"Ketika kebenaran dibungkam paksa, ketika keadilan dipaksa untuk diam, beberapa orang terpaksa beraksi. "
Cinta rahasia Xiao Fei dengan Yu, aktor papan atas yang dipuja, berakhir dengan tragis. Publik meratapi "kematian karena overdosis" yang menyayat hati, namun duka Fei berubah menjadi teror murni saat sebuah kiriman video anonim tiba. Di dalamnya, Yu bukan hanya dibunuh—ia disiksa, dilecehkan secara keji, dan dikorbankan dalam sebuah ritual mengerikan oleh sekelompok individu bertopeng. Kematian Yu bukanlah akhir, melainkan awal dari neraka yang nyata.
Didorong oleh cinta dan dahaga akan kebenaran, Fei harus meninggalkan identitasnya yang aman dan menyusup ke dalam dunia glamor industri hiburan yang beracun. Akhirnya Xiao Fei dengan beberapa orang yang bertemu secara tak sengaja mengambil peran utama sebagai penegak keadilan. Mampukah aksi mereka menunjukkan keadilan yang kini berubah menjadi Keheningan Keadilan. Silence of Justice akan menuntun kita pada aksi mereka. Berhasilkah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Black _Pen2024, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Fakta Yang Hilang
Pagi itu, Xiao Fei menatap cermin, bukan lagi dengan duka yang menggerogoti, melainkan dengan tatapan kritis seorang seniman yang sedang mempersiapkan karyanya. Wajahnya, yang masih sedikit pucat dari malam-malam tanpa tidur, kini menjadi kanvas. Ia telah memilih penyamaran pertamanya: seorang jurnalis investigasi lepas yang tampak cerdas namun sedikit naif, terlalu gigih untuk diabaikan, namun tidak cukup mengancam untuk memicu alarm.
Ia mengenakan setelan blazer abu-abu gelap yang rapi namun tidak mencolok, dipadukan dengan blus putih sederhana. Rambutnya diikat ekor kuda rendah, membuatnya terlihat profesional namun juga sedikit "terburu-buru" dan "penuh semangat." Kacamata berbingkai tipis bertengger di hidungnya, memberikan kesan intelektual. Di tangannya, ia memegang buku catatan usang dan pena, serta ID pers palsu yang ia buat sendiri dengan sedikit bantuan dari tutorial daring dan percetakan kecil yang tidak banyak bertanya. Nama yang tertera: 'Xiao Li' ( Meyli- nama samaran Xiao Fei), dari sebuah media daring fiktif bernama 'Insight Echo'.
"Ingat, Xiao Li," ia berbisik pada pantulannya, "kamu di sini untuk mencari kebenaran, tapi kamu tidak boleh terlihat tahu terlalu banyak. Biarkan mereka yang memberimu petunjuk."
Apartemen rahasia itu terasa sunyi, namun kini bukan lagi keheningan yang menyesakkan duka, melainkan keheningan yang penuh antisipasi. Fei mengambil napas dalam-dalam, mengencangkan cengkeramannya pada tasnya yang berisi perekam suara mini, kamera pena, dan beberapa alat kecil lainnya. Ini adalah medan perang pertamanya.
Pintu masuk Rumah Sakit 'Saint Glory' menjulang di hadapannya, sebuah fasad megah dari kaca dan baja yang berkilauan di bawah matahari pagi. Patung-patung marmer berdiri tegak di lobi yang luas, dan aroma antiseptik yang bercampur dengan wangi bunga segar memenuhi udara. Ini adalah tempat yang disamarkan sebagai institusi terhormat, sebuah kuil penyembuhan. Namun, bagi Fei, aura kemegahan itu terasa dingin, hampa, dan penuh kebusukan. Tempat di mana kebohongan besar disemayamkan.
Fei melangkah masuk, memaksakan senyum ramah yang sedikit canggung. Ia menuju meja resepsionis, di mana seorang wanita muda dengan seragam rapi sedang sibuk dengan komputernya.
"Selamat pagi," sapa Fei, suaranya sedikit gemetar, mencoba meniru kegugupan seorang jurnalis muda. "Saya Xiao Li dari Insight Echo. Saya datang untuk... uhm... meliput lebih lanjut tentang kasus aktor Yu."
Wanita resepsionis itu mengangkat alis, ekspresinya berubah dari bosan menjadi sedikit waspada. "Aktor Yu? Kasus itu sudah ditutup, Nona. Sudah ada pernyataan resmi."
"Ya, saya tahu," Fei mengangguk cepat. "Tapi... banyak pembaca kami yang masih bertanya-tanya. Terutama tentang proses kremasi yang begitu cepat. Kami hanya ingin mengonfirmasi beberapa detail untuk memenuhi rasa penasaran publik, Anda tahu? Agar tidak ada lagi desas-desus yang tidak beralasan."
Fei sengaja menggunakan frasa yang sama dengan artikel koran yang ia baca, untuk menunjukkan bahwa ia 'mengikuti' narasi resmi.
Resepsionis itu tampak berpikir sejenak, lalu menghela napas. "Baiklah. Saya akan menghubungi bagian catatan medis. Tapi saya tidak menjanjikan apa-apa."
