NovelToon NovelToon
Istri Yang Kau Siakan

Istri Yang Kau Siakan

Status: tamat
Genre:Cerai / Selingkuh / Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 4.8
Nama Author: aisy hilyah

Siapa yang ingin rumah tangganya hancur? Siapa yang ingin menikah lebih dari satu kali? Semua orang pastilah berharap menikah satu kali untuk seumur hidup.

Begitu pun denganku. Meski pernikahan yang kujalani terjadi secara paksaan, tapi aku bisa menerimanya. Menjalani peran sebagai istri dengan sebaik mungkin, berbakti kepada dia yang bergelar suami.

Namun, bakti dan pengabdianku rasanya tidak cukup untuk membina rumah tangga dadakan yang kami jalani. Dia kembali kepada kekasihnya setelah aku mengandung. Kesempatan demi kesempatan aku berikan, tapi tak digunakannya dengan baik.

Bercerai? Rasanya tidak semudah itu. Aku ingin merebut kembali apa yang menjadi milikku. Termasuk modal usaha yang aku berikan dulu kepadanya. Inilah kisahku, Shanum Haniyah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 17

Plak!

"Papah!" desisku tak menyangka.

Sejak kapan tautan tangan kami terlepas? Kutatap jemariku yang telah terurai tanpa sadar, kemudian berpaling pada laki-laki gagah yang berdiri sambil memburu udara. Napasnya tersengal-sengal, bukan karena lelah berlari, tapi karena luapan emosi.

"Aku nikahkan kamu dengan anakku bukan untuk disakiti, tapi untuk disayangi. Aku bersedia menyerahkan anakku padamu untuk dijaga bukan dikhianati. Aku tutup aib keluargamu waktu itu, tapi ini balasan kamu! Kamu sakiti putri yang kujaga dengan cinta, kamu khianati putri yang kubesarkan dengan kasih sayang. Sekarang, ceraikan Shanum malam ini juga! Aku nggak sudi punya menantu yang nggak tahu diri kayak kamu!"

Jedddar!

Seperti suara petir menyambar, lengkingan suara Papah lebih dahsyat terdengar. Aku ternganga melihat apa yang dilakukan Papah, sampai suara lirih isak tangis samar aku dengar dari arah sampingku.

Mamah menangis tergugu, kenapa bukan aku yang berurai air mata? Kenapa justru Mamah yang menangis? Ya Allah! Kulirik kedua mertuaku yang terpana sambil menatap Papah. Mereka belum bereaksi melihat anaknya ditampar begitu keras hingga sudut bibir Raka robek dan berdarah.

"Kalo kamu nggak mau ceraikan anak aku, biar aku yang pergi ke pengadilan buat ngurus semuanya," lanjut Papah masih berapi-api.

"Shanum udah urus semuanya, Pah. Tinggal nunggu jadwal sidang dari pengadilan."

Mamah mertua memekik histeris, Papah berpaling terlihat puas dan setuju dengan apa yang aku lakukan. Aku memang sudah memasukkan berkas ke pengadilan tanpa sepengetahuan siapapun. Untuk persiapan kalau-kalau Raka enggan menjatuhkan talaknya secara lisan.

Sekali lagi aku lihat mimik wajah yang sama dari Raka, ia nampak terkejut. Kupalingkan wajah darinya, enggan bersitatap. Biar dia tahu jika aku tidak sedang main-main. Aku tahu, perceraian dibenci oleh Allah. Akan tetapi, bertahan dalam kesakitan pun tak dibenarkan.

"Sha-shanum ... ka-kamu ...." Tak ada kata yang terlontar dari lisan laki-laki yang menikahiku tujuh bulan lalu itu. Dia nampak gugup, ingin menolak, tapi semua sudah terlanjur.

"Kenapa kamu kayak gini, Nak? Kenapa kamu nggak omongin dulu semua ini sama keluarga? Mamah nggak mau kalian pisah, Mamah nggak mau kalian cerai," jerit Mamah mertua menangis histeris.

