Bahagia karena telah memenangkan tiket liburan di kapal pesiar mewah, Kyra berencana untuk mengajak kekasihnya liburan bersama. Namun siapa sangka di H-1 keberangkatan, Kyra justru memergoki kekasihnya berkhianat dengan sahabatnya.
Bara Elard Lazuardi, CEO tampan nan dingin, berniat untuk melamar tunangannya di kapal pesiar nan mewah. Sayangnya, beberapa hari sebelum keberangkatan itu, Bara melihat dengan mata kepalanya sendiri sang tunangan ternyata mengkhianatinya dan tidur dengan lelaki lain yang merupakan sepupunya.
Dua orang yang sama-sama tersakiti, bertemu di kapal pesiar yang sama secara tak sengaja. Kesalahpahaman membuat Kyra dan Bara saling membenci sejak pertama kali mereka bertemu. Namun, siapa sangka setelah itu mereka malah terjebak di sebuah pulau asing dan harus hidup bersama sampai orang-orang menemukan mereka berdua.
Mungkinkah Bara menemukan penyembuh luka hatinya melalui kehadiran Kyra? Atau malah menambah masalah dengan perbedaan mereka berdua yang bagaikan langit dan bumi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UmiLovi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dear, Bara
Dear, Bara.
Saat kamu membaca surat ini, mungkin aku sudah berada di rumahku dan berkumpul kembali bersama orang tuaku. Meskipun aku nggak yakin kamu akan kembali, tapi bila surat terbaca olehmu ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan padamu.
Terima kasih, Bara. Terima kasih untuk pengalaman tak terlupakan selama kita berada di pulau kemarin. Berkat dirimu, aku menemukan keberanian dan kekuatan untuk berubah menjadi sosok Kyra yang baru. Terima kasih sudah mengajariku tentang kesabaran selama menghadapi sifatmu, terima kasih juga sudah menjadi lelaki pertama yang menyentuhku malam itu. Sungguh, aku tidak menyesali perbuatan kita di malam itu karena aku merasa terlahir kembali setelah melakukannya denganmu.
Bara, meskipun aku berharap kamu membaca surat ini, tapi entah mengapa hati kecilku justru menginginkan sebaliknya. Aku berharap kamu tetap melanjutkan hidupmu seperti sebelum mengenalku, membalaskan dendammu seperti yang sudah kita bicarakan beberapa hari yang lalu. Jangan mencariku, jangan pernah pula muncul di depanku meskipun itu suatu kebetulan. Kisah kita berakhir setelah kita pergi meninggalkan pulau itu, kau ingat aku pernah mengatakan hal ini, bukan?
Hiduplah dengan baik, balaskan dendammu dengan menjadi Bara yang lebih baik. Buat kekasihmu menyesal karena lebih memilih boss-mu. Ingat, jangan kotori tanganmu dengan melakukan hal yang sama.
Terima kasih untuk hotel yang nyaman ini, semoga uang tabunganmu tak habis hanya karena membayar hotel ini untukku.
Temanmu di Pulau, Kyra.
"Bressekkk!!"
Bara meremas dan melempar kertas yang ia temukan di laci nakas itu dengan amarah menggelora. Sorot matanya yang dingin dengan bola mata memerah menjadi saksi betapa murkanya Bara saat ini. Dadanya naik turun dengan cepat, kedua tangannya mengepal dengan erat.
Sungguh, Bara tak paham mengapa ia jadi sangat marah ketika tak menemukan Kyra di hotel. Ia pun heran mengapa harus geram ketika membaca surat yang ditulis oleh gadis culun itu. Apakah karena Bara sudah merelakan waktu dan tenaga hanya untuk menyusulnya ke Singapore? Atau karena diam-diam Bara mulai terikat pada gadis sialan itu?!
Seandainya bisa memutar kembali waktu, mungkin Bara akan meminta Morgan untuk menyewa Bodyguard agar Kyra tak kabur darinya. Dengan kalap, Bara mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana. Ia mencari nomor Morgan dan lekas menghubungi Sekretarisnya itu.
"Hal--"
"Cari data tentang siapa gadis yang tempo hari terjebak di pulau bersamaku. Secepatnya!"
"Tapi, Pak--"
"Lakukan sekarang atau kupecat kau!"
"Baik, akan saya laksanakan!"
Prak.
Bara melempar ponselnya ke sembarang arah dengan geram. Ia lantas bangkit dan berlalu ke kamar mandi. Melihat pantulan wajahnya yang memerah di cermin, Bara semakin tak mengenali dirinya sendiri. Sekelebat ingatannya tentang Kyra mulai berkelana di pikiran Bara. Senyum tulus gadis itu, mengapa kini Bara sangat merindukan senyuman itu, huh?!
"Kamu sama brengseknya dengan Valeria, Kyra! Kalian tidak bisa menghargai lelaki yang sudah berkorban banyak untuk kebahagiaan kalian!" dengus Bara berapi-api.
Suara dering ponselnya yang terdengar hingga kamar mandi membuat Bara seketika beringsut pergi. Ia mengedarkan pandangan untuk mencari di mana ia melemparkan ponselnya tadi. Sial, hingga dering itu berhenti, Bara tak kunjung menemukan benda pipih keluaran terbaru itu.
"Di mana kamu ponsel sialan!" gerutu Bara sembari berjongkok dan mencari ponselnya di kolong ranjang.
Hingga dering itu terdengar lagi, Bara masih saja merangkak mencari di mana ponselnya bersembunyi. Secercah sinar yang muncul dari belakang lemari membuat Bara tersenyum lega dan buru-buru menjulurkan tangannya di kolong lemari. Dapat! Ia berhasil meraih ponselnya.
Morgan is calling ...
Bara berdeham sejenak sebelum kemudian mengangkat telepon itu. "Halo."
"Pak, saya sudah mengirim alamat perempuan itu via chat."
Seutas senyum terpatri di wajah Bara. "Bagus. Tunggu perintah selanjutnya dariku."
"Baik, Pak."
Bara memutuskan sambungan telepon Morgan dan lekas membuka pesan chat yang Sekretarisnya itu kirimkan. Sebuah foto kartu Identitas membuat senyum Bara semakin merekah.
Kyra Sada Batari.
21 Februari 1999.
Oh, jadi dia berumur 24 tahun?
Bara yang semakin penasaran, membaca alamat rumah Kyra dengan seksama.
Tunggu, bukankah alamat ini tak begitu jauh dari kantornya? Masih satu kecamatan. Apakah Kyra adalah salah satu karyawan di salah satu anak perusahaan? Bukankah ia bilang bila ia bekerja sebagai Fashion desainer?!
Bara kembali menghubungi nomor Morgan dengan cekatan.
"Ya, Pak."
"Morgan, cari tahu tentang gadis ini sedetail-detailnya! Tapi yang paling penting, carilah nomor ponselnya secepatnya!"
"Baik, Pak."
Tit.
Bara tersenyum smirk. Kabur dari Bara, huh? Jangan harap Kyra bisa merasakan hidup bebas setelah berani mengusik ketenangan seorang Bara Ellard Lazuardi! Sekali ia masuk ke dalam kehidupan Bara, jangan harap ia bisa pergi begitu saja!!
...****************...
gengsi aja di gedein pake ga ada cinta
di abaikan dikit udah kesel hahah
wkwkwkwwk