Marisa Sartika Asih sedang berada di titik terendah hidupnya. Dalan satu hari, ia kehilangan pekerjaan dan batal menikah karena tunangannya, Bara, berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Ditengah keputusasaan dan jeratan kebutuhan biaya rumah sakit ibunya di kampung, Marisa bertemu dengan Dalend, seorang Pria asing yang misterius.
Dalend menawarkan sebuah kesepakatan tak terduga. Marisa cukup berpura-pura menjadi pasangannya di depan keluarganya selama dua minggu hingga satu bulan. Imbalannya adalah uang tunai sebesar 50 juta rupiah. Terdesak oleh gengsi dan kebutuhan ekonomi, Marisa pun dihadapkan pada pilihan sulit antara harga diri atau jalan keluar instan dari keterpurukannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 (Part 2)
Marisa menatap Dalend, matanya berkaca-kaca namun bukan karena sedih, melainkan karena rasa syukur.
"Kamu tidak perlu sekeras itu padanya, Dalend."
"Aku perlu," Dalend berbalik, menangkup wajah Marisa dengan kedua tangannya. "Pria itu adalah parasit. Dia hanya datang saat kamu sukses. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menarikmu kembali ke masa lalu yang menyakitkan itu."
Marisa menghela napas panjang, menyandarkan keningnya di dada Dalend. " Dia bilang dia yang melatihku. Itu yang paling menyakitkan. Dia pikir dia pemilik kesuksesanku."
"Hanya kamu pemilik kesuksesanmu, Marisa," bisik Dalend. "Aku hanya penonton paling beruntung di baris terdepan."
Mereka berdiri diam dalam pelukan selama beberapa menit, membiarkan kemarahan terhadap masa lalu itu menguap bersama aroma telur gosong yang kini memenuhi dapur.
"Jadi..." Marisa mendongak, mencoba mencairkan suasana. "Karena sarapannya hancur, dan suasana hatiku sedikit rusak karena si brengsek itu, apa rencana kira sekarang?"
Dalend tersenyum, kilatan nakal kembali ke matanya. "Rencana pertama, kita pesan sarapan lewat aplikasi. Rencana kedua, kamu mandi. Rencana ketiga, Aku akan membawamu ke suatu tempat yang bukan kantor, bukan proyek, dan bukan pasar."
"Ke mana?"
"Rahasia. Pakai baju yang cantik, tapi nyaman. Kita akan berkencan, Marisa. Kencan sungguhan tanpa kontrak."
...
Dalend membawa Marisa ke sebuah kawasan di Jakarta Selatan, sebuah rooftop tersembunyi yang belum banyak diketahui orang. Tempat itu adalah milik salah satu teman lama Dalend yang tidak peduli dengan urusan keluarga Angkasa Raya.
Di sana, sebuah meja kecil telah disiapkan dengan pemandangan cakrawala Jakarta yang luas. Angin sepoi-sepoi memainkan rambut Marisa, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa benar-benar bebas.
"Kenapa di sini?" tanya Marisa sambil menyesap jus jeruk
Segarnya.
"Karena dari sini, Jakarta terlihat kecil," jawab Dalend, menatap gedung-gedung tinggi di kejauhan. "Semua drama, semua perebutan kekuasaan, semua orang seperti Bima atau Bara... dari sini mereka terlihat seperti semut. Tidak berarti. "
Dalend meraih tangan Marisa, mengusap cincin safir birunya. "Marisa, aku ingin 'Dapur Sejati' bukan hanya jadi katering kantor. Aku ingin kamu punya restoran sendiri satu hari nanti. Restoran yang namanya hanya milikmu. "
"Kamu mau jadi investornya?" goda Marisa.
"Aku mau jadi suamimu dulu, baru jadi investormu," balas Dalend santai, namun kata 'suami' itu membuat jantung Marisa melonjak.
Marisa tersedak minumannya sedikit. "Dalend! Kita baru saja bebas dari satu skandal pertunangan!"
"Itu skandal palsu," Dalend mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya menatap Marisa dengan keseriusan yang mematikan. "Kali ini, aku tidak akan memakai pengacara untuk menulis kontrak. Aku akan memakai janji di depan Tuhan. Tapi tenang saja, aku tidak akan melamarmu di sini sekarang. Aku tahu kamu belum siap."
Marisa tersenyum lembut, meraih tangan Dalend. "Terima kasih karena selalu mengerti ritmeku, Dalend."
...
Saat hidangan penutup berupa panna cotta stroberi disajikan, Dalend mulai kembali ke mode menggodanya. Ia mengambil sesendok kecil krim putih itu, namun tidak memakannya.
"Buka mulutmu," perintahnya lembut.
Marisa menurut, menerima suapan itu. Rasanya manis dan dingin. Namun, Dalend tidak menarik sendoknya begitu saja. Ia menggunakan jarinya untuk menyeka sisa krim di sudut bibir Marisa, lalu menjilat jarinya sendiri sambil menatap Marisa tanpa berkedip.
"Manis," gumam Dalend, suaranya rendah.
Marisa merasa seluruh tubuhnya merinding. "Dalend... kita di tempat umum."
"Tidak ada orang di sini selain kita, sayang," Dalend bangkit dari kursinya, berjalan memutar dan berdiri di belakang Marisa. Ia membungkuk, memeluk Marisa dari belakang dan mencium bahunya yang terbuka. "Jakarta adalah milik kita hari ini. Tidak ada Bima, tidak ada Nyonya Elvira, tidak ada Bara. Hanya Dalend dan Marisa."
Marisa berbalik di pelukan Dalend, menangkup leher pria itu. Di bawah langit Jakarta yang mulai berubah warna menjadi jingga keunguan, ia menyadari bahwa ia telah memenangkan lebih dari sekedar kontrak bisnis. Ia memenangkan hati seorang pria yang rela turun ke lumpur demi bisa berdiri sejajar dengannya di puncak.
"Jangan pernah pergi lagi, Dalend," bisik Marisa.
"Gue enggak akan bisa pergi, Tunangan," jawab Dalend sebelum akhirnya menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang lambat, manis, dan penuh janji-ciuman yang kali ini, tidak terganggu oleh ponsel atau apa pun.
Malam mulai turun menyelimuti Jakarta, membawa mereka kembali ke realitas, namun kali ini realitas itu tidak lagi menakutkan. Karena di tengah hutan beton yang kejam ini, mereka telah menemukan tempat berlabuh yang paling aman, satu sama lain.