Setelah menunggu sekitar lima belas menit di sofa lobi yang mewah namun dingin, Fei dipersilakan menuju sebuah ruangan kecil di lantai dua, yang tampaknya berfungsi sebagai kantor catatan medis. Di sana, ia disambut oleh seorang pria paruh baya berkacamata tebal, dengan rambut yang mulai menipis dan ekspresi wajah yang lelah—Dr. Lim, Kepala Bagian Catatan Medis. Di sampingnya, duduk seorang wanita kurus dengan seragam koroner, Nyonya Tan, yang tampak acuh tak acuh dan seolah-olah ingin secepatnya mengakhiri pertemuan ini.
"Nona Li, saya Dr. Lim. Ini Nyonya Tan dari kantor koroner," Dr. Lim memperkenalkan, suaranya datar. "Kami sudah menerima banyak pertanyaan mengenai kasus Yu. Saya bisa pastikan semua prosedur telah diikuti."
Fei tersenyum, lalu menyodorkan kartu pers palsunya. "Terima kasih atas waktu Anda, Dokter, Nyonya Tan. Saya hanya ingin melihat berkas-berkasnya, jika memungkinkan. Untuk memastikan semuanya transparan."
Dr. Lim tampak ragu, melirik Nyonya Tan yang hanya mengedikkan bahu. "Baiklah. Tapi Anda tidak diizinkan mengambil foto, dan Anda hanya bisa melihat bagian-bagian yang tidak bersifat rahasia."
Ia menyerahkan sebuah berkas tebal berwarna biru. "Ini adalah berkas kasus Yu. Semua ada di sini."
Fei mengambil berkas itu, merasakan beratnya di tangannya. Ia membuka halaman pertama. Formulir penerimaan pasien, catatan awal, diagnosis, persetujuan kremasi. Semuanya tampak rapi, terlalu rapi. Tanda tangan yang jelas, tanggal yang berurutan, stempel rumah sakit yang sempurna.
"Saya melihat tanggal penerimaan dan tanggal kremasi sangat berdekatan," Fei berkomentar, mencoba terdengar penasaran. "Hanya dua hari. Bukankah itu terlalu cepat untuk kasus seperti ini, Dokter? Apalagi tanpa autopsi penuh, hanya pemeriksaan luar?"
Dr. Lim berdehem. "Situasi saat itu cukup sensitif, Nona Li. Ada desakan dari pihak keluarga—atau lebih tepatnya, manajernya, Tuan Chen—untuk mempercepat proses agar tidak menimbulkan spekulasi lebih lanjut. Ditambah lagi, ada kekhawatiran tentang 'kesehatan masyarakat' karena sifat kematiannya yang tiba-tiba."
Fei mencatat nama Tuan Chen. Ini adalah kali kedua nama manajer Yu muncul sebagai sosok yang mencurigakan.
Nyonya Tan, yang sedari tadi diam, akhirnya berbicara, suaranya serak. "Pemeriksaan luar sudah cukup. Ada tanda-tanda overdosis. Tidak ada indikasi lain yang mencurigakan." Matanya tampak kosong, seolah menghafal skrip. Fei merasakan tekanan sistemik. Wanita ini jelas terintimidasi, atau dibungkam.
Fei membolak-balik halaman. Ada beberapa inkonsistensi yang mulai ia temukan. Catatan perawat yang terlalu singkat. Deskripsi fisik Yu yang generik, hampir seperti salinan dari kartu identitas, tanpa detail spesifik yang biasanya dicatat oleh staf medis. Dan yang paling aneh, tidak ada catatan mengenai ruang rawat inap atau bangsal tertentu. Hanya "Unit Gawat Darurat" dan kemudian langsung ke "kamar jenazah." Seolah-olah Yu hanya singgah sebentar, atau bahkan tidak pernah benar-benar dirawat di sana.
"Apakah ada catatan tentang siapa yang mengidentifikasi jenazah?" tanya Fei, matanya tertuju pada sebuah kolom kosong.
Dr. Lim menunjuk dengan pena. "Tuan Chen. Manajernya. Dia yang mengurus semuanya."
Fei mengangguk, pura-pura puas. "Saya mengerti." Ia terus membolak-balik, mencari celah. Kemudian, ia melihatnya. Di bagian bawah salah satu formulir persetujuan kremasi, ada sebuah paraf kecil yang hampir tidak terlihat, di samping kolom 'saksi'. Paraf itu sangat samar, dan tidak ada nama jelas di sebelahnya.
"Maaf, Dokter, ini paraf siapa ya?" Fei bertanya, menunjuknya dengan pena.
Dr. Lim mendekat, mengerutkan kening. "Oh, itu... itu mungkin salah satu staf kami. Terkadang mereka terburu-buru."
"Tapi tidak ada namanya?"
"Uhm... biasanya ada. Mungkin ada kesalahan administrasi kecil." Dr. Lim tampak sedikit gelisah.
Fei tersenyum tipis. Ini dia. Sebuah retakan kecil di fasad kesempurnaan.
