NovelToon NovelToon
Dendam 172

Dendam 172

Status: sedang berlangsung
Genre:Bullying di Tempat Kerja
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: SOPYAN KAMALGrab

andi dikejar waktu mengungkapkan siapa pelaku teror yang menyebabkan kematian di berbgai tempat...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SOPYAN KAMALGrab, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 32

Aku memandang anak dan istriku. Wajah mereka terlihat panik dan dipenuhi kekhawatiran. Sorot mata Ratna tidak tenang, sementara Andika berdiri kaku di sisi ranjang. Namun seharusnya bukan seperti ini. Seharusnya mereka takut. Seorang suami dan ayah ditangkap tentara elit, dijadikan tersangka teror, dan dibawa tanpa penjelasan. Dalam kondisi seperti itu, logikanya mereka tertekan, cemas akan masa depan, atau bahkan menjauh. Tetapi kenyataannya tidak demikian. Kecemasan yang terpancar dari wajah mereka bukan karena rasa takut, melainkan karena kekhawatiran yang tulus. Kekhawatiran akan keadaanku.

"Ayah minum dulu," ucap Andika sambil menyodorkan segelas air ke arahku. Suaranya berusaha terdengar tenang, meski ada getar halus yang tidak bisa ia sembunyikan.

Aku bangun perlahan dan menyandarkan tubuh di kepala ranjang. Otot-ototku terasa kaku dan kepalaku masih berat. Aku meneguk air itu pelan-pelan, mencoba menenangkan tenggorokanku yang kering. Setelah itu, aku meletakkan gelas di atas nakas dengan hati-hati, seolah takut suara kecil sekalipun bisa memecah suasana rapuh di ruangan ini.

Ratna segera memberiku selembar tisu. Tangannya gemetar halus ketika menyodorkannya.

"Kalian mempermainkanku?" tanyaku geram. Nada suaraku meninggi tanpa bisa kutahan.

Ratna menyeka keringat di dahiku dengan lembut, seperti yang biasa ia lakukan ketika aku sakit. "Jangan terlalu banyak pikiran. Kami baik-baik saja. Apa pun yang terjadi pada Mas, kami semua menerima Mas," ucapnya lirih namun mantap.

Aku mengkerutkan dahi. Pernyataan macam apa ini? Kalimat itu terdengar seperti penerimaan atas sesuatu yang belum aku pahami. Apa akan ada hal buruk yang benar-benar menimpaku? Pertanyaan demi pertanyaan terus berputar di kepalaku tanpa jawaban yang jelas.

"Mengenai baju yang aku pakai?" tanyaku, mencoba mengingat detail terakhir sebelum aku tak sadarkan diri.

"Baju ayah sudah diselidiki. Memang tidak ada hal yang aneh," jawab Andika cepat.

"Tidak ada yang aneh, tapi mereka menangkapku," gerutuku kesal. Anakku memang kadang suka menyepelekan masalah, atau mungkin pura-pura tidak memahami situasi yang sebenarnya.

"Kalau kasus ini terus berlanjut, kalian jangan pernah bilang mengetahui kasus ini."

Aku tahu mereka berbohong dan ingin melindungi pelaku. Pelaku bukan Nirmala, tetapi jelas ada hubungannya dengan Nirmala dan kemungkinan besar dengan Salman, yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Sultan Dubai. Awalnya aku ragu seorang anak berusia tujuh belas tahun bisa merancang teror serapih ini. Namun, mengingat Salman yang sangat kaya dan memiliki akses ke lingkaran kekuasaan kerajaan, keraguan itu perlahan memudar. Dengan kekuasaan dan kekayaan, apa yang tidak mungkin dilakukan?

"Kami benar-benar tidak tahu, Mas," ujar Ratna.

Melihat raut wajah dan gerakan bibirnya, aku tahu ada sesuatu yang ia sembunyikan. Pelaku teror memang gila. Bahkan istri dan anakku saja bisa mereka jadikan alat. Namun aku mencintai istri dan anakku. Sebagai ayah dan suami, tentu saja aku harus melindungi mereka, apa pun risikonya.

"Sudahlah kalau tak mau jujur. Anggap saja kalian tidak pernah mengetahui apa pun. Kalau ada yang tanya, jawab saja tidak tahu." Hanya itu yang bisa aku katakan.

Hening.

Yang terdengar hanya detak jarum jam di dinding dan tetesan air dari selang infus. Perasaanku campur aduk. Jelas istri dan anakku membohongiku, tetapi mungkin ini jalan terbaik. Keselamatan mereka jauh lebih penting bagiku daripada kebenaran yang memojokkan.

"Kenapa ayah bisa di sini?" tanyaku, memecah keheningan.

"Aku tidak tahu. Hanya saja dari kepolisian menelepon kalau ayah tergeletak di depan rumah sakit dan tidak sadarkan diri."

Melihat raut wajah istriku, tampak tidak ada kebohongan yang nyata.

"Ayah kok dibuang begitu saja oleh pasukan elit. Kalau ayah terbukti tidak bersalah, seharusnya ayah diantarkan ke rumah, bukan ditaruh di depan rumah sakit," tanya Andika dengan nada heran.

"Kamu tidak tahu apa pun, Dika?" tanyaku.

Andika menggeleng.

Ah, mereka begitu pandai berbohong. Mereka pasti tahu bahwa setelah ditangkap, aku diculik atau diselamatkan oleh para pembunuh bayaran. Namun dari cara bertanya Andika, seolah ia benar-benar tidak tahu. Ah, ternyata Andika dan Ratna benar-benar disetting menjadi pion yang patuh.

Pintu kamar terbuka. Sosok-sosok familiar masuk ke ruangan. Dengan sopan, Ratna dan Andika menyingkir. Mereka adalah Pak Haris, Pak Cipto, dan Zaki.

