Sinopsis
Zain Arvendra Atmaja, seorang remaja yang seakan tak pernah lelah terlibat masalah di sekolahnya. Setelah berbagai kejadian yang menumpuk, ayahnya akhirnya mengambil keputusan Zain harus pindah ke sebuah SMA berbasis asrama yang dikenal mampu membimbing anak-anak yang sedang kehilangan arah.
Awalnya Zain menolak keras. Namun seiring berjalannya waktu, ia perlahan mulai menerima kenyataan itu. Di asrama inilah ia bertemu dengan Vanya, seorang gadis ceroboh yang dengan polosnya kerap menyeret Zain ke dalam berbagai situasi baru yang tak terduga.
Cerita terasa semakin rumit ketika Keira Cattleya Wiratama, kekasihnya yang selama ini jauh dari sana, tiba-tiba memutuskan untuk pindah ke asrama yang sama pula.
Tiga orang, satu atap, dan hati-hati yang mulai saling bersilang. Bagaimana kelanjutan cerita mereka ? Baca selengkapnya !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah Mayaddah f, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 TANGAN YANG MENGULUR BANTUAN
Beberapa hari setelah pertemuan sore itu, Keira mulai terbiasa berjalan-jalan di area asrama tanpa selalu menunggu Zain. Ia menyadari, di sini bukan hanya ada Zain dan teman-teman kamarnya. Ada banyak orang lain yang juga membutuhkan teman.
Suatu siang, saat jam istirahat berlangsung, Keira melihat seorang gadis duduk sendirian di pojok ruang makan, gadis itu adalah Dina. Selama ini ia dikenal pendiam, jarang berbicara, dan selalu menunduk saat berpapasan dengan siapa pun. Hari ini piring makanannya masih penuh, matanya menatap kosong ke luar jendela. Keira teringat pesan Vanya kadang orang tidak butuh nasihat, mereka hanya butuh seseorang yang hadir tanpa banyak tanya.
Keira mengambil minumannya, lalu berjalan mendekat dan duduk di hadapan Dina dengan jarak yang sopan.
"Boleh aku duduk di sini ? Meja yang lain sudah penuh" Ucap Keira lembut, tidak menatap tajam.
Dina terkejut, lalu buru-buru menyeka sudut matanya yang lembap.
"Tentu saja, silakan" Jawab Dina mempersilahkan
Mereka makan dalam diam sebentar, sebelum Keira berbicara pelan.
"Kamu tidak perlu cerita kalau belum siap, tapi kalau suatu hari ingin berbagi, aku ada di sini. Aku tidak akan memaksa, aku tidak akan menghakimi" Ujar Keira tersenyum
Dina menunduk, suaranya hampir tak terdengar.
"Keluargaku hancur setahun lalu dan ibu pergi meninggalkan kami, lalu ayah bekerja di kota lain. Aku tinggal bersama kakek yang sakit-sakitan, kadang aku merasa tidak ada tempat di mana aku benar-benar diinginkan. Di sekolah ini semua terasa begitu hidup, sementara di dalam kepalaku sendiri terasa sepi sekali." Jawab Dina
Keira menahan napas, hatinya terasa perih. Ia tidak mengerti persis bagaimana rasanya, tapi ia tahu betapa beratnya merasa tidak punya tempat untuk pulang.
"Dina, aku tidak bisa memperbaiki semuanya untukmu" Ucap Keira tulus.
"Tapi percayalah keberadaanmu di sini penting, bukan karena apa yang kamu capai tapi karena kamu ada. Dan kalau suatu hari kamu merasa tidak kuat berjalan sendirian, cari aku ya. Kita berjalan pelan-pelan saja bersama-sama" Lanjut Keira
Dina tersenyum tipis, air matanya jatuh namun kali ini terasa lebih ringan.
"Terima kasih, Keira. Jarang sekali ada yang berhenti sebentar hanya untuk bertanya kabarku” Ujar Dina terharu
“Panggil saja Leya, biar kita lebih dekat” Kata Keira
“Baik, Leya” Jawab Dina
*****
Beberapa hari kemudian, saat ia berjalan menuju perpustakaan, ia melihat seorang anak laki-laki berdiri sendirian di depan papan pengumuman. Itu Aldo, siswa yang sering mendapat teguran karena terlambat atau melalaikan tugas. Ia terlihat menatap surat dari rumah yang baru saja diterimanya dengan tangan gemetar, Keira ragu sejenak lalu mendekat.
"Ada yang berat ya, Aldo?" Tanyanya pelan.
Aldo menoleh cepat, buru-buru menyeka wajahnya.
"Tidak ada, bukan urusanmu. Pergilah" Jawab Aldo ketus
Keira tidak tersinggung, diaa justru berdiri di tempatnya, tidak mendekat lebih jauh.
"Aku tidak akan pergi kalau kamu tidak butuh aku, tapi aku juga tidak akan pergi karena kamu sedang marah. Aku akan berdiri di sini sampai kamu merasa lebih tenang" Jawabnya lembut namun tegas.
Aldo tertawa getir, lalu akhirnya duduk di bangku dekat yang ada di sana.
"Ayahku dipenjara, Leya. Semua orang bilang dia penjahat, aku dikirim ke sini supaya tidak ikut terlibat masalah. Setiap orang yang menatapku seakan melihat bayangan kejahatannya dan aku malu, aku marah, dan aku merasa benci pada dunia ini" Ucap Aldo
Keira duduk agak jauh, tetap menjaga jarak agar Aldo merasa aman.
"Aku tidak tahu bagaimana rasanya berada di posisimu, Aldo. Tapi aku tahu satu hal kesalahan orang tuamu bukan beban yang harus kamu pikul sendirian, kamu bukan ayahmu. Kamu hanya kamu, yang sedang berusaha bertahan hidup sebaik yang kamu bisa dan itu sudah cukup mulia" Ujar Keira
Aldo terdiam lama, lalu menunduk.
"Kamu aneh ya, Leya. Orang lain menjauh saat aku marah, dan kamu justru diam saja di sana" Kata Aldo
"Karena aku percaya, di balik kemarahan yang keras, biasanya ada hati yang sedang terluka" Jawab Keira lembut.
"Jaga dirimu baik-baik ya, Aldo. Pintu perpustakaan selalu terbuka kalau kamu butuh teman bicara" Lanjut keira sambil tersenyum menyemangati Aldo
Sore itu, saat Zain melihat Keira berjalan kembali ke asrama dengan langkah yang terasa lebih ringan, ia tersenyum bangga.
"Kamu berubah, Leya" Ucap Zain pelan saat mereka berpapasan di lorong.
"Dulu kamu cuma takut kehilangan tempat di hatiku, sekarang kamu menemukan tempat di hati mereka yang juga butuh ditemani." Lanjut Zain
Keira tersenyum tulus, menatap ke luar jendela tempat Dina dan Aldo kini terlihat berjalan bersama siswa lain menuju aula.
"Aku belajar satu hal penting, Zain. Membahagiakan diri sendiri itu penting, tapi membahagiakan orang lain justru jauh lebih menenangkan hati. Dan di sini, aku punya banyak sekali cara untuk berbuat baik" Jawab Keira
Jangan lupa komen dan likenya ya para reader
😏 jdi jalanin seadanya aja, gk usah milih
hehe pis ya mas Zain...