Ia terus membaca, otaknya bekerja cepat. Ia perlu bukti fisik. Sesuatu yang bisa ia analisis lebih lanjut. Ia melihat ke sekeliling ruangan. Dr. Lim sedang sibuk menjawab panggilan telepon yang masuk, dan Nyonya Tan kembali melamun, menatap keluar jendela. Ini adalah kesempatannya.
Fei melirik berkas di tangannya. Ada beberapa lembar yang tampak seperti salinan karbon, atau setidaknya, lembar tambahan yang bisa dengan mudah dilepaskan tanpa terlalu terlihat. Dengan gerakan secepat kilat yang ia latih di rumah, Fei menarik tiga lembar kertas dari bagian tengah berkas—satu adalah salinan dari formulir persetujuan kremasi dengan paraf aneh itu, satu lagi adalah catatan perawat yang sangat singkat, dan yang terakhir adalah daftar inventaris barang-barang pribadi Yu yang 'tidak ada' saat tiba di rumah sakit. Ia melipatnya kecil-kecil dan menyelipkannya ke dalam saku blazernya. Jantungnya berdebar kencang, namun ia berhasil menjaga ekspresi wajahnya tetap tenang.
"Terima kasih, Dokter, Nyonya Tan. Ini sangat membantu," kata Fei, menutup berkas itu dan menyerahkannya kembali kepada Dr. Lim. "Saya rasa cukup jelas sekarang."
Dr. Lim mengangguk, tampak lega. "Bagus kalau begitu, Nona Li. Kami harap ini bisa mengakhiri spekulasi."
"Tentu saja," Fei tersenyum, lalu bangkit. "Saya akan menyusun laporan saya. Sekali lagi, terima kasih."
Ia meninggalkan ruangan itu, berjalan dengan langkah yang terkontrol, meskipun adrenalin memompa kencang di nadinya. Ia berhasil. Bukti kecil di tangannya mungkin tidak cukup untuk menjatuhkan siapa pun, tetapi itu adalah awal.
Fei kembali ke apartemen rahasianya. Ia segera mengeluarkan tiga lembar kertas yang ia curi. Dengan hati-hati, ia memeriksanya di bawah cahaya lampu.
Formulir persetujuan kremasi dengan paraf aneh itu. Ia membandingkannya dengan tanda tangan lainnya di berkas. Jelas berbeda. Paraf itu tampak seperti goresan tergesa-gesa, tidak konsisten dengan gaya tanda tangan yang rapi lainnya.
Catatan perawat yang singkat. Hanya berisi beberapa baris, tidak ada observasi detail, tidak ada riwayat medis, tidak ada tanda-tanda perawatan darurat. Bahkan tidak ada suhu tubuh atau tekanan darah. Seolah-olah pasien itu sudah... kosong.
Daftar inventaris barang pribadi. Ini yang paling mencurigakan. Tercatat "tidak ada barang berharga" dan "pakaian standar rumah sakit." Yu, seorang aktor terkenal, selalu mengenakan jam tangan mahal, cincin, dan sering membawa dompet kulit yang tebal. Tidak mungkin semua itu 'tidak ada'. Ini menunjukkan bahwa ia tiba di rumah sakit dalam keadaan yang tidak biasa, atau barang-barangnya sudah diambil.
Fei menyatukan semua potongan puzzle itu. Catatan yang terlalu rapi. Tanggal yang terlalu cepat. Pejabat yang terintimidasi. Paraf aneh. Catatan perawat yang kosong. Barang pribadi yang hilang.
Sebuah kesimpulan dingin merayapi benaknya, mengunci setiap keraguan yang mungkin tersisa.
"Yu tidak pernah ada di sini," bisiknya, matanya membelalak.
Rumah sakit Saint Glory hanyalah sebuah boneka. Sebuah fasad yang sempurna untuk media, untuk publik. Yu tidak meninggal di sana. Dia tidak dirawat di sana. Bahkan mungkin jenazahnya tidak pernah dibawa ke sana dalam keadaan hidup atau mati. Tempat ini hanyalah panggung sandiwara untuk mengumumkan 'kematian tragis' dan melakukan 'kremasi cepat' agar tidak ada jejak yang tersisa.
Jasad Yu telah dipindahkan atau disembunyikan segera setelah pembunuhan brutal itu. Mereka telah membersihkan TKP utama, dan kemudian menciptakan narasi palsu, lengkap dengan 'bukti' di rumah sakit yang bekerja sama dengan mereka.
Fei mengepalkan tangannya, kertas-kertas itu mengerut di genggamannya. Kemarahannya kembali membara, kali ini lebih tajam dan terfokus. Mereka berani mempermainkan kematian kekasihnya. Mereka berani menghina kebenaran.
Tapi Fei, si Xiao Fei yang kini telah mati dan digantikan oleh tekad baja, tidak akan membiarkan mereka lolos. Ia telah menemukan retakan pertama dalam kebohongan mereka. Dan ia tahu, di balik retakan itu, tersembunyi kebenaran yang lebih gelap dan lebih mengerikan. Sekarang, ia harus menemukan di mana jasad Yu sebenarnya berada, atau lebih tepatnya, di mana sebenarnya pembunuhan itu terjadi?