NovelToon NovelToon
Second Mate (Setelah Tujuh Tahun Berpisah)

Second Mate (Setelah Tujuh Tahun Berpisah)

Status: tamat
Genre:Tamat / Nikah Kontrak / Pernikahan Kilat / Cerai / Angst
Popularitas:456.8k
Nilai: 5
Nama Author: Isma Wati

Salsabillah Khairunnisa Kirani, 25 tahun. Terpaksa harus menikah dengan Adrian Mangku Kusumo, 25 tahun. Karena perjodohan orang tua mereka, padahal mereka sama-sama memiliki kekasih.

Sabillah tak tahu mengapa Adrian selalu menuduhnya menjadi penyebab kehancuran Ajeng, kekasih Adrian.

Hingga di tujuh bulan pernikahan mereka, Sabillah melihat Adrian bersama wanita yang tengah hamil tua, dan wanita itu, kekasih Adrian.

Apakah Adrian sudah mengkhianati pernikahan mereka? Meski mereka sepakat untuk berpisah setelah dua tahun pernikahan mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isma Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ikhlas

Arjuna sampai di rumah temanya yang bernama Tio. Distandarkanya sepeda motor matic miliknya dipinggir jalan, diluar pagar, melepaskan helm, lalu Arjuna melangkah kerumah bercat hijau daun, dan berpagar besi hitam itu.

Arjuna mengucapkan salam, temanya menyahut dari dalam.

"Masuk, Jun," ujarnya mengajak Arjuna masuk. Melepaskan sepatu putih hadiah dari Sabillah sebagai anivarsary pernikahan mereka yang ke lima, Arjuna masuk.

Arjuna terkejut, saat melihat di dalam rumah Tio sudah ada dua atasanya. Ipda Rizwan, dan Ipda Kumar.

Arjuna menatap Tio, Tio menunduk, tak sanggup menatap wajah Arjuna, Tio seperti sedang dalam tekanan.

"Duduk, Jun. Kita ngopi-ngopi sebentar," ujar Ipda Rizwan. Mengambil gelas yang masih terpelungkup, menuangkan kopi dari dalam teko untuk Arjuna.

Sudah kadung sampai, dengan berat hati Arjuna ikut bergabung dengan hati bertanya-tanya, kenapa dirumah Tio ada dua atasanya yang pangkatnya satu tingkat diatas Arjuna.

"Kamu pasti terkejut dengan keberadaan kami disini 'kan?" Ipda Kumar bicara. "Kamu pasti sudah tahu tujuan kami. Sekali kami bertanya padamu, apa kamu yakin tidak akan melepaskan ikan tangkapan kalian untuk kami, sebab ikan tangkapan kalian itu merupakan wilayah kami dulu, kami memang gagal menangkap ikan itu. Tapi kami berharap kamu mau memberikan ikan tangkapan kalian pada kami, dan merekayasa wilayah dalam wilayah kami." Ipda Kumar menatap Arjuna yang diam mendengarkan.

"Ini tidak gratis, Jun. Imbalanya juga tinggi. Yang kami dengar mertua mu bukan orang biasa, bukannya kamu butuh uang banyak untuk menyenangkan mertuamu bukan?" sambungnya lagi.

"Aku tidak perlu membuktikan apa-apa pada mertua ku, yang penting istri ku bahagia. Lagi pula dengan prestasi ku selama ini, aku sudah membahagiakan mertua ku."

Ipda Rizwan dan Ipda Kumar mengangguk.

"Jangan keras kepala, Jun. Ini bukan kisah lama, yang sudah-sudah juga tetap bisa naik pangkat meski mereka harus merelakan ikan hasil tangkapan mereka lepas, hidup mereka juga makmur. Teman mu Tio juga sudah menyetujui."

Arjuna menatap Tio yang duduk disampingnya. Andai mereka hanya berdua, Arjuna akan bertanya pada Tio, kenapa temanya itu berubah pikiran, sedang saat ditelepon tadi Tio juga bersikeras menolak tawaran itu.

"Maaf tapi saya tetap tidak bisa menerima ini, kami mempertaruhkan nyawa menangkap ikan tangkapan kami. Kami harus menerjang ombak besar, meninggalkan keluarga dirumah. Andai kalian menginginkan ini dari awal, mungkin semalam aku akan memilih tidur dirumah dan mendapat sanksi dari pada harus keluar rumah meninggalkan anak istri jika pada akhirnya harus diserahkan pada orang lain." Arjuna berdiri. Dia tetap akan mempertahankan keputusannya.

Dia akan menceritakan ini pada Sabillah, dan meminta bantuan pada Sabill. Salahnya tadi pagi dia masih mempertimbangkan banyak hal untuk tidak menceritakan masalahnya pada sang istri, karena Arjuna tidak ingin membuat Sabillah terpikirkan oleh masalahnya.

Selama ini saja, Sabillah selalu mengkhawatirkanya jika dia keluar menjalankan tugasnya, apalagi jika menceritakan ini pada Sabill, Sabill pasti makin kepikiran dan akan berpengaruh pada kehamilan sang istri.

