaman oleh Cio tanpa mau melanjutkan aktivitas makannya.

"Aku pikir, sekecewa-kecewanya anak pada orang tua, tidak seharusnya seorang anak pergi dan meninggalkan mereka kan? Dari kecil, orang tua yang merawat kita. Mereka yang mengajari kita banyak hal di saat kita tidak tahu apa-apa tentang dunia. Bukankah seharusnya kamu juga tahu itu? Setidaknya, hargai perjuangan mereka sedikit saja, dengan cara tak membuat mereka khawatir." Amanda berujar tulus, namun Cio masih tak bergeming di tempatnya. Tangannya bahkan meremas dan mengepal, seolah apa yang baru Amanda katakan adalah kesalahan.

"Aku mau istirahat dulu. Kamu pulanglah! Terima kasih untuk makanannya." Cio mendirikan tubuhnya secara perlahan setelah meletakkan bekal makanan milik Amanda di atas meja, yang hanya ditatap nanar oleh empunya.

"Kamu itu masih punya Papa, tidak seharusnya kamu pergi dan hidup seperti ini. Kenapa kamu begitu keras kepala, Cio?" Amanda turut mendirikan tubuhnya, menahan lelaki itu untuk tidak pergi.

"Karena kamu tidak tahu apa-apa." Cio membalikkan tubuhnya, menunjuk ke arah Amanda dengan tatapan luka.

"Iya, mungkin aku tidak tahu apa-apa. Tapi tidak kah kamu berpikir, bila cara kamu cukup keterlaluan? Seharusnya kamu mencari jalan lain kan untuk menyelesaikan masalahmu dengan Papamu? Tidak seperti ini," jawab Amanda ragu, seolah dirinya sudah melewati batas yang tidak seharusnya ia tembus dan lewati.

"Cara lain?" Cio bertanya lirih sembari tersenyum sinis ke arah Amanda.

"Cara seperti apa? Bahkan tidak ada alasan kenapa aku terus hidup, kenapa harus mencari cara lain untuk masalah dunia yang sebenarnya ingin aku tinggalkan?" Cio bertanya ke arah Amanda, menatap gadis itu dengan tatapan sama yaitu kelukaan. Membuat Amanda terdiam, menatap iba ke arah Cio yang begitu rapuh, tidak seperti biasanya yang selalu berbicara ngawur dan konyol.

"Kamu tidak tahu, seperti apa kehidupanku kan?" Cio bertanya lagi yang hanya bisa Amanda tanggapi dengan tatapan sama.

"Dari kecil, aku sudah terbiasa melihat Papaku memukul dan menyiksa Mamaku. Hanya denganku saja, Papa tidak melakukan hal sama. Mungkin itu juga yang membuat Mamaku tetap bertahan di sisi Papaku. Sampai saat aku remaja, aku bisa melihat bagaimana perubahan setiap perusahaan terjadi pada tingkah laku Mamaku." Cio menahan suaranya kala tetesan air matanya jatuh membasahi pipi lusuhnya, membuat Amanda tak percaya dengan apa yang sedang dilihat dan didengarkannya saat ini. Cio berbicara seolah penuh luka dan bahkan menangis tanpa bisa menahan air matanya.

"Mamaku tertawa begitu bahagia lalu menangis begitu saja tanpa ada alasan. Kamu tahu karena apa? Karena Mamaku mulai gila pada saat itu." Cio terus berujar dengan air matanya yang kian mengucur deras di pipinya, begitupun dengan Amanda yang masih berdiri di hadapannya. Matanya yang memanas, seolah sudah tak mampu lagi menahan air bening yang menumpuk di pelupuk matanya.

"Setelah semua itu, Papaku justru membawa Mamaku ke rumah sakit jiwa. Dan kamu tahu apa yang terjadi?" Cio bertanya sembari tersenyum miris di balik tangisannya.

"Mamaku kabur dari rumah sakit lalu berlari ke arah jalan dan Mamaku ...." Cio menghirup kuat udara di sekitarnya, mencoba menenangkan perasaannya yang mulai sesak mengingat kenangan luka itu.

"Mamaku tertabrak di hadapanku, Amanda." Cio meninggikan suaranya, seolah ingin melampiaskan rasa sakitnya yang begitu perih menggerogoti hatinya.

"Kamu tahu rasanya, bagaimana aku berjuang dan bertahan untuk merawat Mamaku yang gila? Lalu dengan mudahnya Mamaku malah memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri, tanpa mau mengajakku? Tidakkah dia terlalu egois?" Cio bertanya lagi, seolah ingin menanyakan apa kesalahannya hingga mamanya tega meninggalkannya.

"Cio, aku tidak tahu. Aku minta maaf ...." Amanda berujar penuh bersalah, merasa tidak tahu apa-apa dan seharusnya tetap begitu, tanpa harus membuat Cio mengingat akan luka-luka di masa lalunya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!