Kusapu air mata, tak ingin terlihat lemah di hadapan mereka. Juga tak ingin menambah air mata Mamah yang sudah menganak sungai terlebih dahulu. Biarlah aku yang menjadi kekuatan bagi mereka.

"Aku mendukung apa yang dilakukan putriku. Anak kalian sudah keterlaluan, menyakiti anakku secara lahir dan batin." Suara papah belum surut dan masih berada di atas.

"Tapi Shanum lagi hamil, mereka nggak boleh cerai," rengek Mamah mertua mengiba pada Papah.

"Aku tahu, tapi apa anak kamu sebagai bapaknya peduli sama kandungan Shanum? Apa dia suka nemenin Shanum kontrol? Atau menjaga perasaannya supaya nggak stres, tapi apa yang dibuat anak kamu? Dia malah asik sama mantannya, berduaan, dan apa tadi ... dengan berani dia datang sama Shanum dan meminta hal yang nggak pantas. Apa menurut kamu itu?" cerocos Papah menuding Mamah mertua dengan telunjuknya yang lurus.

Mamah mertua menangis histeris, di sampingnya Papah membantu menenangkan. Mengusap-usap bahu sang istri yang tak terima dengan keputusanku.

"Shanum, apa udah nggak ada kesempatan buat aku memperbaiki semuanya?" Suara Raka kembali terdengar lirih, aku menoleh padanya.

Wajah yang beberapa saat lalu mengeras, kini terlihat melunak dan mengiba padaku.

"Udah banyak kesempatan yang aku kasih, tapi kamu sia-siain, Raka. Kesempatan apa lagi yang kamu mau? Kesempatan semakin nyakitin aku? Maaf, keputusanku udah final. Aku mau ikut pulang sama orang tuaku malam ini juga," jawabku membuat Raka tak mampu membalasnya dengan kata-kata.

"Kalo kamu nggak menjatuhkan talak malam ini, maka tunggu aja di pengadilan nanti."

Mamah mertua semakin histeris, tapi aku mencoba untuk tidak menghiraukan. Aku tak ingin terjerumus ke dalam kubangan yang sama. Bermandikan rasa sakit yang kian hari kian nyata.

"Tapi, Nak, gimana sama anak kalian nanti? Dia pasti butuh bapaknya," tanya Papah mertua yang baru membuka suara.

"Apa kamu nggak denger rekaman tadi? Anak dari mantan pacar anak kamu itu juga butuh bapaknya. Aku pastikan cucuku nggak akan kekurangan kasih sayang walaupun tanpa bapaknya. Aku sebagai ibu yang sudah melahirkan Shanum, merasa sakit hati atas apa yang menimpa anakku." Mamah kembali tergugu setelah menjawab pertanyaan Papah mertua.

"Shanum, percaya sama aku. Itu bukan anak aku, tapi anak Benny. Aku nggak pernah sejauh itu sama Shila, Sha. Tolong, pikirin lagi, Shanum," rengek Raka memelas dengan air matanya.

"Itu secara nggak langsung kamu mengakui perselingkuhan kamu sama Shila, Raka. Walaupun emang nggak sampai jauh, tapi pengkhianatan tetap menyakitkan dan aku nggak bisa terima dikhianati." Aku menegaskan lagi kepada Raka, sekuat apapun dia mengiba keputusanku tidak akan berubah.

"Ayo, pulang! Papah nggak sudi lama-lama di sini!" ajak Papah seraya meraih tanganku dan menariknya lembut.

Aku menurut karena malam ini memang akan ikut pulang bersama mereka. Tanpa mengatakan apapun lagi, kami beranjak.

"Shanum! Shanum! Pah, tolong, Pah! Jangan bawa Shanum! Aku sayang sama dia, Pah!" Raka memohon sambil memegangi kaki Papah.

"Menyingkir!" Papah mengibaskan kakinya dan lanjut membawaku pulang. Bahkan, ia memintaku masuk terlebih dahulu bersama Mamah, sedangkan dirinya membuka bagasi memasukkan koperku setelah aku beritahu.