Kembali mengendarai sepeda motornya, Arjuna pulang kerumah.

* * *

Dirumah, Sabillah sedang bermain dengan anak-anaknya. Setelah kepergian Arjuna, dia dan kedua anaknya tak jadi tidur, semua berawal dari Eka yang berdiri didepan jendela mereka menunggu kepulangan Arjuna.

"Sayang, sini nonton sama adek Arial, kamu nggak pegal berdiri disana?" Sabillah memanggil Eka.

Anak sulungnya itu menggeleng. "Eka nunggu Bapak pulang. Kenapa bapak belum pulang-pulang, Umak. Eka ngantuk."

"Bapak baru juga keluar, sini nonton hape sama adek, sambil nunggu Bapak."

Tapi gadis cilik berambut sebahu itu tak menggubris, dia tetap akan menunggu Arjuna sampai Arjuna pulang, tanganya memegang boneka gajah berwarna pink kesukaanya hadiah dari Arjuna.

Ponsel Sabillah berdering, sontak Eka berlari menghampiri Sabillah.

"Itu pasti Bapak. Eka saja yang angkat, Umak." Teriak Eka.

Sabillah terkekeh gemas pada anaknya, memberikan ponselnya pada sang anak setelah menggulir tombol hijau.

"Halo Bapak, Bapak sudah sampai dimana? Eka nggak bisa tidur kalau tidak sama, Bapak." Cerocosnya dengan begitu antusias.

"Halo dengan istri pak Arjuan?" Bukan suara Arjuna yang menjawab, Sabill langsung mengambil ponsel dari Eka.

"Maaf sayang," ujarnya pada sang anak karena lancang merebut ponsel tanpa permisi dahulu.

"Iya, saya istri mas Arjuna, ini siapa?"

"Kami dari rumah sakit, ingin memberitahukan jika pak Arjuna baru saja mengalami kecelakaan tunggal. Harap ibu datang segera."

Sabillah terdiam, menatap Eka yang menatapnya, anaknya pasti menunggu kabar bapaknya.

"Tadi siapa, Umak. Kenapa bukan Bapak yang angkat?"

* * *

Menggandeng dua anak yang masih kecil ditangan kanan kirinya, Sabillah berjalan tergesa-gesa melewati lorong rumah sakit, mencari keberadaan ruang sang suami. Dengan dada berdebar tak karuan dan pikiran tak tenang Sabillah mencoba tenang, tetap menjawab ocehan kedua anaknya yang menanyakan apa yang terjadi pada ayah mereka.

"Istri Pak Arjuna?" tanya seorang perawat wanita.

"Iya." Sabillah mengangguk.

"Mari bu. Pak Arjuna menunggu Anda."

"Mas," lirihnya saat melihat Arjuna terbaring dirumah sakit dengan infus sudah tertancap ditangan kanan Arjun, selang oksigen dihidungnya.

"Bapakkkk." Eka berteriak berlari menghampiri Arjuna yang terbaring lemas diatas ranjang pesakitan. "Bapak kenapa?" Tanyaya saat melihat banyak luka di tubuh sang ayah. Arjuna hanya merespon dengan kedipan mata, tangan lemahnya mengusap rambut sang anak

"Ba-pak ti-dak a-pa-apa, Sa-yang." Arjuna menjawab terbata-bata. Sabill menarikkan kursi agar sang anak bisa duduk.

"Bapak cepat sembuh, Eka sayang Bapak." Eka memeluk tubuh bapaknya yang ia tidak tahu banyak luka. Arjuna meringis menahan sakit.

"Sayang, jangan kencang-kencang peluk Bapaknya, badan Bapak sakit." Arjuna menggeleng, membiarkan Eka memeluknya.

"Kamu kenapa, Mas?" Sabill bertanya dengan berlinang air mata. Arjuna menjawab dengan gelengan kepala.

* * *

Malam itu, mereka menginap dirumah sakit. Karena tak ada siapapun dirumah, terpaksa Sabillah mengajak anaknya ikut menginap disana, beruntung pihak rumah sakit memberi pengertian. Jarum jam menunjukkan pukul sembilan malam, Eka tidur disamping Arjuna, sedang Arial tidur diatas sofa.

Sabillah baru saja selesai menyuapi Arjuna dengan buah.

"Sabill," Panggil Arjuna lirih.

"Iya, Mas. Ada yang kamu butuhkan lagi?" Sabill menoleh kebelakang, meletakkan mangkuk tempat buah dinakas. Arjuna menggeleng, dia meminta Sabillah mendekat tanpa suara. Sabillah menarik kursi, duduk didekat sang suami. "Iya, Mas."

Arjuna merapikan rambut Sabill, menyelipkan helai rambutnya Sabill ke belakang telinga, hal itu membuat tubuh Sabill merinding, sudah biasa Arjuna bertindak romantis padanya, tapi Sabill merasa tatapan Arjuna berbeda.