"Bagaimana keadaan kamu?" tanya Pak Haris.

"Aku baik," jawabku singkat.

Ingin sekali aku bertanya bagaimana perkembangan teror 172. Namun untuk apa? Bukankah aku sudah menjadi tersangka? Bukankah aku dijadikan kambing hitam? Sekeras apa pun aku berpikir, semuanya terasa sia-sia.

"Pihak militer meminta maaf pada kamu. Setelah kejadian lima belas orang meninggal, kami langsung melayangkan protes dan meminta nama baik kamu dibersihkan. Kamu masih jadi polisi," terang Pak Haris.

"Yang mengantarkan aku ke sini siapa?" tanyaku.

"Kamu diantar oleh ambulans militer, dijaga ketat, dan kamu tidak sadarkan diri. Apakah mereka menginterogasi kamu dengan kejam?" jelas Pak Haris.

Aku melihat Pak Cipto, Pak Haris, dan Zaki, kemudian mengalihkan pandangan ke arah Ratna dan Andika. Kenapa bisa ada dua informasi berbeda dan semuanya terasa kurang tepat? Aku tidak diinterogasi oleh militer. Aku disergap dan dibawa oleh pembunuh bayaran, menyaksikan langsung bagaimana mereka membuat teror.

"Saya baik-baik saja, Pak," jawabku singkat.

"Teror terus berjalan," jelas Pak Cipto.

Aku mengerutkan dahi. Dadaku terasa sesak mendengar pernyataan itu.

"Berapa yang jadi korban, Pak?" tanyaku.

"Sudah hampir delapan puluh orang."

"Sebanyak itu?" ulangku pelan.

Mereka tampak mengembuskan napas berat, seolah beban angka itu terlalu besar untuk diucapkan dengan suara lantang.

"Apa masih ada hubungan dengan Nirmala?" tanyaku lagi.

"Sepertinya iya. Dari delapan puluh korban, tujuh puluh orang memiliki hubungan dengan kasus Nirmala, dan sepuluh orang tidak memiliki kaitan apa pun," jelas Pak Cipto.

"Ya, Nirmala ini aneh sekali. Sebenarnya maunya dia apa? Kenapa dia jadi pembantai?" gumam Pak Haris.

Mereka mudah berkata seperti itu. Mereka tidak pernah membayangkan bagaimana rasanya menjadi Nirmala, dirundung sampai sekarat hanya karena ia anak seorang PSK, lalu kasusnya ditutup seolah anak seorang PSK tidak layak mendapatkan keadilan. Ketika ada seseorang yang ingin menegakkan keadilan untuk Nirmala, justru mereka menyebutnya kejam.

"Nirmala bukan pelakunya," ucapku tegas.

Semua menoleh ke arahku. Tatapan mereka seolah menuntut penjelasan.

"Kenapa sekarang kamu meragukannya?" tanya Pak Cipto dengan nada heran.

"Aku tidak diinterogasi militer. Aku dibawa para pembunuh bayaran dan seolah dipaksa menyaksikan langsung teror itu," jawabku.

Aku menghela napas panjang, mencoba menenangkan pikiran yang terus berputar.

"Kita dalam bahaya besar. Para pembunuh bayaran sudah berkumpul di sini."

Kemudian aku menceritakan segalanya, dari awal hingga detik terakhir sebelum aku tak sadarkan diri.

"Kok para pembunuh bayaran tidak terdeteksi oleh intelijen?" ujar Pak Cipto heran.

"Pak, sudah sepekan teror 172 berjalan. Rata-rata korbannya remaja, dan sampai sekarang kita tidak bisa mengungkap siapa pelakunya. Jadi wajar jika keberadaan pembunuh bayaran tidak terdeteksi. Mereka sudah canggih, sementara kita masih saja saling menyalahkan," kataku kesal.

Tiba-tiba lampu ruangan mati.

Beberapa detik kemudian menyala kembali.

Layar televisi di sudut ruangan ikut menyala. Menampilkan seorang remaja dengan sebelah mata rusak. Ia tersenyum. Senyuman itu terasa mengerikan.

"Teror belum berakhir. Jika tidak bisa menemukan aku, maka korban akan makin banyak," ucapnya dari layar.

Televisi kembali mati.

"Itu Nirmala," ucap Zaki sambil menatap ponselnya. Sepertinya sejak tadi ia mencocokkan foto Nirmala dengan wajah remaja yang muncul di televisi.

1
Nurr Tika
jgn di gantung dong thor lgi seru 💪
Nurr Tika
lanjut thor
Nurr Tika
lanjut
Nurr Tika
sebnrnya siapa mereka
Nurr Tika
bikin penasaran thor
Nurr Tika
makin penasaran
Nurr Tika
sebanarnya meraka maunya pa
Nurr Tika
sebenarnya siapa mereka
Nurr Tika
apakah mereka terlibat akan teror itu
Intan Melani
iya kan si anak y di tolong kakek
Nurr Tika
lanjut,,,,,,
Nurr Tika
diantara mereka ada yg jd mata" siapa ya, lanjut
Nurr Tika
lanjut thor,,,,,,
Nurr Tika
lanjut thor semakin seru
Fitur AI
Semangat ya pak , nanti jangan lupa mampir kenovel aku hehehe...🙏😊
Fitur AI
seharus nya bersukur punya cowo begini
Nurr Tika
lanjut thor
Nurr Tika
benarkah nirmala msh hidup
Nurr Tika
lanjut thor
Intan Melani
aqkya pernah baca thor kayanya y si Nirmala di buang ke jurang sama 2orang cwo. di temuin sama kakek2 terus di obati terus di ajarin bela diri bwt balas dendam.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!