"Shanum! Jangan pergi, Sha! Kumohon!"

Tak dinyana, Raka mengejar dan memukul-mukul jendela mobil di mana aku duduk bersama Mamah.

"Awas! Anakku berhak mendapat laki-laki yang lebih baik dari kamu!" sengit Papah setelah mendorong tubuh Raka menjauh dari badan mobil.

Ia masuk dan duduk dibalik kemudi, menjalankan mobil dengan cepat.

"Mamah! Raka, cepatan ke sini! Mamah kamu pingsan!" Suara jeritan Papah mertua terdengar panik.

"Biarin aja!" Mamah berbisik sambil mengusap bahuku, ketika aku menoleh padanya.

Dengan sangat jelas aku dapat melihat kesakitan di kedua matanya. Kesakitan yang sama seperti yang aku rasakan.

"Maafin Shanum, Mah." Kulabuhkan diri ke dalam pelukannya. Kutumpahkan air mata dalam hangat dekapannya. Tak lagi menahan laju air mata yang sejak siang tak kuizinkan jatuh.

"Nggak apa-apa, kalo kamu mau nangis, nangis aja. Asal jangan sampai berlarut-larut, kasihan cucu Mamah dia pasti ikut sedih," bisik Mamah sambil menyapu rambutku lembut dan sesekali mencium kepalaku.

Sedewasa apapun aku, di matanya tetaplah seorang anak kecil yang rapuh dan mudah menangis. Hanya malam ini saja. Aku berjanji hanya malam ini air mataku jatuh untuk laki-laki itu. Setelahnya, tak akan ada lagi tangisan karena semua hanya sia-sia.

"Semua ini salah kita, Mah. Kita yang udah maksa Shanum buat nikah sama Raka waktu itu," lirih Papah penuh penyesalan.

Ya Allah!

1
Nana Colen
mamam tah matak g tong maen jodojodoan
Nana Colen
nah gitu lah kesalahan sendiri disembunyikan tp kesalahan orang lain dicari cari 🤣🤣🤣🤣🤣
Nana Colen
dasar teu boga k era boga mitoha teh.... iiih amit-amit
Nana Colen
gak adil dong mah..... harusnya satu sama biar impas gitu 😂😂😂
Nana Colen
gak adil dong mah..... harusnya satu sama biar impas gitu 😂😂😂
Violet
👏🏻👏🏻👏🏻 Shanum Kereeen... WAJIB hukumnya utk kumpulin bukti2 yg valid biar gak ada celah diserang difitnah balik.
Aisy Hilyah: terimakasih banyak
total 1 replies
Heni Setianingsih
Luar biasa
R_3DHE 💪('ω'💪)
emang dasar munafik.
ngomong disana beda disini beda ckckc
Neneng Tejaningsih
Luar biasa
Dwi Setyaningrum
nah bener kan kalau pingsannya mamanya Raka hanya akting dia hanya ga trima sumber keuangannya hilang🤪🤪🤪
Dwi Setyaningrum
mama mertua pingsan Krn sumber keuangannya sdh hilang🤭😁
Endang Werdiningsih
ga mau kehilangan sumber mata uang yg pasti'a kan mama rakha
Luchi Chipoedanz Sihite
Luar biasa
Priskha
sdh salah sombong lg
Priskha
astaga jd laki bodoh amat, apa msh krg bukti rekaman itu pingin aq tonjok aja tuch mukamu Raka smp bonyok
Priskha
lha bknnya si Benny mau tanggungjawab ya, bilang aja klau pingin menghancurkan rmh tangga org
Priskha
ambil aja tuch Raka yg aslinya kere aq pingin lihat apakah kmu msh cinta sm Raka
Priskha
bgmn klau tau anaknya sendiri yg selingkuh ya jd penasaran aq
Priskha
good....jd wanita itu hrs tegas biar ndak diinjak2 trs sm pasangan kita
Betty
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!