Cepat Sabilah membuang jauh pikiran buruknya.

"Kamu ingat dua teman ku yang datang keacara tujuh bulanan anak kita kemarin kan?" Sabillah terdiam, kenapa tiba-tiba Arjuna menanyakan itu? Sabillah mengangguk.

"Aku nggak nyangka jika salah satu teman ku itu mantan suami kamu."

Degh.

Dari mana Mas Arjuna tahu soal itu? Apa Adrian yang menceritakanya? Bukanya Adrian sudah janji tidak akan memberitahu Arjuna selain dirinya sendiri yang akan memberi tahu itu pada Arjuna?

"Aku tahu dari Jimmy jika kalian pernah menikah."

"Maaf, Mas. Bukan aku nggak mau kasih tahu kamu, tapi aku menunggu waktu yang tepat."

Arjuna tersenyum lembut. "Nggak papa, Sayang." Dengan perlahan Arjuna mengambil tangan Sabillah. "Kamu tahu Sabill, kalau aku jatuh cinta padamu sejak pandangan pertama?" Sabillah mengangguk, menghapus air mata yang tiba-tiba jatuh.

"Sampai saat ini aku sangat mencintai kamu, dan cinta itu tumbuh semakin besar."

"Mas." Bibir Sabill bergetar, air matanya jatuh semakin deras, Sabillah menghapus sendiri air matanya.

"Aku tahu kemarin kamu bertemu, Adrian."

Mata Sabill membulat, dari mana Arjuna tahu itu?

"Kami tidak ada hubungan apa-apa, Mas."

Arjuna kembali tersenyum. "Aku tahu kamu istri yang solehah. Aku percaya kamu, Sabill." Arjuna menghela nafas, dia tahu kisah Sabillah dan Adrian, dia juga tahu Adrian masih sangat mencintai Sabillah, Jimmy menceritakanya melalui pesan singkat.

"Sayang," panggil Arjuna lirih, Sabillah menatapnya. "Jika umur ku tidak panjang, aku merestui mu menikah lagi jika ada jodoh kedua mu dengan Arjuna."

"Kamu bicara apa sih, Mas. Jangan ngomong sembarangan."

Arjuna masih sempat terkekeh, sayangnya Sabillah tidak mengatakan langsung jika dia tidak akan menikah lagi.

"Sudah tidur, jangan ngomong ngelantur, aku sebentar lagi akan lahiran. Kamu harus cepat sembuh."

Meski tak langsung tertidur, Sabillah mengalihkan pembicaraan lain, mereka mengobrol hingga tengah malam, sampai Sabillah tertidur karena kelelahan. Arjuna mengusap kening Sabillah yang tidur sambil duduk. Ucapan maaf keluar dari bibir Arjuna tanpa suara, dia sudah snagat ikhlas jika kelak Sabillah kembali menikah dengan laki-laki lain. Dia berharap Sabillah mendapat jodoh yang bisa menerima Sabillah dan anaknya.

Arjuna menyalakan televisi diruanganya, dadanya sesak, saat melihat berita rilisnya tentang penangkapan bandar narkoba oleh pihak lain.

* * *

Keesokan pagi, Sabillah memeriksa keadaan Arjuna, dia mendapati tubuh suaminya yang dingin, dan ... pucat. Sabillah memeriksa denut nadi dan nafas Arjuna.

"Mas," Sabillah mengguncang tubuh Arjuna. "Mas bangun, Mas." Namun tak ada reaksi dari Arjuna.

Tittttt

"Dokterrr," Sabillah menekan bell, memanggil dokter.

1
Endah Lestary
Luar biasa
Khairul Azam
baru ingat aku, aku udah pernah baca novel ini, klo gak salah nanti arjun meninggal dan salbila kembali sama adrian
Jessica
Luar biasa
Maizaton Othman
pasion
Maizaton Othman
bed rest,thor
Maizaton Othman
by the way
Maizaton Othman
naluri
Maizaton Othman
bukan kah adiknya nama Azalea
Maizaton Othman
ada sedikit kelainan dlm novel ini,jalan cerita & karektor berbeza dari biasanya,saya suka
Maizaton Othman
dgn Adrian- typo
Mhyta
aku sih smga sm si reyhan jodohnya kembali
Mhyta
astaga lucunya🤣🤣
Mhyta
maaf br sempat koment.. izin mampir lg yah thor
Taty Hartaty
Lumayan
Taty Hartaty
Luar biasa
☕/arsenlemuel/argyatristan☕
gilak ini sih permintaan nya edo... jgn mau terima vania
☕/arsenlemuel/argyatristan☕
surprise yg mengharu biru
☕/arsenlemuel/argyatristan☕
kehilangan kan lo sabil
☕/arsenlemuel/argyatristan☕
reyhan laki2 yg bijak ternyata
☕/arsenlemuel/argyatristan☕
🤭🤭🤭kocak habes Adrian.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!